Ketika Allah Memanggilnya Tanpa “Tapi”

Ketika Allah Memanggilnya Tanpa “Tapi”

Catatan duka atas berpulangnya Dr. Taufikurrahman, S.Ag., M.Ag.

Oleh: Abd Mufid[1]

Ada kalanya sebuah kabar datang tidak seperti biasanya. Ia tidak mengetuk pintu, tidak memberi tanda. Ia hanya tiba, diam-diam—lalu menyesakkan dada.

Sabtu itu, 14 Maret 2026, kabar itu datang: Dr. Taufikurrahman, S.Ag., M.Ag., salah satu penyuluh agama Islam senior di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, telah berpulang. Dan seperti kebanyakan kabar duka, ia datang bersama keheningan panjang. Sejenak dunia terasa berhenti.

Bagi banyak orang, beliau bukan sekadar penyuluh agama. Ia adalah guru, mentor, sekaligus sahabat bagi para penyuluh yang lebih muda. Sosok yang tenang, tidak banyak bicara, tetapi setiap kalimatnya terasa menenangkan. Tidak pernah terlihat tergesa-gesa, tidak pula ingin menonjolkan diri. Namun di balik ketenangannya, tersimpan dedikasi yang begitu dalam pada tugas kepenyuluhan.

Di ruang-ruang diskusi para penyuluh, ketika gagasan terasa buntu dan langkah terasa bimbang, beliau sering menjadi tempat bertanya. Bukan karena jabatan formalnya sebagai pembina dalam kepengurusan IPARI Sumenep semata, tetapi karena kewibawaan yang lahir dari ketulusan. Beliau memiliki sesuatu yang tidak bisa dipelajari dari buku: keteduhan.

Sebuah Hadir yang Mungkin Adalah Salam Perpisahan

Ada satu peristiwa kecil yang kini terasa begitu besar maknanya. Tanggal 11 Februari 2026, IPARI Sumenep menggelar launching program unggulan. Saat itu kondisi fisik beliau sudah sangat lemah. Penyakit yang dideritanya membuat tubuhnya ringkih, bahkan sebagian waktu harus dihabiskan dengan beristirahat di rumah.

Namun di luar dugaan, beliau tetap datang. Bahkan sebelum berangkat, beliau sempat menelpon salah satu sahabatnya, meminta dijemput. Ia ingin hadir—meskipun mungkin tidak lama. Alasannya sederhana, tetapi terasa sangat dalam: “Saya mau hadir launching karena saya bangga dengan semangat teman-teman.”

Kalimat itu kini terasa seperti pesan yang tertinggal. Di sela-sela acara, beliau meminta difoto dari berbagai sudut. “Biar ada dokumentasi kalau saya turut hadir,” katanya sambil tersenyum. Foto-foto itu kemudian dibagikan ke berbagai grup WhatsApp dan media sosialnya. Saat itu mungkin tidak ada yang mengira bahwa dokumentasi sederhana itu kelak akan menjadi kenangan terakhir.

Bagi sebagian orang, momen itu mungkin biasa saja. Tetapi bagi kami yang kini mengenangnya, peristiwa itu seperti salam perpisahan yang disampaikan dengan cara paling lembut.

Suasana di mana Dr. Taufikurrahman turut menghadiri kegiatan Launching Program Unggulan IPARI, dan foto tersebut diambil berdasarkan permintaan almarhum.

Firasa yang Datang Terlambat

Saya masih ingat ketika beliau tiba di lokasi acara. Refleks saya mendekat, lalu mencium tangan beliau. Bukan sekadar hormat. Ada sesuatu yang bergetar di dalam batin. Entah mengapa saat itu saya berpikir: tidak mudah bagi beliau hadir dengan kondisi tubuh seperti itu. Barangkali karena rindu pada IPARI. Barangkali karena bangga melihat semangat para penyuluh. Atau mungkin… karena ingin memberikan dukungan terakhir.

Kini, setelah kabar wafatnya sampai di telinga kami, perasaan itu seperti menemukan jawabannya. Mungkin benar. Mungkin beliau sedang berpamitan. Di grup WhatsApp penyuluh, berbagai pesan muncul silih berganti. Ada yang menulis dengan air mata, ada yang sekadar mengirim doa.

“Senyumnya melekat dalam ingatan.”

“Sepertinya beliau sudah merasa akan meninggalkan kita.”

Satu kalimat bahkan terasa sangat menohok: “Setelah kepergian beliau, masih adakah yang akan bangga pada usaha teman-teman penyuluh?” Pertanyaan itu menggantung di udara.

Ketika Allah Memanggil Tanpa “Tapi”

Kepergian seseorang sering meninggalkan satu kata yang sama di hati orang-orang yang ditinggalkan: “Tapi.”

Tapi beliau masih relatif muda.
Tapi kami masih sangat membutuhkan beliau.
Tapi IPARI masih memerlukan bimbingannya.
Tapi kami belum siap kehilangan sosok sebaik itu.

Namun kematian tidak pernah bernegosiasi dengan kata “tapi”. Al-Qur’an telah mengingatkan:

“Setiap umat mempunyai ajal. Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak pula meminta percepatan.” Tidak ada yang dapat menunda atau mempercepatnya. Tidak ada ruang untuk tawar-menawar.

Kematian adalah kepastian paling sunyi dalam kehidupan manusia. Manusia boleh memiliki rencana, harapan, bahkan impian panjang. Tetapi ketika Allah memanggil, semua kalimat panjang itu berhenti pada satu titik yang sama. Titik yang bernama ajal.

Foto terakhir kebersamaan almarhum bersama rekan-rekan penyuluh agama pada kegiatan resmi IPARI Sumenep (Ket: Almarhum posisi paling tengah, mengenakan kacamata)

Jalan Menuju Keabadian

Bagi sebagian orang, kematian tampak seperti akhir. Namun dalam pandangan iman, kematian justru adalah pintu. Pintu menuju kehidupan yang lebih panjang dari segala yang pernah kita bayangkan.

Para sufi sejak lama mengingatkan bahwa dunia hanyalah persinggahan. Jalaluddin Rumi pernah menulis bahwa kematian bukanlah kehancuran, melainkan perpindahan dari satu ruang kehidupan menuju ruang yang lain. Barangkali begitulah cara Allah memuliakan hamba-hamba-Nya. Mereka dipanggil pulang setelah menyelesaikan bagiannya di dunia.

Bagi orang-orang seperti almarhum, warisan terbesar bukanlah jabatan, bukan pula kekayaan. Warisan terbesar adalah teladan: ketulusan, kesederhanaan, dan kesetiaan pada jalan pengabdian. Warisan yang tidak tertulis di buku, tetapi hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya.

Pesan Keabadian

Akhirnya kita sampai pada satu kesadaran yang sering kali baru terasa ketika seseorang benar-benar pergi: bahwa hidup ini sebenarnya bukan tentang berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi apa yang kita tinggalkan ketika kita pergi.

Sebagian orang hidup lama, tetapi jejaknya hampir tak terasa.
Sebagian yang lain mungkin tidak sepanjang itu usianya, tetapi kehadirannya meninggalkan gema yang panjang di hati banyak orang. Barangkali itulah yang sedang kita rasakan hari ini.

Kepergian Dr. Taufikurrahman bukan sekadar kehilangan seorang penyuluh agama, melainkan kehilangan satu mata air keteladanan—tentang bagaimana ilmu dijaga dengan rendah hati, bagaimana pengabdian dijalani tanpa riuh, dan bagaimana seseorang tetap hadir untuk orang lain bahkan ketika tubuhnya sendiri sedang rapuh oleh sakit.

Kita mungkin kehilangan sosoknya. Namun kita tidak kehilangan nilai yang ia hidupkan. Sebab sejatinya manusia tidak benar-benar mati ketika jasadnya dikuburkan. Ia baru benar-benar “hilang” ketika ilmu, amal, dan teladan yang ia tinggalkan tidak lagi dilanjutkan oleh generasi setelahnya.

Di titik inilah kematian berubah menjadi pesan. Pesan bagi kita semua—yang masih diberi waktu oleh Allah—bahwa hidup ini terlalu singkat untuk sekadar berlalu tanpa makna. Bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk menanam sesuatu yang kelak akan tetap hidup meskipun kita sudah tiada. Maka, jika suatu hari nanti Allah juga memanggil kita tanpa “tapi”, semoga yang tertinggal bukan hanya nama di batu nisan, melainkan kenangan baik di hati manusia dan amal yang terus mengalir di sisi-Nya.

Dan untuk almarhum Dr. Taufikurrahman, kami percaya satu hal: orang-orang baik tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya pulang lebih dulu. Sementara nilai-nilai yang mereka tanamkan akan terus hidup di langkah kami, di perjuangan kami, dan di jalan pengabdian yang akan kami lanjutkan.

Selamat jalan, guru.
Jejakmu akan tetap kami jaga.

Al-Fatihah.

Sumenep, 14 Maret 2026 M / 24 Ramadhan 1447 H

Catatan Mufid ID

[1] Penyuluh Agama Islam KUA Lenteng, sahabat almarhum.

Copyright © 2026 Catatan Mufid