Abd Mufid[1]
Pagi itu, udara di Terminal Arya Wiraraja masih menyimpan sisa embun. Deru mesin bus yang datang dan pergi bercampur dengan suara pedagang asongan yang menawarkan dagangannya. Orang-orang berlalu lalang, sebagian tergesa, sebagian menunggu. Terminal selalu menjadi tempat pertemuan banyak kisah: ada yang pulang dengan rindu, ada yang berangkat membawa harapan, dan ada pula yang menyimpan luka yang tak pernah benar-benar terlihat.
Di tengah hiruk pikuk itu, Kamis pagi, 12 Maret 2026, ada pemandangan yang berbeda. Beberapa meja layanan berdiri rapi di salah satu sudut terminal. Spanduk bertuliskan skrining kesehatan jiwa terpasang. Orang-orang mulai mendekat, sebagian penasaran, sebagian lagi mungkin diam-diam membutuhkan.
Hari itu, Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep menggelar kegiatan skrining kesehatan jiwa (Keswa) di area Terminal Arya Wiraraja. Kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial kesehatan. Ia adalah upaya kecil untuk menjangkau sesuatu yang sering kali luput dari perhatian: batin manusia yang terluka.
Program ini tidak berjalan sendiri. Ia lahir dari kerja bersama. Kementerian Perhubungan, BNN, gerakan GERMAS, Komunitas Peduli ODGJ Sumenep (KOPDAS), hingga Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Sumenep turut terlibat dalam ikhtiar yang sederhana namun sarat makna ini. Sebab kesehatan jiwa tidak pernah bisa diselesaikan oleh satu sektor saja.
Luka yang Tidak Selalu Terlihat
Kita sering kali mudah mengenali orang yang sakit fisik. Demam, batuk, atau luka di tubuh bisa langsung terlihat. Tetapi luka batin berbeda. Ia sering tersembunyi di balik senyuman, di balik obrolan biasa, bahkan di balik rutinitas sehari-hari.
Di ruang publik seperti terminal, kita bisa bertemu siapa saja: sopir yang bekerja hampir tanpa jeda, perantau yang menanggung beban ekonomi keluarga, ibu yang cemas memikirkan anaknya, atau seseorang yang diam-diam sedang berjuang melawan kecemasan dan tekanan hidup.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pernah menyebut bahwa satu dari delapan orang di dunia hidup dengan gangguan kesehatan mental. Di Indonesia sendiri, Riskesdas 2018 mencatat bahwa jutaan masyarakat mengalami gangguan mental emosional seperti kecemasan dan depresi.
Angka itu tidak selalu tampak di permukaan. Namun ia nyata. Karena itu, kegiatan skrining kesehatan jiwa seperti yang digelar di Terminal Arya Wiraraja sesungguhnya adalah langkah penting: membuka ruang agar orang berani mengakui bahwa batinnya sedang tidak baik-baik saja.
Ketika Negara Hadir Menyapa Jiwa
Yang menarik dari kegiatan ini bukan hanya layanan kesehatannya. Tetapi juga cara negara hadir di tengah masyarakat. Di tempat yang biasanya identik dengan keberangkatan dan kedatangan, hari itu terminal berubah menjadi ruang dialog tentang kesehatan jiwa. Petugas kesehatan memberikan skrining, relawan komunitas memberikan pendampingan, dan para penyuluh agama mencoba menyentuh sisi spiritual yang sering menjadi sandaran terakhir seseorang ketika hidup terasa berat.
Ini penting. Sebab kesehatan jiwa bukan hanya persoalan medis. Ia juga terkait dengan lingkungan sosial, ketahanan keluarga, spiritualitas, hingga rasa diterima dalam masyarakat. Keterlibatan berbagai pihak—mulai dari tenaga kesehatan, komunitas sosial, hingga penyuluh agama—menunjukkan satu hal sederhana namun mendasar: menyembuhkan jiwa membutuhkan pendekatan yang utuh.
Menghapus Stigma, Menumbuhkan Kepedulian
Masalah kesehatan mental di Indonesia sering kali terhambat oleh satu persoalan lama: stigma.
Masih banyak orang yang menganggap gangguan jiwa sebagai aib. Tidak sedikit keluarga yang memilih menyembunyikan anggota keluarganya yang mengalami masalah mental. Bahkan dalam beberapa kasus ekstrem, praktik pemasungan masih ditemukan. Padahal gangguan kesehatan jiwa sama seperti penyakit lain: ia bisa dikenali, bisa ditangani, dan sering kali bisa dipulihkan.
Di sinilah kegiatan seperti skrining kesehatan jiwa menjadi penting. Ia bukan hanya tentang pemeriksaan. Ia juga tentang edukasi publik—bahwa kesehatan mental adalah bagian dari kesehatan manusia secara utuh.
Menyembuhkan, Bukan Menghakimi
Di tengah kehidupan yang semakin cepat, tekanan hidup sering kali datang tanpa jeda. Persoalan ekonomi, konflik keluarga, tekanan pekerjaan, hingga kesepian di tengah keramaian bisa menjadi beban yang perlahan menggerus ketahanan batin seseorang. Kadang orang tidak membutuhkan nasihat panjang. Mereka hanya butuh didengar tanpa dihakimi.
Program Keswa yang hadir di ruang publik seperti terminal mengirimkan pesan sederhana namun kuat: bahwa negara dan masyarakat tidak boleh membiarkan seseorang berjuang sendirian melawan luka batinnya.
Catatan Kecil dari Terminal
Terminal adalah tempat orang datang dan pergi. Namun hari itu, di Terminal Arya Wiraraja, ada sesuatu yang lebih dari sekadar perjalanan. Ada orang-orang yang berusaha saling menjaga. Ada tenaga kesehatan yang mencoba memahami kegelisahan orang lain. Ada relawan yang memilih peduli pada mereka yang sering dilupakan. Ada penyuluh agama yang mengingatkan bahwa manusia tidak hanya butuh makan dan bekerja, tetapi juga ketenangan jiwa, kekukuhan spiritualitas.
Mungkin kegiatan ini terlihat sederhana. Tetapi dari langkah kecil seperti inilah perubahan sering kali dimulai. Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan jalan untuk bepergian. Manusia juga membutuhkan jalan untuk pulang pada ketenangan dirinya sendiri. Dan kesehatan jiwa adalah salah satu jalannya.
—
Catatan Mufid ID
Mencatat Peristiwa, Menyuarakan Makna
[1] Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep
