Memento Mori: Ditangisi Saat Pergi, Dirindukan Setelah Tiada

Memento Mori: Ditangisi Saat Pergi, Dirindukan Setelah Tiada

Oleh : Abd Mufid

Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep | Penulis Lepas | Sahabat Ali Muhsi

 

Ada banyak hal yang kita takutkan dalam hidup. Kehilangan pekerjaan. Kehilangan orang yang kita cintai. Kehilangan kesehatan. Tapi anehnya, yang paling sering membuat dada sesak justru sesuatu yang pasti datang: kematian.

Padahal logikanya sederhana. Semua orang akan mengalaminya. Tidak ada yang bisa menghindar.

Namun setiap kali kematian lewat dalam percakapan, muncul dalam berita duka, atau mengetuk rumah seseorang yang kita kenal, suasana mendadak berubah. Hening. Berat. Seolah ada sesuatu yang sedang mengingatkan kita bahwa perjalanan ini tidak selama yang kita kira.

Kabar Duka Itu Datang

Kamis pagi, 4 Juni 2026, kabar itu datang. Sahabat kami, Ali Muhsi, berpulang menghadap Allah Swt. Teman sejawat sejak masa kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sahabat diskusi, sahabat organisasi, sesama kader yang sedang berproses bersama di lingkungan PCNU Sumenep.

Seperti banyak orang lainnya, saya turut berduka. Tetapi yang membuat batin saya beberapa kali terdiam bukan hanya kabar kepergiannya. Melainkan reaksi orang-orang yang ditinggalkannya.

Status-status belasungkawa bermunculan. Doa-doa mengalir tanpa diminta. Persaksian baik bermekaran dari berbagai arah.

Ada yang mengenangnya sebagai pribadi santun. Ada yang mengenangnya sebagai sahabat yang ringan membantu. Ada yang mengenangnya sebagai sosok yang selalu hadir ketika dibutuhkan. Saya membaca semuanya perlahan.

Lalu muncul satu pertanyaan yang diam-diam mengetuk kepala: apakah begini rupa kematian yang indah? Kepergian yang ditangisi. Kepergian yang membuat banyak orang merasa kehilangan. Kepergian yang justru menghadirkan kerinduan.

Masa Panen Amal Perbuatan

Barangkali inilah yang sering luput dari perhatian kita. Kita terlalu sibuk memandang kematian sebagai akhir, sampai lupa bahwa bagi sebagian orang, kematian adalah panen dari apa yang ditanam selama hidup.

Seperti seseorang yang akan pindah rumah. Kalau rumah baru sudah siap, mungkin ada rasa penasaran untuk segera menempatinya. Tetapi, kalau rumah lama masih berantakan, tagihan belum lunas, hubungan dengan tetangga belum selesai, dan banyak urusan yang masih menggantung, tentu kita akan terus menunda keberangkatan.

Mungkin begitu pula hubungan kita dengan kematian. Yang kita takutkan sering kali bukan kematiannya. Melainkan ketidaksiapan kita.

Rumah lama bernama kehidupan ini terasa belum beres. Masih ada luka yang belum meminta maaf. Masih ada hak orang lain yang belum ditunaikan. Masih ada taubat yang terus ditunda dengan alasan “nanti,” –“ini” dan “itu.”

Padahal tidak ada yang benar-benar tahu kapan kata “nanti” itu berakhir.

Sunan Kalijaga pernah mengajarkan falsafah sederhana: urip iku urup. Hidup itu menyala. Mungkin karena itulah kita takut jika lampu dipadamkan ketika nyalanya masih redup.

Memamdang Kematian dari Sudut Lain

Kita juga sering mengenal kematian dari sisi yang salah. Yang kita lihat hanyalah tangisan keluarga, kain kafan bermotif putih polos, liang lahat yang sempit, dan berita duka.

Kita jarang melihat sisi lainnya. Padahal Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

“Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” [HR. Muslim]

Bagi seorang mukmin, kematian bukan semata perpisahan. Ia adalah gerbang perjumpaan. Jalan pulang menuju Zat yang selama ini ia rindukan dalam sujud dan doa-doanya.

Al-Qur’an pun mengingatkan: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185).

Ayat ini tidak terdengar seperti ancaman. Ia lebih mirip pengingat bahwa kita semua sedang berjalan ke arah yang sama. Tidak ada yang tertinggal. Tidak ada yang didahulukan karena kaya atau dimuliakan karena jabatan. Semua akan sampai. Cepat atau lambat.

Kalau dipikir-pikir, mungkin ego kita juga ikut berperan dalam rasa takut itu. Manusia cenderung tidak nyaman pada dua hal: tidak tahu dan tidak bisa mengendalikan. Sedangkan kematian adalah puncak dari keduanya.

Kita tidak tahu kapan datangnya. Kita tidak bisa mengaturnya. Lalu muncul berbagai kecemasan: Anak-anak nanti bagaimana? Pekerjaan bagaimana? Rencana-rencana yang belum selesai bagaimana?

Padahal jika jujur, sejak awal hidup ini pun bukan sepenuhnya berada dalam kendali kita. Kematian hanya sedang mengingatkan bahwa kita hanyalah musafir yang sedang singgah.

Terus terang, saya pun tidak kebal dari rasa takut itu.

Ada hari-hari ketika saya membayangkan kematian lalu dada terasa sempit. Ada saat-saat ketika saya merasa belum cukup baik, belum cukup siap, belum cukup banyak bekal.

Tetapi setiap kali mendengar kabar orang-orang baik yang pergi dengan meninggalkan jejak kebaikan, ketakutan itu perlahan berubah bentuk. Bukan lagi takut mati. Melainkan takut belum siap.

Karena ketika waktunya tiba, kita tidak diberi kesempatan untuk menawar. Tidak bisa meminta satu minggu tambahan. Tidak bisa mengajukan penundaan. Tidak bisa berpaling ke arah lain. Yang bisa kita lakukan hanyalah mempersiapkan kepulangan itu sebaik mungkin.

Dan mungkin itulah makna terdalam dari memento mori. Ingatlah kematian. Bukan supaya hidup dipenuhi ketakutan. Tetapi supaya kita tahu mana yang benar-benar layak diperjuangkan.

Renungan Kecil

Malam ini, sebelum tidur, mungkin kita tidak perlu membuat target besar. Cukup satu pertanyaan kecil:

“Jika Allah memanggilku besok pagi, pamit seperti apa yang ingin kutinggalkan?”

Barangkali dari pertanyaan sederhana itu, kita mulai membereskan satu per satu “rumah lama” yang selama ini terlalu sering kita abaikan.

Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada sahabat kami, Ali Muhsi. Dan semoga ketika giliran kita tiba nanti, kita juga diberi kepergian yang dirindukan, bukan sekadar kepergian yang dikenang. Amin!

Beda Dulu, Baru Bersatu: Pelajaran dari Sebuah Pernikahan Izzy

Beda Dulu, Baru Bersatu: Pelajaran dari Sebuah Pernikahan Izzy

Oleh: Abd Mufid

Penyuluh Agama Islam KUA Lenteng | Penulis Lepas

Hari-hari ini, kita hidup di zaman yang aneh!

Sedikit beda pilihan, putus pertemanan. Sedikit beda pandangan, saling menjauh. Bahkan kadang hanya karena beda cara melihat sebuah persoalan, hubungan yang dibangun bertahun-tahun bisa retak dalam hitungan menit.

Seolah-olah persatuan hanya mungkin terjadi jika semua orang sama.

Padahal kalau dipikir-pikir, kalau semuanya sama, apa yang sebenarnya mau dipersatukan?

Pikiran ini muncul saat penulis menghadiri undangan bahagia adinda Darwis dan Izzy, puteri kedua Om Habari di Desa Pagar Batu Saronggi Sumenep, yang hari ini mengikat janji dalam akad pernikahan. Dua orang yang sebelumnya hidup di jalan masing-masing, tumbuh dalam keluarga berbeda, membawa kebiasaan berbeda, cara berpikir berbeda, lalu memilih duduk dalam satu perahu yang sama.

Menariknya, mereka justru disebut “bersatu” karena berbeda. Kalau Darwis menikahi Darwis atau Darmono, atau Izzy menikahi Izzy, mungkin tak ada yang namanya penyatuan. Yang ada hanya penggandaan. Dan ini bahaya. Bisa memicu sunami keluarga!

Kadang kita lupa bahwa hakikat persatuan memang bukan menghapus perbedaan, melainkan merawatnya agar bisa berjalan seiring.

Secangkir Kopi

Ya! Seperti secangkir kopi. Air panas saja hambar. Bubuk kopi saja pahit. Gula saja bikin enek. Tetapi ketika semuanya bertemu dalam takaran yang pas, lahirlah secangkir kopi yang bisa menemani banyak percakapan.

Bukan karena semua unsur menjadi sama, tetapi karena masing-masing unsur tetap menjadi dirinya sendiri.

Rumah tangga pun begitu. Sering kali masalah bukan muncul karena perbedaan itu ada. Masalah muncul ketika salah satu pihak memaksa pihak lain menjadi salinan dirinya. Padahal sejak awal Allah memang menciptakan manusia dengan warna yang beragam.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

“Wahai manusia, sungguh Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menarik. Allah tidak mengatakan agar manusia menjadi seragam. Yang disebut justru “saling mengenal”.

Artinya, perbedaan bukan kecelakaan. Ia memang bagian dari desain kehidupan. Bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipertemukan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” (HR. Tirmidzi)

Karena hidup bersama orang lain kadang memang selalu menghadirkan gesekan. Kesabaran lahir bukan ketika semuanya cocok, melainkan ketika ada yang berbeda namun tetap ingin dijaga.

Pernikahan adalah Sekolahan yang Paling Jujur

Kalau boleh jujur, saya sendiri sering gagal memahami ini.

Kadang dalam diskusi keluarga, saya lebih sibuk menyiapkan bantahan daripada berusaha memahami. Kadang saat berbeda pendapat, yang ingin saya menangkan adalah argumen, bukan hubungan.

Tapi belakangan saya sadar, banyak konflik ternyata bukan soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Sering kali masalahnya adalah ego yang diam-diam ingin menjadi pusat semesta.

Kita ingin didengar, tetapi malas mendengar. Kita ingin dipahami, tetapi enggan memahami. Kita ingin diterima apa adanya, tetapi sulit menerima orang lain apa adanya. Mungkin karena itu pernikahan menjadi salah satu sekolah kehidupan yang paling jujur.

Di sana, dua manusia belajar setiap hari bahwa cinta bukan tentang menemukan orang yang sama persis dengan kita. Cinta adalah kemampuan menghormati perbedaan tanpa kehilangan arah bersama.

Dan mungkin itulah sebabnya kisah adinda Darwis dan Izzy terasa begitu relevan dengan Hari Lahir Pancasila.

Bulan Pancasila, Bulan Berpadu Mesra

Bangsa ini pun berdiri di atas prinsip yang sama.

Bukan satu suku. Bukan satu bahasa daerah. Bukan satu kebiasaan. Bukan satu cara berpikir. Indonesia lahir karena banyak perbedaan yang memilih duduk bersama dalam satu cita-cita.

Pancasila tidak lahir untuk menyeragamkan. Ia lahir untuk mempersatukan. Seperti pernikahan yang sehat. Seperti keluarga yang hangat. Seperti sahabat yang tetap berteman meski berbeda pandangan.

Malam ini, mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita bawa sebelum tidur: Apakah selama ini kita sedang berusaha mempersatukan perbedaan, atau justru memaksa semua orang menjadi sama?

Barangkali aksi kecil yang bisa kita lakukan adalah menghubungi satu orang yang pernah berbeda pendapat dengan kita. Bukan untuk berdebat lagi. Hanya untuk menyapa. Bergandeng tangan. Berpadu mesra – semesra Darwis dan Izzy.

Karena bisa jadi, persatuan memang tidak pernah lahir dari kesamaan. Ia lahir dari keberanian untuk tetap berjalan bersama di tengah perbedaan.

Catatan Mufid ID

Kadang kita terlalu sibuk mencari orang yang sepaham, sampai lupa bahwa hidup justru tumbuh dari perjumpaan dengan yang berbeda. Sebab bukan kesamaan yang membuat kita dewasa, melainkan kemampuan mencintai, memahami, dan merawat perbedaan dengan kepala yang jernih dan hati yang lapang.

Selamat bulan lahir Pancasila!

Selamat menempuh hidup baru – Darwis dan Izzy

Pertengkaran Lekang, Romantisme Datang: 3 Batas Yang Tidak Boleh Dilanggar Saat Marahan

Pertengkaran Lekang, Romantisme Datang: 3 Batas Yang Tidak Boleh Dilanggar Saat Marahan

Oleh: Abd Mufid[1]

Prolog: Medan Perang

Dering ponsel itu membuat kopi pagi saya tersendak. Pukul 06.30, Jumat pagi. Di ujung sana, suara Bu Laila terdengar parau, seperti orang yang semalaman menangis tanpa suara.

“Pak, saya sudah di pintu gerbang KUA. Bapak sudah datang?”

Saya tahu persis apa yang akan terjadi. Ini bukan pertama kalinya Bu Laila datang dengan mata sembab dan langkah gontai. Yang membuat hati saya tercekat bukanlah niat cerainya, tapi jawabannya ketika saya bertanya, “Kenapa kok sampai segininya, Bu?”

Diam. Lalu lirih, “Kami tidak pernah bertengkar hebat, Pak. Tapi setiap malam, suami saya tidur di ruang tamu kalau lagi kesal. Bisa berhari-hari. Saya di kamar sendirian meremas bantal, bertanya-tanya salah saya apa. Lebih sakit mana dipukul atau diabaikan seperti ini?”

Saya hanya bisa diam memandang ubin keramik KUA yang dingin.

Sahabat CM, setiap rumah tangga pasti punya cekcok. Yang membedakan bukanlah apakah kita bertengkar, melainkan bagaimana kita bertengkar. Ada pertengkaran yang berakhir dengan gelak tawa sambil makan malam bersama penuh syahdu. Ada pula yang meninggalkan luka menganga bertahun-tahun.

Nabi Muhammad SAW. sudah memberi kode: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Pertanyaannya, apakah pasangan kita musuh debat yang harus ditaklukkan, atau partner yang sedang belajar bareng menuju surga?

Catatan kecil ini bukan untuk menggurui. Saya pun masih belajar. Tapi mari kita renungkan tiga batas yang tidak boleh dilanggar saat marah. Karena dari sanalah romantisme yang nyaris lekang bisa kembali hadir.

Batas Pertama: Rahasia Ranjang Bukan Tayangan Publik

Saya pernah memberikan bimbingan pernikahan pasangan muda, sebut saja Mas Fajar dan Mbak Nila. Tahun pertama, mereka romantis seperti iklan susu. Tapi menjelang tahun ketiga, Mbak Nila datang ke KUA dengan wajah seribu luka. Bukan lebam, tapi malu yang teramat dalam.

“Kenapa, Mbak?” tanyaku.

Jawabannya membuat saya tersentak: “Mas Fajar cerita ke teman main futsalnya, kalau saya susah bangun subuh dan sering lupa masak. Sekarang grup WhatsApp istri-istri temannya tahu semua. Saya malu, Pak. Saya tidak enak kalau arisan.”

Bayangkan. Aib yang hanya layak jadi teman bantal, tiba-tiba jadi konsumsi publik.

Rasulullah SAW. mengingatkan keras soal ini:

“Sesungguhnya amanah terbesar di sisi Allah pada hari Kiamat adalah seseorang yang memperhatikan istrinya, dan sebaliknya, kemudian menyebarkan rahasia pasangannya.” (HR Muslim)

Tadabbur sejenak:

Kata kuncinya adalah amanah. Allah titipkan kehormatan pasangan kepada kita. Saat membuka aibnya, kita bukan hanya mengkhianati manusia, tapi juga mengkhianati titihan Ilahi.

An-Nisa: 34 juga menjelaskan tentang istri shalihah yang hafizhatun lil ghaibi— menjaga kehormatan ketika suami tidak ada. Ini berlaku timbal balik. Suami pun wajib menjaga rahasia istri.

Pertanyaan ini bisa jadi menggugah untuk diri saya dan Anda: “Curhat ke sahabat dekat itu memang melegakan. Tapi batasnya di mana? Apakah pasangan kita akan tetap tersenyum jika tahu rahasianya sudah jadi bahan diskusi kelompok?”

Batas Kedua: Lisan Lebih Tajam Dari Pedang

Cerita kedua. Pak Rahmat, 47 tahun, datang ke pengajian rutin di mana kita biasa nimbrung di kampung saya. Biasanya beliau duduk di baris depan sambil membawa Al-Qur’an besar. Tapi malam itu ia duduk di pojok, di belakang tiang.

Setelah pengajian bubar, saya coba hampiri: “Lho, Pak Rahmat? Biasanya di depan.” Sergahku, memecah keheningannya.

Beliau hanya tersenyum kecut. Tiga hari kemudian saya tahu penyebabnya: anak semata wayangnya, Sari, sudah sebulan tidak mau bicara sama ayahnya. Karena Pak Rahmat, saat marah dengan istrinya soal uang, melontarkan kalimat: Dasar perempuan memang nggak becus ngatur duit. Sari juga ikut-ikutan tolol kayak ibunya.

Sari kebetulan ada di dapur dan mendengar semuanya. Kekerasan verbal. Ini yang sering dianggap remeh. Padahal dalam QS. An-Nisa: 19, Allah berfirman:

“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara ma’ruf.”

Imam Al-Qurthubi menafsirkan ma’ruf antara lain dengan perkataan yang baik, wajah yang ramah, dan sikap yang lapang dada.

Bentuk-bentuk kekerasan verbal yang kadang tidak kita sadari seperti; menghina, merendahkan, mengungkit-ngungkit masa lalu, melabeli hingga generalisasi berlebihan.

Rasulullah bersabda: “Muslim sejati adalah orang yang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari)

Perhatikan, Nabi menyebut lisan lebih dulu dari tangan. Kenapa? Karena luka fisik cepat kering, tapi luka hati dari kata-kata bisa menganga hingga puluhan tahun. Bahkan, ada istri yang lebih tegar dipukul daripada dihina di depan anak-anaknya.

Pertanyaan untuk kita semua:

“Kalimat terakhir yang Anda lontarkan saat marah pada pasangan — jika pasangan Anda rekam lalu putar ulang keesokan harinya ketika suasana sudah damai — apakah Anda akan bangga, atau justru malu setengah mati?”

Batas Ketiga: Jangan Jemput Pagi Dengan Dendam Semalam

Kembali ke Bu Laila di awal cerita. Suaminya, Pak Didik, punya kebiasaan, setiap kali kesal, ia tidur di ruang tamu. Bukan satu malam, bisa tiga malam. Istri di kamar. Mereka sarapan sendiri-sendiri. Berangkat kerja sendiri-sendiri. Pulang pun pura-pura tidak lihat.

“Pak Didik itu sebenarnya baik, Pak,” kata Bu Laila. “Cuma kalau marah, dia bisa mendiamkan saya sampai saya yang minta maaf duluan. Padahal kadang yang salah dia.”

Ini yang disebut hajr dalam istilah fikih. Pisah ranjang. Tapi bentuknya bukan nusyuz dari istri, melainkan boikot emosional dari suami.

Dalam QS. An-Nisa: 34, Allah mengizinkan hajr sebagai tahapan nasihat bagi istri yang nusyuz, dengan catatan: terbatas di tempat tidur (tidak keluar rumah) dan dengan tujuan mendidik, bukan balas dendam. Bukan untuk berhari-hari, apalagi berminggu-minggu.

Rasulullah menegaskan: “Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR. Bukhari-Muslim)

Kalau untuk saudara biasa saja tiga hari batasnya, apalagi untuk suami istri yang tidur satu atap? Tentu lebih utama untuk tidak dibiarkan sampai berganti hari. Mendiamkan pasangan tanpa penyelesaian dengan tempo waktu yang lama itu berbahay. Dapat memicu bom waktu, menumbuhkan prasangka buruk. Istri bisa berprasangka suami sudah tidak cinta, suami berprasangka istri tidak peduli, serta mengundang setan. Rumah yang sunyi dari komunikasi adalah taman favorit setan untuk menabur fitnah.

Ada tiga tips praktis yang bisa dilakukan pada saat emosi memuncak. Pertama, jika emosi sedang memuncak, ambil jeda. Bukan kabur atau lari. Katakan: “Sayang, saya lagi panas sekarang. Boleh kita bicara sejam lagi?” Kedua, Sepakati “cooling down time” misalnya maksimal 30 menit. Jangan sampai berlarut-larut. Ketiga, sebelum tidur, minimal ada satu kalimat penutup. Bisa “Maaf ya kalau tadi aku salah“, atau “Meskipun kita belum selesai masalahnya, aku tetap sayang kamu.”

Seni Mengelola Konflik Keluarga

Dari tiga batas di atas, penulis ingin mengajak Anda berhenti sejenak. Di mana letak “seni”-nya? Kenapa konflik yang sama bisa menghancurkan satu rumah tangga, tapi justru menguatkan rumah tangga lain?

Jawabannya ada pada seni mengelola konflik. Bukan ilmu pasti, tapi seni. Karena setiap pasangan punya watak, latar belakang, dan “bahasa cinta” yang berbeda.

Berdasarkan bacaan penulis atas naskah asli artikel ini dan pengalaman lapangan sebagai penyuluh, saya rangkum7 pilar seni mengelola konflik keluarga yang menggugah:

Pilar 1: Kesadaran Diri — “Siapa yang Mengendalikan Siapa?”

Seni pertama adalah mengenali bahwa amarah sedang datang. Ini krusial karena otak kita punya amygdala (pusat emosi) yang bereaksi 0,3 detik lebih cepat daripada prefrontal cortex (pusat logika). Artinya, saat marah, kita otomatis bodoh dulu. Baru setelah tenang, kita pintar lagi.

Orang yang tidak sadar diri akan langsung meledak. Orang yang sadar diri akan bilang: “Tunggu, saya lagi marah. Jangan saya bicara dulu.”

Pilar 2: Pengaturan Diri — Diam Itu Bukan Kalah, Tapi Strategi

Rasulullah bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad)

Seninya, diam bukan berarti mengalah. Diam adalah “ruang bernapas” agar amarah tidak naik ke ubun-ubun. Sambil diam, baca ta’awudz, duduk jika berdiri, berbaring jika masih marah, atau ambil wudhu atau mandi.

Pilar 3: Empati — Mencoba Masuk Sepatu Pasangan

Saya sering tanya ke jamaah yang berseteru: “Coba, kalau jadi dia, apa yang Anda rasakan?”

Orang yang berempati tidak akan bilang “Kamu egois!”, tapi “Saya paham kamu mungkin capek juga hari ini. Tapi saya juga butuh didengar.” Empati membedakan respons (yang matang) dari reaksi (yang impulsif).

Pilar 4: Komunikasi Asertif — Menggunakan “Aku” Bukan “Kamu”

Berikut ini merupakan teknik praktis yang luar biasa. Bandingkan, penggunaan kalimat “kamu” yang bersifat menuding atau menyalahkan (agresif). Dari pada kalimat “aku” yang cenderung bersifat asertif (menghargai/terbuka). Contoh; “Kamu nggak pernah ngerti aku!” “Kamu egois banget!” atau “Kamu maunya menang sendiri!” (agresif). Sementara; “Aku merasa sedih kalau kita nggak saling ngerti.” “Aku merasa diabaikan ketika keputusan diambil tanpa diskusi.” “Aku ingin kita sama-sama menemukan jalan tengah.” (Asertif). Intinya, kalimat “aku” tidak menuding, tapi membuka pintu dialog.

Pilar 5: Kendalikan Amarah dengan Teknik Sunnah

Dalam literatur-literatur klasik menyebutkan langkah-langkah praktis meredakan amarah: 1) Baca ta’awudz, karena amarah berasal dari setan. 2) Diam, tidak bicara apapun. 3) Ubah posisi tubuh, duduk jika berdiri, berbaring jika duduk. 4) Berwudhu, air memadamkan api amarah. 5) Ingat wasiat Nabi — “Jangan marah, maka bagimu surga.” Ini bukan teori. Ini obat mujarab yang sudah dicoba para sahabat.

Pilar 6: Fokus Pada Solusi, Bukan Pada Kesalahan

Banyak pasangan terjebak dalam blame game — sibuk mencari siapa yang memulai, siapa yang lebih salah. Akhirnya masalah tak selesai, ego yang justru dibesarkan.

Seninya: setelah kedua pihak tenang, tanyakan, “Apa yang bisa kita lakukan agar kejadian ini tidak terulang?” Bukan “Siapa yang salah?”

Pilar 7: Mediasi — Kapan Perlu Pihak Ketiga?

An-Nisa: 35 memberikan solusi: “Jika kamu khawatirkan perselisihan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan.”

Sahabat CM, seni terbesar dalam konflik adalah mengetahui kapan harus selesai berdua, dan kapan perlu memanggil penengah. Mediasi bukan berarti lemah. Justru itu tanda kedewasaan. Bahwa keselamatan rumah tangga lebih penting dari kemenangan pribadi.

Penutup: Karena Cinta Tak Selalu Hadir Dalam Pelukan, Tapi Juga Dalam Kemampuan Menahan Diri

Sahabat CM, penulis mencoba metutup catatan kecil ini dari kisah Kakek Darso. Pak Darso adalah seorang kakek di desa saya. Suatu waktu, saya pernah bertanya padanya, “Kek Dar, bagaimana caranya Kakek dan Ibu bisa 60 tahun bersama tanpa cerai?”

Kakek Darso tersenyum, lalu menjawab perlahan, “Cong, kami juga pernah hampir cerai berkali-kali. Tapi kami sepakat: ketika marah, kami tidak pernah tidur tanpa berjabat tangan. Dan kami tidak pernah membuka rahasia satu sama lain, sekalipun kepada anak-anak kami sendiri.”

Lalu Kakek Darso pun menambahkan, “Kami belajar bahwa setan senang ketika suami istri saling menyakiti dengan kata-kata. Maka kami belajar diam jika tak bisa berkata baik.” Pungkasnya.

Rumah tangga yang kuat bukan yang tanpa pertengkaran. Tapi yang tahu batas saat marah. Karena cinta tidak selalu hadir dalam ucapan “aku sayang kamu.” Cinta hadir saat mulut ini menahan diri untuk tidak menyakiti, cinta hadir saat kita memilih damai walau ego masih berat, dan cinta hadir saat kita lebih memilih tidur berpelukan daripada saling membelakangi. Maka, kalau malam ini Anda sedang berselisih dengan pasangan, ingatlah: Kita boleh berbeda, tapi jangan sampai kehilangan adab.

Sebab yang kita jaga bukan sekadar perasaan. Tapi keberkahan rumah tangga. Dan keberkahan itu tidak akan hadir jika kita terus menerus melanggar tiga batas saat marah: Membuka aib pasangan, Kekerasan verbal, dan Mendiamkan tanpa penyelesaian hingga tidur.

Semoga Allah satukan hati-hati kita dalam kebaikan, dan jadikan rumah kita tempat terindah untuk pulang. Aamiin.

Sumenep, 20 Mei 2026

[1] Penulis adalah Penyuluh Agama Islam di lingkungan Kementerian Agama Sumenep, Koordinator Bidang Pendidikan Keluarga LKK-NU Sumenep (periode 2026-2031), serta aktif menulis esai keislaman dan penguatan keluarga di http://catatanmufid.id

 

Puasa Gadget Seminggu Sekali: Rasakan Hidupmu Kembali

Puasa Gadget Seminggu Sekali: Rasakan Hidupmu Kembali

Oleh: Abd Mufid

(Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep)

 

Pernah tidak, Anda bangun tidur, mata masih sayup, tapi jari-jemari sudah tidak sabar nyentuh layar HP? “Cuma sebentar, lihat notifikasi,” katanya. Tahu-tahu satu jam lewat. Kepala rasanya penuh, hati malah hampa. Anda masih di kasur yang sama, tapi rasanya sudah keliling dunia maya dan pulang dengan tangan kosong. Jujur, dulu penulis juga begitu. Dan rasanya capek.

Bukan karena penulis anti teknologi. Buktinya, tulisan ini lahir dari laptop yang nyambung internet. Tapi akhir-akhir ini penulis sadar: kita butuh puasa. Bukan puasa lapar dan haus, tapi puasa dari gadget. Sehari dalam seminggu. Penulis kasih nama Pusget. Nama keren bukan? Singkatan dari puasa gadget.

Setiap Hari Kita Tenggelam

Coba lihat sekeliling kita. Di kereta, di warung kopi, di meja makan rumah kita sendiri, semua kepala menunduk. Jari-jari sibuk scroll, sementara tubuh fisik ada di sana, tapi hati dan pikirannya melayang entah ke mana.

Datanya bikin merinding. Di tahun 2023, Indonesia jadi negara peringkat ke-4 pengguna internet terbesar di dunia. 212,9 juta orang sudah nyambung ke dunia maya. Yang lebih gila lagi: remaja Indonesia umur 16 tahun menempati peringkat pertama dunia dalam urusan nge-scroll lewat HP.

Rata-rata orang Indonesia online 7 jam 22 menit per hari. Coba hitung: tidur 8 jam, kerja 8 jam. Sisa 8 jam untuk keluarga, istirahat, dan diri sendiri. Tapi nyatanya? Sisa waktu itu habis dimakan layar. Iya, rata-rata hampir 8 jam sehari cuma untuk scroll scroll dan scroll.

Dan untuk apa? Bukan untuk belajar atau kerja. Data BPS menyebutkan: 85% orang Indonesia buka internet untuk hiburan, 77% untuk medsos. Yang untuk pendidikan hanya 7,4%. Jadi gadget bukan lagi alat bantu. Ia sudah jadi rumah kedua kita. Bahkan kadang, rumah pertama.

Panik karena Ketinggalan HP

Suatu hari, seorang teman ketinggalan HP di rumahnya. Hanya sehari. Tapi tangannya gemetar. Jantungnya berdebar. Mukanya pucat. Bukan drama. Itu gejala putus kecanduan.

Ilmuwan mengatakan itu dopamin loop. Setiap notifikasi, setiap like, setiap video pendek yang lucu, otak kita dibanjiri hormon senang. Sayangnya, efeknya bisa memuntuk otak kita jadi haus terus. Akibatnya? Fokus hancur, gampang cemas, gampang bosan, susah tidur karena blue light, dan yang paling parah: FOMO (Fear of Missing Out). Takut ketinggalan update, padahal update itu tidak penting-penting amat.

Dr. Anna Lembke dari Stanford mengemukakan, bahwa kelebihan stimulus digital bikin otak kita lupa cara menikmati hal-hal sederhana. Seperti ngobrol santai, jalan pagi tanpa HP, atau sekadar diam. Lalu solusinya? Istirahat stimulus. Otak perlu di-reset. Dan puasa gadget seminggu sekali adalah reset termurah dan paling mujarab.

Yang sudah rutin digital detox dilaporkan punya: suasana hati lebih stabil, tidur nyenyak, fokus meroket, dan hidup terasa lebih ringan. (University of Pennsylvania, 2022)

Puasged adalah Puasa Kekinian

Rasulullah bersabda: “Puasa adalah perisai.” Maksudnya pelindung dari hal buruk. Kalau puasa makanan melindungi dari dosa perut, maka puasa gadget melindungi kita dari dosa mata, telinga, dan hati. Dari tontonan sia-sia, gosip digital, dan konten yang tidak jelas ujung pangkalnya.

Allah juga melarang israf (berlebihan) [QS. Al-A’raf: 31]. menghabiskan 7 jam sehari untuk medsos? Itu namanya boros waktu. Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah memuji orang-orang yang menjauhi lahwun (perkara sia-sia) [QS. Al-Mu’minun: 3]. Jadi puasa gadget itu latihan kontrol diri yang mulia. Allah mengajak kita kembali ke tadabbur, merenung, dan hadir sepenuhnya pada saat ini.

Kita Rindu Zona Guyub

Dahulu waktu kecil di kampung, bapak-bapak duduk di warung kopi sambil cerita soal tanam dan topik keseharian lainnya. Ibu-ibu arisan sambil tertawa bersama. Anak-anak bermain bola sampai senja. Sekarang? Duduk sekeluarga di ruang tamu, tapi masing-masing sibuk dengan HP. Namanya sekarang phubbing, yaitu pengabaian atas diri orang lain karena ponsel.

Padahal kita punya budaya guyub. Ngopi bareng, pengajian, gotong royong. Semua itu lahir dari interaksi nyata, bukan dari hati yang tercerai-berai di dunia digital. Maka puasa gadget adalah revitalisasi budaya. Satu hari tanpa layar, kita bisa bercengkerama dengan anak, mendengar cerita orang tua, atau sekadar diam bersama, tanpa jari yang gatal untuk scroll.

Dampaknya Langsung Terasa

Hidup itu soal pilihan. Kalau tidak pernah puasa gadget, kita akan terjebak multitasking semu. Kerja sambil buka medsos, hasilnya setengah hati. Deep work mustahil terjadi. Prokrastinasi menahun. Pekerjaan numpuk, stres naik. Tapi begitu kita coba pusget, rasanya beda. Mood lebih stabil, jadi tidak gampang cemas, fokus meningkat. pekerjaan selesai lebih cepat dan tepat waktu, dan yang paling penting energi mental tetap terjaga. Hubungan dengan orang lain jadi lebih intim, lebih dalam, lebih bermakna. Alhasil, satu hari tanpa gadget benar-benar seperti reset mingguan untuk jasad dan jiwa.

Gerakan Pusget: Ajak Semua Mulai dari Kita

Penulis tidak mengatakan buang HP Anda! Penulis tidak meromantisasi hidup tanpa internet. Penulis hanya mengajak satu hal sederhana, tapi dijamin sulit: disiplin mematikan gadget satu hari dalam seminggu.

Caranya, pilih satu hari (Ahad, Jumat, atau Sabtu), batasi medsos, hiburan digital, dan konten tidak penting, HP hanya untuk darurat atau kerja yang benar-benar urgen. Selanjutnya, isi hari itu dengan membaca Al-Qur’an atau buku fisik, olahraga ringan, quality time sama keluarga, jJalan pagi tanpa HP, nulis jurnal, melukis, atau sekadar tafakur (meditasi).

Bayangkan kalau 10, 100, 1000 orang, sampai satu kampung, melakukan ini bersama. Bukan cuma gerakan individu. Tapi kesadaran kolektif bahwa kita masih punya kendali atas teknologi, bukan sebaliknya.

Penutup: Sunyi Itu Menyembuhkan

Di tengah gemuruh notifikasi yang tidak pernah tidur, kita sering lupa bahwa jiwa juga butuh sunyi. Puasa gadget bukan sekadar mematikan layar, tapi menyalakan kesadaran. Gerakan ini mengajak kita pulang. Bukan cuma ke rumah, tapi ke dalam diri sendiri masing-masing.

Karena pada akhirnya, yang paling kita butuhkan bukanlah koneksi internet yang cepat. Melainkan koneksi hati yang tepat. Dan mungkin, dari satu hari tanpa gadget itu, kita akan kembali menemukan siapa diri kita, dan kepada siapa hidup ini seharusnya bermuara.

Jadi, mari mulai. Pilih hari Anda. Matikan layer Anda. Hidupkan kembali hidup Anda. Hidup Anda yang autentik. Sekali lagi, Pusget: Satu hari dalam seminggu. Untuk jernihnya jiwa, untuk bahagia yang sejati. Jika Anda setujutu dengan ikhtiyar kecil ini, bagikan catatan ini kepada orang-orang terdekat Anda, sahabat dan mereka yang terketuk untuk berubah Bersama-sama. Salam PUSGET!

Obati Sakitnya, Sembuhkan Batinnya

Obati Sakitnya, Sembuhkan Batinnya

Oleh: Abd Mufid
Pemerhati Kesehatan Jiwa, Penyuluh Agama Islam KUA Lenteng Sumenep

Suatu siang di ruang rawat inap yang hening, seorang pasien menatap langit-langit kamar dengan mata hampa. Infus menetes perlahan, monitor berdetak ritmis, dan aroma antiseptik menyergap perlahan. Secara medis, kondisinya stabil. Namun, tidak ada alat yang sanggup mendiagnosis kegelisahan yang bersarang di dadanya. Tidak ada lembar rekam medis yang mencatat rasa cemas dan takut yang ia pendam. Di sanalah cerita ini dimulai—bukan dari meja operasi, bukan dari resep dokter, melainkan dari hati manusia yang sedang merintih mencari kekuatan.

Ketika Kementerian dan Dinas Berjabat Tangan untuk Jiwa

Di Kabupaten Sumenep, sejak sepekan terakhir, sebuah langkah kecil namun sarat makna terus diikhtiarkan. Kementerian Agama dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep bersinergi melahirkan gerakan yang tidak hanya menyentuh raga, tetapi juga merawat batin. Namanya Be-SMART: layanan bimbingan, edukasi, dan pendampingan spiritual untuk kesehatan mental masyarakat, termasuk pasien rawat inap di puskesmas dan rumah sakit se-Kabupaten Sumenep. Program ini digagas para penyuluh agama yang tergabung dalam Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Sumenep. Diawali dengan nota kesepahaman (MoU) antara Kemenag Sumenep dengan Dinas Kesehatan Sumenep, yang selanjutnya ditindaklanjuti dengan perjanjian kerja sama antara KUA dan Puskesmas, kini mereka hadir di ruang-ruang rawat—bukan sekadar pembaca doa, melainkan penenun harapan.

Menyembuhkan Batin, Bukan Sekadar Menyapa Fisik

Ketua PD IPARI Sumenep, H. Moh. Halili, S.Ag., M.H., menegaskan bahwa idealnya, setiap pasien mendapat pendekatan holistik. Bukan hanya penyembuhan fisik, tetapi juga mental dan kejiwaan. “Persoalan kesehatan hari ini tak bisa ditangani secara terpisah. Dibutuhkan pendekatan utuh: medis sekaligus mental-spiritual. Ini komitmen pelayanan kami kepada masyarakat,” tuturnya. Bukan sekadar idealisme. Ia berpijak pada realitas ilmiah.

Saat Cemas Menjelma Nyeri: Sebuah Fakta Medis

Dunia medis modern mengenal gangguan psikosomatis: kondisi di mana pikiran, emosi, dan tekanan batin menjelma menjadi keluhan fisik yang nyata. Stres yang tak terkelola memicu lonjakan hormon kortisol dan adrenalin. Akibatnya? Tekanan darah naik, jantung berdebar kencang, otot menegang, lambung terganggu. Kecemasan kronis membuat tubuh terus dalam mode “siaga darurat”. Bahkan depresi dapat memicu peradangan dalam tubuh. Maka pertanyaan klasik, “Apakah mental mempengaruhi fisik?” kini terjawab tegas: Ya, sangat. Dan hubungan itu bersifat dua arah. Penyakit kronis seperti jantung dan diabetes dapat memicu depresi; depresi pun dapat memperburuk kondisi fisik. Karena itu, WHO menegaskan pentingnya pendekatan kesehatan yang terintegrasi: fisik, mental, dan sosial.

Islam Lebih Dulu Menyebut Kesembuhan yang Utuh

Jauh sebelum dunia medis modern bergumul dengan kata “holistik”, Islam telah mengajarkan keseimbangan itu. Allah SWT berfirman: “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80). Bukan sekadar pengakuan teologis, melainkan pengingat bahwa kesembuhan melibatkan dimensi yang lebih luas dari sekadar obat dan jarum. Rasulullah ﷺ bersabda: “Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada enam… jika ia sakit, maka jenguklah.” (HR. Muslim). Menjenguk orang sakit bukan hanya etika sosial; ia adalah terapi, dukungan emosional, dan obat batin yang sering kali lebih menenangkan dari sekadar senyawa kimia.

Doa, Zikir, dan Sains yang Mulai Mengamini

Para ilmuwan modern pun mulai mengamini. George Engel memperkenalkan model biopsikososial: kesehatan manusia dipengaruhi oleh aspek biologis, psikologis, dan sosial. Herbert Benson dari Harvard menemukan bahwa doa, meditasi, dan praktik spiritual dapat menurunkan stres, memperbaiki tekanan darah, serta meningkatkan imunitas. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa doa dan zikir menekan hormon stres, mindfulness membantu mengelola nyeri kronis, pendekatan spiritual meningkatkan kualitas hidup pasien, serta dukungan emosional mempercepat pemulihan pasca-sakit. Perlu digarisbawahi: pendekatan ini bukan pengganti medis. Ia pelengkap. Ia jembatan antara raga dan jiwa.

Mereka Duduk di Samping, Lalu Sepi Itu Berkurang

Kini, di ruang-ruang rawat inap puskesmas di Sumenep, para penyuluh agama sedang dan akan terus memainkan peran itu. Mereka duduk di samping pasien, mendengarkan keluh kesah, mengajak berdoa, menguatkan harapan. Kadang mereka tak membawa banyak kata. Namun kehadiran mereka cukup untuk berkata, “Engkau tidak sendiri.” Di titik itulah, penyembuhan sering kali bermula. Be-SMART bukan sekadar inovasi birokrasi. Ia adalah jawaban atas kegelisahan zaman. Sebuah ikhtiar memulihkan makna pelayanan kesehatan: bahwa manusia harus dilihat sebagai satu kesatuan utuh—jasad dan jiwa.

Foto Colase| Penandatangan Kesepakatan Kerjasama dan proses pendampingan penguatan mental pasien inap di lingkungan Puskesmas oleh Penyuluh Kemenag Sumenep.

Catatan Akhir: Tidak Semua Obat Berbentuk Pil

Kita hidup di era di mana teknologi mampu membaca detak jantung, namun belum tentu mampu memahami luka batin. Maka ketika para penyuluh agama hadir di ruang-ruang sakit, mereka sejatinya sedang mengisi ruang kosong yang tak terjangkau alat medis: ruang kemanusiaan. Karena itu, mari kita pahami satu hal sederhana namun sering terlupakan: tidak semua luka terlihat, tidak semua sakit dapat diukur, dan tidak semua obat berbentuk pil. Kadang, yang paling dibutuhkan hanyalah doa yang tulus, tangan yang menggenggam erat, dan hati yang benar-benar peduli. Mari obati sakitnya. Dan jangan lupa, sembuhkan pula batinnya.

Kelakar Suka-Suka di Syawalan IKA-SUKA

Kelakar Suka-Suka di Syawalan IKA-SUKA

Oleh: Abd Mufid[1]

Ada yang aneh dari tawa itu!

Ia pecah berkali-kali, bergelombang, bahkan kadang terasa “tidak penting.” Tapi justru di situlah, di sela-sela kelakar yang tampak suka-suka—terselip sesuatu yang tidak sederhana: ingatan, idealisme, dan barangkali iman yang diam-diam sedang dirawat.

Syawalan IKA-SUKA Sumenep ke-XII di kompleks Ponpes Annuqayah, Guluk-Guluk, Kamis, 26 Maret 2026, bukan sekadar forum temu alumni. Ia lebih mirip ruang pulang—tempat di mana manusia tidak hanya bertemu wajah, tapi juga menemukan kembali versi terbaik dari dirinya yang mungkin sempat tercecer oleh zaman.

Dimulai dari ziarah ke para masyayikh, lalu tahlil dan shalawat, hingga sarasehan penuh canda, semuanya seperti satu alur yang utuh: dari sunyi menuju riuh, dari khidmat menuju hangat. Dan di tengah-tengahnya, manusia belajar satu hal yang sering dilupakan—bahwa kehidupan tidak selalu harus serius untuk menjadi bermakna.

Lantunan Shalawat Nabi di sela-sela seremoni Syawalan IKA-SUKA.

Kelakar yang Tidak Pernah Kosong Makna

Jika dilihat sepintas, forum itu hanyalah “gelanggang kelakar.” Cerita mahasiswa abadi, kisah pindah jurusan, semboyan “hindari wisuda dini,” hingga pengalaman ngekos yang lebih banyak “menghilang” daripada tinggal—semuanya mengundang tawa.

Namun di balik itu, tersimpan satu pesan sunyi: bahwa perjalanan intelektual tidak selalu lurus, dan justru dari kelokan itulah karakter ditempa. Bukankah Nabi pernah bersabda:

“Sesungguhnya aku juga bercanda, namun aku tidak mengatakan kecuali yang benar.”
(HR. Tirmidzi)

Kelakar, dalam tradisi yang sehat, bukan pelarian dari makna. Ia justru jalan masuk menuju makna—dengan cara yang lebih manusiawi. IKA-SUKA tampaknya memahami ini dengan baik. Bahwa humor bukan lawan dari keseriusan, melainkan jembatan menuju kebijaksanaan.

“Ngadhek Parjugah Sabarengan”: Berdiri Bersama, Tanpa Merendahkan

Tema yang diusung, “ngadhek parjugah sabarengan,” bukan sekadar slogan lokal.
Ia adalah filosofi hidup: berdiri tegak bersama, tanpa merasa lebih tinggi, tanpa menjatuhkan yang lain. Dalam bahasa iman, ini sejalan dengan firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…” (QS. Al-Hujurat: 10).

Dan lebih dalam lagi: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Kesetaraan dalam forum itu terasa nyata. Para alumni lintas generasi, dari berbagai latar belakang—akademisi, kiai, politisi, aktivis—duduk dalam satu lingkaran yang sama: tidak ada yang lebih tinggi, kecuali nilai yang dibawa masing-masing.

Merawat Idealisme di Tengah Dunia yang “Tidak Baik-Baik Saja”

Di balik cerita-cerita ringan, terselip kegelisahan yang serius: tentang dunia yang semakin pragmatis, tentang nilai yang mulai ditukar dengan kepentingan, tentang idealisme yang perlahan memudar. Namun justru di situlah kekuatan forum ini. Ia tidak melawan dengan pidato besar, tetapi dengan contoh kecil.

Kisah tentang tidak menyalakan TV, mencuci sendiri, hidup sederhana—bagi sebagian orang mungkin tampak remeh. Tapi di situlah letak “perlawanan sunyi.” Sebagaimana pesan Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)

Perubahan besar, ternyata, tidak selalu dimulai dari panggung besar. Ia justru lahir dari ruang-ruang kecil: rumah, keluarga, kebiasaan sehari-hari. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah pernah berkata:

“Siapa yang memperbaiki yang tersembunyi dalam dirinya, maka Allah akan memperbaiki yang tampak darinya.”

Silaturrahmi: Antara Fisik dan Rasa

Di era hari ini, silaturrahmi sering kali hanya sebatas notifikasi: pesan singkat, emoji, atau status broadcast yang cepat berlalu. Namun Syawalan ini menghadirkan sesuatu yang berbeda: silaturrahmi yang utuh—fisik, rasa, dan makna. Tawa yang sama, tatap mata yang jujur, dan pelukan yang hangat—semuanya tidak bisa digantikan oleh layar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka barangkali, yang dirindukan dari forum ini bukan hanya pertemuannya, tetapi “rasa hidup” yang muncul darinya.

Catatan Penutup

Barangkali, kita terlalu sering mengira bahwa kebenaran harus selalu hadir dalam bentuk serius, kaku, dan penuh tekanan. Padahal, di suatu sudut Guluk-Guluk, dalam gelak tawa yang tampak sederhana, orang-orang sedang merawat sesuatu yang jauh lebih penting: ingatan, persaudaraan, dan idealisme.

Kelakar itu bukan tanpa arah. Ia adalah cara lain untuk tetap waras di tengah dunia yang semakin bising. Ia adalah bahasa halus untuk menyampaikan nilai, tanpa menggurui. Ia adalah strategi sunyi untuk menjaga iman, tanpa harus terlihat agung.

Dan mungkin, di situlah letak pelajaran terbesarnya: Bahwa menjadi baik tidak harus selalu tampak berat. Bahwa menjaga nilai tidak harus selalu dengan amarah. Dan bahwa terkadang, tawa adalah cara paling jujur untuk tetap menjadi manusia.

Sebab pada akhirnya, yang akan kita bawa pulang dari setiap pertemuan bukanlah siapa yang paling banyak bicara—tetapi siapa yang paling dalam menyentuh jiwa. Dan, Syawalan IKA-SUKA telah melakukan itu, dengan cara yang sangat sederhana: bercanda, tetapi tidak pernah kehilangan makna.

Foto bersama di akhir sesi.

[1] Penyuluh Agama Islam KUA Lenteng, alumni UIN Sunana Kalijaga Yogtakarta

Idul Fitri: Momentum Sembuh atau Kembali Jatuh?

Idul Fitri: Momentum Sembuh atau Kembali Jatuh?

Oleh: Abd Mufid[1]

Malam itu, di sela deru takbir menggema, kita menangis. Diam-diam, di antara sujud yang panjang, kita merangkai janji: akan pulang sebagai manusia baru. Tangan kita terangkat, hati kita luluh, dan untuk sesaat, kita merasa benar-benar “dekat.”

Namun hari ini, di balik baju baru dan senyum yang dipaksakan rapi, ada satu pertanyaan yang tidak berani kita jawab dengan jujur: apakah kita benar-benar pulang—kembali fitri, atau hanya singgah sebentar, lalu kembali tersesat?

Saya pernah menyaksikan sebuah pemandangan sederhana, tapi menghunjam dalam. Seorang kawan, di hari Idul Fitri, tersenyum begitu hangat. Ia bersalaman, memeluk, bermaaf-maafan. Rumahnya ramai. Tawa berpendar di setiap sudut. Namun ketika semua tamu pulang, ia duduk sendiri—Sunyi. Lalu perlahan air matanya berlinang.

Bukan karena haru. Tapi karena sadar: “Ramadhan sudah pergi, tapi aku masih seperti ini.” Namun dari titik itulah kegelisahan itu lahir: apakah Idul Fitri benar-benar menyembuhkan, atau hanya memberi jeda sebelum luka lama kambuh kembali?

Ramadhan Momentum Penyembuhan

Secara normatif, tujuan Ramadhan begitu jelas. Puasa bukan sekadar menahan lapar,
melainkan proses pembentukan diri menuju takwa. Sebuah transformasi yang menuntut keberlanjutan, bukan euforia sesaat.

Namun dalam realitas psikologis manusia, Ramadhan sering kali berhenti sebagai ritual musiman. Ia seperti pelatihan intensif selama 30 hari kita belajar mengendalikan emosi, menata ritme hidup, menjernihkan hati. Tetapi kita lupa satu hal yang paling krusial: melanjutkan apa yang telah kita mulai.

Maka tidak heran, jika selepas Ramadhan hati kembali mengeras, emosi kembali liar, dan relasi kembali retak. Kita tidak jatuh secara tiba-tiba. Kita jatuh perlahan karena membiarkan kebiasaan lama tumbuh kembali, diam-diam, tanpa perlawanan.

Lebaran seharusnya menjadi momentum penyembuhan. Namun mengapa justru: ada yang pulang kampung dengan kecemasan, ada yang bertemu keluarga dengan luka lama yang belum selesai, ada yang saling memaafkan, tapi tidak benar-benar melepaskan?

Ketahanan Pasca Ramadhan

Kalimat “mohon maaf lahir batin” sering kali hanya berhenti di bibir—tanpa pernah benar-benar turun ke hati. Seorang ulama tabi’in Hasan Albashri, pernah mengingatkan: “Bukanlah hari raya bagi mereka yang mengenakan pakaian baru, melainkan bagi mereka yang ketakwaannya bertambah.”

Kalimat ini sederhana, tapi menampar kesadaran kita. Bahwa ukuran kemenangan bukan pada gemerlap hari raya, melainkan pada ketahanan pasca-Ramadhan. Yaitu ketaatan dan ketakwaan. Hal ini Sejalan dengan firman Allah dalam al-Qur’an Surat Al-Hujurat: 13: “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

Di titik ini, kita perlu jujur. Jika hari ini terasa kosong, itu bukan karena Ramadhan gagal. Melainkan karena kita belum mampu menjaga api yang sempat menyala di dalam diri kita.

Puasa Berkelanjutan

Sembuh, dalam perspektif spiritual, bukan berarti kita menjadi sempurna. Sembuh berarti tetap menjaga shalat meski belum khusyuk, tetap menahan lisan meski sering tergelincir, tetap membersihkan hati meski masih terluka. Sembuh adalah proses yang berkelanjutan, bukan perubahan instan yang selesai dalam satu bulan.

Idul Fitri bukan garis akhir. Ia adalah titik awal. Bukan tentang siapa yang paling suci hari ini, melainkan siapa yang paling mampu menjaga dirinya setelah hari ini. Karena yang paling berbahaya bukan dosa yang pernah kita lakukan, melainkan kebiasaan lama yang kita izinkan untuk hidup kembali.

Maka kini, pertanyaannya bukan lagi retoris. Ia menjadi sangat personal: setelah Ramadhan ini, kita benar-benar berubah, atau hanya merasa telah berubah?

Simpan pertanyaan itu baik-baik. Di ruang terdalam hati kita. Biarkan ia menjadi alarm—yang berbunyi setiap kali kita mulai tergelincir lagi. Sebab pada akhirnya, Idul Fitri bukan tentang kembali suci, melainkan tentang satu pilihan sunyi: kita ingin sembuh, atau kembali jatuh?

Catatan Penutup

Ramadhan telah mengajarkan kita cara berjalan pelan, menahan, menjaga, dan menyadari. Namun selepas ia pergi, kehidupan akan kembali berlari. Dan di situlah letak ujian yang sesungguhnya: apakah kita tetap berjalan dengan kesadaran, atau terseret arus kebiasaan?

Maka, jika hari ini langkah kita masih goyah, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kita gagal. Karena menjadi baik itu tidak selalu tentang tidak pernah jatuh, tetapi tentang tidak betah berada dalam kejatuhan. Dan menjadi pulih bukan tentang hilangnya luka, melainkan tentang kesediaan untuk terus merawatnya agar tidak kembali berdarah.

Idul Fitri ini, tidak perlu menjadi manusia yang sempurna. Cukuplah menjadi manusia yang terus berusaha menjaga arah. Sebab pada akhirnya, jalan menuju Allah bukan milik mereka yang selalu kuat, tetapi milik mereka yang—meski berkali-kali jatuh—tetap memilih untuk kembali. Dan semoga kita diberi kesempatan bertemu di Ramadhan berikutnya.

[1] Pengampu Catatan Mufid ID – Penyuluh Agama Islam KUA Lenteng – Kemenag Sumenep

Copyright © 2026 Catatan Mufid

2