Melahirkan Kembali Pancasila

Melahirkan Kembali Pancasila

Oleh: Abd Mufid

Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep | Penulis Lepas

 

Setiap 1 Juni, kita upacara. Bendera naik dikibar, pidato dibaca, Pancasila dikumandakngkan, selesai. Hari Lahir Pancasila diperingati dengan rapi.

Tapi ruh Pancasila masih seperti janin yang belum sempurna. Lima silanya sering berhenti di hafalan, belum jadi akhlak bangsa. Padahal kalau kita jujur, nilai-nilai Pancasila itu satu frekuensi dengan pesan dasar Islam: tauhid, rahmat, persaudaraan, musyawarah, dan keadilan.

Allah berfirman: “Wahai manusia, sungguh Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal” [QS. Al-Hujurat: 13]. Bukankah itu Bhineka Tunggal Ika versi langit?

Kalau mau hidup, Pancasila harus dilahirkan ulang. Ada 5 kelahiran yang harus kita bantu untuk terus dengungkan bersama:

Ketuhanan Yang Maha Esa: Tauhid yang Menjaga, Bukan Menghakimi 

Sila pertama adalah cermin tauhid. “Lakum diinukum waliyadiin” – untukmu agamamu, untukku agamaku [QS. Al-Kafirun: 6].

Ujian 2026 bukan hanya seberapa khusyuk shalat kita, tapi bisakah kita beda aqidah tapi tetap jaga lisan. Rasulullah SAW bersabda: “Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya” HR. Bukhari. Melahirkan ulang sila ini artinya: iman yang benar pasti melahirkan adab. Negara hadir dan menjaga agar semua elemen anak bangsa tenang beribadah, bukan sibuk membenarkan diri dan menyalahkan orang lain, apa lagi mengkafirkan.

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Rahmatan lil ‘Alamin 

Islam datang membawa rahmat, bukan kekerasan. “Dan Kami tidak mengutus engkau, kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam” [QS. Al-Anbiya: 107].

Sila kedua gagal ketika ada pekerja dizalimi, anak stunting dibiarkan, fakir-miskin ditelantarkan, masyarakat papa diacuhkan tanpa harapan. Padahal Nabi pernah berkata: “Sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu” HR. Tirmidzi. Melahirkan ulang sila ini berarti menjadikan rahmat sebagai kebijakan. Mendahulukan martabat manusia, karena setiap manusia membawa tiupan ruh ilahi.

Persatuan Indonesia: Ukhuwah Wathaniyah 

Al-Qur’an menyebut orang beriman itu bersaudara: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara” [QS. Al-Hujurat: 10].

Ukhuwah tidak berhenti di sesama Muslim. Di Indonesia, dia melebar jadi ukhuwah wathaniyah, persaudaraan sebangsa. Melahirkan ulang sila ketiga artinya kita latih hati untuk bilang: “Kita beda partai, beda mazhab, tapi kita tetap satu tanah air”. Persatuan bukan meniadakan beda. Persatuan adalah menjaga beda itu tetap dalam bingkai kasih.

Kerakyatan yang Dipimpin Hikmat: Syura 

Allah perintahkan: “Dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah” [QS. Asy-Syura: 38]. Itu sila keempat versi wahyu.

Demokrasi kita sakit ketika yang menang suara paling keras, paling banyak, bukan suara paling bijak dan kebenaran. Melahirkan ulang sila ini artinya menghidupkan syura atau musyawarah di RT, kantor, keluarga. Rasulullah SAW saja bermusyawarah dengan sahabat meski wahyu sudah turun. Karena keputusan yang dirundingkan bersama, lebih berkah daripada keputusan yang dipaksakan.

Keadilan Sosial: Mizan dan Amanah 

“Sungguh Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaknya kamu menetapkannya dengan adil,” [QS. An-Nisa: 58].

Sila kelima adalah mizan, timbangan. Melahirkan ulang artinya berani bongkar struktur yang timpang. Keadilan bukan sedekah. Keadilan adalah memastikan gaji layak, harga adil, akses pendidikan merata. Karena kelak pemimpin akan ditanya: bagaimana engkau mengurus rakyatmu?

Pancasila tidak akan mati karena diserang ideologi. Dia mati kalau umat beragama berhenti menjadikannya amal shalih.

Catatan Reflektif

Selesai menulis ini, saya menutup laptop dan menatap keluar jendela. 1 Juni lewat lagi. Upacara selesai. Tapi pertanyaannya masih menggantung di dada: Sudah berapa sila yang benar-benar saya lahirkan hari ini?

Saya ini penyuluh. Seharusnya paling paham ayat tentang keadilan, hadits tentang rahmat. Tapi jujur, kadang saya lebih cepat men-judge orang di kolom komentar daripada memahamkan ayat di mimbar. Kadang saya teriak “Pancasila!” di forum, tapi lupa menyapa satpam yang tiap pagi buka gerbang kantor tempat saya bekerja.

Mungkin itu masalah kita semua. Kita hafal sila, tapi gagap mempraktikkan. Kita bangga jadi bangsa religius, tapi pelit beradab. Kita jago orasi persatuan, tapi gampang unfollow orang hanya karena beda pilihan.

Imam Al-Ghazali pernah berkata, ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah. Pancasila tanpa laku, ya begitu juga. Dia jadi jargon kosong yang enak didengar, tapi tidak mengenyangkan siapa-siapa.

Karena bangsa ini tidak akan berubah dari istana. Dia berubah dari kamar-kamar kecil yang isinya orang-orang biasa, yang memutuskan: “Mulai malam ini, saya mau jadi Indonesia yang sebenarnya.”

Selamat Hari Lahir Pancasila – 1 Juni 2026.

Kurban: Mari Menyembelih Ego

Kurban: Mari Menyembelih Ego

Oleh: Abd Mufid

Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep | Penulis Lepas

Idul Adha kini kembali datang. Di masjid-masjid, musala, dan lapangan, gema takbir menggema. Di halaman rumah dan tempat pemotongan hewan, pisau akan dihunus, darah akan mengalir. Ritual kurban kembali dilaksanakan. Tapi pertanyaannya; apakah kita hanya sedang menyembelih kambing dan sapi?

Kata kurban berasal dari bahasa Arab qaruba قَرُبَ yang artinya dekat atau mendekat. Dalam istilah syariat, kurban adalah menyembelih hewan ternak seperti kambing atau sapi pada Hari Raya Iduladha sebagai bentuk ketaatan dan sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jadi, tujuan akhirnya bukan dagingnya. Bukan pahalanya. Bukan pula unjuk status sosial karna “saya tahun ini kurban 1 ekor sapi”. Tujuan akhirnya adalah qaruba—mendekat kepada Sang Pencipta.

Dan di sinilah penulis ingin mengajak kita semua berhenti sejenak. Kalau kurban adalah jalan untuk mendekat, lalu apa yang selama ini menjauhkan kita dari Allah? Jawabannya sederhana: ego dan hawa nafsu.

Kurban adalah Praktik Simbolik Menyembelih Ego

Setiap tahun kita menyaksikan pemandangan yang sama. Hewan kurban diikat, ditidurkan, lalu disembelih. Darahnya mengalir, dagingnya dibagikan. Ritual ini sudah berlangsung 1400 tahun lebih sejak Nabi Ibrahim diperintahkan menyembelih putranya, Ismail. Tapi coba kita baca ulang kisah itu. Yang disembelih bukan hanya seekor domba. Yang disembelih adalah kemelekatan Ibrahim pada anaknya. Yang disembelih adalah logika manusiawi yang bertentangan dengan perintah Tuhan. Yang disembelih adalah ego: “Ini anakku, buah hatiku, kenapa harus aku korbankan?” Gumam Ibrahim AS. Padalah, Allah tidak butuh darah dan daging kurban itu.

Allah berfirman: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaanmulah yang sampai kepada-Nya” [QS. Al-Hajj: 37].

Jadi, kurban adalah latihan. Latihan untuk mematikan apa yang dalam diri kita paling sulit dimatikan: rasa paling benar sendiri, rasa paling berhak, rasa tidak mau mengalah, rasa tidak mau berbagi.

Di zaman sekarang, ego itu hadir dalam bentuk yang lebih halus. Ego ketika kita lebih sibuk pamer kurban di media sosial daripada memastikan daging sampai ke tangan fakir miskin. Ego ketika kita ribut soal siapa panitia, siapa yang motong, siapa yang dapat bagian paling besar. Ego ketika kita merasa “saya sudah berkurban, jadi saya lebih saleh dari yang lain”. Padahal, kalau ego itu tidak disembelih, maka kurban kita hanya jadi transaksi dagang dengan langit: saya beri hewan, Engkau beri pahala. Titik.

Mendekat Lewat Pengorbanan Diri

Makna qaruba tidak akan pernah tercapai kalau kita tidak mau berkurban atas diri sendiri. Menyembelih ego artinya mau mendengar saat pasangan bicara.

Menyembelih hawa nafsu artinya menahan diri saat marah di grup WA keluarga. Menyembelih keserakahan artinya rela membagi rezeki meski kita sendiri merasa kekurangan. Idul Adha bukan hanya tentang hewan yang disembelih di luar. Ia tentang apa yang kita sembelih di dalam diri.

Tahun 2026 ini, mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum evaluasi diri. Sudah berapa lama kita memelihara ego yang membuat kita jauh dari keluarga? Sudah berapa lama kita menuruti hawa nafsu yang membuat kita jauh dari Allah?

Kurban sejati terjadi ketika pisau itu diarahkan ke dalam dada kita sendiri. Bukan untuk menyakiti, tapi untuk membebaskan. Karena pada akhirnya, Allah tidak melihat seberapa besar hewan kurban kita. Allah melihat seberapa besar kita berani mengecilkan diri di hadapan-Nya. Mari menyembelih ego. Mari mendekat pada-Nya.

Selamat Idul Adha 1447 H / 2026 M.

Bukan Kerasukan, Bukan Malu: Memahami Skizofrenia di Tengah Kita

Bukan Kerasukan, Bukan Malu: Memahami Skizofrenia di Tengah Kita

Oleh: Abd Mufid

Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep | Pemerhati Keswa

Setiap 24 Mei, dunia memperingati Hari Skizofrenia Sedunia. Di Indonesia, tanggal itu sering lewat begitu saja. Tidak ada pawai, tidak ada trending topic. Padahal di balik sepi itu, ada ratusan ribu keluarga yang tiap hari berjuang mendampingi anggota keluarganya yang hidup dengan skizofrenia.

Di beberapa daerah, orang dengan Skizofrenia disebutnya “ngigau berat”. Di tempat lain, dibilang “diganggu jin,” atau “kesurupan.” tapi umumnya masyarakat kita lebih familiar dengan sebutan ODGJ. Stigma itu tidak lahir dari niat jahat. Ia lahir dari ketidaktahuan, dari cara kita dulu menjelaskan sesuatu yang tidak masuk akal bagi logika.

Padahal skizofrenia bukan kutukan. Ia adalah gangguan kesehatan mental. Sama seperti diabetes mengganggu pankreas, skizofrenia mengganggu keseimbangan kimia di otak. Bedanya, yang terganggu adalah cara berpikir, cara merasa, dan melihat dunia.

Ketika Dunia Jadi Berisik

Coba bayangkan, tiba-tiba ada suara di kepala yang terus menyalahkan Anda. Atau Anda yakin tetangga sudah bersekongkol untuk mencelaka Anda, padahal tidak ada bukti apa pun. Dunia yang tadinya aman, berubah jadi tempat yang penuh ancaman.

Itu yang dialami Sumarno, bukan nama sebenarnya, warga Sumenep. Lulusan SMK yang dulu pernah aktif sebagai remas masjid. Setelah lulus, ia mulai menarik diri dari keramaian. Awalnya dibilang “lagi galau”. Lama-lama ia bicara sendiri, tertawa tanpa sebab, dan menolak keluar rumah karena merasa diawasi.

Keluarganya membawa ke kyai dulu. Setelah setahun ruqyah tidak membuahkan hasil, baru dibawa ke puskesmas. Diagnosa dokter: skizofrenia. “Kalau saja kami tahu lebih cepat, mungkin Sumarno tidak sampai kehilangan pekerjaan dan teman-temannya,” kata ibunya.

Cerita Sumarno bukan pengecualian. Di Indonesia, prevalensi gangguan jiwa berat seperti skizofrenia diperkirakan mencapai 2,6 juta orang. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) mencatat prevalensi penderita skizofrenia sebesar 4,0 permil, atau sekitar 3 penderita per 1.000 rumah tangga. Angka ini belum termasuk yang belum terdiagnosa karena malu atau takut dikucilkan.

Agama Tidak Menyuruh Kita Mengucilkan

Di sinilah peran kita sebagai masyarakat, dan juga sebagai umat beragama diuji. Islam mengajarkan bahwa menjaga akal adalah salah satu tujuan syariat. Imam Al-Syatibi, salah satu ulama’ Ushul Fiqih dan Maqashid Syariah, menggolongkan lima pokok unsur dalam maksud syariah, yakni menjaga agama (hifz al-din), menjaga jiwa (hifz al-nafs), menjaga akal (hifz al-aql), menjaga keturunan (hifz al-nasl), dan menjaga harta (hifz al-mal). Maka, dalam konteks ini, mendampingi orang dengan skizofrenia agar bisa berobat dan hidup layak, adalah bagian dari ibadah itu sendiri.

Tokoh agama, ustaz, penyuluh agama, punya posisi strategis. Ketika masyarakat datang bertanya, jawaban “itu gangguan jin” bisa menutup pintu. Tapi jawaban “mari kita cek ke puskesmas dulu, sambil tetap berdo’a”, bisa membuka jalan kesembuhan.

Ini bukan soal memilih antara agama dan sains. Ini soal menggabungkan keduanya. Ruqyah bisa menjadi ketenangan batin. Tapi obat antipsikotik dari psikiater bekerja pada zat kimia otak yang memang terganggu. Keduanya bisa berjalan beriringan.

Apa yang Bisa Kita Lakukan Hari Ini?

Peringatan 24 Mei bukan sekadar seremonial. Ia pengingat bahwa kita perlu mengubah cara pandang.

Pertama, hentikan stigma. Jangan panggil mereka “gila”, “orang tidak waras”, atau “ditempel jin”. Kata-kata itu melukai lebih dalam dari penyakitnya.

Kedua, dorong pengobatan. Jika ada tetangga atau keluarga yang menunjukkan gejala seperti bicara kacau, bicara seorang diri, menarik diri total, mendengar suara yang tidak ada, ajak ke puskesmas. Obat medis dan konseling tersedia.

Ketiga, jadi rumah yang aman. Orang dengan skizofrenia butuh lingkungan yang tidak menghakimi. Dukungan keluarga adalah faktor terbesar yang menentukan apakah mereka bisa pulih dan kembali produktif.

Di Sumenep, para penyuluh agama yang tergabung dalam Ikatan Penyuluh Agama Republik Indoensia (IPARI) mulai bergerak ke arah ini. Lewat penyuluhan, obrolan di majelis taklim, dan kerja sama dengan puskesmas, juga KOPDAS (Komunitas Peduli ODGJ Sumenep). Gerak kecil, tapi penting. Karena kesembuhan tidak hanya terjadi di ruang dokter. Ia juga terjadi di ruang tamu, di warung kopi, di mushalla, ketika masyarakat mulai paham dan mau menerima.

Skizofrenia mungkin membuat dunia seseorang menjadi berisik. Tugas kita adalah memastikan bahwa dunia di sekitarnya tetap tenang, menerima, dan penuh harapan. Karena menjaga akal sesama manusia, adalah cara kita menjaga kemanusiaan kita sendiri.

Mungkin skizofrenia terasa jauh dari kita. Sampai suatu hari, kita sadar ia ada di tetangga, di keluarga, bahkan di dalam diri yang sedang lelah. Memahami bukan berarti membenarkan semua gejalanya. Memahami berarti memilih untuk tidak menghakimi sebelum mencoba menolong.

Barangkali kita tidak bisa mengubah dunia dalam semalam. Tapi kalau catatan ini membuat Anda berhenti sejenak dan merenung, maka sudah cukup. Sampai jumpa di catatan berikutnya.

Selamat hari Skizofrenia sedunia – 24 Mei 2026!

Pertengkaran Lekang, Romantisme Datang: 3 Batas Yang Tidak Boleh Dilanggar Saat Marahan

Pertengkaran Lekang, Romantisme Datang: 3 Batas Yang Tidak Boleh Dilanggar Saat Marahan

Oleh: Abd Mufid[1]

Prolog: Medan Perang

Dering ponsel itu membuat kopi pagi saya tersendak. Pukul 06.30, Jumat pagi. Di ujung sana, suara Bu Laila terdengar parau, seperti orang yang semalaman menangis tanpa suara.

“Pak, saya sudah di pintu gerbang KUA. Bapak sudah datang?”

Saya tahu persis apa yang akan terjadi. Ini bukan pertama kalinya Bu Laila datang dengan mata sembab dan langkah gontai. Yang membuat hati saya tercekat bukanlah niat cerainya, tapi jawabannya ketika saya bertanya, “Kenapa kok sampai segininya, Bu?”

Diam. Lalu lirih, “Kami tidak pernah bertengkar hebat, Pak. Tapi setiap malam, suami saya tidur di ruang tamu kalau lagi kesal. Bisa berhari-hari. Saya di kamar sendirian meremas bantal, bertanya-tanya salah saya apa. Lebih sakit mana dipukul atau diabaikan seperti ini?”

Saya hanya bisa diam memandang ubin keramik KUA yang dingin.

Sahabat CM, setiap rumah tangga pasti punya cekcok. Yang membedakan bukanlah apakah kita bertengkar, melainkan bagaimana kita bertengkar. Ada pertengkaran yang berakhir dengan gelak tawa sambil makan malam bersama penuh syahdu. Ada pula yang meninggalkan luka menganga bertahun-tahun.

Nabi Muhammad SAW. sudah memberi kode: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Pertanyaannya, apakah pasangan kita musuh debat yang harus ditaklukkan, atau partner yang sedang belajar bareng menuju surga?

Catatan kecil ini bukan untuk menggurui. Saya pun masih belajar. Tapi mari kita renungkan tiga batas yang tidak boleh dilanggar saat marah. Karena dari sanalah romantisme yang nyaris lekang bisa kembali hadir.

Batas Pertama: Rahasia Ranjang Bukan Tayangan Publik

Saya pernah memberikan bimbingan pernikahan pasangan muda, sebut saja Mas Fajar dan Mbak Nila. Tahun pertama, mereka romantis seperti iklan susu. Tapi menjelang tahun ketiga, Mbak Nila datang ke KUA dengan wajah seribu luka. Bukan lebam, tapi malu yang teramat dalam.

“Kenapa, Mbak?” tanyaku.

Jawabannya membuat saya tersentak: “Mas Fajar cerita ke teman main futsalnya, kalau saya susah bangun subuh dan sering lupa masak. Sekarang grup WhatsApp istri-istri temannya tahu semua. Saya malu, Pak. Saya tidak enak kalau arisan.”

Bayangkan. Aib yang hanya layak jadi teman bantal, tiba-tiba jadi konsumsi publik.

Rasulullah SAW. mengingatkan keras soal ini:

“Sesungguhnya amanah terbesar di sisi Allah pada hari Kiamat adalah seseorang yang memperhatikan istrinya, dan sebaliknya, kemudian menyebarkan rahasia pasangannya.” (HR Muslim)

Tadabbur sejenak:

Kata kuncinya adalah amanah. Allah titipkan kehormatan pasangan kepada kita. Saat membuka aibnya, kita bukan hanya mengkhianati manusia, tapi juga mengkhianati titihan Ilahi.

An-Nisa: 34 juga menjelaskan tentang istri shalihah yang hafizhatun lil ghaibi— menjaga kehormatan ketika suami tidak ada. Ini berlaku timbal balik. Suami pun wajib menjaga rahasia istri.

Pertanyaan ini bisa jadi menggugah untuk diri saya dan Anda: “Curhat ke sahabat dekat itu memang melegakan. Tapi batasnya di mana? Apakah pasangan kita akan tetap tersenyum jika tahu rahasianya sudah jadi bahan diskusi kelompok?”

Batas Kedua: Lisan Lebih Tajam Dari Pedang

Cerita kedua. Pak Rahmat, 47 tahun, datang ke pengajian rutin di mana kita biasa nimbrung di kampung saya. Biasanya beliau duduk di baris depan sambil membawa Al-Qur’an besar. Tapi malam itu ia duduk di pojok, di belakang tiang.

Setelah pengajian bubar, saya coba hampiri: “Lho, Pak Rahmat? Biasanya di depan.” Sergahku, memecah keheningannya.

Beliau hanya tersenyum kecut. Tiga hari kemudian saya tahu penyebabnya: anak semata wayangnya, Sari, sudah sebulan tidak mau bicara sama ayahnya. Karena Pak Rahmat, saat marah dengan istrinya soal uang, melontarkan kalimat: Dasar perempuan memang nggak becus ngatur duit. Sari juga ikut-ikutan tolol kayak ibunya.

Sari kebetulan ada di dapur dan mendengar semuanya. Kekerasan verbal. Ini yang sering dianggap remeh. Padahal dalam QS. An-Nisa: 19, Allah berfirman:

“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara ma’ruf.”

Imam Al-Qurthubi menafsirkan ma’ruf antara lain dengan perkataan yang baik, wajah yang ramah, dan sikap yang lapang dada.

Bentuk-bentuk kekerasan verbal yang kadang tidak kita sadari seperti; menghina, merendahkan, mengungkit-ngungkit masa lalu, melabeli hingga generalisasi berlebihan.

Rasulullah bersabda: “Muslim sejati adalah orang yang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari)

Perhatikan, Nabi menyebut lisan lebih dulu dari tangan. Kenapa? Karena luka fisik cepat kering, tapi luka hati dari kata-kata bisa menganga hingga puluhan tahun. Bahkan, ada istri yang lebih tegar dipukul daripada dihina di depan anak-anaknya.

Pertanyaan untuk kita semua:

“Kalimat terakhir yang Anda lontarkan saat marah pada pasangan — jika pasangan Anda rekam lalu putar ulang keesokan harinya ketika suasana sudah damai — apakah Anda akan bangga, atau justru malu setengah mati?”

Batas Ketiga: Jangan Jemput Pagi Dengan Dendam Semalam

Kembali ke Bu Laila di awal cerita. Suaminya, Pak Didik, punya kebiasaan, setiap kali kesal, ia tidur di ruang tamu. Bukan satu malam, bisa tiga malam. Istri di kamar. Mereka sarapan sendiri-sendiri. Berangkat kerja sendiri-sendiri. Pulang pun pura-pura tidak lihat.

“Pak Didik itu sebenarnya baik, Pak,” kata Bu Laila. “Cuma kalau marah, dia bisa mendiamkan saya sampai saya yang minta maaf duluan. Padahal kadang yang salah dia.”

Ini yang disebut hajr dalam istilah fikih. Pisah ranjang. Tapi bentuknya bukan nusyuz dari istri, melainkan boikot emosional dari suami.

Dalam QS. An-Nisa: 34, Allah mengizinkan hajr sebagai tahapan nasihat bagi istri yang nusyuz, dengan catatan: terbatas di tempat tidur (tidak keluar rumah) dan dengan tujuan mendidik, bukan balas dendam. Bukan untuk berhari-hari, apalagi berminggu-minggu.

Rasulullah menegaskan: “Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR. Bukhari-Muslim)

Kalau untuk saudara biasa saja tiga hari batasnya, apalagi untuk suami istri yang tidur satu atap? Tentu lebih utama untuk tidak dibiarkan sampai berganti hari. Mendiamkan pasangan tanpa penyelesaian dengan tempo waktu yang lama itu berbahay. Dapat memicu bom waktu, menumbuhkan prasangka buruk. Istri bisa berprasangka suami sudah tidak cinta, suami berprasangka istri tidak peduli, serta mengundang setan. Rumah yang sunyi dari komunikasi adalah taman favorit setan untuk menabur fitnah.

Ada tiga tips praktis yang bisa dilakukan pada saat emosi memuncak. Pertama, jika emosi sedang memuncak, ambil jeda. Bukan kabur atau lari. Katakan: “Sayang, saya lagi panas sekarang. Boleh kita bicara sejam lagi?” Kedua, Sepakati “cooling down time” misalnya maksimal 30 menit. Jangan sampai berlarut-larut. Ketiga, sebelum tidur, minimal ada satu kalimat penutup. Bisa “Maaf ya kalau tadi aku salah“, atau “Meskipun kita belum selesai masalahnya, aku tetap sayang kamu.”

Seni Mengelola Konflik Keluarga

Dari tiga batas di atas, penulis ingin mengajak Anda berhenti sejenak. Di mana letak “seni”-nya? Kenapa konflik yang sama bisa menghancurkan satu rumah tangga, tapi justru menguatkan rumah tangga lain?

Jawabannya ada pada seni mengelola konflik. Bukan ilmu pasti, tapi seni. Karena setiap pasangan punya watak, latar belakang, dan “bahasa cinta” yang berbeda.

Berdasarkan bacaan penulis atas naskah asli artikel ini dan pengalaman lapangan sebagai penyuluh, saya rangkum7 pilar seni mengelola konflik keluarga yang menggugah:

Pilar 1: Kesadaran Diri — “Siapa yang Mengendalikan Siapa?”

Seni pertama adalah mengenali bahwa amarah sedang datang. Ini krusial karena otak kita punya amygdala (pusat emosi) yang bereaksi 0,3 detik lebih cepat daripada prefrontal cortex (pusat logika). Artinya, saat marah, kita otomatis bodoh dulu. Baru setelah tenang, kita pintar lagi.

Orang yang tidak sadar diri akan langsung meledak. Orang yang sadar diri akan bilang: “Tunggu, saya lagi marah. Jangan saya bicara dulu.”

Pilar 2: Pengaturan Diri — Diam Itu Bukan Kalah, Tapi Strategi

Rasulullah bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad)

Seninya, diam bukan berarti mengalah. Diam adalah “ruang bernapas” agar amarah tidak naik ke ubun-ubun. Sambil diam, baca ta’awudz, duduk jika berdiri, berbaring jika masih marah, atau ambil wudhu atau mandi.

Pilar 3: Empati — Mencoba Masuk Sepatu Pasangan

Saya sering tanya ke jamaah yang berseteru: “Coba, kalau jadi dia, apa yang Anda rasakan?”

Orang yang berempati tidak akan bilang “Kamu egois!”, tapi “Saya paham kamu mungkin capek juga hari ini. Tapi saya juga butuh didengar.” Empati membedakan respons (yang matang) dari reaksi (yang impulsif).

Pilar 4: Komunikasi Asertif — Menggunakan “Aku” Bukan “Kamu”

Berikut ini merupakan teknik praktis yang luar biasa. Bandingkan, penggunaan kalimat “kamu” yang bersifat menuding atau menyalahkan (agresif). Dari pada kalimat “aku” yang cenderung bersifat asertif (menghargai/terbuka). Contoh; “Kamu nggak pernah ngerti aku!” “Kamu egois banget!” atau “Kamu maunya menang sendiri!” (agresif). Sementara; “Aku merasa sedih kalau kita nggak saling ngerti.” “Aku merasa diabaikan ketika keputusan diambil tanpa diskusi.” “Aku ingin kita sama-sama menemukan jalan tengah.” (Asertif). Intinya, kalimat “aku” tidak menuding, tapi membuka pintu dialog.

Pilar 5: Kendalikan Amarah dengan Teknik Sunnah

Dalam literatur-literatur klasik menyebutkan langkah-langkah praktis meredakan amarah: 1) Baca ta’awudz, karena amarah berasal dari setan. 2) Diam, tidak bicara apapun. 3) Ubah posisi tubuh, duduk jika berdiri, berbaring jika duduk. 4) Berwudhu, air memadamkan api amarah. 5) Ingat wasiat Nabi — “Jangan marah, maka bagimu surga.” Ini bukan teori. Ini obat mujarab yang sudah dicoba para sahabat.

Pilar 6: Fokus Pada Solusi, Bukan Pada Kesalahan

Banyak pasangan terjebak dalam blame game — sibuk mencari siapa yang memulai, siapa yang lebih salah. Akhirnya masalah tak selesai, ego yang justru dibesarkan.

Seninya: setelah kedua pihak tenang, tanyakan, “Apa yang bisa kita lakukan agar kejadian ini tidak terulang?” Bukan “Siapa yang salah?”

Pilar 7: Mediasi — Kapan Perlu Pihak Ketiga?

An-Nisa: 35 memberikan solusi: “Jika kamu khawatirkan perselisihan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan.”

Sahabat CM, seni terbesar dalam konflik adalah mengetahui kapan harus selesai berdua, dan kapan perlu memanggil penengah. Mediasi bukan berarti lemah. Justru itu tanda kedewasaan. Bahwa keselamatan rumah tangga lebih penting dari kemenangan pribadi.

Penutup: Karena Cinta Tak Selalu Hadir Dalam Pelukan, Tapi Juga Dalam Kemampuan Menahan Diri

Sahabat CM, penulis mencoba metutup catatan kecil ini dari kisah Kakek Darso. Pak Darso adalah seorang kakek di desa saya. Suatu waktu, saya pernah bertanya padanya, “Kek Dar, bagaimana caranya Kakek dan Ibu bisa 60 tahun bersama tanpa cerai?”

Kakek Darso tersenyum, lalu menjawab perlahan, “Cong, kami juga pernah hampir cerai berkali-kali. Tapi kami sepakat: ketika marah, kami tidak pernah tidur tanpa berjabat tangan. Dan kami tidak pernah membuka rahasia satu sama lain, sekalipun kepada anak-anak kami sendiri.”

Lalu Kakek Darso pun menambahkan, “Kami belajar bahwa setan senang ketika suami istri saling menyakiti dengan kata-kata. Maka kami belajar diam jika tak bisa berkata baik.” Pungkasnya.

Rumah tangga yang kuat bukan yang tanpa pertengkaran. Tapi yang tahu batas saat marah. Karena cinta tidak selalu hadir dalam ucapan “aku sayang kamu.” Cinta hadir saat mulut ini menahan diri untuk tidak menyakiti, cinta hadir saat kita memilih damai walau ego masih berat, dan cinta hadir saat kita lebih memilih tidur berpelukan daripada saling membelakangi. Maka, kalau malam ini Anda sedang berselisih dengan pasangan, ingatlah: Kita boleh berbeda, tapi jangan sampai kehilangan adab.

Sebab yang kita jaga bukan sekadar perasaan. Tapi keberkahan rumah tangga. Dan keberkahan itu tidak akan hadir jika kita terus menerus melanggar tiga batas saat marah: Membuka aib pasangan, Kekerasan verbal, dan Mendiamkan tanpa penyelesaian hingga tidur.

Semoga Allah satukan hati-hati kita dalam kebaikan, dan jadikan rumah kita tempat terindah untuk pulang. Aamiin.

Sumenep, 20 Mei 2026

[1] Penulis adalah Penyuluh Agama Islam di lingkungan Kementerian Agama Sumenep, Koordinator Bidang Pendidikan Keluarga LKK-NU Sumenep (periode 2026-2031), serta aktif menulis esai keislaman dan penguatan keluarga di http://catatanmufid.id

 

Melanjutkan Jejak Khidmah: Refleksi Pelantikan PCNU Sumenep

Melanjutkan Jejak Khidmah: Refleksi Pelantikan PCNU Sumenep

Oleh: Abd Mufid[1]

Hari itu, tepatnya Sabtu, 28 Dzulqa’dah atau 16 Mei 2026, bertempat di Pondok Pesantren Al-Karimiyyah, Baraji – Sumenep, di mana ruang pelantikan bukan sekadar panggung seremonial, melainkan ruang untuk mengingat kembali mengapa PCNU Sumenep berdiri sejak awal: mengabdi tanpa pamrih kepada umat dan bangsa. Ketika nama-nama pengurus baru disebut dan sumpah khidmah diucapkan, yang terjadi bukan pergantian jabatan, melainkan penyerahan estafeta amanah.

Di Sumenep, tanah yang sejak dulu dikenal sebagai lumbung ulama dan santri, setiap langkah organisasi NU selalu ditimbang pada satu hal. Apakah ia semakin mendekatkan masyarakat pada ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin, atau justru berhenti di panggung seremoni belaka. Pelantikan tersebut, lebih tepat dibaca sebagai ajakan untuk melanjutkan jejak khidmah yang telah dirintis para pendahulu, bukan untuk memulai cerita dari nol.

Konteks Historis & Tugas Pokok

Sejarah NU di Sumenep mencatat bahwa khidmah tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari pesantren, majelis taklim, dan gotong royong masyarakat yang menjadikan ulama sebagai rujukan hidup. Karena itu, pelantikan pengurus baru bukan sekadar formalitas organisasi, melainkan pengingat bahwa tugas PCNU adalah menyambung rantai itu, menjaga agar tradisi keilmuan, dakwah kultural, dan kepedulian sosial tidak putus digerus zaman.

Di tengah arus modernisasi dan polarisasi yang kerap masuk ke desa-desa, tugas ini menjadi lebih berat. Pengurus PCNU hari ini dituntut tidak hanya cakap beradministrasi, tetapi juga mampu membaca tanda zaman tanpa kehilangan akar. Menjadi pengurus berarti bersedia turun ke bawah: mendengar keluh kesah warga, mendampingi lembaga pendidikan NU, memberdayakan umat, dan memastikan bahwa nilai-nilai Aswaja tetap hidup dalam praktik sehari-hari, bukan hanya dalam dokumen musyawarah dan rapat-rapat.

Tantangan Kekinian

Tantangan itu kini berdiri nyata di depan mata. Media sosial telah membuat setiap orang merasa menjadi juru dakwah, tetapi sering kali tanpa adab dan tanpa ilmu. Di beberapa sudut, kita mendengar suara-suara yang mengadu domba warga atas nama agama, mengadu tradisi dengan modernitas, seolah menjadi Nahdliyin berarti harus memilih salah satunya. Sementara di sisi lain, semangat gotong royong pelan-pelan luntur, tergantikan oleh individualisme yang lahir dari tekanan ekonomi dan budaya konsumtif.

Di sinilah PCNU Sumenep diuji. Ia tidak bisa lagi hanya menjadi penonton yang sibuk mengurus struktur, apa lagi hanya mengurus (kepentingan) diri sendiri. Ia harus hadir sebagai penyejuk, sebagai jembatan, sebagai rumah besar tempat semua warga NU merasa memiliki tempat untuk bertanya, belajar, tumbuh dan pulang. Jika tidak, maka khidmah akan tinggal nama, dan jejak para kiai terdahulu akan menjadi cerita yang hanya dikenang, bukan dilanjutkan.

Tiga Arah Khidmah yang Harus Dilanjutkan

Ada tiga arah khidmah yang mendesak untuk dilanjutkan dan diperkuat. Pertama, khidmah keilmuan. Pesantren dan madrasah NU di Sumenep adalah warisan yang tak ternilai. Pengurus harus hadir bukan hanya saat peresmian, tetapi saat para ustaz butuh dukungan, saat santri butuh beasiswa, saat kurikulum perlu dijaga agar tidak kehilangan ruhnya.

Kedua, khidmah sosial. NU tidak boleh absen ketika warga tertimpa banjir, sakit, atau kehilangan arah. Kini, khidmah itu harus diperluas: mendampingi warga yang terjebak jerat rentenir, membantu pemuda yang bingung mencari arah, merawat para lansia yang merasa ditinggalkan, juga beban ekonomi yang terus menghimpit umat.

Ketiga, khidmah kebangsaan. Sumenep adalah Indonesia kecil. Di sini hidup beragam suku, mazhab, dan pilihan politik. PCNU dipanggil untuk menjadi penyejuk, untuk mengingatkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh. Di atas semua itu, yang paling penting adalah menjaga bahasa: bahasa yang merangkul, bukan menghakimi; bahasa yang mendidik, bukan merendahkan.

Sebuah Catatan Kecil

Ya, ini hanya sebuah catatan kecil. Atau kalau boleh dianggap suara gemericik warga masyarakat NU akar ruput, yang terus mendamba spirit khidmah menggema dan mengemuka. Bahwa, khidmah akan gugur maknanya jika pengurus terjebak pada simbol, gelar, dan foto bersama. Jika rapat hanya berhenti pada agenda, jika program hanya hidup di atas kertas, maka kita sedang mengkhianati amanah para pendahulu.

Ukuran keberhasilan PCNU bukan berapa banyak spanduk yang terpasang saat pelantikan, tetapi berapa banyak ibu-ibu yang merasa tenang karena anaknya mendapat beasiswa ngaji, berapa banyak pemuda yang berhenti merantau karena ada pelatihan-pelatihan pemberdayaan di kampungnya, berapa banyak warga yang merasa dilindungi ketika konflik mulai menyala. Khidmah adalah kerja sunyi yang sering tak terlihat, tetapi dampaknya terasa sampai ke dapur rumah warga, menyusup ke batin umat.

Refleksi Sederhana

Akhirnya, pelantikan ini mengajak kita semua untuk berhenti sejenak dan bertanya: apa yang bisa saya lakukan untuk NU, bukan apa yang NU bisa lakukan untuk saya? Jejak khidmah tidak akan berlanjut jika hanya ditanggung segelintir pengurus. Ia butuh uluran tangan warga, doa para kiai, dan keringat para santri.

Semoga pengurus baru PCNU Sumenep diberi kekuatan untuk tetap rendah hati di tengah amanah, tetap istiqamah di tengah godaan, dan tetap dekat dengan umat di tengah kesibukan. Karena pada akhirnya, khidmah yang ikhlas adalah amal jariyah yang tidak akan pernah berhenti mengalir, bahkan setelah nama kita tak lagi disebut dalam undangan. Wallahu a’lam bish-shawab.

–– Lenteng, 01 Zulhijjah 1447 H.

[1] Penulis adalah warga NU, Anggota LKK-NU Sumenep Masa Khidmad 2026-2031.

Puasa Gadget Seminggu Sekali: Rasakan Hidupmu Kembali

Puasa Gadget Seminggu Sekali: Rasakan Hidupmu Kembali

Oleh: Abd Mufid

(Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep)

 

Pernah tidak, Anda bangun tidur, mata masih sayup, tapi jari-jemari sudah tidak sabar nyentuh layar HP? “Cuma sebentar, lihat notifikasi,” katanya. Tahu-tahu satu jam lewat. Kepala rasanya penuh, hati malah hampa. Anda masih di kasur yang sama, tapi rasanya sudah keliling dunia maya dan pulang dengan tangan kosong. Jujur, dulu penulis juga begitu. Dan rasanya capek.

Bukan karena penulis anti teknologi. Buktinya, tulisan ini lahir dari laptop yang nyambung internet. Tapi akhir-akhir ini penulis sadar: kita butuh puasa. Bukan puasa lapar dan haus, tapi puasa dari gadget. Sehari dalam seminggu. Penulis kasih nama Pusget. Nama keren bukan? Singkatan dari puasa gadget.

Setiap Hari Kita Tenggelam

Coba lihat sekeliling kita. Di kereta, di warung kopi, di meja makan rumah kita sendiri, semua kepala menunduk. Jari-jari sibuk scroll, sementara tubuh fisik ada di sana, tapi hati dan pikirannya melayang entah ke mana.

Datanya bikin merinding. Di tahun 2023, Indonesia jadi negara peringkat ke-4 pengguna internet terbesar di dunia. 212,9 juta orang sudah nyambung ke dunia maya. Yang lebih gila lagi: remaja Indonesia umur 16 tahun menempati peringkat pertama dunia dalam urusan nge-scroll lewat HP.

Rata-rata orang Indonesia online 7 jam 22 menit per hari. Coba hitung: tidur 8 jam, kerja 8 jam. Sisa 8 jam untuk keluarga, istirahat, dan diri sendiri. Tapi nyatanya? Sisa waktu itu habis dimakan layar. Iya, rata-rata hampir 8 jam sehari cuma untuk scroll scroll dan scroll.

Dan untuk apa? Bukan untuk belajar atau kerja. Data BPS menyebutkan: 85% orang Indonesia buka internet untuk hiburan, 77% untuk medsos. Yang untuk pendidikan hanya 7,4%. Jadi gadget bukan lagi alat bantu. Ia sudah jadi rumah kedua kita. Bahkan kadang, rumah pertama.

Panik karena Ketinggalan HP

Suatu hari, seorang teman ketinggalan HP di rumahnya. Hanya sehari. Tapi tangannya gemetar. Jantungnya berdebar. Mukanya pucat. Bukan drama. Itu gejala putus kecanduan.

Ilmuwan mengatakan itu dopamin loop. Setiap notifikasi, setiap like, setiap video pendek yang lucu, otak kita dibanjiri hormon senang. Sayangnya, efeknya bisa memuntuk otak kita jadi haus terus. Akibatnya? Fokus hancur, gampang cemas, gampang bosan, susah tidur karena blue light, dan yang paling parah: FOMO (Fear of Missing Out). Takut ketinggalan update, padahal update itu tidak penting-penting amat.

Dr. Anna Lembke dari Stanford mengemukakan, bahwa kelebihan stimulus digital bikin otak kita lupa cara menikmati hal-hal sederhana. Seperti ngobrol santai, jalan pagi tanpa HP, atau sekadar diam. Lalu solusinya? Istirahat stimulus. Otak perlu di-reset. Dan puasa gadget seminggu sekali adalah reset termurah dan paling mujarab.

Yang sudah rutin digital detox dilaporkan punya: suasana hati lebih stabil, tidur nyenyak, fokus meroket, dan hidup terasa lebih ringan. (University of Pennsylvania, 2022)

Puasged adalah Puasa Kekinian

Rasulullah bersabda: “Puasa adalah perisai.” Maksudnya pelindung dari hal buruk. Kalau puasa makanan melindungi dari dosa perut, maka puasa gadget melindungi kita dari dosa mata, telinga, dan hati. Dari tontonan sia-sia, gosip digital, dan konten yang tidak jelas ujung pangkalnya.

Allah juga melarang israf (berlebihan) [QS. Al-A’raf: 31]. menghabiskan 7 jam sehari untuk medsos? Itu namanya boros waktu. Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah memuji orang-orang yang menjauhi lahwun (perkara sia-sia) [QS. Al-Mu’minun: 3]. Jadi puasa gadget itu latihan kontrol diri yang mulia. Allah mengajak kita kembali ke tadabbur, merenung, dan hadir sepenuhnya pada saat ini.

Kita Rindu Zona Guyub

Dahulu waktu kecil di kampung, bapak-bapak duduk di warung kopi sambil cerita soal tanam dan topik keseharian lainnya. Ibu-ibu arisan sambil tertawa bersama. Anak-anak bermain bola sampai senja. Sekarang? Duduk sekeluarga di ruang tamu, tapi masing-masing sibuk dengan HP. Namanya sekarang phubbing, yaitu pengabaian atas diri orang lain karena ponsel.

Padahal kita punya budaya guyub. Ngopi bareng, pengajian, gotong royong. Semua itu lahir dari interaksi nyata, bukan dari hati yang tercerai-berai di dunia digital. Maka puasa gadget adalah revitalisasi budaya. Satu hari tanpa layar, kita bisa bercengkerama dengan anak, mendengar cerita orang tua, atau sekadar diam bersama, tanpa jari yang gatal untuk scroll.

Dampaknya Langsung Terasa

Hidup itu soal pilihan. Kalau tidak pernah puasa gadget, kita akan terjebak multitasking semu. Kerja sambil buka medsos, hasilnya setengah hati. Deep work mustahil terjadi. Prokrastinasi menahun. Pekerjaan numpuk, stres naik. Tapi begitu kita coba pusget, rasanya beda. Mood lebih stabil, jadi tidak gampang cemas, fokus meningkat. pekerjaan selesai lebih cepat dan tepat waktu, dan yang paling penting energi mental tetap terjaga. Hubungan dengan orang lain jadi lebih intim, lebih dalam, lebih bermakna. Alhasil, satu hari tanpa gadget benar-benar seperti reset mingguan untuk jasad dan jiwa.

Gerakan Pusget: Ajak Semua Mulai dari Kita

Penulis tidak mengatakan buang HP Anda! Penulis tidak meromantisasi hidup tanpa internet. Penulis hanya mengajak satu hal sederhana, tapi dijamin sulit: disiplin mematikan gadget satu hari dalam seminggu.

Caranya, pilih satu hari (Ahad, Jumat, atau Sabtu), batasi medsos, hiburan digital, dan konten tidak penting, HP hanya untuk darurat atau kerja yang benar-benar urgen. Selanjutnya, isi hari itu dengan membaca Al-Qur’an atau buku fisik, olahraga ringan, quality time sama keluarga, jJalan pagi tanpa HP, nulis jurnal, melukis, atau sekadar tafakur (meditasi).

Bayangkan kalau 10, 100, 1000 orang, sampai satu kampung, melakukan ini bersama. Bukan cuma gerakan individu. Tapi kesadaran kolektif bahwa kita masih punya kendali atas teknologi, bukan sebaliknya.

Penutup: Sunyi Itu Menyembuhkan

Di tengah gemuruh notifikasi yang tidak pernah tidur, kita sering lupa bahwa jiwa juga butuh sunyi. Puasa gadget bukan sekadar mematikan layar, tapi menyalakan kesadaran. Gerakan ini mengajak kita pulang. Bukan cuma ke rumah, tapi ke dalam diri sendiri masing-masing.

Karena pada akhirnya, yang paling kita butuhkan bukanlah koneksi internet yang cepat. Melainkan koneksi hati yang tepat. Dan mungkin, dari satu hari tanpa gadget itu, kita akan kembali menemukan siapa diri kita, dan kepada siapa hidup ini seharusnya bermuara.

Jadi, mari mulai. Pilih hari Anda. Matikan layer Anda. Hidupkan kembali hidup Anda. Hidup Anda yang autentik. Sekali lagi, Pusget: Satu hari dalam seminggu. Untuk jernihnya jiwa, untuk bahagia yang sejati. Jika Anda setujutu dengan ikhtiyar kecil ini, bagikan catatan ini kepada orang-orang terdekat Anda, sahabat dan mereka yang terketuk untuk berubah Bersama-sama. Salam PUSGET!

Obati Sakitnya, Sembuhkan Batinnya

Obati Sakitnya, Sembuhkan Batinnya

Oleh: Abd Mufid
Pemerhati Kesehatan Jiwa, Penyuluh Agama Islam KUA Lenteng Sumenep

Suatu siang di ruang rawat inap yang hening, seorang pasien menatap langit-langit kamar dengan mata hampa. Infus menetes perlahan, monitor berdetak ritmis, dan aroma antiseptik menyergap perlahan. Secara medis, kondisinya stabil. Namun, tidak ada alat yang sanggup mendiagnosis kegelisahan yang bersarang di dadanya. Tidak ada lembar rekam medis yang mencatat rasa cemas dan takut yang ia pendam. Di sanalah cerita ini dimulai—bukan dari meja operasi, bukan dari resep dokter, melainkan dari hati manusia yang sedang merintih mencari kekuatan.

Ketika Kementerian dan Dinas Berjabat Tangan untuk Jiwa

Di Kabupaten Sumenep, sejak sepekan terakhir, sebuah langkah kecil namun sarat makna terus diikhtiarkan. Kementerian Agama dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep bersinergi melahirkan gerakan yang tidak hanya menyentuh raga, tetapi juga merawat batin. Namanya Be-SMART: layanan bimbingan, edukasi, dan pendampingan spiritual untuk kesehatan mental masyarakat, termasuk pasien rawat inap di puskesmas dan rumah sakit se-Kabupaten Sumenep. Program ini digagas para penyuluh agama yang tergabung dalam Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Sumenep. Diawali dengan nota kesepahaman (MoU) antara Kemenag Sumenep dengan Dinas Kesehatan Sumenep, yang selanjutnya ditindaklanjuti dengan perjanjian kerja sama antara KUA dan Puskesmas, kini mereka hadir di ruang-ruang rawat—bukan sekadar pembaca doa, melainkan penenun harapan.

Menyembuhkan Batin, Bukan Sekadar Menyapa Fisik

Ketua PD IPARI Sumenep, H. Moh. Halili, S.Ag., M.H., menegaskan bahwa idealnya, setiap pasien mendapat pendekatan holistik. Bukan hanya penyembuhan fisik, tetapi juga mental dan kejiwaan. “Persoalan kesehatan hari ini tak bisa ditangani secara terpisah. Dibutuhkan pendekatan utuh: medis sekaligus mental-spiritual. Ini komitmen pelayanan kami kepada masyarakat,” tuturnya. Bukan sekadar idealisme. Ia berpijak pada realitas ilmiah.

Saat Cemas Menjelma Nyeri: Sebuah Fakta Medis

Dunia medis modern mengenal gangguan psikosomatis: kondisi di mana pikiran, emosi, dan tekanan batin menjelma menjadi keluhan fisik yang nyata. Stres yang tak terkelola memicu lonjakan hormon kortisol dan adrenalin. Akibatnya? Tekanan darah naik, jantung berdebar kencang, otot menegang, lambung terganggu. Kecemasan kronis membuat tubuh terus dalam mode “siaga darurat”. Bahkan depresi dapat memicu peradangan dalam tubuh. Maka pertanyaan klasik, “Apakah mental mempengaruhi fisik?” kini terjawab tegas: Ya, sangat. Dan hubungan itu bersifat dua arah. Penyakit kronis seperti jantung dan diabetes dapat memicu depresi; depresi pun dapat memperburuk kondisi fisik. Karena itu, WHO menegaskan pentingnya pendekatan kesehatan yang terintegrasi: fisik, mental, dan sosial.

Islam Lebih Dulu Menyebut Kesembuhan yang Utuh

Jauh sebelum dunia medis modern bergumul dengan kata “holistik”, Islam telah mengajarkan keseimbangan itu. Allah SWT berfirman: “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80). Bukan sekadar pengakuan teologis, melainkan pengingat bahwa kesembuhan melibatkan dimensi yang lebih luas dari sekadar obat dan jarum. Rasulullah ﷺ bersabda: “Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada enam… jika ia sakit, maka jenguklah.” (HR. Muslim). Menjenguk orang sakit bukan hanya etika sosial; ia adalah terapi, dukungan emosional, dan obat batin yang sering kali lebih menenangkan dari sekadar senyawa kimia.

Doa, Zikir, dan Sains yang Mulai Mengamini

Para ilmuwan modern pun mulai mengamini. George Engel memperkenalkan model biopsikososial: kesehatan manusia dipengaruhi oleh aspek biologis, psikologis, dan sosial. Herbert Benson dari Harvard menemukan bahwa doa, meditasi, dan praktik spiritual dapat menurunkan stres, memperbaiki tekanan darah, serta meningkatkan imunitas. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa doa dan zikir menekan hormon stres, mindfulness membantu mengelola nyeri kronis, pendekatan spiritual meningkatkan kualitas hidup pasien, serta dukungan emosional mempercepat pemulihan pasca-sakit. Perlu digarisbawahi: pendekatan ini bukan pengganti medis. Ia pelengkap. Ia jembatan antara raga dan jiwa.

Mereka Duduk di Samping, Lalu Sepi Itu Berkurang

Kini, di ruang-ruang rawat inap puskesmas di Sumenep, para penyuluh agama sedang dan akan terus memainkan peran itu. Mereka duduk di samping pasien, mendengarkan keluh kesah, mengajak berdoa, menguatkan harapan. Kadang mereka tak membawa banyak kata. Namun kehadiran mereka cukup untuk berkata, “Engkau tidak sendiri.” Di titik itulah, penyembuhan sering kali bermula. Be-SMART bukan sekadar inovasi birokrasi. Ia adalah jawaban atas kegelisahan zaman. Sebuah ikhtiar memulihkan makna pelayanan kesehatan: bahwa manusia harus dilihat sebagai satu kesatuan utuh—jasad dan jiwa.

Foto Colase| Penandatangan Kesepakatan Kerjasama dan proses pendampingan penguatan mental pasien inap di lingkungan Puskesmas oleh Penyuluh Kemenag Sumenep.

Catatan Akhir: Tidak Semua Obat Berbentuk Pil

Kita hidup di era di mana teknologi mampu membaca detak jantung, namun belum tentu mampu memahami luka batin. Maka ketika para penyuluh agama hadir di ruang-ruang sakit, mereka sejatinya sedang mengisi ruang kosong yang tak terjangkau alat medis: ruang kemanusiaan. Karena itu, mari kita pahami satu hal sederhana namun sering terlupakan: tidak semua luka terlihat, tidak semua sakit dapat diukur, dan tidak semua obat berbentuk pil. Kadang, yang paling dibutuhkan hanyalah doa yang tulus, tangan yang menggenggam erat, dan hati yang benar-benar peduli. Mari obati sakitnya. Dan jangan lupa, sembuhkan pula batinnya.

Kelakar Suka-Suka di Syawalan IKA-SUKA

Kelakar Suka-Suka di Syawalan IKA-SUKA

Oleh: Abd Mufid[1]

Ada yang aneh dari tawa itu!

Ia pecah berkali-kali, bergelombang, bahkan kadang terasa “tidak penting.” Tapi justru di situlah, di sela-sela kelakar yang tampak suka-suka—terselip sesuatu yang tidak sederhana: ingatan, idealisme, dan barangkali iman yang diam-diam sedang dirawat.

Syawalan IKA-SUKA Sumenep ke-XII di kompleks Ponpes Annuqayah, Guluk-Guluk, Kamis, 26 Maret 2026, bukan sekadar forum temu alumni. Ia lebih mirip ruang pulang—tempat di mana manusia tidak hanya bertemu wajah, tapi juga menemukan kembali versi terbaik dari dirinya yang mungkin sempat tercecer oleh zaman.

Dimulai dari ziarah ke para masyayikh, lalu tahlil dan shalawat, hingga sarasehan penuh canda, semuanya seperti satu alur yang utuh: dari sunyi menuju riuh, dari khidmat menuju hangat. Dan di tengah-tengahnya, manusia belajar satu hal yang sering dilupakan—bahwa kehidupan tidak selalu harus serius untuk menjadi bermakna.

Lantunan Shalawat Nabi di sela-sela seremoni Syawalan IKA-SUKA.

Kelakar yang Tidak Pernah Kosong Makna

Jika dilihat sepintas, forum itu hanyalah “gelanggang kelakar.” Cerita mahasiswa abadi, kisah pindah jurusan, semboyan “hindari wisuda dini,” hingga pengalaman ngekos yang lebih banyak “menghilang” daripada tinggal—semuanya mengundang tawa.

Namun di balik itu, tersimpan satu pesan sunyi: bahwa perjalanan intelektual tidak selalu lurus, dan justru dari kelokan itulah karakter ditempa. Bukankah Nabi pernah bersabda:

“Sesungguhnya aku juga bercanda, namun aku tidak mengatakan kecuali yang benar.”
(HR. Tirmidzi)

Kelakar, dalam tradisi yang sehat, bukan pelarian dari makna. Ia justru jalan masuk menuju makna—dengan cara yang lebih manusiawi. IKA-SUKA tampaknya memahami ini dengan baik. Bahwa humor bukan lawan dari keseriusan, melainkan jembatan menuju kebijaksanaan.

“Ngadhek Parjugah Sabarengan”: Berdiri Bersama, Tanpa Merendahkan

Tema yang diusung, “ngadhek parjugah sabarengan,” bukan sekadar slogan lokal.
Ia adalah filosofi hidup: berdiri tegak bersama, tanpa merasa lebih tinggi, tanpa menjatuhkan yang lain. Dalam bahasa iman, ini sejalan dengan firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…” (QS. Al-Hujurat: 10).

Dan lebih dalam lagi: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Kesetaraan dalam forum itu terasa nyata. Para alumni lintas generasi, dari berbagai latar belakang—akademisi, kiai, politisi, aktivis—duduk dalam satu lingkaran yang sama: tidak ada yang lebih tinggi, kecuali nilai yang dibawa masing-masing.

Merawat Idealisme di Tengah Dunia yang “Tidak Baik-Baik Saja”

Di balik cerita-cerita ringan, terselip kegelisahan yang serius: tentang dunia yang semakin pragmatis, tentang nilai yang mulai ditukar dengan kepentingan, tentang idealisme yang perlahan memudar. Namun justru di situlah kekuatan forum ini. Ia tidak melawan dengan pidato besar, tetapi dengan contoh kecil.

Kisah tentang tidak menyalakan TV, mencuci sendiri, hidup sederhana—bagi sebagian orang mungkin tampak remeh. Tapi di situlah letak “perlawanan sunyi.” Sebagaimana pesan Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)

Perubahan besar, ternyata, tidak selalu dimulai dari panggung besar. Ia justru lahir dari ruang-ruang kecil: rumah, keluarga, kebiasaan sehari-hari. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah pernah berkata:

“Siapa yang memperbaiki yang tersembunyi dalam dirinya, maka Allah akan memperbaiki yang tampak darinya.”

Silaturrahmi: Antara Fisik dan Rasa

Di era hari ini, silaturrahmi sering kali hanya sebatas notifikasi: pesan singkat, emoji, atau status broadcast yang cepat berlalu. Namun Syawalan ini menghadirkan sesuatu yang berbeda: silaturrahmi yang utuh—fisik, rasa, dan makna. Tawa yang sama, tatap mata yang jujur, dan pelukan yang hangat—semuanya tidak bisa digantikan oleh layar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka barangkali, yang dirindukan dari forum ini bukan hanya pertemuannya, tetapi “rasa hidup” yang muncul darinya.

Catatan Penutup

Barangkali, kita terlalu sering mengira bahwa kebenaran harus selalu hadir dalam bentuk serius, kaku, dan penuh tekanan. Padahal, di suatu sudut Guluk-Guluk, dalam gelak tawa yang tampak sederhana, orang-orang sedang merawat sesuatu yang jauh lebih penting: ingatan, persaudaraan, dan idealisme.

Kelakar itu bukan tanpa arah. Ia adalah cara lain untuk tetap waras di tengah dunia yang semakin bising. Ia adalah bahasa halus untuk menyampaikan nilai, tanpa menggurui. Ia adalah strategi sunyi untuk menjaga iman, tanpa harus terlihat agung.

Dan mungkin, di situlah letak pelajaran terbesarnya: Bahwa menjadi baik tidak harus selalu tampak berat. Bahwa menjaga nilai tidak harus selalu dengan amarah. Dan bahwa terkadang, tawa adalah cara paling jujur untuk tetap menjadi manusia.

Sebab pada akhirnya, yang akan kita bawa pulang dari setiap pertemuan bukanlah siapa yang paling banyak bicara—tetapi siapa yang paling dalam menyentuh jiwa. Dan, Syawalan IKA-SUKA telah melakukan itu, dengan cara yang sangat sederhana: bercanda, tetapi tidak pernah kehilangan makna.

Foto bersama di akhir sesi.

[1] Penyuluh Agama Islam KUA Lenteng, alumni UIN Sunana Kalijaga Yogtakarta

Copyright © 2026 Catatan Mufid

2