Oleh: Abd Mufid
Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep | Pemerhati Keswa
Setiap 24 Mei, dunia memperingati Hari Skizofrenia Sedunia. Di Indonesia, tanggal itu sering lewat begitu saja. Tidak ada pawai, tidak ada trending topic. Padahal di balik sepi itu, ada ratusan ribu keluarga yang tiap hari berjuang mendampingi anggota keluarganya yang hidup dengan skizofrenia.
Di beberapa daerah, orang dengan Skizofrenia disebutnya “ngigau berat”. Di tempat lain, dibilang “diganggu jin,” atau “kesurupan.” tapi umumnya masyarakat kita lebih familiar dengan sebutan ODGJ. Stigma itu tidak lahir dari niat jahat. Ia lahir dari ketidaktahuan, dari cara kita dulu menjelaskan sesuatu yang tidak masuk akal bagi logika.
Padahal skizofrenia bukan kutukan. Ia adalah gangguan kesehatan mental. Sama seperti diabetes mengganggu pankreas, skizofrenia mengganggu keseimbangan kimia di otak. Bedanya, yang terganggu adalah cara berpikir, cara merasa, dan melihat dunia.
Ketika Dunia Jadi Berisik
Coba bayangkan, tiba-tiba ada suara di kepala yang terus menyalahkan Anda. Atau Anda yakin tetangga sudah bersekongkol untuk mencelaka Anda, padahal tidak ada bukti apa pun. Dunia yang tadinya aman, berubah jadi tempat yang penuh ancaman.
Itu yang dialami Sumarno, bukan nama sebenarnya, warga Sumenep. Lulusan SMK yang dulu pernah aktif sebagai remas masjid. Setelah lulus, ia mulai menarik diri dari keramaian. Awalnya dibilang “lagi galau”. Lama-lama ia bicara sendiri, tertawa tanpa sebab, dan menolak keluar rumah karena merasa diawasi.
Keluarganya membawa ke kyai dulu. Setelah setahun ruqyah tidak membuahkan hasil, baru dibawa ke puskesmas. Diagnosa dokter: skizofrenia. “Kalau saja kami tahu lebih cepat, mungkin Sumarno tidak sampai kehilangan pekerjaan dan teman-temannya,” kata ibunya.
Cerita Sumarno bukan pengecualian. Di Indonesia, prevalensi gangguan jiwa berat seperti skizofrenia diperkirakan mencapai 2,6 juta orang. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) mencatat prevalensi penderita skizofrenia sebesar 4,0 permil, atau sekitar 3 penderita per 1.000 rumah tangga. Angka ini belum termasuk yang belum terdiagnosa karena malu atau takut dikucilkan.
Agama Tidak Menyuruh Kita Mengucilkan
Di sinilah peran kita sebagai masyarakat, dan juga sebagai umat beragama diuji. Islam mengajarkan bahwa menjaga akal adalah salah satu tujuan syariat. Imam Al-Syatibi, salah satu ulama’ Ushul Fiqih dan Maqashid Syariah, menggolongkan lima pokok unsur dalam maksud syariah, yakni menjaga agama (hifz al-din), menjaga jiwa (hifz al-nafs), menjaga akal (hifz al-aql), menjaga keturunan (hifz al-nasl), dan menjaga harta (hifz al-mal). Maka, dalam konteks ini, mendampingi orang dengan skizofrenia agar bisa berobat dan hidup layak, adalah bagian dari ibadah itu sendiri.
Tokoh agama, ustaz, penyuluh agama, punya posisi strategis. Ketika masyarakat datang bertanya, jawaban “itu gangguan jin” bisa menutup pintu. Tapi jawaban “mari kita cek ke puskesmas dulu, sambil tetap berdo’a”, bisa membuka jalan kesembuhan.
Ini bukan soal memilih antara agama dan sains. Ini soal menggabungkan keduanya. Ruqyah bisa menjadi ketenangan batin. Tapi obat antipsikotik dari psikiater bekerja pada zat kimia otak yang memang terganggu. Keduanya bisa berjalan beriringan.
Apa yang Bisa Kita Lakukan Hari Ini?
Peringatan 24 Mei bukan sekadar seremonial. Ia pengingat bahwa kita perlu mengubah cara pandang.
Pertama, hentikan stigma. Jangan panggil mereka “gila”, “orang tidak waras”, atau “ditempel jin”. Kata-kata itu melukai lebih dalam dari penyakitnya.
Kedua, dorong pengobatan. Jika ada tetangga atau keluarga yang menunjukkan gejala seperti bicara kacau, bicara seorang diri, menarik diri total, mendengar suara yang tidak ada, ajak ke puskesmas. Obat medis dan konseling tersedia.
Ketiga, jadi rumah yang aman. Orang dengan skizofrenia butuh lingkungan yang tidak menghakimi. Dukungan keluarga adalah faktor terbesar yang menentukan apakah mereka bisa pulih dan kembali produktif.
Di Sumenep, para penyuluh agama yang tergabung dalam Ikatan Penyuluh Agama Republik Indoensia (IPARI) mulai bergerak ke arah ini. Lewat penyuluhan, obrolan di majelis taklim, dan kerja sama dengan puskesmas, juga KOPDAS (Komunitas Peduli ODGJ Sumenep). Gerak kecil, tapi penting. Karena kesembuhan tidak hanya terjadi di ruang dokter. Ia juga terjadi di ruang tamu, di warung kopi, di mushalla, ketika masyarakat mulai paham dan mau menerima.
Skizofrenia mungkin membuat dunia seseorang menjadi berisik. Tugas kita adalah memastikan bahwa dunia di sekitarnya tetap tenang, menerima, dan penuh harapan. Karena menjaga akal sesama manusia, adalah cara kita menjaga kemanusiaan kita sendiri.
Mungkin skizofrenia terasa jauh dari kita. Sampai suatu hari, kita sadar ia ada di tetangga, di keluarga, bahkan di dalam diri yang sedang lelah. Memahami bukan berarti membenarkan semua gejalanya. Memahami berarti memilih untuk tidak menghakimi sebelum mencoba menolong.
Barangkali kita tidak bisa mengubah dunia dalam semalam. Tapi kalau catatan ini membuat Anda berhenti sejenak dan merenung, maka sudah cukup. Sampai jumpa di catatan berikutnya.
Selamat hari Skizofrenia sedunia – 24 Mei 2026!



