Kain Kafan Di Pelataran Masjid Lenteng: Ketika Gosip Pelet Bertemu Sumpah Pocong

Kain Kafan Di Pelataran Masjid Lenteng: Ketika Gosip Pelet Bertemu Sumpah Pocong

Lenteng,– Adzan Ashar belum juga berkumandang. Tapi pelataran Masjid Jami’ di salah satu wilayah di Kecamatan Lenteng sudah ramai. Bukan karena pengajian. Bukan pula karena santunan.

Tengah hari Jumat kemarin, 17 Juli 2026, kain kafan putih terbentang. Di atasnya berbaring seorang warga. Mulutnya bergumam melafadzkan sumpah.

Isunya sederhana: tuduhan “ilmu pelet”. Tapi gegernya, sampai ke grup WA RT sampai grup alumni.

Pelataran masjid riuh dengan para pengunjung yang turut menyaksikan. Terlebih pelaksaan sumpah itu dilakukan selepas shalat jum’at. Tentu tidak banyak yang langsung bergegas pulang. Pasalnya, ingin turut menyaksikan.

Selang kemudian, selembar kain kafan datang. Seorang wanita terdakwah, sebut saja Ibu R, 65 tahun, dipersilakan berbaring. Tubuhnya dibalut kain kafan, hanya wajahnya yang kelihatan. Di sampingnya, hal serupa juga dilakukan pada seorang pria berisimial N, 61 tahun, selaku pendakwah. Di sekelilingnya: Kiai kampung, Kepala Desa, tokoh masyarakat, Polsek, Koramil dan puluhan jamaah yang tadinya mau pulang namun akhirnya turut menyaksikan. Isunya? Ibu R dituduh “ngirim pelet” ke salah satu keluarga Bapak N.

Demi kondusivitas warga, dan untuk menjaga nama baik masing-masing keluarga kedua belah pihak, akhirnya dipilihlah jalan pamungkas adat: Sumpah Pocong. Selang kemudian sontak foto maupun video pendek beredar di tengah masyarakat. Grup WA dan isi medsos riuh dengan ragam percakapan dan komentar.

Bukan Dari Nabi, Tapi Dari Nenek Moyang

Bagi orang luar Sumenep, ini aneh. Bagi orang Madura, ini “jalan terakhir”. Sejarawan budaya menyebut “Sumpah Pocong” bukan ajaran Islam. Ia adalah perpaduan 3 (tiga) hal:
1. Tradisi Kejawen Pra-Islam: Dulu orang bersumpah di depan pohon, keris, atau kuburan. Biar ada “efek jera” dari roh.
2. Hukum Adat: Di era Belanda abad 19, sumpah ini dicatat di pengadilan desa untuk kasus berat: curi, zina, sengketa tanah. Karena bukti susah.
3. Dibungkus Tauhid: Lafadznya tetap “Demi Allah”. Kain kafannya hanya “media” biar orang takut.

Artinya, tujuannya baik, mau membersihkan nama. Tapi caranya, ini bukan dari Al-Qur’an, bukan dari Sunnah. Kata Gus Baha: “Sumpah pocong itu bukan syirik. Syirik itu kalau nyumpah ke pocongnya. Ini bersumpah ke Allah, tapi pake baju pocong biar wedi (baca: ada rasa takut).

Yang Menghakimi Bukan Kafan, Tapi Allah

Sebagai warga, sekaligus penyuluh agama di lingkungan KUA Lenteng, hati saya miris. Karena ada 2 hal yang “tertukar”. Pertama, soal tuduhan.
Allah berfirman di QS An-Nur ayat 4:

وَٱلَّذِينَ يَرْمُونَ ٱلْمُحْصَنَٰتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا۟ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَآءَ فَٱجْلِدُوهُمْ ثَمَٰنِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا۟ لَهُمْ شَهَٰدَةً أَبَدًا ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

Artinya: “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Ayat di atas secara spesifik memang tidak berkaitan langsung dengan isu “pelet” atau yang serupa lainnya. Namun maqashid syariah (tujuan syari’at) dari pada ayat itu bersifat umum. Yaitu melindungi hak asasi manusia, menjaga kehormatan dan harga diri (hifzh al-‘irdh) dari fitnah. Konsekwensinya cukup berat. Yaitu memberi hukuman dera bagi penuduh yang tidak mampu membuktikan tuduhannya.

Nabi juga bersabda: “Cukup seseorang dikatakan pendusta jika ia menceritakan segala yang ia dengar.” (HR. Muslim).

Hadis Nabi ini menegasikan bahwa, tuduhan yang tidak didukung oleh pembuktian yang cukup, sama dengan berdusta.

Grup WA kita hari itu isinya semua “menceritakan yang didengar”.

Kedua, soal sumpah.
Dalam Islam, sumpah itu cukup: “Wallahi, Demi Allah”. Sambil pegang Mushaf. Selesai. Nabi tidak pernah mencontohkan sumpah pakai kafan.

Bahtsul Masail PCNU Genggong Probolinggo mengetengahkan pandangan bahwa sumpah pocong itu boleh dilakukan sepanjang tidak di-i’tiqod-kan sebagai syariat (masyru). Termasuk penggunaan atribut kain pocong jika dimaksudkan untuk menguatkan sumpah (8/2000).

Majelis Tarjih Muhammadiyah berpandangan bahwa Sumpah Pocong tidak boleh dilakukan. Larangan ini didasarkan atas beberapa pertimbangan sosiologis dan teologis. Seperti tata cara yang tidak dikenal Islam, dan kekhawatiran pengikisan iman dan potensi syirik. Sebagai pengganti sumpah pocong, untuk perselisihan yang berat, Muhammadiyah lebih mendorong praktik sumpah mubahalah sebagai pilihan alternatif, yang memiliki landasan dalam Islam (MUHAMMADIYAH.OR.ID).

MUI menghukumi ritual ini makruh. Boleh kalau darurat, tapi tidak dianjurkan. Karena dikhawatirkan menggeser keyakinan: dari “takut Allah” jadi “takut sial karena pocong” (SINDOnews, 8/2024).

Kita Lebih Cepat Share dari Pada Tabayyun

Penulis sendiri nyatanya tak luput dari berselewerannya foto maupun video peristiwa itu. Bahkan sebagian tokoh mengkonfirmasi langsung pada penulis mempertanyakan kebenaran peristiwa itu. Dari video yang beredar, tampak Ibu R yang sesekali gagap saat mengucapkan sumpah. Kemudian sempat bergumam dalam hati: “Kalau yang didakwah itu ibu saya, gimana?”

Tapi kita ini hebat. 5 menit setelah shalat Jumat, kita sudah jadi hakim di grup WA. Vonis: “Pasti dia”. Atau seliweran dugaan-dugaan lain yang mencokol di benak kita.

Padahal Allah menyeru: “Jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti” (QS Al-Hujurat: 6).

Hari itu kita tidak sempat tabayyun. Kita langsung “share”.

Kain kafan itu bukan hanya membalut badan Ibu R. Tapi dia seolah-olah juga ingin menunjukkan: “Ini loh, betapa telanjangnya akhlak kita di medsos”.

Pocongnya Diam, Malaikatnya Nyatet

Alhamdulillah, Ibu R menyelesaikan sumpahnya. Dia bilang: “Demi Allah saya tidak melakukan”.

Setelah 40 hari ke depan, kata orang desa, akan “kelihatan” siapa yang benar. Tapi Pocongnya diam. Kuburannya diam. Yang tidak diam: malaikat Raqib dan Atid.

Sumpah pocong boleh jadi tradisi. Tapi kita harus tetap ingat 3 hal:
1. Jangan Mudah Menuduh: Gosip “pelet” itu dosanya bisa lebih besar dari peletnya sendiri.
2. Jangan Mendewakan Adat: Yang mengampuni dan menghukum cuma Allah. Bukan kain kafan.
3. Matikan Jempol Sebelum Share: Kalau beritanya bikin orang telanjang di muka umum, tahan dulu. Tanya Kiai atau ahli agama dulu.
4. Karena di akhirat nanti, yang ditanya bukan: “Kamu ikut sumpah pocong apa tidak?” Tapi: “Kamu ikut nyebar fitnah apa tidak?”

Di bawah langit yang sama, kita belajar lagi, bahwa membersihkan nama orang, seyogianya tidak dengan cara mengotori hati kita sendiri. Dan semoga, selepas peristiwa ini, harmoni merekah Kembali.

Lenteng, 18 Juli 2026.
Abd. Mufid – Penyuluh Agama Islam KUA Lenteng

Allah Menegur Nabi Karena Seorang Tunanetra

Allah Menegur Nabi Karena Seorang Tunanetra

Oleh: Abd Mufid

Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep | Esais

 

“Jangan mudah terspesona oleh kulit luarnya!”

Kalimat itu tiba-tiba mampir di kepala saya ketika acara hampir selesai.

Pagi itu, di kediaman Hj. Mutmainnah, salah satu anggota penyuluh yang menjadi tempat pertemuan rutin bulanan IPARI Kabupaten Sumenep terasa berbeda. Biasanya kami bertemu untuk berdiskusi seputar tugas kepenyuluhan. Namun pada 24 Juni 2026 lalu, rangkaian puncak Peaceful Muharram 1448 H dikemas dalam tema Event Sharing is Caring (ESC). Kami berdialog tentang disabilitas, lalu menutupnya dengan penyerahan santunan kepada anak-anak yatim dan penyandang disabilitas.

Yang paling saya ingat bukan besarnya santunan. Melainkan senyum mereka. Senyum yang membuat saya diam cukup lama.

Di antara para penerima santunan, saya kembali bertemu sahabat saya, Ustadz Aswari, yang sekaligus narasumber dalam kegiatan tersebut. Beliau adalah seorang penyuluh agama penyandang tunadaksa. Langkahnya memang tidak secepat kebanyakan orang. Namun bila bicara tentang semangat mengabdi, saya justru sering merasa tertinggal jauh di belakangnya.

Saya mengenal beliau sebagai sosok yang tak pernah menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti berkarya. Prestasi, dedikasi, dan ketulusannya berbicara lebih keras daripada kondisi fisiknya.

Saat itulah saya sadar. Mungkin yang selama ini memiliki keterbatasan bukan mereka. Melainkan cara kita memandang mereka.

Pesona Kemasan

Kita hidup di zaman yang sangat mudah terpesona oleh kemasan. Kita lebih cepat memberi hormat pada orang yang datang dengan jas rapi daripada mereka yang datang membawa tongkat. Kita lebih mudah memberi ruang kepada orang yang punya jabatan daripada mereka yang hanya membawa harapan.

Kita sering mengukur manusia dari manfaat dunianya. Bukan dari kemuliaan hatinya. Padahal manusia itu seperti ponsel yang kacanya retak.

Ada yang buru-buru ingin menggantinya karena layarnya pecah. Padahal seluruh mesinnya masih bekerja sempurna. Sebaliknya, ada ponsel yang tampak mulus, tetapi kerusakannya justru ada di bagian dalam.

Begitulah kita. Sering kali mata lebih sibuk bekerja daripada hati.

Gara-Gara Abdullah, Nabi Ditegur

Saya kemudian teringat sebuah peristiwa yang sangat terkenal dalam sejarah Islam. Peristiwa yang membuat langit langsung menegur manusia paling mulia: Baginda Nabi.

Suatu hari Rasulullah SAW sedang berdakwah kepada para pembesar Quraisy. Di hadapan beliau ada Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal, dan Abbas bin Abdul Muthalib. Rasulullah berharap, jika tokoh-tokoh besar itu menerima Islam, dakwah akan semakin kuat dan masyarakat Mekah akan lebih mudah mengikuti.

Di tengah percakapan itu datang Abdullah bin Ummi Maktum. Salah seorang sahabat Nabi yang tunanetra sejak lahir.

Karena tidak dapat melihat keadaan sekitar, Abdullah hanya mendengar suara Rasulullah. Dengan penuh kerinduan ia berkata, “Ya Rasulullah, ajarkan aku. Bacakan kepadaku ayat-ayat Allah.”

Namun Rasulullah sedang sangat fokus kepada para pemuka Quraisy. Beliau bermuka masam dan berpaling. Bukan karena membenci Abdullah. Beliau hanya sedang memakai hitungan manusia.

Tetapi Allah mempunyai ukuran yang berbeda.

Maka turunlah firman-Nya dalam Surah ‘Abasa ayat 1 sampai 8. Allah menegur Rasulullah dengan kalimat yang begitu lembut sekaligus sangat tegas.

“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta telah datang kepadanya…”

Teguran itu tidak sedang mengajarkan etika kepada Nabi semata. Teguran itu sedang mendidik seluruh umat Islam hingga hari ini. Allah ingin menunjukkan bahwa orang yang tampak kecil di mata manusia bisa jadi jauh lebih besar di sisi-Nya daripada mereka yang dielu-elukan dunia.

Bukankah penyakit itu masih hidup sampai sekarang?

Kita masih sering mengalami sindrom pilih-pilih tamu. Kita berebut duduk di dekat pejabat, tetapi membiarkan orang kecil duduk sendirian.

Kita menyediakan panggung yang megah untuk orang terkenal, tetapi lupa menyediakan akses yang layak bagi penyandang disabilitas.

Kita sibuk menghitung dampak, jaringan, dan keuntungan, lalu tanpa sadar mulai mengukur nilai seseorang dari apa yang bisa ia berikan kepada kita.

Padahal menurut World Health Organization, lebih dari 1,3 miliar penduduk dunia hidup dengan disabilitas. Hambatan terbesar mereka bukan semata kondisi fisik, melainkan lingkungan yang belum sepenuhnya ramah dan cara pandang masyarakat yang masih dipenuhi stigma.

Mungkin karena itu Allah memilih Abdullah bin Ummi Maktum sebagai sebab turunnya ayat.

Bukan sekadar membela seorang tunanetra. Tetapi meluruskan cara manusia memandang sesamanya.

Dan satu hal. Allah tidak menegur Nabi karena gagal berdakwah. Allah menegur beliau karena ada hati yang tulus terlewatkan.

Kisah Hikmah Aswari

Saya kembali teringat wajah Ustadz Aswari. Beliau mungkin berjalan lebih lambat daripada saya. Tetapi boleh jadi beliau jauh lebih dahulu sampai kepada ridha Allah. Sementara saya, yang dikaruniai tubuh lengkap, masih sering terlambat memperbaiki hati.

Saya pulang dari pertemuan itu dengan membawa oleh-oleh yang tidak dibungkus plastik.

Saya membawa teguran. Teguran cinta. Teguran untuk hati ini yang kerapkali alpa.

Bahwa memuliakan manusia bukan dimulai dari memberi santunan, melainkan dari mengubah cara pandang. Santunan bisa habis dalam hitungan hari. Tetapi penghormatan mampu menghidupkan martabat seseorang sepanjang hidupnya.

Maka, alon-alon kita belajar menyapa sebelum diminta. Alon-alon kita belajar menyediakan ruang yang ramah bagi penyandang disabilitas, bukan sekadar rasa kasihan. Alon-alon pula kita belajar melihat hati sebelum melihat keadaan fisik, jabatan, atau isi dompet seseorang.

Karena bisa jadi, orang yang hari ini kita anggap biasa saja, justru namanya sangat dikenal di langit.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).

Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan yang halus, lalu menghadiahkan mata batin yang mampu melihat kemuliaan setiap manusia.

Allahumma arinal haqqa haqqan warzuqnat tiba’ah, wa arinal bathila bathilan warzuqnajtinaabah.

Alon-alon saja. Sebab surga tidak dihuni oleh orang yang paling dipandang manusia, melainkan oleh mereka yang paling dimuliakan Allah.

Wallahu A’lam.

Koper Haji Sudah Ditaruh, Tapi Amanah Gelar Haji Baru Dimulai

Koper Haji Sudah Ditaruh, Tapi Amanah Gelar Haji Baru Dimulai

Oleh Abd. Mufid

Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep | Esais

 

Ada koper yang lebih mudah diletakkan daripada amanah yang menyertainya.

Koper haji bisa disimpan di sudut kamar. Baju ihram bisa dilipat kembali. Oleh-oleh bisa habis dibagikan kepada keluarga dan tetangga. Tapi bagaimana dengan sebuah panggilan baru di depan nama? “Pak Haji.”

Mungkin di situlah perjalanan yang sebenarnya baru dimulai.

Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke rumah salah satu tetangga saya, Bapak H. Karim, yang baru pulang dari Tanah Suci Makkah.

Rumahnya masih ramai oleh cerita perjalanan. Tentang haru melihat Ka’bah. Tentang doa yang dipanjatkan di tempat-tempat mustajab. Tentang perjuangan panjang sebelum akhirnya kaki menginjak tanah suci. Karena memang, berangkat haji bukan perkara ringan.

Ada masa menunggu bertahun-tahun. Ada tabungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. Ada perjuangan keluarga. Ada biaya yang tidak sedikit. Ada persiapan fisik dan mental yang harus dijaga.

Namun setelah semua perjuangan itu selesai, ada satu ujian lain yang diam-diam menunggu. Menjadi “Pak Haji” di tengah masyarakat. Sebab gelar terkadang lebih berat daripada kopernya sendiri.

Gelar Haji dan Cermin Diri

Saya teringat sebuah benda sederhana di rumah. Cermin.

Benda yang setiap hari kita gunakan, tetapi sering membuat kita tidak nyaman. Sebab cermin tidak pernah berbohong. Ia menunjukkan apa adanya. Begitu juga dengan gelar haji.

Ia seperti cermin besar yang dibawa seseorang pulang dari Makkah.

Masyarakat mulai melihat lebih dekat. Bagaimana cara berbicara. Bagaimana memperlakukan pasangan. Bagaimana bersikap kepada tetangga. Bagaimana menjaga kejujuran dalam pekerjaan. Karena setelah seseorang dipanggil “Pak Haji”, orang tidak hanya mengenang perjalanannya ke Tanah Suci. Orang mulai berharap melihat cahaya perubahan dalam kehidupannya.

Bukan berarti orang yang berhaji harus menjadi manusia tanpa salah. Tidak.

Pak Haji juga manusia. Masih belajar. Masih bisa khilaf. Tetapi ada kesadaran baru bahwa sebuah gelar adalah amanah. Bukan sekadar penghormatan.

Haji Bukan Sekadar Perjalanan Kaki

Allah berfirman: “Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh berkata kotor, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Ayat ini mengajarkan bahwa ibadah haji tidak hanya berkaitan dengan perjalanan fisik. Ada latihan jiwa di dalamnya. Ada proses menahan diri. Ada pendidikan akhlak.

Rasulullah SAW juga bersabda: “Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa tanda haji mabrur salah satunya terlihat dari perubahan setelah ibadah itu selesai.

Bukan hanya saat berada di depan Ka’bah. Tetapi saat kembali menjalani kehidupan biasa. Di rumah. Di tempat kerja. Di tengah masyarakat.

Catatan dari Rumah Pak Haji Karim

Saat berbincang dengan Pak H. Karim, saya menangkap satu hal yang membuat saya merenung.

Di balik riuah kebahagiaan pulang dari Tanah Suci, ada rasa takut yang beliau simpan. Tampak samar, tapi dalam.

Takut jika gelar haji hanya menjadi kebanggaan nama. Takut jika orang lebih mengenal panggilannya daripada perubahan dirinya.

“Mas Mufid, setiap prilaku baik dan buruknya kita, serasa ditampakkan semuanya oleh Allah ketika di Makkah,” tuturnya. Saya menimpalinya dengan anggukan.

Saya melihat sebuah kerendahan hati dari cara beliau bertutur. Sebab orang yang benar-benar memahami makna perjalanan spiritual biasanya tidak sibuk menunjukkan bahwa dirinya sudah sampai. Ia justru semakin merasa perlu memperbaiki diri.

Seperti seseorang yang membawa oleh-oleh dari tempat jauh. Yang paling berharga bukan bungkusnya. Tetapi manfaat yang dirasakan orang lain.

Begitu pula haji. Nilainya bukan hanya ketika orang mengucapkan “Masya Allah, sudah haji.” Tetapi ketika keluarga merasa lebih tenteram. Tetangga merasa lebih dihargai. Orang lain merasakan kebaikan dari kehadirannya.

Pulang Membawa Cahaya

Mungkin kita belum semuanya sampai ke Tanah Suci. Tetapi kita semua sedang melakukan perjalanan menuju Allah.

Ada yang diuji dengan harta. Ada yang diuji dengan jabatan. Ada yang diuji dengan nama baik. Dan bagi mereka yang diberi kesempatan berhaji, salah satu ujiannya adalah menjaga amanah gelar.

Setidaknya ada tiga langkah kecil yang bisa dilakukan agar gelar haji yang baru saja tersemat tidak bergeser dari niat awal yang mulia:

Pertama, jangan menjadikan gelar sebagai alasan merasa lebih tinggi dari orang lain. Kedua, jadikan pengalaman ibadah sebagai energi untuk memperbaiki akhlak sehari-hari. Ketiga, terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik meskipun tidak selalu terlihat sempurna.

Semoga Allah menerima setiap perjalanan haji, mengampuni kekurangan kita, dan menjadikan setiap ibadah membawa perubahan dalam kehidupan.

Alon-alon, Pak Karim! Sebab menjadi baik bukan perlombaan siapa yang paling cepat terlihat manusia. Tetapi perjalanan panjang untuk semakin dekat dengan Allah.

Wallahu a’lam.

Memento Mori: Ditangisi Saat Pergi, Dirindukan Setelah Tiada

Memento Mori: Ditangisi Saat Pergi, Dirindukan Setelah Tiada

Oleh : Abd Mufid

Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep | Penulis Lepas | Sahabat Ali Muhsi

 

Ada banyak hal yang kita takutkan dalam hidup. Kehilangan pekerjaan. Kehilangan orang yang kita cintai. Kehilangan kesehatan. Tapi anehnya, yang paling sering membuat dada sesak justru sesuatu yang pasti datang: kematian.

Padahal logikanya sederhana. Semua orang akan mengalaminya. Tidak ada yang bisa menghindar.

Namun setiap kali kematian lewat dalam percakapan, muncul dalam berita duka, atau mengetuk rumah seseorang yang kita kenal, suasana mendadak berubah. Hening. Berat. Seolah ada sesuatu yang sedang mengingatkan kita bahwa perjalanan ini tidak selama yang kita kira.

Kabar Duka Itu Datang

Kamis pagi, 4 Juni 2026, kabar itu datang. Sahabat kami, Ali Muhsi, berpulang menghadap Allah Swt. Teman sejawat sejak masa kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sahabat diskusi, sahabat organisasi, sesama kader yang sedang berproses bersama di lingkungan PCNU Sumenep.

Seperti banyak orang lainnya, saya turut berduka. Tetapi yang membuat batin saya beberapa kali terdiam bukan hanya kabar kepergiannya. Melainkan reaksi orang-orang yang ditinggalkannya.

Status-status belasungkawa bermunculan. Doa-doa mengalir tanpa diminta. Persaksian baik bermekaran dari berbagai arah.

Ada yang mengenangnya sebagai pribadi santun. Ada yang mengenangnya sebagai sahabat yang ringan membantu. Ada yang mengenangnya sebagai sosok yang selalu hadir ketika dibutuhkan. Saya membaca semuanya perlahan.

Lalu muncul satu pertanyaan yang diam-diam mengetuk kepala: apakah begini rupa kematian yang indah? Kepergian yang ditangisi. Kepergian yang membuat banyak orang merasa kehilangan. Kepergian yang justru menghadirkan kerinduan.

Masa Panen Amal Perbuatan

Barangkali inilah yang sering luput dari perhatian kita. Kita terlalu sibuk memandang kematian sebagai akhir, sampai lupa bahwa bagi sebagian orang, kematian adalah panen dari apa yang ditanam selama hidup.

Seperti seseorang yang akan pindah rumah. Kalau rumah baru sudah siap, mungkin ada rasa penasaran untuk segera menempatinya. Tetapi, kalau rumah lama masih berantakan, tagihan belum lunas, hubungan dengan tetangga belum selesai, dan banyak urusan yang masih menggantung, tentu kita akan terus menunda keberangkatan.

Mungkin begitu pula hubungan kita dengan kematian. Yang kita takutkan sering kali bukan kematiannya. Melainkan ketidaksiapan kita.

Rumah lama bernama kehidupan ini terasa belum beres. Masih ada luka yang belum meminta maaf. Masih ada hak orang lain yang belum ditunaikan. Masih ada taubat yang terus ditunda dengan alasan “nanti,” –“ini” dan “itu.”

Padahal tidak ada yang benar-benar tahu kapan kata “nanti” itu berakhir.

Sunan Kalijaga pernah mengajarkan falsafah sederhana: urip iku urup. Hidup itu menyala. Mungkin karena itulah kita takut jika lampu dipadamkan ketika nyalanya masih redup.

Memamdang Kematian dari Sudut Lain

Kita juga sering mengenal kematian dari sisi yang salah. Yang kita lihat hanyalah tangisan keluarga, kain kafan bermotif putih polos, liang lahat yang sempit, dan berita duka.

Kita jarang melihat sisi lainnya. Padahal Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

“Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” [HR. Muslim]

Bagi seorang mukmin, kematian bukan semata perpisahan. Ia adalah gerbang perjumpaan. Jalan pulang menuju Zat yang selama ini ia rindukan dalam sujud dan doa-doanya.

Al-Qur’an pun mengingatkan: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185).

Ayat ini tidak terdengar seperti ancaman. Ia lebih mirip pengingat bahwa kita semua sedang berjalan ke arah yang sama. Tidak ada yang tertinggal. Tidak ada yang didahulukan karena kaya atau dimuliakan karena jabatan. Semua akan sampai. Cepat atau lambat.

Kalau dipikir-pikir, mungkin ego kita juga ikut berperan dalam rasa takut itu. Manusia cenderung tidak nyaman pada dua hal: tidak tahu dan tidak bisa mengendalikan. Sedangkan kematian adalah puncak dari keduanya.

Kita tidak tahu kapan datangnya. Kita tidak bisa mengaturnya. Lalu muncul berbagai kecemasan: Anak-anak nanti bagaimana? Pekerjaan bagaimana? Rencana-rencana yang belum selesai bagaimana?

Padahal jika jujur, sejak awal hidup ini pun bukan sepenuhnya berada dalam kendali kita. Kematian hanya sedang mengingatkan bahwa kita hanyalah musafir yang sedang singgah.

Terus terang, saya pun tidak kebal dari rasa takut itu.

Ada hari-hari ketika saya membayangkan kematian lalu dada terasa sempit. Ada saat-saat ketika saya merasa belum cukup baik, belum cukup siap, belum cukup banyak bekal.

Tetapi setiap kali mendengar kabar orang-orang baik yang pergi dengan meninggalkan jejak kebaikan, ketakutan itu perlahan berubah bentuk. Bukan lagi takut mati. Melainkan takut belum siap.

Karena ketika waktunya tiba, kita tidak diberi kesempatan untuk menawar. Tidak bisa meminta satu minggu tambahan. Tidak bisa mengajukan penundaan. Tidak bisa berpaling ke arah lain. Yang bisa kita lakukan hanyalah mempersiapkan kepulangan itu sebaik mungkin.

Dan mungkin itulah makna terdalam dari memento mori. Ingatlah kematian. Bukan supaya hidup dipenuhi ketakutan. Tetapi supaya kita tahu mana yang benar-benar layak diperjuangkan.

Renungan Kecil

Malam ini, sebelum tidur, mungkin kita tidak perlu membuat target besar. Cukup satu pertanyaan kecil:

“Jika Allah memanggilku besok pagi, pamit seperti apa yang ingin kutinggalkan?”

Barangkali dari pertanyaan sederhana itu, kita mulai membereskan satu per satu “rumah lama” yang selama ini terlalu sering kita abaikan.

Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada sahabat kami, Ali Muhsi. Dan semoga ketika giliran kita tiba nanti, kita juga diberi kepergian yang dirindukan, bukan sekadar kepergian yang dikenang. Amin!

Beda Dulu, Baru Bersatu: Pelajaran dari Sebuah Pernikahan Izzy

Beda Dulu, Baru Bersatu: Pelajaran dari Sebuah Pernikahan Izzy

Oleh: Abd Mufid

Penyuluh Agama Islam KUA Lenteng | Penulis Lepas

Hari-hari ini, kita hidup di zaman yang aneh!

Sedikit beda pilihan, putus pertemanan. Sedikit beda pandangan, saling menjauh. Bahkan kadang hanya karena beda cara melihat sebuah persoalan, hubungan yang dibangun bertahun-tahun bisa retak dalam hitungan menit.

Seolah-olah persatuan hanya mungkin terjadi jika semua orang sama.

Padahal kalau dipikir-pikir, kalau semuanya sama, apa yang sebenarnya mau dipersatukan?

Pikiran ini muncul saat penulis menghadiri undangan bahagia adinda Darwis dan Izzy, puteri kedua Om Habari di Desa Pagar Batu Saronggi Sumenep, yang hari ini mengikat janji dalam akad pernikahan. Dua orang yang sebelumnya hidup di jalan masing-masing, tumbuh dalam keluarga berbeda, membawa kebiasaan berbeda, cara berpikir berbeda, lalu memilih duduk dalam satu perahu yang sama.

Menariknya, mereka justru disebut “bersatu” karena berbeda. Kalau Darwis menikahi Darwis atau Darmono, atau Izzy menikahi Izzy, mungkin tak ada yang namanya penyatuan. Yang ada hanya penggandaan. Dan ini bahaya. Bisa memicu sunami keluarga!

Kadang kita lupa bahwa hakikat persatuan memang bukan menghapus perbedaan, melainkan merawatnya agar bisa berjalan seiring.

Secangkir Kopi

Ya! Seperti secangkir kopi. Air panas saja hambar. Bubuk kopi saja pahit. Gula saja bikin enek. Tetapi ketika semuanya bertemu dalam takaran yang pas, lahirlah secangkir kopi yang bisa menemani banyak percakapan.

Bukan karena semua unsur menjadi sama, tetapi karena masing-masing unsur tetap menjadi dirinya sendiri.

Rumah tangga pun begitu. Sering kali masalah bukan muncul karena perbedaan itu ada. Masalah muncul ketika salah satu pihak memaksa pihak lain menjadi salinan dirinya. Padahal sejak awal Allah memang menciptakan manusia dengan warna yang beragam.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

“Wahai manusia, sungguh Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menarik. Allah tidak mengatakan agar manusia menjadi seragam. Yang disebut justru “saling mengenal”.

Artinya, perbedaan bukan kecelakaan. Ia memang bagian dari desain kehidupan. Bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipertemukan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” (HR. Tirmidzi)

Karena hidup bersama orang lain kadang memang selalu menghadirkan gesekan. Kesabaran lahir bukan ketika semuanya cocok, melainkan ketika ada yang berbeda namun tetap ingin dijaga.

Pernikahan adalah Sekolahan yang Paling Jujur

Kalau boleh jujur, saya sendiri sering gagal memahami ini.

Kadang dalam diskusi keluarga, saya lebih sibuk menyiapkan bantahan daripada berusaha memahami. Kadang saat berbeda pendapat, yang ingin saya menangkan adalah argumen, bukan hubungan.

Tapi belakangan saya sadar, banyak konflik ternyata bukan soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Sering kali masalahnya adalah ego yang diam-diam ingin menjadi pusat semesta.

Kita ingin didengar, tetapi malas mendengar. Kita ingin dipahami, tetapi enggan memahami. Kita ingin diterima apa adanya, tetapi sulit menerima orang lain apa adanya. Mungkin karena itu pernikahan menjadi salah satu sekolah kehidupan yang paling jujur.

Di sana, dua manusia belajar setiap hari bahwa cinta bukan tentang menemukan orang yang sama persis dengan kita. Cinta adalah kemampuan menghormati perbedaan tanpa kehilangan arah bersama.

Dan mungkin itulah sebabnya kisah adinda Darwis dan Izzy terasa begitu relevan dengan Hari Lahir Pancasila.

Bulan Pancasila, Bulan Berpadu Mesra

Bangsa ini pun berdiri di atas prinsip yang sama.

Bukan satu suku. Bukan satu bahasa daerah. Bukan satu kebiasaan. Bukan satu cara berpikir. Indonesia lahir karena banyak perbedaan yang memilih duduk bersama dalam satu cita-cita.

Pancasila tidak lahir untuk menyeragamkan. Ia lahir untuk mempersatukan. Seperti pernikahan yang sehat. Seperti keluarga yang hangat. Seperti sahabat yang tetap berteman meski berbeda pandangan.

Malam ini, mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita bawa sebelum tidur: Apakah selama ini kita sedang berusaha mempersatukan perbedaan, atau justru memaksa semua orang menjadi sama?

Barangkali aksi kecil yang bisa kita lakukan adalah menghubungi satu orang yang pernah berbeda pendapat dengan kita. Bukan untuk berdebat lagi. Hanya untuk menyapa. Bergandeng tangan. Berpadu mesra – semesra Darwis dan Izzy.

Karena bisa jadi, persatuan memang tidak pernah lahir dari kesamaan. Ia lahir dari keberanian untuk tetap berjalan bersama di tengah perbedaan.

Catatan Mufid ID

Kadang kita terlalu sibuk mencari orang yang sepaham, sampai lupa bahwa hidup justru tumbuh dari perjumpaan dengan yang berbeda. Sebab bukan kesamaan yang membuat kita dewasa, melainkan kemampuan mencintai, memahami, dan merawat perbedaan dengan kepala yang jernih dan hati yang lapang.

Selamat bulan lahir Pancasila!

Selamat menempuh hidup baru – Darwis dan Izzy

Melahirkan Kembali Pancasila

Melahirkan Kembali Pancasila

Oleh: Abd Mufid

Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep | Penulis Lepas

 

Setiap 1 Juni, kita upacara. Bendera naik dikibar, pidato dibaca, Pancasila dikumandakngkan, selesai. Hari Lahir Pancasila diperingati dengan rapi.

Tapi ruh Pancasila masih seperti janin yang belum sempurna. Lima silanya sering berhenti di hafalan, belum jadi akhlak bangsa. Padahal kalau kita jujur, nilai-nilai Pancasila itu satu frekuensi dengan pesan dasar Islam: tauhid, rahmat, persaudaraan, musyawarah, dan keadilan.

Allah berfirman: “Wahai manusia, sungguh Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal” [QS. Al-Hujurat: 13]. Bukankah itu Bhineka Tunggal Ika versi langit?

Kalau mau hidup, Pancasila harus dilahirkan ulang. Ada 5 kelahiran yang harus kita bantu untuk terus dengungkan bersama:

Ketuhanan Yang Maha Esa: Tauhid yang Menjaga, Bukan Menghakimi 

Sila pertama adalah cermin tauhid. “Lakum diinukum waliyadiin” – untukmu agamamu, untukku agamaku [QS. Al-Kafirun: 6].

Ujian 2026 bukan hanya seberapa khusyuk shalat kita, tapi bisakah kita beda aqidah tapi tetap jaga lisan. Rasulullah SAW bersabda: “Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya” HR. Bukhari. Melahirkan ulang sila ini artinya: iman yang benar pasti melahirkan adab. Negara hadir dan menjaga agar semua elemen anak bangsa tenang beribadah, bukan sibuk membenarkan diri dan menyalahkan orang lain, apa lagi mengkafirkan.

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Rahmatan lil ‘Alamin 

Islam datang membawa rahmat, bukan kekerasan. “Dan Kami tidak mengutus engkau, kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam” [QS. Al-Anbiya: 107].

Sila kedua gagal ketika ada pekerja dizalimi, anak stunting dibiarkan, fakir-miskin ditelantarkan, masyarakat papa diacuhkan tanpa harapan. Padahal Nabi pernah berkata: “Sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu” HR. Tirmidzi. Melahirkan ulang sila ini berarti menjadikan rahmat sebagai kebijakan. Mendahulukan martabat manusia, karena setiap manusia membawa tiupan ruh ilahi.

Persatuan Indonesia: Ukhuwah Wathaniyah 

Al-Qur’an menyebut orang beriman itu bersaudara: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara” [QS. Al-Hujurat: 10].

Ukhuwah tidak berhenti di sesama Muslim. Di Indonesia, dia melebar jadi ukhuwah wathaniyah, persaudaraan sebangsa. Melahirkan ulang sila ketiga artinya kita latih hati untuk bilang: “Kita beda partai, beda mazhab, tapi kita tetap satu tanah air”. Persatuan bukan meniadakan beda. Persatuan adalah menjaga beda itu tetap dalam bingkai kasih.

Kerakyatan yang Dipimpin Hikmat: Syura 

Allah perintahkan: “Dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah” [QS. Asy-Syura: 38]. Itu sila keempat versi wahyu.

Demokrasi kita sakit ketika yang menang suara paling keras, paling banyak, bukan suara paling bijak dan kebenaran. Melahirkan ulang sila ini artinya menghidupkan syura atau musyawarah di RT, kantor, keluarga. Rasulullah SAW saja bermusyawarah dengan sahabat meski wahyu sudah turun. Karena keputusan yang dirundingkan bersama, lebih berkah daripada keputusan yang dipaksakan.

Keadilan Sosial: Mizan dan Amanah 

“Sungguh Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaknya kamu menetapkannya dengan adil,” [QS. An-Nisa: 58].

Sila kelima adalah mizan, timbangan. Melahirkan ulang artinya berani bongkar struktur yang timpang. Keadilan bukan sedekah. Keadilan adalah memastikan gaji layak, harga adil, akses pendidikan merata. Karena kelak pemimpin akan ditanya: bagaimana engkau mengurus rakyatmu?

Pancasila tidak akan mati karena diserang ideologi. Dia mati kalau umat beragama berhenti menjadikannya amal shalih.

Catatan Reflektif

Selesai menulis ini, saya menutup laptop dan menatap keluar jendela. 1 Juni lewat lagi. Upacara selesai. Tapi pertanyaannya masih menggantung di dada: Sudah berapa sila yang benar-benar saya lahirkan hari ini?

Saya ini penyuluh. Seharusnya paling paham ayat tentang keadilan, hadits tentang rahmat. Tapi jujur, kadang saya lebih cepat men-judge orang di kolom komentar daripada memahamkan ayat di mimbar. Kadang saya teriak “Pancasila!” di forum, tapi lupa menyapa satpam yang tiap pagi buka gerbang kantor tempat saya bekerja.

Mungkin itu masalah kita semua. Kita hafal sila, tapi gagap mempraktikkan. Kita bangga jadi bangsa religius, tapi pelit beradab. Kita jago orasi persatuan, tapi gampang unfollow orang hanya karena beda pilihan.

Imam Al-Ghazali pernah berkata, ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah. Pancasila tanpa laku, ya begitu juga. Dia jadi jargon kosong yang enak didengar, tapi tidak mengenyangkan siapa-siapa.

Karena bangsa ini tidak akan berubah dari istana. Dia berubah dari kamar-kamar kecil yang isinya orang-orang biasa, yang memutuskan: “Mulai malam ini, saya mau jadi Indonesia yang sebenarnya.”

Selamat Hari Lahir Pancasila – 1 Juni 2026.

Kurban: Mari Menyembelih Ego

Kurban: Mari Menyembelih Ego

Oleh: Abd Mufid

Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep | Penulis Lepas

Idul Adha kini kembali datang. Di masjid-masjid, musala, dan lapangan, gema takbir menggema. Di halaman rumah dan tempat pemotongan hewan, pisau akan dihunus, darah akan mengalir. Ritual kurban kembali dilaksanakan. Tapi pertanyaannya; apakah kita hanya sedang menyembelih kambing dan sapi?

Kata kurban berasal dari bahasa Arab qaruba قَرُبَ yang artinya dekat atau mendekat. Dalam istilah syariat, kurban adalah menyembelih hewan ternak seperti kambing atau sapi pada Hari Raya Iduladha sebagai bentuk ketaatan dan sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jadi, tujuan akhirnya bukan dagingnya. Bukan pahalanya. Bukan pula unjuk status sosial karna “saya tahun ini kurban 1 ekor sapi”. Tujuan akhirnya adalah qaruba—mendekat kepada Sang Pencipta.

Dan di sinilah penulis ingin mengajak kita semua berhenti sejenak. Kalau kurban adalah jalan untuk mendekat, lalu apa yang selama ini menjauhkan kita dari Allah? Jawabannya sederhana: ego dan hawa nafsu.

Kurban adalah Praktik Simbolik Menyembelih Ego

Setiap tahun kita menyaksikan pemandangan yang sama. Hewan kurban diikat, ditidurkan, lalu disembelih. Darahnya mengalir, dagingnya dibagikan. Ritual ini sudah berlangsung 1400 tahun lebih sejak Nabi Ibrahim diperintahkan menyembelih putranya, Ismail. Tapi coba kita baca ulang kisah itu. Yang disembelih bukan hanya seekor domba. Yang disembelih adalah kemelekatan Ibrahim pada anaknya. Yang disembelih adalah logika manusiawi yang bertentangan dengan perintah Tuhan. Yang disembelih adalah ego: “Ini anakku, buah hatiku, kenapa harus aku korbankan?” Gumam Ibrahim AS. Padalah, Allah tidak butuh darah dan daging kurban itu.

Allah berfirman: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaanmulah yang sampai kepada-Nya” [QS. Al-Hajj: 37].

Jadi, kurban adalah latihan. Latihan untuk mematikan apa yang dalam diri kita paling sulit dimatikan: rasa paling benar sendiri, rasa paling berhak, rasa tidak mau mengalah, rasa tidak mau berbagi.

Di zaman sekarang, ego itu hadir dalam bentuk yang lebih halus. Ego ketika kita lebih sibuk pamer kurban di media sosial daripada memastikan daging sampai ke tangan fakir miskin. Ego ketika kita ribut soal siapa panitia, siapa yang motong, siapa yang dapat bagian paling besar. Ego ketika kita merasa “saya sudah berkurban, jadi saya lebih saleh dari yang lain”. Padahal, kalau ego itu tidak disembelih, maka kurban kita hanya jadi transaksi dagang dengan langit: saya beri hewan, Engkau beri pahala. Titik.

Mendekat Lewat Pengorbanan Diri

Makna qaruba tidak akan pernah tercapai kalau kita tidak mau berkurban atas diri sendiri. Menyembelih ego artinya mau mendengar saat pasangan bicara.

Menyembelih hawa nafsu artinya menahan diri saat marah di grup WA keluarga. Menyembelih keserakahan artinya rela membagi rezeki meski kita sendiri merasa kekurangan. Idul Adha bukan hanya tentang hewan yang disembelih di luar. Ia tentang apa yang kita sembelih di dalam diri.

Tahun 2026 ini, mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum evaluasi diri. Sudah berapa lama kita memelihara ego yang membuat kita jauh dari keluarga? Sudah berapa lama kita menuruti hawa nafsu yang membuat kita jauh dari Allah?

Kurban sejati terjadi ketika pisau itu diarahkan ke dalam dada kita sendiri. Bukan untuk menyakiti, tapi untuk membebaskan. Karena pada akhirnya, Allah tidak melihat seberapa besar hewan kurban kita. Allah melihat seberapa besar kita berani mengecilkan diri di hadapan-Nya. Mari menyembelih ego. Mari mendekat pada-Nya.

Selamat Idul Adha 1447 H / 2026 M.

Bukan Kerasukan, Bukan Malu: Memahami Skizofrenia di Tengah Kita

Bukan Kerasukan, Bukan Malu: Memahami Skizofrenia di Tengah Kita

Oleh: Abd Mufid

Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep | Pemerhati Keswa

Setiap 24 Mei, dunia memperingati Hari Skizofrenia Sedunia. Di Indonesia, tanggal itu sering lewat begitu saja. Tidak ada pawai, tidak ada trending topic. Padahal di balik sepi itu, ada ratusan ribu keluarga yang tiap hari berjuang mendampingi anggota keluarganya yang hidup dengan skizofrenia.

Di beberapa daerah, orang dengan Skizofrenia disebutnya “ngigau berat”. Di tempat lain, dibilang “diganggu jin,” atau “kesurupan.” tapi umumnya masyarakat kita lebih familiar dengan sebutan ODGJ. Stigma itu tidak lahir dari niat jahat. Ia lahir dari ketidaktahuan, dari cara kita dulu menjelaskan sesuatu yang tidak masuk akal bagi logika.

Padahal skizofrenia bukan kutukan. Ia adalah gangguan kesehatan mental. Sama seperti diabetes mengganggu pankreas, skizofrenia mengganggu keseimbangan kimia di otak. Bedanya, yang terganggu adalah cara berpikir, cara merasa, dan melihat dunia.

Ketika Dunia Jadi Berisik

Coba bayangkan, tiba-tiba ada suara di kepala yang terus menyalahkan Anda. Atau Anda yakin tetangga sudah bersekongkol untuk mencelaka Anda, padahal tidak ada bukti apa pun. Dunia yang tadinya aman, berubah jadi tempat yang penuh ancaman.

Itu yang dialami Sumarno, bukan nama sebenarnya, warga Sumenep. Lulusan SMK yang dulu pernah aktif sebagai remas masjid. Setelah lulus, ia mulai menarik diri dari keramaian. Awalnya dibilang “lagi galau”. Lama-lama ia bicara sendiri, tertawa tanpa sebab, dan menolak keluar rumah karena merasa diawasi.

Keluarganya membawa ke kyai dulu. Setelah setahun ruqyah tidak membuahkan hasil, baru dibawa ke puskesmas. Diagnosa dokter: skizofrenia. “Kalau saja kami tahu lebih cepat, mungkin Sumarno tidak sampai kehilangan pekerjaan dan teman-temannya,” kata ibunya.

Cerita Sumarno bukan pengecualian. Di Indonesia, prevalensi gangguan jiwa berat seperti skizofrenia diperkirakan mencapai 2,6 juta orang. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) mencatat prevalensi penderita skizofrenia sebesar 4,0 permil, atau sekitar 3 penderita per 1.000 rumah tangga. Angka ini belum termasuk yang belum terdiagnosa karena malu atau takut dikucilkan.

Agama Tidak Menyuruh Kita Mengucilkan

Di sinilah peran kita sebagai masyarakat, dan juga sebagai umat beragama diuji. Islam mengajarkan bahwa menjaga akal adalah salah satu tujuan syariat. Imam Al-Syatibi, salah satu ulama’ Ushul Fiqih dan Maqashid Syariah, menggolongkan lima pokok unsur dalam maksud syariah, yakni menjaga agama (hifz al-din), menjaga jiwa (hifz al-nafs), menjaga akal (hifz al-aql), menjaga keturunan (hifz al-nasl), dan menjaga harta (hifz al-mal). Maka, dalam konteks ini, mendampingi orang dengan skizofrenia agar bisa berobat dan hidup layak, adalah bagian dari ibadah itu sendiri.

Tokoh agama, ustaz, penyuluh agama, punya posisi strategis. Ketika masyarakat datang bertanya, jawaban “itu gangguan jin” bisa menutup pintu. Tapi jawaban “mari kita cek ke puskesmas dulu, sambil tetap berdo’a”, bisa membuka jalan kesembuhan.

Ini bukan soal memilih antara agama dan sains. Ini soal menggabungkan keduanya. Ruqyah bisa menjadi ketenangan batin. Tapi obat antipsikotik dari psikiater bekerja pada zat kimia otak yang memang terganggu. Keduanya bisa berjalan beriringan.

Apa yang Bisa Kita Lakukan Hari Ini?

Peringatan 24 Mei bukan sekadar seremonial. Ia pengingat bahwa kita perlu mengubah cara pandang.

Pertama, hentikan stigma. Jangan panggil mereka “gila”, “orang tidak waras”, atau “ditempel jin”. Kata-kata itu melukai lebih dalam dari penyakitnya.

Kedua, dorong pengobatan. Jika ada tetangga atau keluarga yang menunjukkan gejala seperti bicara kacau, bicara seorang diri, menarik diri total, mendengar suara yang tidak ada, ajak ke puskesmas. Obat medis dan konseling tersedia.

Ketiga, jadi rumah yang aman. Orang dengan skizofrenia butuh lingkungan yang tidak menghakimi. Dukungan keluarga adalah faktor terbesar yang menentukan apakah mereka bisa pulih dan kembali produktif.

Di Sumenep, para penyuluh agama yang tergabung dalam Ikatan Penyuluh Agama Republik Indoensia (IPARI) mulai bergerak ke arah ini. Lewat penyuluhan, obrolan di majelis taklim, dan kerja sama dengan puskesmas, juga KOPDAS (Komunitas Peduli ODGJ Sumenep). Gerak kecil, tapi penting. Karena kesembuhan tidak hanya terjadi di ruang dokter. Ia juga terjadi di ruang tamu, di warung kopi, di mushalla, ketika masyarakat mulai paham dan mau menerima.

Skizofrenia mungkin membuat dunia seseorang menjadi berisik. Tugas kita adalah memastikan bahwa dunia di sekitarnya tetap tenang, menerima, dan penuh harapan. Karena menjaga akal sesama manusia, adalah cara kita menjaga kemanusiaan kita sendiri.

Mungkin skizofrenia terasa jauh dari kita. Sampai suatu hari, kita sadar ia ada di tetangga, di keluarga, bahkan di dalam diri yang sedang lelah. Memahami bukan berarti membenarkan semua gejalanya. Memahami berarti memilih untuk tidak menghakimi sebelum mencoba menolong.

Barangkali kita tidak bisa mengubah dunia dalam semalam. Tapi kalau catatan ini membuat Anda berhenti sejenak dan merenung, maka sudah cukup. Sampai jumpa di catatan berikutnya.

Selamat hari Skizofrenia sedunia – 24 Mei 2026!

Menjaga Bumi sebagai Ibadah: Gerak Batin Ekoteologis IPARI Sumenep

Menjaga Bumi sebagai Ibadah: Gerak Batin Ekoteologis IPARI Sumenep

Oleh: Abd Mufid
Penyuluh Agama Islam Kemenag Kab. Sumenep | Penulis Lepas

Setiap peringatan hari jadi kerap dirayakan dengan euforia seremonial: pemotongan tumpeng, karnaval, atau sekadar pawai simbolik. Namun, berbeda dengan yang dilakukan oleh Pengurus Daerah Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (PD. IPARI) Kabupaten Sumenep di usianya yang ke-3. Pada 22 Mei 2026, di kawasan wisata religi Asta Bhujuk Pongkeng, Desa Pakandangan Sangrah, Kecamatan Bluto, mereka memilih cara yang lebih substantif: “Gerak Batin Ekoteologis” dan penanaman 1.000 pohon avokado.

Bagi penulis, sebagai seorang penyuluh agama Islam yang sehari-hari berdialog dengan masyarakat di pelosok daratan hingga kepulauan Sumenep, gerakan ini bukan sekadar tanam-menanam. Ini adalah pergeseran paradigma dakwah: dari yang selama ini cenderung antroposentris menuju ekosentris yang berakar pada teologi.

Ekoteologi: Panggilan Iman, Bukan Sekadar Isu Lingkungan

Ketua PD. IPARI Sumenep dalam sambutannya menegaskan bahwa isu lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari misi dakwah. “Gerak Batin Ekoteologis ini merupakan panggilan iman,” ujarnya. Kalimat ini penting. Dalam tradisi Islam, menjaga alam (hifz al-bi’ah) adalah turunan dari menjaga jiwa (hifz al-nafs) dan keturunan (hifz al-nasl). Al-Qur’an berulang kali melarang kerusakan di bumi (la tufsidû fî al-ardh). Maka, ketika 175 penyuluh lintas iman dari 27 kecamatan berkumpul, itu adalah ikrar kolektif bahwa merusak lingkungan sama dengan mengabaikan amanah ketuhanan.

Yang membuat penulis terkesan, kegiatan ini tidak berhenti pada retorika. Rangkaiannya dimulai dengan Istighotsah Ekoteologi dan Taushiyah Ekoteologi—sebuah bentuk taubat ekologis. Seolah-olah kami para penyuluh sedang mengakui bahwa kelalaian manusia dalam mengeksploitasi alam adalah dosa sosial yang perlu diistighfarahi. Lalu, aksi bersih-bersih lingkungan di area makam keramat menjadi simbol penyucian lahiriah sebelum menanam bibit-bibit harapan.

Kemandirian yang Menggugat

Satu hal yang paling menggugah hati penulis sebagai penulis opini adalah sumber pembiayaan. Seluruh operasional kegiatan, termasuk pengadaan ribuan bibit avokado varietas unggulan (Aligator, Miki, Red Vietnam, Markus/Kendil yang buahnya bisa mencapai 1,5 kg per biji), bersumber mandiri dari alokasi Kas IPARI Sumenep. Tidak ada bantuan eksternal.

Ini adalah pernyataan politik yang halus tapi keras. Para penyuluh agama bisa bergerak signifikan tanpa harus selalu menengadahkan tangan ke pemerintah atau donor. Kemandirian ini mencerminkan komitmen yang tulus, bukan sekadar proyek simbolis. Bayangkan, 1.000 pohon avokado produktif akan terus berbuah puluhan tahun ke depan. Ini adalah sedekah jariyah ekologis. Setiap pohon yang tumbuh, setiap buah yang dipanen warga, akan mengalirkan pahala bagi para penyuluh yang menanamnya.

Spiritualitas di Tanah Bersejarah

Dipilihnya Asta Bhujuk Pongkeng, makam Syekh Arif Muhammad, juga sarat makna. Kawasan ini merupakan salah satu pusat religi masyarakat Madura. Dengan menanam di tanah para wali, kami seolah menegaskan bahwa cinta kepada Tuhan (habl min Allah) harus diwujudkan dalam cinta kepada bumi (habl min al-‘alam). Tidak ada dikotomi antara zikir dan ekologi. Justru di tempat suci itulah pesan kelestarian alam disemai.

Penulis membayangkan, puluhan tahun mendatang, ketika anak cucu peziarah memetik avokado jumbo di sekitar makam keramat, mereka akan bertanya: “Siapa yang menanam ini?” Dan jawabannya akan mengarah pada satu nama: para penyuluh agama yang merayakan hari jadinya yang ke-3 dengan cara tak biasa.

Inspirasi untuk Khalayak Luas

Tentu, 1.000 pohon dari 175 penyuluh hanyalah permulaan. Namun, gerakan ini telah menginspirasi hal yang lebih besar. Bahwa penyuluh agama bisa menjadi garda terdepan gerakan lingkungan berbasis spiritualitas. Sisa bibit yang akan didistribusikan ke 27 kecamatan adalah strategi jitu menjadikan setiap penyuluh sebagai agen perubahan di wilayah masing-masing.

Prosesi penanaman bibit bibit pohon dimulai oleh Kepala Kemanag Sumenep H. Abd Wasid, dilanjutkan oleh peserrta lainnya.

Kini, konsep ekoteologi semakin mengemuka berkat gagasan progresif yang disuarakan oleh Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar. Dalam berbagai kesempatan, Menteri Agama menekankan pentingnya memandang alam bukan sekadar sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi, tetapi sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang harus dijaga dan dirawat. Salah satu implementasi nyata dari gagasan ini adalah program penanaman pohon yang melibatkan lembaga-lembaga keagamaan, pesantren, tokoh agama, dan masyarakat luas. Dan pelaksanaan kegiatan penanaman 1000 pohon oleh penyuluh agama kali ini, merupakan pengejawantahan dari pada gagasan Kementeriaan Agama RI tersebut.

Penulis berharap, segenap elemen masyarakat termasuk juga pemerintah daerah, tidak hanya memberi apresiasi seremonial pada kegiatan-kegiatan serupa, tetapi juga terus menduplikasi model kemandirian ini. Jadikan program ekoteologi sebagai bagian dari kurikulum dasar penyuluhan, juga menggaungkannya menjadi gerak batin publik. Karena pada akhirnya, tidak ada dakwah yang utuh tanpa menyelamatkan rumah bersama kita: bumi.

Selamat hari jadi ke-3, IPARI Sumenep. Teruslah bergerak dan berdampak, karena menanam pohon adalah menanam kehidupan, dan itu adalah ibadah yang tak pernah putus.

Pertengkaran Lekang, Romantisme Datang: 3 Batas Yang Tidak Boleh Dilanggar Saat Marahan

Pertengkaran Lekang, Romantisme Datang: 3 Batas Yang Tidak Boleh Dilanggar Saat Marahan

Oleh: Abd Mufid[1]

Prolog: Medan Perang

Dering ponsel itu membuat kopi pagi saya tersendak. Pukul 06.30, Jumat pagi. Di ujung sana, suara Bu Laila terdengar parau, seperti orang yang semalaman menangis tanpa suara.

“Pak, saya sudah di pintu gerbang KUA. Bapak sudah datang?”

Saya tahu persis apa yang akan terjadi. Ini bukan pertama kalinya Bu Laila datang dengan mata sembab dan langkah gontai. Yang membuat hati saya tercekat bukanlah niat cerainya, tapi jawabannya ketika saya bertanya, “Kenapa kok sampai segininya, Bu?”

Diam. Lalu lirih, “Kami tidak pernah bertengkar hebat, Pak. Tapi setiap malam, suami saya tidur di ruang tamu kalau lagi kesal. Bisa berhari-hari. Saya di kamar sendirian meremas bantal, bertanya-tanya salah saya apa. Lebih sakit mana dipukul atau diabaikan seperti ini?”

Saya hanya bisa diam memandang ubin keramik KUA yang dingin.

Sahabat CM, setiap rumah tangga pasti punya cekcok. Yang membedakan bukanlah apakah kita bertengkar, melainkan bagaimana kita bertengkar. Ada pertengkaran yang berakhir dengan gelak tawa sambil makan malam bersama penuh syahdu. Ada pula yang meninggalkan luka menganga bertahun-tahun.

Nabi Muhammad SAW. sudah memberi kode: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Pertanyaannya, apakah pasangan kita musuh debat yang harus ditaklukkan, atau partner yang sedang belajar bareng menuju surga?

Catatan kecil ini bukan untuk menggurui. Saya pun masih belajar. Tapi mari kita renungkan tiga batas yang tidak boleh dilanggar saat marah. Karena dari sanalah romantisme yang nyaris lekang bisa kembali hadir.

Batas Pertama: Rahasia Ranjang Bukan Tayangan Publik

Saya pernah memberikan bimbingan pernikahan pasangan muda, sebut saja Mas Fajar dan Mbak Nila. Tahun pertama, mereka romantis seperti iklan susu. Tapi menjelang tahun ketiga, Mbak Nila datang ke KUA dengan wajah seribu luka. Bukan lebam, tapi malu yang teramat dalam.

“Kenapa, Mbak?” tanyaku.

Jawabannya membuat saya tersentak: “Mas Fajar cerita ke teman main futsalnya, kalau saya susah bangun subuh dan sering lupa masak. Sekarang grup WhatsApp istri-istri temannya tahu semua. Saya malu, Pak. Saya tidak enak kalau arisan.”

Bayangkan. Aib yang hanya layak jadi teman bantal, tiba-tiba jadi konsumsi publik.

Rasulullah SAW. mengingatkan keras soal ini:

“Sesungguhnya amanah terbesar di sisi Allah pada hari Kiamat adalah seseorang yang memperhatikan istrinya, dan sebaliknya, kemudian menyebarkan rahasia pasangannya.” (HR Muslim)

Tadabbur sejenak:

Kata kuncinya adalah amanah. Allah titipkan kehormatan pasangan kepada kita. Saat membuka aibnya, kita bukan hanya mengkhianati manusia, tapi juga mengkhianati titihan Ilahi.

An-Nisa: 34 juga menjelaskan tentang istri shalihah yang hafizhatun lil ghaibi— menjaga kehormatan ketika suami tidak ada. Ini berlaku timbal balik. Suami pun wajib menjaga rahasia istri.

Pertanyaan ini bisa jadi menggugah untuk diri saya dan Anda: “Curhat ke sahabat dekat itu memang melegakan. Tapi batasnya di mana? Apakah pasangan kita akan tetap tersenyum jika tahu rahasianya sudah jadi bahan diskusi kelompok?”

Batas Kedua: Lisan Lebih Tajam Dari Pedang

Cerita kedua. Pak Rahmat, 47 tahun, datang ke pengajian rutin di mana kita biasa nimbrung di kampung saya. Biasanya beliau duduk di baris depan sambil membawa Al-Qur’an besar. Tapi malam itu ia duduk di pojok, di belakang tiang.

Setelah pengajian bubar, saya coba hampiri: “Lho, Pak Rahmat? Biasanya di depan.” Sergahku, memecah keheningannya.

Beliau hanya tersenyum kecut. Tiga hari kemudian saya tahu penyebabnya: anak semata wayangnya, Sari, sudah sebulan tidak mau bicara sama ayahnya. Karena Pak Rahmat, saat marah dengan istrinya soal uang, melontarkan kalimat: Dasar perempuan memang nggak becus ngatur duit. Sari juga ikut-ikutan tolol kayak ibunya.

Sari kebetulan ada di dapur dan mendengar semuanya. Kekerasan verbal. Ini yang sering dianggap remeh. Padahal dalam QS. An-Nisa: 19, Allah berfirman:

“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara ma’ruf.”

Imam Al-Qurthubi menafsirkan ma’ruf antara lain dengan perkataan yang baik, wajah yang ramah, dan sikap yang lapang dada.

Bentuk-bentuk kekerasan verbal yang kadang tidak kita sadari seperti; menghina, merendahkan, mengungkit-ngungkit masa lalu, melabeli hingga generalisasi berlebihan.

Rasulullah bersabda: “Muslim sejati adalah orang yang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari)

Perhatikan, Nabi menyebut lisan lebih dulu dari tangan. Kenapa? Karena luka fisik cepat kering, tapi luka hati dari kata-kata bisa menganga hingga puluhan tahun. Bahkan, ada istri yang lebih tegar dipukul daripada dihina di depan anak-anaknya.

Pertanyaan untuk kita semua:

“Kalimat terakhir yang Anda lontarkan saat marah pada pasangan — jika pasangan Anda rekam lalu putar ulang keesokan harinya ketika suasana sudah damai — apakah Anda akan bangga, atau justru malu setengah mati?”

Batas Ketiga: Jangan Jemput Pagi Dengan Dendam Semalam

Kembali ke Bu Laila di awal cerita. Suaminya, Pak Didik, punya kebiasaan, setiap kali kesal, ia tidur di ruang tamu. Bukan satu malam, bisa tiga malam. Istri di kamar. Mereka sarapan sendiri-sendiri. Berangkat kerja sendiri-sendiri. Pulang pun pura-pura tidak lihat.

“Pak Didik itu sebenarnya baik, Pak,” kata Bu Laila. “Cuma kalau marah, dia bisa mendiamkan saya sampai saya yang minta maaf duluan. Padahal kadang yang salah dia.”

Ini yang disebut hajr dalam istilah fikih. Pisah ranjang. Tapi bentuknya bukan nusyuz dari istri, melainkan boikot emosional dari suami.

Dalam QS. An-Nisa: 34, Allah mengizinkan hajr sebagai tahapan nasihat bagi istri yang nusyuz, dengan catatan: terbatas di tempat tidur (tidak keluar rumah) dan dengan tujuan mendidik, bukan balas dendam. Bukan untuk berhari-hari, apalagi berminggu-minggu.

Rasulullah menegaskan: “Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR. Bukhari-Muslim)

Kalau untuk saudara biasa saja tiga hari batasnya, apalagi untuk suami istri yang tidur satu atap? Tentu lebih utama untuk tidak dibiarkan sampai berganti hari. Mendiamkan pasangan tanpa penyelesaian dengan tempo waktu yang lama itu berbahay. Dapat memicu bom waktu, menumbuhkan prasangka buruk. Istri bisa berprasangka suami sudah tidak cinta, suami berprasangka istri tidak peduli, serta mengundang setan. Rumah yang sunyi dari komunikasi adalah taman favorit setan untuk menabur fitnah.

Ada tiga tips praktis yang bisa dilakukan pada saat emosi memuncak. Pertama, jika emosi sedang memuncak, ambil jeda. Bukan kabur atau lari. Katakan: “Sayang, saya lagi panas sekarang. Boleh kita bicara sejam lagi?” Kedua, Sepakati “cooling down time” misalnya maksimal 30 menit. Jangan sampai berlarut-larut. Ketiga, sebelum tidur, minimal ada satu kalimat penutup. Bisa “Maaf ya kalau tadi aku salah“, atau “Meskipun kita belum selesai masalahnya, aku tetap sayang kamu.”

Seni Mengelola Konflik Keluarga

Dari tiga batas di atas, penulis ingin mengajak Anda berhenti sejenak. Di mana letak “seni”-nya? Kenapa konflik yang sama bisa menghancurkan satu rumah tangga, tapi justru menguatkan rumah tangga lain?

Jawabannya ada pada seni mengelola konflik. Bukan ilmu pasti, tapi seni. Karena setiap pasangan punya watak, latar belakang, dan “bahasa cinta” yang berbeda.

Berdasarkan bacaan penulis atas naskah asli artikel ini dan pengalaman lapangan sebagai penyuluh, saya rangkum7 pilar seni mengelola konflik keluarga yang menggugah:

Pilar 1: Kesadaran Diri — “Siapa yang Mengendalikan Siapa?”

Seni pertama adalah mengenali bahwa amarah sedang datang. Ini krusial karena otak kita punya amygdala (pusat emosi) yang bereaksi 0,3 detik lebih cepat daripada prefrontal cortex (pusat logika). Artinya, saat marah, kita otomatis bodoh dulu. Baru setelah tenang, kita pintar lagi.

Orang yang tidak sadar diri akan langsung meledak. Orang yang sadar diri akan bilang: “Tunggu, saya lagi marah. Jangan saya bicara dulu.”

Pilar 2: Pengaturan Diri — Diam Itu Bukan Kalah, Tapi Strategi

Rasulullah bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad)

Seninya, diam bukan berarti mengalah. Diam adalah “ruang bernapas” agar amarah tidak naik ke ubun-ubun. Sambil diam, baca ta’awudz, duduk jika berdiri, berbaring jika masih marah, atau ambil wudhu atau mandi.

Pilar 3: Empati — Mencoba Masuk Sepatu Pasangan

Saya sering tanya ke jamaah yang berseteru: “Coba, kalau jadi dia, apa yang Anda rasakan?”

Orang yang berempati tidak akan bilang “Kamu egois!”, tapi “Saya paham kamu mungkin capek juga hari ini. Tapi saya juga butuh didengar.” Empati membedakan respons (yang matang) dari reaksi (yang impulsif).

Pilar 4: Komunikasi Asertif — Menggunakan “Aku” Bukan “Kamu”

Berikut ini merupakan teknik praktis yang luar biasa. Bandingkan, penggunaan kalimat “kamu” yang bersifat menuding atau menyalahkan (agresif). Dari pada kalimat “aku” yang cenderung bersifat asertif (menghargai/terbuka). Contoh; “Kamu nggak pernah ngerti aku!” “Kamu egois banget!” atau “Kamu maunya menang sendiri!” (agresif). Sementara; “Aku merasa sedih kalau kita nggak saling ngerti.” “Aku merasa diabaikan ketika keputusan diambil tanpa diskusi.” “Aku ingin kita sama-sama menemukan jalan tengah.” (Asertif). Intinya, kalimat “aku” tidak menuding, tapi membuka pintu dialog.

Pilar 5: Kendalikan Amarah dengan Teknik Sunnah

Dalam literatur-literatur klasik menyebutkan langkah-langkah praktis meredakan amarah: 1) Baca ta’awudz, karena amarah berasal dari setan. 2) Diam, tidak bicara apapun. 3) Ubah posisi tubuh, duduk jika berdiri, berbaring jika duduk. 4) Berwudhu, air memadamkan api amarah. 5) Ingat wasiat Nabi — “Jangan marah, maka bagimu surga.” Ini bukan teori. Ini obat mujarab yang sudah dicoba para sahabat.

Pilar 6: Fokus Pada Solusi, Bukan Pada Kesalahan

Banyak pasangan terjebak dalam blame game — sibuk mencari siapa yang memulai, siapa yang lebih salah. Akhirnya masalah tak selesai, ego yang justru dibesarkan.

Seninya: setelah kedua pihak tenang, tanyakan, “Apa yang bisa kita lakukan agar kejadian ini tidak terulang?” Bukan “Siapa yang salah?”

Pilar 7: Mediasi — Kapan Perlu Pihak Ketiga?

An-Nisa: 35 memberikan solusi: “Jika kamu khawatirkan perselisihan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan.”

Sahabat CM, seni terbesar dalam konflik adalah mengetahui kapan harus selesai berdua, dan kapan perlu memanggil penengah. Mediasi bukan berarti lemah. Justru itu tanda kedewasaan. Bahwa keselamatan rumah tangga lebih penting dari kemenangan pribadi.

Penutup: Karena Cinta Tak Selalu Hadir Dalam Pelukan, Tapi Juga Dalam Kemampuan Menahan Diri

Sahabat CM, penulis mencoba metutup catatan kecil ini dari kisah Kakek Darso. Pak Darso adalah seorang kakek di desa saya. Suatu waktu, saya pernah bertanya padanya, “Kek Dar, bagaimana caranya Kakek dan Ibu bisa 60 tahun bersama tanpa cerai?”

Kakek Darso tersenyum, lalu menjawab perlahan, “Cong, kami juga pernah hampir cerai berkali-kali. Tapi kami sepakat: ketika marah, kami tidak pernah tidur tanpa berjabat tangan. Dan kami tidak pernah membuka rahasia satu sama lain, sekalipun kepada anak-anak kami sendiri.”

Lalu Kakek Darso pun menambahkan, “Kami belajar bahwa setan senang ketika suami istri saling menyakiti dengan kata-kata. Maka kami belajar diam jika tak bisa berkata baik.” Pungkasnya.

Rumah tangga yang kuat bukan yang tanpa pertengkaran. Tapi yang tahu batas saat marah. Karena cinta tidak selalu hadir dalam ucapan “aku sayang kamu.” Cinta hadir saat mulut ini menahan diri untuk tidak menyakiti, cinta hadir saat kita memilih damai walau ego masih berat, dan cinta hadir saat kita lebih memilih tidur berpelukan daripada saling membelakangi. Maka, kalau malam ini Anda sedang berselisih dengan pasangan, ingatlah: Kita boleh berbeda, tapi jangan sampai kehilangan adab.

Sebab yang kita jaga bukan sekadar perasaan. Tapi keberkahan rumah tangga. Dan keberkahan itu tidak akan hadir jika kita terus menerus melanggar tiga batas saat marah: Membuka aib pasangan, Kekerasan verbal, dan Mendiamkan tanpa penyelesaian hingga tidur.

Semoga Allah satukan hati-hati kita dalam kebaikan, dan jadikan rumah kita tempat terindah untuk pulang. Aamiin.

Sumenep, 20 Mei 2026

[1] Penulis adalah Penyuluh Agama Islam di lingkungan Kementerian Agama Sumenep, Koordinator Bidang Pendidikan Keluarga LKK-NU Sumenep (periode 2026-2031), serta aktif menulis esai keislaman dan penguatan keluarga di http://catatanmufid.id

 

Copyright © 2026 Catatan Mufid