Melahirkan Kembali Pancasila

Melahirkan Kembali Pancasila

Oleh: Abd Mufid

Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep | Penulis Lepas

 

Setiap 1 Juni, kita upacara. Bendera naik dikibar, pidato dibaca, Pancasila dikumandakngkan, selesai. Hari Lahir Pancasila diperingati dengan rapi.

Tapi ruh Pancasila masih seperti janin yang belum sempurna. Lima silanya sering berhenti di hafalan, belum jadi akhlak bangsa. Padahal kalau kita jujur, nilai-nilai Pancasila itu satu frekuensi dengan pesan dasar Islam: tauhid, rahmat, persaudaraan, musyawarah, dan keadilan.

Allah berfirman: “Wahai manusia, sungguh Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal” [QS. Al-Hujurat: 13]. Bukankah itu Bhineka Tunggal Ika versi langit?

Kalau mau hidup, Pancasila harus dilahirkan ulang. Ada 5 kelahiran yang harus kita bantu untuk terus dengungkan bersama:

Ketuhanan Yang Maha Esa: Tauhid yang Menjaga, Bukan Menghakimi 

Sila pertama adalah cermin tauhid. “Lakum diinukum waliyadiin” – untukmu agamamu, untukku agamaku [QS. Al-Kafirun: 6].

Ujian 2026 bukan hanya seberapa khusyuk shalat kita, tapi bisakah kita beda aqidah tapi tetap jaga lisan. Rasulullah SAW bersabda: “Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya” HR. Bukhari. Melahirkan ulang sila ini artinya: iman yang benar pasti melahirkan adab. Negara hadir dan menjaga agar semua elemen anak bangsa tenang beribadah, bukan sibuk membenarkan diri dan menyalahkan orang lain, apa lagi mengkafirkan.

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Rahmatan lil ‘Alamin 

Islam datang membawa rahmat, bukan kekerasan. “Dan Kami tidak mengutus engkau, kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam” [QS. Al-Anbiya: 107].

Sila kedua gagal ketika ada pekerja dizalimi, anak stunting dibiarkan, fakir-miskin ditelantarkan, masyarakat papa diacuhkan tanpa harapan. Padahal Nabi pernah berkata: “Sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu” HR. Tirmidzi. Melahirkan ulang sila ini berarti menjadikan rahmat sebagai kebijakan. Mendahulukan martabat manusia, karena setiap manusia membawa tiupan ruh ilahi.

Persatuan Indonesia: Ukhuwah Wathaniyah 

Al-Qur’an menyebut orang beriman itu bersaudara: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara” [QS. Al-Hujurat: 10].

Ukhuwah tidak berhenti di sesama Muslim. Di Indonesia, dia melebar jadi ukhuwah wathaniyah, persaudaraan sebangsa. Melahirkan ulang sila ketiga artinya kita latih hati untuk bilang: “Kita beda partai, beda mazhab, tapi kita tetap satu tanah air”. Persatuan bukan meniadakan beda. Persatuan adalah menjaga beda itu tetap dalam bingkai kasih.

Kerakyatan yang Dipimpin Hikmat: Syura 

Allah perintahkan: “Dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah” [QS. Asy-Syura: 38]. Itu sila keempat versi wahyu.

Demokrasi kita sakit ketika yang menang suara paling keras, paling banyak, bukan suara paling bijak dan kebenaran. Melahirkan ulang sila ini artinya menghidupkan syura atau musyawarah di RT, kantor, keluarga. Rasulullah SAW saja bermusyawarah dengan sahabat meski wahyu sudah turun. Karena keputusan yang dirundingkan bersama, lebih berkah daripada keputusan yang dipaksakan.

Keadilan Sosial: Mizan dan Amanah 

“Sungguh Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaknya kamu menetapkannya dengan adil,” [QS. An-Nisa: 58].

Sila kelima adalah mizan, timbangan. Melahirkan ulang artinya berani bongkar struktur yang timpang. Keadilan bukan sedekah. Keadilan adalah memastikan gaji layak, harga adil, akses pendidikan merata. Karena kelak pemimpin akan ditanya: bagaimana engkau mengurus rakyatmu?

Pancasila tidak akan mati karena diserang ideologi. Dia mati kalau umat beragama berhenti menjadikannya amal shalih.

Catatan Reflektif

Selesai menulis ini, saya menutup laptop dan menatap keluar jendela. 1 Juni lewat lagi. Upacara selesai. Tapi pertanyaannya masih menggantung di dada: Sudah berapa sila yang benar-benar saya lahirkan hari ini?

Saya ini penyuluh. Seharusnya paling paham ayat tentang keadilan, hadits tentang rahmat. Tapi jujur, kadang saya lebih cepat men-judge orang di kolom komentar daripada memahamkan ayat di mimbar. Kadang saya teriak “Pancasila!” di forum, tapi lupa menyapa satpam yang tiap pagi buka gerbang kantor tempat saya bekerja.

Mungkin itu masalah kita semua. Kita hafal sila, tapi gagap mempraktikkan. Kita bangga jadi bangsa religius, tapi pelit beradab. Kita jago orasi persatuan, tapi gampang unfollow orang hanya karena beda pilihan.

Imam Al-Ghazali pernah berkata, ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah. Pancasila tanpa laku, ya begitu juga. Dia jadi jargon kosong yang enak didengar, tapi tidak mengenyangkan siapa-siapa.

Karena bangsa ini tidak akan berubah dari istana. Dia berubah dari kamar-kamar kecil yang isinya orang-orang biasa, yang memutuskan: “Mulai malam ini, saya mau jadi Indonesia yang sebenarnya.”

Selamat Hari Lahir Pancasila – 1 Juni 2026.

Copyright © 2026 Catatan Mufid

2