Kelakar Suka-Suka di Syawalan IKA-SUKA

Kelakar Suka-Suka di Syawalan IKA-SUKA

Oleh: Abd Mufid[1]

Ada yang aneh dari tawa itu!

Ia pecah berkali-kali, bergelombang, bahkan kadang terasa “tidak penting.” Tapi justru di situlah, di sela-sela kelakar yang tampak suka-suka—terselip sesuatu yang tidak sederhana: ingatan, idealisme, dan barangkali iman yang diam-diam sedang dirawat.

Syawalan IKA-SUKA Sumenep ke-XII di kompleks Ponpes Annuqayah, Guluk-Guluk, Kamis, 26 Maret 2026, bukan sekadar forum temu alumni. Ia lebih mirip ruang pulang—tempat di mana manusia tidak hanya bertemu wajah, tapi juga menemukan kembali versi terbaik dari dirinya yang mungkin sempat tercecer oleh zaman.

Dimulai dari ziarah ke para masyayikh, lalu tahlil dan shalawat, hingga sarasehan penuh canda, semuanya seperti satu alur yang utuh: dari sunyi menuju riuh, dari khidmat menuju hangat. Dan di tengah-tengahnya, manusia belajar satu hal yang sering dilupakan—bahwa kehidupan tidak selalu harus serius untuk menjadi bermakna.

Lantunan Shalawat Nabi di sela-sela seremoni Syawalan IKA-SUKA.

Kelakar yang Tidak Pernah Kosong Makna

Jika dilihat sepintas, forum itu hanyalah “gelanggang kelakar.” Cerita mahasiswa abadi, kisah pindah jurusan, semboyan “hindari wisuda dini,” hingga pengalaman ngekos yang lebih banyak “menghilang” daripada tinggal—semuanya mengundang tawa.

Namun di balik itu, tersimpan satu pesan sunyi: bahwa perjalanan intelektual tidak selalu lurus, dan justru dari kelokan itulah karakter ditempa. Bukankah Nabi pernah bersabda:

“Sesungguhnya aku juga bercanda, namun aku tidak mengatakan kecuali yang benar.”
(HR. Tirmidzi)

Kelakar, dalam tradisi yang sehat, bukan pelarian dari makna. Ia justru jalan masuk menuju makna—dengan cara yang lebih manusiawi. IKA-SUKA tampaknya memahami ini dengan baik. Bahwa humor bukan lawan dari keseriusan, melainkan jembatan menuju kebijaksanaan.

“Ngadhek Parjugah Sabarengan”: Berdiri Bersama, Tanpa Merendahkan

Tema yang diusung, “ngadhek parjugah sabarengan,” bukan sekadar slogan lokal.
Ia adalah filosofi hidup: berdiri tegak bersama, tanpa merasa lebih tinggi, tanpa menjatuhkan yang lain. Dalam bahasa iman, ini sejalan dengan firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…” (QS. Al-Hujurat: 10).

Dan lebih dalam lagi: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Kesetaraan dalam forum itu terasa nyata. Para alumni lintas generasi, dari berbagai latar belakang—akademisi, kiai, politisi, aktivis—duduk dalam satu lingkaran yang sama: tidak ada yang lebih tinggi, kecuali nilai yang dibawa masing-masing.

Merawat Idealisme di Tengah Dunia yang “Tidak Baik-Baik Saja”

Di balik cerita-cerita ringan, terselip kegelisahan yang serius: tentang dunia yang semakin pragmatis, tentang nilai yang mulai ditukar dengan kepentingan, tentang idealisme yang perlahan memudar. Namun justru di situlah kekuatan forum ini. Ia tidak melawan dengan pidato besar, tetapi dengan contoh kecil.

Kisah tentang tidak menyalakan TV, mencuci sendiri, hidup sederhana—bagi sebagian orang mungkin tampak remeh. Tapi di situlah letak “perlawanan sunyi.” Sebagaimana pesan Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)

Perubahan besar, ternyata, tidak selalu dimulai dari panggung besar. Ia justru lahir dari ruang-ruang kecil: rumah, keluarga, kebiasaan sehari-hari. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah pernah berkata:

“Siapa yang memperbaiki yang tersembunyi dalam dirinya, maka Allah akan memperbaiki yang tampak darinya.”

Silaturrahmi: Antara Fisik dan Rasa

Di era hari ini, silaturrahmi sering kali hanya sebatas notifikasi: pesan singkat, emoji, atau status broadcast yang cepat berlalu. Namun Syawalan ini menghadirkan sesuatu yang berbeda: silaturrahmi yang utuh—fisik, rasa, dan makna. Tawa yang sama, tatap mata yang jujur, dan pelukan yang hangat—semuanya tidak bisa digantikan oleh layar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka barangkali, yang dirindukan dari forum ini bukan hanya pertemuannya, tetapi “rasa hidup” yang muncul darinya.

Catatan Penutup

Barangkali, kita terlalu sering mengira bahwa kebenaran harus selalu hadir dalam bentuk serius, kaku, dan penuh tekanan. Padahal, di suatu sudut Guluk-Guluk, dalam gelak tawa yang tampak sederhana, orang-orang sedang merawat sesuatu yang jauh lebih penting: ingatan, persaudaraan, dan idealisme.

Kelakar itu bukan tanpa arah. Ia adalah cara lain untuk tetap waras di tengah dunia yang semakin bising. Ia adalah bahasa halus untuk menyampaikan nilai, tanpa menggurui. Ia adalah strategi sunyi untuk menjaga iman, tanpa harus terlihat agung.

Dan mungkin, di situlah letak pelajaran terbesarnya: Bahwa menjadi baik tidak harus selalu tampak berat. Bahwa menjaga nilai tidak harus selalu dengan amarah. Dan bahwa terkadang, tawa adalah cara paling jujur untuk tetap menjadi manusia.

Sebab pada akhirnya, yang akan kita bawa pulang dari setiap pertemuan bukanlah siapa yang paling banyak bicara—tetapi siapa yang paling dalam menyentuh jiwa. Dan, Syawalan IKA-SUKA telah melakukan itu, dengan cara yang sangat sederhana: bercanda, tetapi tidak pernah kehilangan makna.

Foto bersama di akhir sesi.

[1] Penyuluh Agama Islam KUA Lenteng, alumni UIN Sunana Kalijaga Yogtakarta

Idul Fitri: Momentum Sembuh atau Kembali Jatuh?

Idul Fitri: Momentum Sembuh atau Kembali Jatuh?

Oleh: Abd Mufid[1]

Malam itu, di sela deru takbir menggema, kita menangis. Diam-diam, di antara sujud yang panjang, kita merangkai janji: akan pulang sebagai manusia baru. Tangan kita terangkat, hati kita luluh, dan untuk sesaat, kita merasa benar-benar “dekat.”

Namun hari ini, di balik baju baru dan senyum yang dipaksakan rapi, ada satu pertanyaan yang tidak berani kita jawab dengan jujur: apakah kita benar-benar pulang—kembali fitri, atau hanya singgah sebentar, lalu kembali tersesat?

Saya pernah menyaksikan sebuah pemandangan sederhana, tapi menghunjam dalam. Seorang kawan, di hari Idul Fitri, tersenyum begitu hangat. Ia bersalaman, memeluk, bermaaf-maafan. Rumahnya ramai. Tawa berpendar di setiap sudut. Namun ketika semua tamu pulang, ia duduk sendiri—Sunyi. Lalu perlahan air matanya berlinang.

Bukan karena haru. Tapi karena sadar: “Ramadhan sudah pergi, tapi aku masih seperti ini.” Namun dari titik itulah kegelisahan itu lahir: apakah Idul Fitri benar-benar menyembuhkan, atau hanya memberi jeda sebelum luka lama kambuh kembali?

Ramadhan Momentum Penyembuhan

Secara normatif, tujuan Ramadhan begitu jelas. Puasa bukan sekadar menahan lapar,
melainkan proses pembentukan diri menuju takwa. Sebuah transformasi yang menuntut keberlanjutan, bukan euforia sesaat.

Namun dalam realitas psikologis manusia, Ramadhan sering kali berhenti sebagai ritual musiman. Ia seperti pelatihan intensif selama 30 hari kita belajar mengendalikan emosi, menata ritme hidup, menjernihkan hati. Tetapi kita lupa satu hal yang paling krusial: melanjutkan apa yang telah kita mulai.

Maka tidak heran, jika selepas Ramadhan hati kembali mengeras, emosi kembali liar, dan relasi kembali retak. Kita tidak jatuh secara tiba-tiba. Kita jatuh perlahan karena membiarkan kebiasaan lama tumbuh kembali, diam-diam, tanpa perlawanan.

Lebaran seharusnya menjadi momentum penyembuhan. Namun mengapa justru: ada yang pulang kampung dengan kecemasan, ada yang bertemu keluarga dengan luka lama yang belum selesai, ada yang saling memaafkan, tapi tidak benar-benar melepaskan?

Ketahanan Pasca Ramadhan

Kalimat “mohon maaf lahir batin” sering kali hanya berhenti di bibir—tanpa pernah benar-benar turun ke hati. Seorang ulama tabi’in Hasan Albashri, pernah mengingatkan: “Bukanlah hari raya bagi mereka yang mengenakan pakaian baru, melainkan bagi mereka yang ketakwaannya bertambah.”

Kalimat ini sederhana, tapi menampar kesadaran kita. Bahwa ukuran kemenangan bukan pada gemerlap hari raya, melainkan pada ketahanan pasca-Ramadhan. Yaitu ketaatan dan ketakwaan. Hal ini Sejalan dengan firman Allah dalam al-Qur’an Surat Al-Hujurat: 13: “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

Di titik ini, kita perlu jujur. Jika hari ini terasa kosong, itu bukan karena Ramadhan gagal. Melainkan karena kita belum mampu menjaga api yang sempat menyala di dalam diri kita.

Puasa Berkelanjutan

Sembuh, dalam perspektif spiritual, bukan berarti kita menjadi sempurna. Sembuh berarti tetap menjaga shalat meski belum khusyuk, tetap menahan lisan meski sering tergelincir, tetap membersihkan hati meski masih terluka. Sembuh adalah proses yang berkelanjutan, bukan perubahan instan yang selesai dalam satu bulan.

Idul Fitri bukan garis akhir. Ia adalah titik awal. Bukan tentang siapa yang paling suci hari ini, melainkan siapa yang paling mampu menjaga dirinya setelah hari ini. Karena yang paling berbahaya bukan dosa yang pernah kita lakukan, melainkan kebiasaan lama yang kita izinkan untuk hidup kembali.

Maka kini, pertanyaannya bukan lagi retoris. Ia menjadi sangat personal: setelah Ramadhan ini, kita benar-benar berubah, atau hanya merasa telah berubah?

Simpan pertanyaan itu baik-baik. Di ruang terdalam hati kita. Biarkan ia menjadi alarm—yang berbunyi setiap kali kita mulai tergelincir lagi. Sebab pada akhirnya, Idul Fitri bukan tentang kembali suci, melainkan tentang satu pilihan sunyi: kita ingin sembuh, atau kembali jatuh?

Catatan Penutup

Ramadhan telah mengajarkan kita cara berjalan pelan, menahan, menjaga, dan menyadari. Namun selepas ia pergi, kehidupan akan kembali berlari. Dan di situlah letak ujian yang sesungguhnya: apakah kita tetap berjalan dengan kesadaran, atau terseret arus kebiasaan?

Maka, jika hari ini langkah kita masih goyah, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kita gagal. Karena menjadi baik itu tidak selalu tentang tidak pernah jatuh, tetapi tentang tidak betah berada dalam kejatuhan. Dan menjadi pulih bukan tentang hilangnya luka, melainkan tentang kesediaan untuk terus merawatnya agar tidak kembali berdarah.

Idul Fitri ini, tidak perlu menjadi manusia yang sempurna. Cukuplah menjadi manusia yang terus berusaha menjaga arah. Sebab pada akhirnya, jalan menuju Allah bukan milik mereka yang selalu kuat, tetapi milik mereka yang—meski berkali-kali jatuh—tetap memilih untuk kembali. Dan semoga kita diberi kesempatan bertemu di Ramadhan berikutnya.

[1] Pengampu Catatan Mufid ID – Penyuluh Agama Islam KUA Lenteng – Kemenag Sumenep

Campur Tangan Orang Tua: Dukungan atau Tekanan?

Campur Tangan Orang Tua: Dukungan atau Tekanan?

Romansa dan Realita: Membangun Keluarga Tangguh di Zaman Modern

Oleh: Abd Mufid[1]

Malam itu udara di studio Pro-2 RRI Sumenep terasa hangat. Lampu siaran menyala, mikrofon terbuka, dan suara khas radio mengalir pelan di ruang siar. Program Jaga Malam baru saja dimulai. Di balik kaca studio, Om Dian—dengan gaya santainya yang khas—membuka percakapan dengan satu pertanyaan sederhana, tetapi mengandung gema panjang dalam kehidupan keluarga:

“Dalam rumah tangga muda, siapa sebenarnya yang menjadi sutradara keluarga?” Apakah suami dan istri sendiri? Atau orang tua yang merasa masih memiliki hak mengatur kehidupan anaknya?

Pertanyaan itu seketika terasa dekat dengan realitas banyak keluarga di masyarakat kita—terutama di Madura. Karena dalam banyak kisah rumah tangga, konflik tidak selalu lahir dari persoalan ekonomi atau perselingkuhan. Kadang justru bermula dari sesuatu yang tampak sederhana: terlalu banyak tangan yang ikut mengatur rumah tangga yang baru saja dibangun.

Ketika Kasih Sayang Berubah Menjadi Kontrol

Izinkan kita membayangkan satu kisah yang sebenarnya sangat sering terjadi.

Di sebuah rumah sederhana di kampung Madura, pagi yang seharusnya tenang berubah menjadi ruang ketegangan. Seorang menantu berdiri di dapur dengan mata yang mulai memerah. Di ruang tengah, sang mertua berbicara dengan nada tinggi. “Sejak dulu keluarga kami tidak pernah seperti ini. Kamu ini menantu, harus ikut aturan keluarga!” Sang suami hanya terdiam. Ia berada di antara dua cinta yang sama kuatnya: ibunya dan istrinya.

Hari demi hari komentar kecil terus berdatangan. Tentang cara memasak. Tentang cara mengurus anak. Tentang bagaimana mengatur uang. Awalnya hanya nasihat. Lama-lama berubah menjadi kontrol. Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang perlahan berubah menjadi arena pertarungan perasaan. Dan kisah seperti ini bukan sekadar cerita. Ia nyata—hidup di banyak rumah tangga di sekitar kita. Pertanyaannya kemudian menjadi penting: Apakah campur tangan orang tua adalah bentuk kasih sayang, atau tekanan yang tidak disadari?

Romansa Budaya Madura: Hormat yang Mengakar

Untuk memahami fenomena ini, kita tidak bisa melepaskannya dari akar budaya masyarakat Madura. Ada satu falsafah yang sangat kuat dalam kehidupan sosial Madura: “Buppa’, Babbu’, Guru, Rato.” Ayah, ibu, guru, dan pemimpin.

Falsafah ini menempatkan orang tua pada posisi moral yang sangat tinggi. Dalam tradisi ini, menghormati orang tua bukan sekadar etika sosial, tetapi identitas budaya. Sehingga tidak mengherankan jika dalam banyak keluarga, orang tua merasa memiliki tanggung jawab moral untuk tetap ikut mengarahkan kehidupan anaknya—bahkan setelah anak itu menikah. Namun, di titik inilah romansa keluarga sering bertemu dengan realita. Ketika kasih sayang berubah menjadi dominasi, dan nasihat berubah menjadi keputusan sepihak.

Perspektif Usul Fiqh: Antara Bakti dan Kemandirian

Dalam khazanah hukum Islam, persoalan ini sebenarnya telah dibahas secara halus melalui berbagai prinsip usul fiqh. Pertama, Islam menempatkan “birrul walidain” (berbakti kepada orang tua) sebagai kewajiban besar. Al-Qur’an menegaskan:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا ۝٢٣

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra: 23)

Namun Islam juga mengajarkan prinsip keseimbangan. Setelah pernikahan terjadi, terbentuklah unit keluarga baru yang memiliki kemandirian sendiri. Dalam fikih keluarga, rumah tangga adalah wilayah privat suami–istri. Orang tua boleh menasihati, tetapi tidak mendominasi keputusan rumah tangga.

Beberapa kaidah usul fiqh bahkan memberi panduan yang sangat relevan.

  1. “La Dharar wa La Dhirar.”—Tidak boleh ada bahaya atau saling membahayakan.

Artinya, jika campur tangan orang tua justru menimbulkan kerusakan dalam rumah tangga, maka intervensi tersebut harus dibatasi.

  1. “Dar’ul Mafasid Muqaddam ‘ala Jalbil Mashalih.” —Menghindari kerusakan lebih diutamakan daripada mengambil kemaslahatan.

Niat orang tua mungkin ingin membantu. Tetapi jika bantuan itu memicu konflik, maka kerusakan tersebut harus dicegah.

  1. “Al-‘Adah Muhakkamah.”—Adat dapat menjadi pertimbangan hukum. Budaya keluarga besar memang dihormati dalam Islam. Namun adat tidak boleh berubah menjadi dominasi yang merusak tujuan utama pernikahan.

Perspektif Hukum Negara: Rumah Tangga adalah Otoritas Pasangan

Dalam perspektif hukum Indonesia, Undang-Undang Perkawinan menegaskan bahwa tujuan pernikahan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Hubungan hukum utama dalam keluarga berada pada suami dan istri, bukan pada keluarga besar. Artinya, secara hukum pun keputusan rumah tangga berada pada pasangan yang menjalani pernikahan tersebut.

Psikologi Keluarga: Pentingnya Batas yang Sehat

Para ahli keluarga modern menyebut satu konsep penting: healthy boundaries—batas hubungan yang sehat. Keluarga baru membutuhkan tiga hal: 1. Otonomi, 2. Kepercayaan, 3. Ruang tumbuh. Tanpa ketig hal tersebut, pasangan muda akan sulit belajar mandiri. Konflik kecil mudah membesar. Hubungan menantu dan mertua pun sering memburuk.

Di era digital seperti sekarang ini, konflik keluarga bahkan tidak jarang berpindah ke ruang publik: menjadi cerita media sosial, status sindiran, atau drama keluarga yang viral. Padahal rumah tangga seharusnya menjadi ruang paling aman untuk pulang. Tak ayal, ruang benteng keluarga kian rapuh. Sebab, marka garis antar ruang keluarga, ruang public dan ruang digital kian menjadi kabur.

Belajar Bijak: Untuk Orang Tua dan Pasangan Muda

Bagi orang tua, cinta kepada anak tidak pernah salah. Namun cinta juga membutuhkan kebijaksanaan. Anak yang menikah tidak sedang menjauh dari orang tuanya. Ia hanya sedang belajar membangun rumahnya sendiri. Peran orang tua berubah dari pengarah menjadi penasehat. Dari pengambil keputusan menjadi pemberi doa.

Sementara bagi pasangan muda, kemandirian tidak boleh berubah menjadi kesombongan. Berbakti kepada orang tua tetaplah kewajiban moral dan spiritual. Kuncinya, bukan perlawanan, tetapi komunikasi yang santun dan tegas.

Catatan dari Sebuah Malam di Radio

Percakapan malam itu di studio RRI Sumenep terasa lebih dari sekadar dialog radio. Ia seperti cermin kecil dari realitas sosial kita. Romansa keluarga sering terlihat indah di awal: pernikahan, doa orang tua, restu keluarga besar. Namun realita kehidupan rumah tangga menuntut sesuatu yang lebih sulit: keseimbangan antara cinta dan batas. Karena kadang rumah tangga tidak runtuh karena kurang cinta. Ia runtuh karena terlalu banyak suara yang ingin mengatur arah perjalanan.

Catatan Mufid ID

Pada akhirnya kita belajar satu hal sederhana namun dalam: Orang tua adalah akar yang memberi kehidupan. Tetapi setiap keluarga baru juga membutuhkan ruang untuk tumbuh menjadi pohonnya sendiri.

Keluarga yang tangguh bukanlah keluarga tanpa perbedaan. Ia adalah keluarga yang tahu kapan harus memberi nasihat, dan kapan harus memberi ruang. Sebab rumah tangga yang sehat tidak hanya lahir dari cinta suami dan istri. Melainkan, ia juga lahir dari kebijaksanaan orang tua—yang tahu kapan harus menggenggam, dan kapan harus melepaskan dengan penuh doa.

KUA Lenteng, 17 Maret 2026

Catatan Mufid ID

[1] Penyuluh Agama Islam KUA Kec. Lenteng—Kemenag Sumenep, dan Koordinator Pengembangan SDM LKK-NU Sumenep.

Ketika Allah Memanggilnya Tanpa “Tapi”

Ketika Allah Memanggilnya Tanpa “Tapi”

Catatan duka atas berpulangnya Dr. Taufikurrahman, S.Ag., M.Ag.

Oleh: Abd Mufid[1]

Ada kalanya sebuah kabar datang tidak seperti biasanya. Ia tidak mengetuk pintu, tidak memberi tanda. Ia hanya tiba, diam-diam—lalu menyesakkan dada.

Sabtu itu, 14 Maret 2026, kabar itu datang: Dr. Taufikurrahman, S.Ag., M.Ag., salah satu penyuluh agama Islam senior di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, telah berpulang. Dan seperti kebanyakan kabar duka, ia datang bersama keheningan panjang. Sejenak dunia terasa berhenti.

Bagi banyak orang, beliau bukan sekadar penyuluh agama. Ia adalah guru, mentor, sekaligus sahabat bagi para penyuluh yang lebih muda. Sosok yang tenang, tidak banyak bicara, tetapi setiap kalimatnya terasa menenangkan. Tidak pernah terlihat tergesa-gesa, tidak pula ingin menonjolkan diri. Namun di balik ketenangannya, tersimpan dedikasi yang begitu dalam pada tugas kepenyuluhan.

Di ruang-ruang diskusi para penyuluh, ketika gagasan terasa buntu dan langkah terasa bimbang, beliau sering menjadi tempat bertanya. Bukan karena jabatan formalnya sebagai pembina dalam kepengurusan IPARI Sumenep semata, tetapi karena kewibawaan yang lahir dari ketulusan. Beliau memiliki sesuatu yang tidak bisa dipelajari dari buku: keteduhan.

Sebuah Hadir yang Mungkin Adalah Salam Perpisahan

Ada satu peristiwa kecil yang kini terasa begitu besar maknanya. Tanggal 11 Februari 2026, IPARI Sumenep menggelar launching program unggulan. Saat itu kondisi fisik beliau sudah sangat lemah. Penyakit yang dideritanya membuat tubuhnya ringkih, bahkan sebagian waktu harus dihabiskan dengan beristirahat di rumah.

Namun di luar dugaan, beliau tetap datang. Bahkan sebelum berangkat, beliau sempat menelpon salah satu sahabatnya, meminta dijemput. Ia ingin hadir—meskipun mungkin tidak lama. Alasannya sederhana, tetapi terasa sangat dalam: “Saya mau hadir launching karena saya bangga dengan semangat teman-teman.”

Kalimat itu kini terasa seperti pesan yang tertinggal. Di sela-sela acara, beliau meminta difoto dari berbagai sudut. “Biar ada dokumentasi kalau saya turut hadir,” katanya sambil tersenyum. Foto-foto itu kemudian dibagikan ke berbagai grup WhatsApp dan media sosialnya. Saat itu mungkin tidak ada yang mengira bahwa dokumentasi sederhana itu kelak akan menjadi kenangan terakhir.

Bagi sebagian orang, momen itu mungkin biasa saja. Tetapi bagi kami yang kini mengenangnya, peristiwa itu seperti salam perpisahan yang disampaikan dengan cara paling lembut.

Suasana di mana Dr. Taufikurrahman turut menghadiri kegiatan Launching Program Unggulan IPARI, dan foto tersebut diambil berdasarkan permintaan almarhum.

Firasa yang Datang Terlambat

Saya masih ingat ketika beliau tiba di lokasi acara. Refleks saya mendekat, lalu mencium tangan beliau. Bukan sekadar hormat. Ada sesuatu yang bergetar di dalam batin. Entah mengapa saat itu saya berpikir: tidak mudah bagi beliau hadir dengan kondisi tubuh seperti itu. Barangkali karena rindu pada IPARI. Barangkali karena bangga melihat semangat para penyuluh. Atau mungkin… karena ingin memberikan dukungan terakhir.

Kini, setelah kabar wafatnya sampai di telinga kami, perasaan itu seperti menemukan jawabannya. Mungkin benar. Mungkin beliau sedang berpamitan. Di grup WhatsApp penyuluh, berbagai pesan muncul silih berganti. Ada yang menulis dengan air mata, ada yang sekadar mengirim doa.

“Senyumnya melekat dalam ingatan.”

“Sepertinya beliau sudah merasa akan meninggalkan kita.”

Satu kalimat bahkan terasa sangat menohok: “Setelah kepergian beliau, masih adakah yang akan bangga pada usaha teman-teman penyuluh?” Pertanyaan itu menggantung di udara.

Ketika Allah Memanggil Tanpa “Tapi”

Kepergian seseorang sering meninggalkan satu kata yang sama di hati orang-orang yang ditinggalkan: “Tapi.”

Tapi beliau masih relatif muda.
Tapi kami masih sangat membutuhkan beliau.
Tapi IPARI masih memerlukan bimbingannya.
Tapi kami belum siap kehilangan sosok sebaik itu.

Namun kematian tidak pernah bernegosiasi dengan kata “tapi”. Al-Qur’an telah mengingatkan:

“Setiap umat mempunyai ajal. Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak pula meminta percepatan.” Tidak ada yang dapat menunda atau mempercepatnya. Tidak ada ruang untuk tawar-menawar.

Kematian adalah kepastian paling sunyi dalam kehidupan manusia. Manusia boleh memiliki rencana, harapan, bahkan impian panjang. Tetapi ketika Allah memanggil, semua kalimat panjang itu berhenti pada satu titik yang sama. Titik yang bernama ajal.

Foto terakhir kebersamaan almarhum bersama rekan-rekan penyuluh agama pada kegiatan resmi IPARI Sumenep (Ket: Almarhum posisi paling tengah, mengenakan kacamata)

Jalan Menuju Keabadian

Bagi sebagian orang, kematian tampak seperti akhir. Namun dalam pandangan iman, kematian justru adalah pintu. Pintu menuju kehidupan yang lebih panjang dari segala yang pernah kita bayangkan.

Para sufi sejak lama mengingatkan bahwa dunia hanyalah persinggahan. Jalaluddin Rumi pernah menulis bahwa kematian bukanlah kehancuran, melainkan perpindahan dari satu ruang kehidupan menuju ruang yang lain. Barangkali begitulah cara Allah memuliakan hamba-hamba-Nya. Mereka dipanggil pulang setelah menyelesaikan bagiannya di dunia.

Bagi orang-orang seperti almarhum, warisan terbesar bukanlah jabatan, bukan pula kekayaan. Warisan terbesar adalah teladan: ketulusan, kesederhanaan, dan kesetiaan pada jalan pengabdian. Warisan yang tidak tertulis di buku, tetapi hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya.

Pesan Keabadian

Akhirnya kita sampai pada satu kesadaran yang sering kali baru terasa ketika seseorang benar-benar pergi: bahwa hidup ini sebenarnya bukan tentang berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi apa yang kita tinggalkan ketika kita pergi.

Sebagian orang hidup lama, tetapi jejaknya hampir tak terasa.
Sebagian yang lain mungkin tidak sepanjang itu usianya, tetapi kehadirannya meninggalkan gema yang panjang di hati banyak orang. Barangkali itulah yang sedang kita rasakan hari ini.

Kepergian Dr. Taufikurrahman bukan sekadar kehilangan seorang penyuluh agama, melainkan kehilangan satu mata air keteladanan—tentang bagaimana ilmu dijaga dengan rendah hati, bagaimana pengabdian dijalani tanpa riuh, dan bagaimana seseorang tetap hadir untuk orang lain bahkan ketika tubuhnya sendiri sedang rapuh oleh sakit.

Kita mungkin kehilangan sosoknya. Namun kita tidak kehilangan nilai yang ia hidupkan. Sebab sejatinya manusia tidak benar-benar mati ketika jasadnya dikuburkan. Ia baru benar-benar “hilang” ketika ilmu, amal, dan teladan yang ia tinggalkan tidak lagi dilanjutkan oleh generasi setelahnya.

Di titik inilah kematian berubah menjadi pesan. Pesan bagi kita semua—yang masih diberi waktu oleh Allah—bahwa hidup ini terlalu singkat untuk sekadar berlalu tanpa makna. Bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk menanam sesuatu yang kelak akan tetap hidup meskipun kita sudah tiada. Maka, jika suatu hari nanti Allah juga memanggil kita tanpa “tapi”, semoga yang tertinggal bukan hanya nama di batu nisan, melainkan kenangan baik di hati manusia dan amal yang terus mengalir di sisi-Nya.

Dan untuk almarhum Dr. Taufikurrahman, kami percaya satu hal: orang-orang baik tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya pulang lebih dulu. Sementara nilai-nilai yang mereka tanamkan akan terus hidup di langkah kami, di perjuangan kami, dan di jalan pengabdian yang akan kami lanjutkan.

Selamat jalan, guru.
Jejakmu akan tetap kami jaga.

Al-Fatihah.

Sumenep, 14 Maret 2026 M / 24 Ramadhan 1447 H

Catatan Mufid ID

[1] Penyuluh Agama Islam KUA Lenteng, sahabat almarhum.

Keswa: Menyembuhkan Batin yang Terluka

Keswa: Menyembuhkan Batin yang Terluka

Abd Mufid[1]

Pagi itu, udara di Terminal Arya Wiraraja masih menyimpan sisa embun. Deru mesin bus yang datang dan pergi bercampur dengan suara pedagang asongan yang menawarkan dagangannya. Orang-orang berlalu lalang, sebagian tergesa, sebagian menunggu. Terminal selalu menjadi tempat pertemuan banyak kisah: ada yang pulang dengan rindu, ada yang berangkat membawa harapan, dan ada pula yang menyimpan luka yang tak pernah benar-benar terlihat.

Di tengah hiruk pikuk itu, Kamis pagi, 12 Maret 2026, ada pemandangan yang berbeda. Beberapa meja layanan berdiri rapi di salah satu sudut terminal. Spanduk bertuliskan skrining kesehatan jiwa terpasang. Orang-orang mulai mendekat, sebagian penasaran, sebagian lagi mungkin diam-diam membutuhkan.

Hari itu, Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep menggelar kegiatan skrining kesehatan jiwa (Keswa) di area Terminal Arya Wiraraja. Kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial kesehatan. Ia adalah upaya kecil untuk menjangkau sesuatu yang sering kali luput dari perhatian: batin manusia yang terluka.

Program ini tidak berjalan sendiri. Ia lahir dari kerja bersama. Kementerian Perhubungan, BNN, gerakan GERMAS, Komunitas Peduli ODGJ Sumenep (KOPDAS), hingga Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Sumenep turut terlibat dalam ikhtiar yang sederhana namun sarat makna ini. Sebab kesehatan jiwa tidak pernah bisa diselesaikan oleh satu sektor saja.

Luka yang Tidak Selalu Terlihat

Kita sering kali mudah mengenali orang yang sakit fisik. Demam, batuk, atau luka di tubuh bisa langsung terlihat. Tetapi luka batin berbeda. Ia sering tersembunyi di balik senyuman, di balik obrolan biasa, bahkan di balik rutinitas sehari-hari.

Di ruang publik seperti terminal, kita bisa bertemu siapa saja: sopir yang bekerja hampir tanpa jeda, perantau yang menanggung beban ekonomi keluarga, ibu yang cemas memikirkan anaknya, atau seseorang yang diam-diam sedang berjuang melawan kecemasan dan tekanan hidup.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pernah menyebut bahwa satu dari delapan orang di dunia hidup dengan gangguan kesehatan mental. Di Indonesia sendiri, Riskesdas 2018 mencatat bahwa jutaan masyarakat mengalami gangguan mental emosional seperti kecemasan dan depresi.

Angka itu tidak selalu tampak di permukaan. Namun ia nyata. Karena itu, kegiatan skrining kesehatan jiwa seperti yang digelar di Terminal Arya Wiraraja sesungguhnya adalah langkah penting: membuka ruang agar orang berani mengakui bahwa batinnya sedang tidak baik-baik saja.

Ketika Negara Hadir Menyapa Jiwa

Yang menarik dari kegiatan ini bukan hanya layanan kesehatannya. Tetapi juga cara negara hadir di tengah masyarakat. Di tempat yang biasanya identik dengan keberangkatan dan kedatangan, hari itu terminal berubah menjadi ruang dialog tentang kesehatan jiwa. Petugas kesehatan memberikan skrining, relawan komunitas memberikan pendampingan, dan para penyuluh agama mencoba menyentuh sisi spiritual yang sering menjadi sandaran terakhir seseorang ketika hidup terasa berat.

Ini penting. Sebab kesehatan jiwa bukan hanya persoalan medis. Ia juga terkait dengan lingkungan sosial, ketahanan keluarga, spiritualitas, hingga rasa diterima dalam masyarakat. Keterlibatan berbagai pihak—mulai dari tenaga kesehatan, komunitas sosial, hingga penyuluh agama—menunjukkan satu hal sederhana namun mendasar: menyembuhkan jiwa membutuhkan pendekatan yang utuh.

Menghapus Stigma, Menumbuhkan Kepedulian

Masalah kesehatan mental di Indonesia sering kali terhambat oleh satu persoalan lama: stigma.

Masih banyak orang yang menganggap gangguan jiwa sebagai aib. Tidak sedikit keluarga yang memilih menyembunyikan anggota keluarganya yang mengalami masalah mental. Bahkan dalam beberapa kasus ekstrem, praktik pemasungan masih ditemukan. Padahal gangguan kesehatan jiwa sama seperti penyakit lain: ia bisa dikenali, bisa ditangani, dan sering kali bisa dipulihkan.

Di sinilah kegiatan seperti skrining kesehatan jiwa menjadi penting. Ia bukan hanya tentang pemeriksaan. Ia juga tentang edukasi publik—bahwa kesehatan mental adalah bagian dari kesehatan manusia secara utuh.

Menyembuhkan, Bukan Menghakimi

Di tengah kehidupan yang semakin cepat, tekanan hidup sering kali datang tanpa jeda. Persoalan ekonomi, konflik keluarga, tekanan pekerjaan, hingga kesepian di tengah keramaian bisa menjadi beban yang perlahan menggerus ketahanan batin seseorang. Kadang orang tidak membutuhkan nasihat panjang. Mereka hanya butuh didengar tanpa dihakimi.

Program Keswa yang hadir di ruang publik seperti terminal mengirimkan pesan sederhana namun kuat: bahwa negara dan masyarakat tidak boleh membiarkan seseorang berjuang sendirian melawan luka batinnya.

Catatan Kecil dari Terminal

Terminal adalah tempat orang datang dan pergi. Namun hari itu, di Terminal Arya Wiraraja, ada sesuatu yang lebih dari sekadar perjalanan. Ada orang-orang yang berusaha saling menjaga. Ada tenaga kesehatan yang mencoba memahami kegelisahan orang lain. Ada relawan yang memilih peduli pada mereka yang sering dilupakan. Ada penyuluh agama yang mengingatkan bahwa manusia tidak hanya butuh makan dan bekerja, tetapi juga ketenangan jiwa, kekukuhan spiritualitas.

Mungkin kegiatan ini terlihat sederhana. Tetapi dari langkah kecil seperti inilah perubahan sering kali dimulai. Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan jalan untuk bepergian. Manusia juga membutuhkan jalan untuk pulang pada ketenangan dirinya sendiri. Dan kesehatan jiwa adalah salah satu jalannya.


Catatan Mufid ID
Mencatat Peristiwa, Menyuarakan Makna

[1] Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep

Ramadhan Tiba: Menyucikan Hati, Menata Ulang Diri

Ramadhan Tiba: Menyucikan Hati, Menata Ulang Diri

Oleh: ABD MUFID, S.Th.I., M.Pd[1]

Ramadhan telah hadir lagi di tengah kesibukan sehari-hari kita. Seperti sebelumnya, kita menyambut bulan suci ini dengan beragam hidangan sahur yang menggoda selera, jadwal imsak di genggaman, tujuan khatam Al-Qur’an yang tinggi, serta riuhnya ucapan “Marhaban Ya Ramadhan”.

Ramadhan sebagai Cermin Kejujuran

Ramadhan sebenarnya lebih dari sekadar tamu tahunan yang datang dan pergi; ia berfungsi sebagai cermin yang menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Dalam QS. Al-Baqarah: 183, Allah SWT menjelaskan bahwa tujuan utama dari kewajiban puasa adalah untuk mencapai ketakwaan.

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ۙ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Takwa yang sejati adalah kesadaran akan kehadiran Allah, terutama ketika kita berada sendirian, di tempat-tempat yang tidak terlihat oleh orang lain atau kamera pengawas. Puasa merupakan bentuk latihan kejujuran yang paling hening. Aktivitas ini berjalan tidak hanya bekerja di atas sajadah, melainkan di pasar melalui timbangan pedagang, di kantor melalui integritas pekerjaan, dan di setiap transaksi sosial yang kita lakukan. Jika puasa tidak membuat kita lebih jujur, maka pada akhirnya yang lapar hanyalah tubuh kita, bukan ego kita. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

 “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Tiga Tingkatan Menuju Transformasi Hati

Untuk menata ulang diri, kita perlu memahami tingkatan puasa sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali. Beliau membagi puasa ke dalam tiga tahap:

  • Puasanya Orang Awam: Hanya sebatas menahan haus dan lapar.
  • Puasanya Orang Khusus: Mampu menjaga lisan dan anggota tubuh dari perbuatan dosa.
  • Puasanya Orang Paling Khusus: Inilah puncak transformasi, yaitu puasanya hati dari segala sesuatu selain Allah.

Puasa hati merujuk pada proses membersihkan diri dari penyakit batin seperti rasa iri, kesombongan, dan dengki. Jalaluddin Rumi menekankan bahwa puasa sebenarnya bukan sekadar menahan rasa lapar, melainkan lebih kepada memberikan nutrisi bagi jiwa.

Menjadikan Ramadhan sebagai Karakter Tetap

Setiap jenis perubahan sosial harus diawali dengan transformasi dalam diri kita. Allah SWT menekankan hal ini dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11, bahwa Dia tidak akan mengubah keadaan suatu masyarakat sebelum mereka mengubah apa yang ada dalam hati dan pikiran mereka.

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ ۝١١

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Apabila Ramadhan hanya berhenti pada ritual formalitas, maka ia akan berlalu tanpa makna. Namun, jika nilai-nilai Ramadhan berhasil meresap ke dalam akhlak, ia akan menetap lebih lama dari sekadar satu bulan; ia akan menjadi karakter permanen dalam diri kita.

Ramadhan yang autentik tercermin melalui sikap lembut terhadap pasangan, kesabaran dalam membimbing anak, serta kemampuan untuk memaafkan meskipun tidak ada permintaan maaf. Pada akhirnya, pertanyaan penting yang perlu kita jawab bukanlah seberapa banyak kita mengkhatamkan bacaan, melainkan berapa banyak hati yang berhasil kita sembuhkan dan berapa banyak khilaf yang mampu kita relakan.

Mari kita jadikan Ramadhan kali ini sebagai momentum untuk menyucikan hati dan menata ulang diri. Jangan biarkan ia hanya sekadar “numpang lewat”, namun pastikan ia meninggalkan bekas yang mendalam sebagai karakter baru dalam kehidupan kita hari ini dan nanti.

Pada akhirnya, setiap peristiwa selalu menyisakan pelajaran bagi mereka yang mau membaca kehidupan dengan hati yang jernih. Tulisan ini hanyalah ikhtiar kecil untuk merekam denyut zaman dan memetik hikmah dari setiap kejadian.


ABD MUFID
Catatan Mufid ID
Mencatat Fenomena, Menyuarakan Makna.

[1] Penyuluh Agama Islam KUA Lenteng, Kemenag Sumenep

PUASA: REM SPIRITUAL DI TENGAH DUNIA YANG NGEBUT

PUASA: REM SPIRITUAL DI TENGAH DUNIA YANG NGEBUT

Catatan Reflektif atas Peringatan Nuzulul Qur’an Kemenag Sumenep 1447 H

Oleh: Abd Mufid, S.Th.I., M.Pd

Ada satu pertanyaan sederhana yang kadang membuat kita diam sejenak:
mengapa manusia modern begitu pandai berlari, tetapi semakin sulit berhenti?

Di tengah dunia yang serba cepat—target kerja, notifikasi ponsel, ambisi sosial, dan tuntutan hidup—manusia seperti sedang mengendarai kendaraan dengan satu pedal saja: gas. Semua ingin dipercepat. Semua ingin dikejar. Namun jarang ada yang bertanya: apakah kita masih punya rem?

Pertanyaan itu terasa relevan ketika Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumenep menggelar peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Ar-Rasyidi MAN Sumenep, Kamis (5/3/2026). Kegiatan yang melibatkan seluruh ASN Kemenag ini dikemas dengan khatmil Qur’an, santunan anak yatim, serta pengajian umum menghadirkan ulama muda Dr. KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits—yang akrab disapa Ra Mamak.

Tema yang diangkat cukup dalam: “Al-Qur’an Amanah Ekologis dan Jalan Perdamaian Dunia.” Sebuah tema yang mengingatkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang ibadah personal, tetapi juga tentang tanggung jawab manusia terhadap kehidupan dan peradaban.

Namun di balik tema besar itu, tersimpan satu pesan sederhana yang justru terasa sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini: puasa adalah latihan menahan diri.

Keberuntungan Menjadi Pelayan Umat

Dalam sambutannya, Kepala Kemenag Sumenep KH. Abdul Wasid menegaskan bahwa menjadi ASN di lingkungan Kementerian Agama bukan sekadar pekerjaan administratif. Ia adalah takdir sekaligus keberuntungan untuk menjadi wasilah pelayanan umat.

Pernyataan ini sebenarnya mengandung pesan moral yang cukup tajam. Menjadi aparatur negara sering kali dipahami sebatas status pekerjaan: gaji, jabatan, dan rutinitas birokrasi. Padahal, dalam perspektif keagamaan, jabatan publik adalah amanah. Ia bukan sekadar profesi, tetapi ruang pengabdian.

Dalam bahasa sederhana: “di balik meja pelayanan itu, ada doa masyarakat yang berharap dipermudah.” Karena itu, rasa syukur yang dimaksud KH. Abdul Wasid bukan hanya diucapkan dalam kalimat religius, tetapi diwujudkan dalam kinerja yang baik dan pelayanan yang tulus. Di sinilah agama menemukan relevansinya dalam birokrasi: iman harus terjemah menjadi etika kerja. Dan “PATAS” (Cepat, Tuntas, dan Ikhlas), sebagai slogan Kemenag Sumenep diharapkan tidak hanya berhenti di slogan semata, melain ruh dalam berkinerja.

Puasa: Latihan Mengerem

Jika sambutan kepala kantor berbicara tentang amanah pelayanan, maka ceramah Ra Mamak mengajak hadirin masuk lebih dalam ke dimensi spiritual Ramadhan.

Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an dan Ramadhan memiliki dua fungsi utama: hudan (petunjuk) dan syifa’ (penyembuh). Namun dua fungsi itu tidak otomatis bekerja bagi semua orang. Ia hanya efektif bagi mereka yang memiliki iman. Artinya sederhana tapi menohok: Al-Qur’an tidak akan menyembuhkan hati yang tidak mau membuka diri.

Lebih menarik lagi ketika Ra Mamak mengulas hakikat puasa dalam satu kata kunci klasik dalam fikih: “As-shaum al-imsak”—puasa pada hakikatnya adalah menahan diri.

Menahan makan dan minum hanyalah simbol. Yang sebenarnya dilatih adalah kemampuan manusia mengendalikan dirinya sendiri. Di sinilah puasa menjadi seperti rem dalam kendaraan kehidupan.

Bayangkan sebuah motor dengan mesin kuat, bahan bakar penuh, dan pengendara penuh semangat—tetapi tanpa rem. Bukan kecepatan yang menyelamatkan pengendara itu, justru rem yang menentukan keselamatannya.

Begitu pula hidup manusia. Kita bangga dengan produktivitas. Bangga dengan kesibukan. Bangga dengan capaian. Namun jarang yang bangga dengan satu kemampuan penting: kemampuan menahan diri.

Dunia yang Terlalu Ngebut

Jika direnungkan, pesan “imsak” sebenarnya sangat relevan dengan kondisi masyarakat hari ini.

Kita hidup dalam budaya yang mengajarkan percepatan: lebih cepat bekerja, lebih cepat merespons, lebih cepat bereaksi. Ironisnya, semakin cepat dunia bergerak, semakin banyak manusia kehilangan kendali diri.

Orang bisa menahan lapar seharian, tetapi sulit menahan komentar di media sosial. Bisa menahan haus, tetapi tidak mampu menahan emosi. Di sinilah Ramadhan menjadi semacam laboratorium pengendalian diri. Ia mengajari manusia satu keterampilan yang mulai langka: berhenti sejenak.

 

Ramadhan sebagai “Charging Station” Jiwa

Ada satu ironi kecil dalam kehidupan modern. Kita sering lebih panik ketika baterai ponsel tinggal 5 persen, daripada ketika kesabaran kita tinggal 5 persen.

Kalau baterai hampir habis, kita segera mencari colokan listrik. Tetapi ketika emosi hampir meledak, jarang yang mencari “colokan sabar”. Padahal Ramadhan sebenarnya adalah charging station jiwa. Di bulan inilah manusia diajak mengisi ulang energi spiritual: menenangkan diri, memperbaiki niat, dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Jika tidak, kita mungkin akan tetap bergerak cepat—tetapi tanpa arah.

Belajar Berhenti Sebelum Terlambat

Peringatan Nuzulul Qur’an bukan sekadar seremonial tahunan. Ia adalah pengingat bahwa wahyu pertama yang turun kepada Nabi bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang kesadaran. Kesadaran membaca kehidupan. Kesadaran memahami diri. Dan kesadaran memaknai setiap peristiwa dan fenomena yang muncul di sekitar kita.

Dan mungkin, salah satu pelajaran paling sederhana dari Ramadhan adalah ini: hidup tidak hanya membutuhkan kemampuan ngegas, tetapi juga kemampuan mengerem. Karena yang sering menghancurkan manusia bukan kurangnya kecepatan, melainkan hilangnya kendali.

Maka Ramadhan datang setiap tahun bukan untuk melemahkan kita, tetapi untuk mengingatkan bahwa manusia yang paling kuat bukanlah yang paling cepat berlari—melainkan yang paling mampu menahan dirinya sendiri. Sebagaimana diriwayatkan Abi Hurairah, Nabi bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:
«لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ».  
صحيح] متفق عليه [] صحيح البخاري: 6114

Artinya: “orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, melainkan orang yang mampu menahan dirinya Ketika marah”. (HR. Imam Bukhari & Imam Muslim).

Padahal Nabi telah mengingatkan bahwa hati manusia mudah lalai ketika terlalu sibuk dengan urusan dunia. Bukan karena dunia itu salah, tetapi karena manusia sering lupa menempatkan prioritas. Di sinilah puasa, ibadah, dan tradisi spiritual hadir: bukan sekadar ritual, melainkan latihan mengembalikan arah hidup.

Peristiwa bisa datang dan pergi. Namun makna sering kali tertinggal bagi mereka yang bersedia memikirkannya.
Tulisan ini hanyalah cara sederhana untuk menangkap pelajaran dari yang terjadi.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━
ABD MUFID
Catatan Mufid ID
Mencatat Fenomena, Menyuarakan Makna.

Pernahkah kita bertanya jujur pada diri sendiri

Pernahkah kita bertanya jujur pada diri sendiri

CONTOH BOSS.

Salam sejahtera untuk kita semua.
Salam catat, Sahabat CM.

Pernahkah kita bertanya jujur pada diri sendiri: mana yang lebih cepat kita respon—suara azan atau suara notifikasi? Ketika azan memanggil dengan lantunan “Hayya ‘alash shalah…”, dan di saat yang sama ponsel kita berbunyi ting, mana yang lebih dulu kita lihat? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi diam-diam menyimpan cermin yang jujur tentang prioritas hidup kita.

Kita memang tidak pernah sujud pada gadget. Tidak ada orang yang meletakkan ponselnya di sajadah lalu menyembahnya. Namun ada satu kenyataan kecil yang sering luput kita sadari: setiap kali notifikasi berbunyi, kita hampir selalu patuh. Tangan refleks meraih ponsel, mata segera menatap layar, dan pikiran langsung terseret ke sana. Tanpa sadar, perhatian kita berpindah. Seolah ada sesuatu yang lebih mendesak daripada apa pun yang sedang kita lakukan.

Seorang teman pernah bercerita tentang semangat Ramadan yang menggebu. Ia bangun sahur dengan niat besar: tahun ini harus khatam Al-Qur’an dua kali. Setelah sahur selesai, ia mengambil ponsel dengan niat membuka aplikasi Al-Qur’an. Namun sebelum satu ayat pun terbaca, muncul notifikasi: flash sale sahur. Belum selesai membaca, muncul lagi pesan dari grup keluarga. Lalu grup alumni. Lalu grup lain yang entah sejak kapan ia masuk dan tidak pernah sempat keluar. Tiga puluh menit berlalu begitu saja. Yang terbaca bukan Al-Qur’an, melainkan timeline. Ramadan masih panjang, tetapi fokusnya sudah habis lebih dulu.

Kisah itu terdengar lucu, tetapi juga terasa sangat dekat. Banyak dari kita mungkin pernah mengalaminya. Niat besar sering kalah oleh distraksi kecil. Bukan karena kita tidak ingin berbuat baik, tetapi karena perhatian kita mudah sekali dicuri oleh hal-hal yang tampak sepele.

Padahal puasa sejatinya bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Puasa ditujukan agar manusia mencapai takwa. Dan takwa pada hakikatnya adalah kemampuan mengendalikan diri. Kita menahan yang halal di siang hari—makan, minum, dan berbagai kenikmatan lainnya—agar kita belajar menahan diri dari hal yang lebih berat di luar Ramadan.

Ironisnya, banyak dari kita mampu menahan makan hingga empat belas jam, tetapi kesulitan menahan jari untuk tidak menggulir layar selama empat belas menit. Notifikasi yang kecil itu sering kali memiliki daya tarik yang jauh lebih kuat daripada yang kita bayangkan. Ia hanya bunyi pendek atau getaran singkat, tetapi seperti panggilan yang mendesak: lihat aku sekarang. Dan sering kali kita benar-benar menurutinya.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Ash-shaum junnah,” puasa itu perisai. Perisai dari hawa nafsu, dari kelalaian, dari segala sesuatu yang dapat menguasai hati manusia. Di masa lalu, orang berbicara tentang berhala yang terbuat dari batu. Hari ini, berhala itu tidak lagi selalu berbentuk benda yang disembah. Ia bisa berupa sesuatu yang menguasai perhatian kita secara terus-menerus.

Distraksi digital adalah salah satunya. Kita tidak bersujud kepadanya, tetapi kita sering menyerahkan perhatian kita sepenuhnya. Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa sesuatu yang paling sering menguasai hati manusia, di situlah letak ketergantungannya. Maka pertanyaan yang patut kita renungkan bukan sekadar seberapa sering kita membuka ponsel, tetapi seberapa mudah perhatian kita ditarik olehnya.

Namun tulisan ini bukan ajakan untuk memusuhi teknologi. Ramadan tidak pernah memerintahkan kita membuang ponsel atau menjauh dari kemajuan zaman. Teknologi tetaplah alat yang bisa membawa manfaat besar. Yang perlu ditata adalah urutan prioritas kita. Gunakan gadget, tetapi jangan sampai kita yang digunakan oleh gadget.

Kadang perubahan kecil sudah cukup berarti. Membuka aplikasi Al-Qur’an sebelum membuka media sosial. Mematikan notifikasi saat tarawih. Menentukan waktu khusus untuk online, bukan hidup terus-menerus dalam mode online. Hal-hal sederhana ini bisa menjadi latihan kecil untuk mengembalikan kendali pada diri kita.

Karena pada akhirnya yang kita sembah bukan algoritma. Yang kita tuju bukan trending topic. Yang kita cari bukan sekadar validasi dari layar kecil di tangan kita. Yang kita cari adalah rida Ilahi—ketenangan yang datang ketika hati merasa dekat dengan Tuhan.

Maka sebelum Ramadan ini berlalu, ada satu pertanyaan yang mungkin layak kita simpan dalam hati. Ketika notifikasi berbunyi dan azan memanggil pada waktu yang sama, siapa yang lebih dulu kita jawab? Dari respons pertama itulah sering kali terlihat siapa yang sebenarnya sedang kita utamakan.

Semoga Ramadan mengajarkan kita bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menata ulang perhatian. Dari notifikasi menuju kontemplasi. Dari scroll tanpa henti menuju sujud yang lebih berarti. Karena hidup ini bukan tentang siapa yang paling cepat membalas pesan, melainkan siapa yang paling cepat memenuhi panggilan Tuhan.

Saya ABD Mufid.
Di CatatanMufid.id, kita belajar bukan hanya mencatat kehidupan, tetapi juga memaknai.

Wallahu a’lam.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menata ulang prioritas hidup.

Kisah itu terdengar lucu, tetapi juga terasa sangat dekat

Kisah itu terdengar lucu, tetapi juga terasa sangat dekat

SAMPEL

Salam sejahtera untuk kita semua.
Salam catat, Sahabat CM.

Pernahkah kita bertanya jujur pada diri sendiri: mana yang lebih cepat kita respon—suara azan atau suara notifikasi? Ketika azan memanggil dengan lantunan “Hayya ‘alash shalah…”, dan di saat yang sama ponsel kita berbunyi ting, mana yang lebih dulu kita lihat? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi diam-diam menyimpan cermin yang jujur tentang prioritas hidup kita.

Kita memang tidak pernah sujud pada gadget. Tidak ada orang yang meletakkan ponselnya di sajadah lalu menyembahnya. Namun ada satu kenyataan kecil yang sering luput kita sadari: setiap kali notifikasi berbunyi, kita hampir selalu patuh. Tangan refleks meraih ponsel, mata segera menatap layar, dan pikiran langsung terseret ke sana. Tanpa sadar, perhatian kita berpindah. Seolah ada sesuatu yang lebih mendesak daripada apa pun yang sedang kita lakukan.

Seorang teman pernah bercerita tentang semangat Ramadan yang menggebu. Ia bangun sahur dengan niat besar: tahun ini harus khatam Al-Qur’an dua kali. Setelah sahur selesai, ia mengambil ponsel dengan niat membuka aplikasi Al-Qur’an. Namun sebelum satu ayat pun terbaca, muncul notifikasi: flash sale sahur. Belum selesai membaca, muncul lagi pesan dari grup keluarga. Lalu grup alumni. Lalu grup lain yang entah sejak kapan ia masuk dan tidak pernah sempat keluar. Tiga puluh menit berlalu begitu saja. Yang terbaca bukan Al-Qur’an, melainkan timeline. Ramadan masih panjang, tetapi fokusnya sudah habis lebih dulu.

Kisah itu terdengar lucu, tetapi juga terasa sangat dekat. Banyak dari kita mungkin pernah mengalaminya. Niat besar sering kalah oleh distraksi kecil. Bukan karena kita tidak ingin berbuat baik, tetapi karena perhatian kita mudah sekali dicuri oleh hal-hal yang tampak sepele.

Padahal puasa sejatinya bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Puasa ditujukan agar manusia mencapai takwa. Dan takwa pada hakikatnya adalah kemampuan mengendalikan diri. Kita menahan yang halal di siang hari—makan, minum, dan berbagai kenikmatan lainnya—agar kita belajar menahan diri dari hal yang lebih berat di luar Ramadan.

Ironisnya, banyak dari kita mampu menahan makan hingga empat belas jam, tetapi kesulitan menahan jari untuk tidak menggulir layar selama empat belas menit. Notifikasi yang kecil itu sering kali memiliki daya tarik yang jauh lebih kuat daripada yang kita bayangkan. Ia hanya bunyi pendek atau getaran singkat, tetapi seperti panggilan yang mendesak: lihat aku sekarang. Dan sering kali kita benar-benar menurutinya.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Ash-shaum junnah,” puasa itu perisai. Perisai dari hawa nafsu, dari kelalaian, dari segala sesuatu yang dapat menguasai hati manusia. Di masa lalu, orang berbicara tentang berhala yang terbuat dari batu. Hari ini, berhala itu tidak lagi selalu berbentuk benda yang disembah. Ia bisa berupa sesuatu yang menguasai perhatian kita secara terus-menerus.

Distraksi digital adalah salah satunya. Kita tidak bersujud kepadanya, tetapi kita sering menyerahkan perhatian kita sepenuhnya. Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa sesuatu yang paling sering menguasai hati manusia, di situlah letak ketergantungannya. Maka pertanyaan yang patut kita renungkan bukan sekadar seberapa sering kita membuka ponsel, tetapi seberapa mudah perhatian kita ditarik olehnya.

Namun tulisan ini bukan ajakan untuk memusuhi teknologi. Ramadan tidak pernah memerintahkan kita membuang ponsel atau menjauh dari kemajuan zaman. Teknologi tetaplah alat yang bisa membawa manfaat besar. Yang perlu ditata adalah urutan prioritas kita. Gunakan gadget, tetapi jangan sampai kita yang digunakan oleh gadget.

Kadang perubahan kecil sudah cukup berarti. Membuka aplikasi Al-Qur’an sebelum membuka media sosial. Mematikan notifikasi saat tarawih. Menentukan waktu khusus untuk online, bukan hidup terus-menerus dalam mode online. Hal-hal sederhana ini bisa menjadi latihan kecil untuk mengembalikan kendali pada diri kita.

Karena pada akhirnya yang kita sembah bukan algoritma. Yang kita tuju bukan trending topic. Yang kita cari bukan sekadar validasi dari layar kecil di tangan kita. Yang kita cari adalah rida Ilahi—ketenangan yang datang ketika hati merasa dekat dengan Tuhan.

Maka sebelum Ramadan ini berlalu, ada satu pertanyaan yang mungkin layak kita simpan dalam hati. Ketika notifikasi berbunyi dan azan memanggil pada waktu yang sama, siapa yang lebih dulu kita jawab? Dari respons pertama itulah sering kali terlihat siapa yang sebenarnya sedang kita utamakan.

Semoga Ramadan mengajarkan kita bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menata ulang perhatian. Dari notifikasi menuju kontemplasi. Dari scroll tanpa henti menuju sujud yang lebih berarti. Karena hidup ini bukan tentang siapa yang paling cepat membalas pesan, melainkan siapa yang paling cepat memenuhi panggilan Tuhan.

Saya ABD Mufid.
Di CatatanMufid.id, kita belajar bukan hanya mencatat kehidupan, tetapi juga memaknai.

Wallahu a’lam.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menata ulang prioritas hidup.

Copyright © 2026 Catatan Mufid