Allah Menegur Nabi Karena Seorang Tunanetra

Allah Menegur Nabi Karena Seorang Tunanetra

Oleh: Abd Mufid

Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep | Esais

 

“Jangan mudah terspesona oleh kulit luarnya!”

Kalimat itu tiba-tiba mampir di kepala saya ketika acara hampir selesai.

Pagi itu, di kediaman Hj. Mutmainnah, salah satu anggota penyuluh yang menjadi tempat pertemuan rutin bulanan IPARI Kabupaten Sumenep terasa berbeda. Biasanya kami bertemu untuk berdiskusi seputar tugas kepenyuluhan. Namun pada 24 Juni 2026 lalu, rangkaian puncak Peaceful Muharram 1448 H dikemas dalam tema Event Sharing is Caring (ESC). Kami berdialog tentang disabilitas, lalu menutupnya dengan penyerahan santunan kepada anak-anak yatim dan penyandang disabilitas.

Yang paling saya ingat bukan besarnya santunan. Melainkan senyum mereka. Senyum yang membuat saya diam cukup lama.

Di antara para penerima santunan, saya kembali bertemu sahabat saya, Ustadz Aswari, yang sekaligus narasumber dalam kegiatan tersebut. Beliau adalah seorang penyuluh agama penyandang tunadaksa. Langkahnya memang tidak secepat kebanyakan orang. Namun bila bicara tentang semangat mengabdi, saya justru sering merasa tertinggal jauh di belakangnya.

Saya mengenal beliau sebagai sosok yang tak pernah menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti berkarya. Prestasi, dedikasi, dan ketulusannya berbicara lebih keras daripada kondisi fisiknya.

Saat itulah saya sadar. Mungkin yang selama ini memiliki keterbatasan bukan mereka. Melainkan cara kita memandang mereka.

Pesona Kemasan

Kita hidup di zaman yang sangat mudah terpesona oleh kemasan. Kita lebih cepat memberi hormat pada orang yang datang dengan jas rapi daripada mereka yang datang membawa tongkat. Kita lebih mudah memberi ruang kepada orang yang punya jabatan daripada mereka yang hanya membawa harapan.

Kita sering mengukur manusia dari manfaat dunianya. Bukan dari kemuliaan hatinya. Padahal manusia itu seperti ponsel yang kacanya retak.

Ada yang buru-buru ingin menggantinya karena layarnya pecah. Padahal seluruh mesinnya masih bekerja sempurna. Sebaliknya, ada ponsel yang tampak mulus, tetapi kerusakannya justru ada di bagian dalam.

Begitulah kita. Sering kali mata lebih sibuk bekerja daripada hati.

Gara-Gara Abdullah, Nabi Ditegur

Saya kemudian teringat sebuah peristiwa yang sangat terkenal dalam sejarah Islam. Peristiwa yang membuat langit langsung menegur manusia paling mulia: Baginda Nabi.

Suatu hari Rasulullah SAW sedang berdakwah kepada para pembesar Quraisy. Di hadapan beliau ada Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal, dan Abbas bin Abdul Muthalib. Rasulullah berharap, jika tokoh-tokoh besar itu menerima Islam, dakwah akan semakin kuat dan masyarakat Mekah akan lebih mudah mengikuti.

Di tengah percakapan itu datang Abdullah bin Ummi Maktum. Salah seorang sahabat Nabi yang tunanetra sejak lahir.

Karena tidak dapat melihat keadaan sekitar, Abdullah hanya mendengar suara Rasulullah. Dengan penuh kerinduan ia berkata, “Ya Rasulullah, ajarkan aku. Bacakan kepadaku ayat-ayat Allah.”

Namun Rasulullah sedang sangat fokus kepada para pemuka Quraisy. Beliau bermuka masam dan berpaling. Bukan karena membenci Abdullah. Beliau hanya sedang memakai hitungan manusia.

Tetapi Allah mempunyai ukuran yang berbeda.

Maka turunlah firman-Nya dalam Surah ‘Abasa ayat 1 sampai 8. Allah menegur Rasulullah dengan kalimat yang begitu lembut sekaligus sangat tegas.

“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta telah datang kepadanya…”

Teguran itu tidak sedang mengajarkan etika kepada Nabi semata. Teguran itu sedang mendidik seluruh umat Islam hingga hari ini. Allah ingin menunjukkan bahwa orang yang tampak kecil di mata manusia bisa jadi jauh lebih besar di sisi-Nya daripada mereka yang dielu-elukan dunia.

Bukankah penyakit itu masih hidup sampai sekarang?

Kita masih sering mengalami sindrom pilih-pilih tamu. Kita berebut duduk di dekat pejabat, tetapi membiarkan orang kecil duduk sendirian.

Kita menyediakan panggung yang megah untuk orang terkenal, tetapi lupa menyediakan akses yang layak bagi penyandang disabilitas.

Kita sibuk menghitung dampak, jaringan, dan keuntungan, lalu tanpa sadar mulai mengukur nilai seseorang dari apa yang bisa ia berikan kepada kita.

Padahal menurut World Health Organization, lebih dari 1,3 miliar penduduk dunia hidup dengan disabilitas. Hambatan terbesar mereka bukan semata kondisi fisik, melainkan lingkungan yang belum sepenuhnya ramah dan cara pandang masyarakat yang masih dipenuhi stigma.

Mungkin karena itu Allah memilih Abdullah bin Ummi Maktum sebagai sebab turunnya ayat.

Bukan sekadar membela seorang tunanetra. Tetapi meluruskan cara manusia memandang sesamanya.

Dan satu hal. Allah tidak menegur Nabi karena gagal berdakwah. Allah menegur beliau karena ada hati yang tulus terlewatkan.

Kisah Hikmah Aswari

Saya kembali teringat wajah Ustadz Aswari. Beliau mungkin berjalan lebih lambat daripada saya. Tetapi boleh jadi beliau jauh lebih dahulu sampai kepada ridha Allah. Sementara saya, yang dikaruniai tubuh lengkap, masih sering terlambat memperbaiki hati.

Saya pulang dari pertemuan itu dengan membawa oleh-oleh yang tidak dibungkus plastik.

Saya membawa teguran. Teguran cinta. Teguran untuk hati ini yang kerapkali alpa.

Bahwa memuliakan manusia bukan dimulai dari memberi santunan, melainkan dari mengubah cara pandang. Santunan bisa habis dalam hitungan hari. Tetapi penghormatan mampu menghidupkan martabat seseorang sepanjang hidupnya.

Maka, alon-alon kita belajar menyapa sebelum diminta. Alon-alon kita belajar menyediakan ruang yang ramah bagi penyandang disabilitas, bukan sekadar rasa kasihan. Alon-alon pula kita belajar melihat hati sebelum melihat keadaan fisik, jabatan, atau isi dompet seseorang.

Karena bisa jadi, orang yang hari ini kita anggap biasa saja, justru namanya sangat dikenal di langit.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).

Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan yang halus, lalu menghadiahkan mata batin yang mampu melihat kemuliaan setiap manusia.

Allahumma arinal haqqa haqqan warzuqnat tiba’ah, wa arinal bathila bathilan warzuqnajtinaabah.

Alon-alon saja. Sebab surga tidak dihuni oleh orang yang paling dipandang manusia, melainkan oleh mereka yang paling dimuliakan Allah.

Wallahu A’lam.

Memento Mori: Ditangisi Saat Pergi, Dirindukan Setelah Tiada

Memento Mori: Ditangisi Saat Pergi, Dirindukan Setelah Tiada

Oleh : Abd Mufid

Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep | Penulis Lepas | Sahabat Ali Muhsi

 

Ada banyak hal yang kita takutkan dalam hidup. Kehilangan pekerjaan. Kehilangan orang yang kita cintai. Kehilangan kesehatan. Tapi anehnya, yang paling sering membuat dada sesak justru sesuatu yang pasti datang: kematian.

Padahal logikanya sederhana. Semua orang akan mengalaminya. Tidak ada yang bisa menghindar.

Namun setiap kali kematian lewat dalam percakapan, muncul dalam berita duka, atau mengetuk rumah seseorang yang kita kenal, suasana mendadak berubah. Hening. Berat. Seolah ada sesuatu yang sedang mengingatkan kita bahwa perjalanan ini tidak selama yang kita kira.

Kabar Duka Itu Datang

Kamis pagi, 4 Juni 2026, kabar itu datang. Sahabat kami, Ali Muhsi, berpulang menghadap Allah Swt. Teman sejawat sejak masa kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sahabat diskusi, sahabat organisasi, sesama kader yang sedang berproses bersama di lingkungan PCNU Sumenep.

Seperti banyak orang lainnya, saya turut berduka. Tetapi yang membuat batin saya beberapa kali terdiam bukan hanya kabar kepergiannya. Melainkan reaksi orang-orang yang ditinggalkannya.

Status-status belasungkawa bermunculan. Doa-doa mengalir tanpa diminta. Persaksian baik bermekaran dari berbagai arah.

Ada yang mengenangnya sebagai pribadi santun. Ada yang mengenangnya sebagai sahabat yang ringan membantu. Ada yang mengenangnya sebagai sosok yang selalu hadir ketika dibutuhkan. Saya membaca semuanya perlahan.

Lalu muncul satu pertanyaan yang diam-diam mengetuk kepala: apakah begini rupa kematian yang indah? Kepergian yang ditangisi. Kepergian yang membuat banyak orang merasa kehilangan. Kepergian yang justru menghadirkan kerinduan.

Masa Panen Amal Perbuatan

Barangkali inilah yang sering luput dari perhatian kita. Kita terlalu sibuk memandang kematian sebagai akhir, sampai lupa bahwa bagi sebagian orang, kematian adalah panen dari apa yang ditanam selama hidup.

Seperti seseorang yang akan pindah rumah. Kalau rumah baru sudah siap, mungkin ada rasa penasaran untuk segera menempatinya. Tetapi, kalau rumah lama masih berantakan, tagihan belum lunas, hubungan dengan tetangga belum selesai, dan banyak urusan yang masih menggantung, tentu kita akan terus menunda keberangkatan.

Mungkin begitu pula hubungan kita dengan kematian. Yang kita takutkan sering kali bukan kematiannya. Melainkan ketidaksiapan kita.

Rumah lama bernama kehidupan ini terasa belum beres. Masih ada luka yang belum meminta maaf. Masih ada hak orang lain yang belum ditunaikan. Masih ada taubat yang terus ditunda dengan alasan “nanti,” –“ini” dan “itu.”

Padahal tidak ada yang benar-benar tahu kapan kata “nanti” itu berakhir.

Sunan Kalijaga pernah mengajarkan falsafah sederhana: urip iku urup. Hidup itu menyala. Mungkin karena itulah kita takut jika lampu dipadamkan ketika nyalanya masih redup.

Memamdang Kematian dari Sudut Lain

Kita juga sering mengenal kematian dari sisi yang salah. Yang kita lihat hanyalah tangisan keluarga, kain kafan bermotif putih polos, liang lahat yang sempit, dan berita duka.

Kita jarang melihat sisi lainnya. Padahal Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

“Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” [HR. Muslim]

Bagi seorang mukmin, kematian bukan semata perpisahan. Ia adalah gerbang perjumpaan. Jalan pulang menuju Zat yang selama ini ia rindukan dalam sujud dan doa-doanya.

Al-Qur’an pun mengingatkan: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185).

Ayat ini tidak terdengar seperti ancaman. Ia lebih mirip pengingat bahwa kita semua sedang berjalan ke arah yang sama. Tidak ada yang tertinggal. Tidak ada yang didahulukan karena kaya atau dimuliakan karena jabatan. Semua akan sampai. Cepat atau lambat.

Kalau dipikir-pikir, mungkin ego kita juga ikut berperan dalam rasa takut itu. Manusia cenderung tidak nyaman pada dua hal: tidak tahu dan tidak bisa mengendalikan. Sedangkan kematian adalah puncak dari keduanya.

Kita tidak tahu kapan datangnya. Kita tidak bisa mengaturnya. Lalu muncul berbagai kecemasan: Anak-anak nanti bagaimana? Pekerjaan bagaimana? Rencana-rencana yang belum selesai bagaimana?

Padahal jika jujur, sejak awal hidup ini pun bukan sepenuhnya berada dalam kendali kita. Kematian hanya sedang mengingatkan bahwa kita hanyalah musafir yang sedang singgah.

Terus terang, saya pun tidak kebal dari rasa takut itu.

Ada hari-hari ketika saya membayangkan kematian lalu dada terasa sempit. Ada saat-saat ketika saya merasa belum cukup baik, belum cukup siap, belum cukup banyak bekal.

Tetapi setiap kali mendengar kabar orang-orang baik yang pergi dengan meninggalkan jejak kebaikan, ketakutan itu perlahan berubah bentuk. Bukan lagi takut mati. Melainkan takut belum siap.

Karena ketika waktunya tiba, kita tidak diberi kesempatan untuk menawar. Tidak bisa meminta satu minggu tambahan. Tidak bisa mengajukan penundaan. Tidak bisa berpaling ke arah lain. Yang bisa kita lakukan hanyalah mempersiapkan kepulangan itu sebaik mungkin.

Dan mungkin itulah makna terdalam dari memento mori. Ingatlah kematian. Bukan supaya hidup dipenuhi ketakutan. Tetapi supaya kita tahu mana yang benar-benar layak diperjuangkan.

Renungan Kecil

Malam ini, sebelum tidur, mungkin kita tidak perlu membuat target besar. Cukup satu pertanyaan kecil:

“Jika Allah memanggilku besok pagi, pamit seperti apa yang ingin kutinggalkan?”

Barangkali dari pertanyaan sederhana itu, kita mulai membereskan satu per satu “rumah lama” yang selama ini terlalu sering kita abaikan.

Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada sahabat kami, Ali Muhsi. Dan semoga ketika giliran kita tiba nanti, kita juga diberi kepergian yang dirindukan, bukan sekadar kepergian yang dikenang. Amin!

Menjaga Bumi sebagai Ibadah: Gerak Batin Ekoteologis IPARI Sumenep

Menjaga Bumi sebagai Ibadah: Gerak Batin Ekoteologis IPARI Sumenep

Oleh: Abd Mufid
Penyuluh Agama Islam Kemenag Kab. Sumenep | Penulis Lepas

Setiap peringatan hari jadi kerap dirayakan dengan euforia seremonial: pemotongan tumpeng, karnaval, atau sekadar pawai simbolik. Namun, berbeda dengan yang dilakukan oleh Pengurus Daerah Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (PD. IPARI) Kabupaten Sumenep di usianya yang ke-3. Pada 22 Mei 2026, di kawasan wisata religi Asta Bhujuk Pongkeng, Desa Pakandangan Sangrah, Kecamatan Bluto, mereka memilih cara yang lebih substantif: “Gerak Batin Ekoteologis” dan penanaman 1.000 pohon avokado.

Bagi penulis, sebagai seorang penyuluh agama Islam yang sehari-hari berdialog dengan masyarakat di pelosok daratan hingga kepulauan Sumenep, gerakan ini bukan sekadar tanam-menanam. Ini adalah pergeseran paradigma dakwah: dari yang selama ini cenderung antroposentris menuju ekosentris yang berakar pada teologi.

Ekoteologi: Panggilan Iman, Bukan Sekadar Isu Lingkungan

Ketua PD. IPARI Sumenep dalam sambutannya menegaskan bahwa isu lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari misi dakwah. “Gerak Batin Ekoteologis ini merupakan panggilan iman,” ujarnya. Kalimat ini penting. Dalam tradisi Islam, menjaga alam (hifz al-bi’ah) adalah turunan dari menjaga jiwa (hifz al-nafs) dan keturunan (hifz al-nasl). Al-Qur’an berulang kali melarang kerusakan di bumi (la tufsidû fî al-ardh). Maka, ketika 175 penyuluh lintas iman dari 27 kecamatan berkumpul, itu adalah ikrar kolektif bahwa merusak lingkungan sama dengan mengabaikan amanah ketuhanan.

Yang membuat penulis terkesan, kegiatan ini tidak berhenti pada retorika. Rangkaiannya dimulai dengan Istighotsah Ekoteologi dan Taushiyah Ekoteologi—sebuah bentuk taubat ekologis. Seolah-olah kami para penyuluh sedang mengakui bahwa kelalaian manusia dalam mengeksploitasi alam adalah dosa sosial yang perlu diistighfarahi. Lalu, aksi bersih-bersih lingkungan di area makam keramat menjadi simbol penyucian lahiriah sebelum menanam bibit-bibit harapan.

Kemandirian yang Menggugat

Satu hal yang paling menggugah hati penulis sebagai penulis opini adalah sumber pembiayaan. Seluruh operasional kegiatan, termasuk pengadaan ribuan bibit avokado varietas unggulan (Aligator, Miki, Red Vietnam, Markus/Kendil yang buahnya bisa mencapai 1,5 kg per biji), bersumber mandiri dari alokasi Kas IPARI Sumenep. Tidak ada bantuan eksternal.

Ini adalah pernyataan politik yang halus tapi keras. Para penyuluh agama bisa bergerak signifikan tanpa harus selalu menengadahkan tangan ke pemerintah atau donor. Kemandirian ini mencerminkan komitmen yang tulus, bukan sekadar proyek simbolis. Bayangkan, 1.000 pohon avokado produktif akan terus berbuah puluhan tahun ke depan. Ini adalah sedekah jariyah ekologis. Setiap pohon yang tumbuh, setiap buah yang dipanen warga, akan mengalirkan pahala bagi para penyuluh yang menanamnya.

Spiritualitas di Tanah Bersejarah

Dipilihnya Asta Bhujuk Pongkeng, makam Syekh Arif Muhammad, juga sarat makna. Kawasan ini merupakan salah satu pusat religi masyarakat Madura. Dengan menanam di tanah para wali, kami seolah menegaskan bahwa cinta kepada Tuhan (habl min Allah) harus diwujudkan dalam cinta kepada bumi (habl min al-‘alam). Tidak ada dikotomi antara zikir dan ekologi. Justru di tempat suci itulah pesan kelestarian alam disemai.

Penulis membayangkan, puluhan tahun mendatang, ketika anak cucu peziarah memetik avokado jumbo di sekitar makam keramat, mereka akan bertanya: “Siapa yang menanam ini?” Dan jawabannya akan mengarah pada satu nama: para penyuluh agama yang merayakan hari jadinya yang ke-3 dengan cara tak biasa.

Inspirasi untuk Khalayak Luas

Tentu, 1.000 pohon dari 175 penyuluh hanyalah permulaan. Namun, gerakan ini telah menginspirasi hal yang lebih besar. Bahwa penyuluh agama bisa menjadi garda terdepan gerakan lingkungan berbasis spiritualitas. Sisa bibit yang akan didistribusikan ke 27 kecamatan adalah strategi jitu menjadikan setiap penyuluh sebagai agen perubahan di wilayah masing-masing.

Prosesi penanaman bibit bibit pohon dimulai oleh Kepala Kemanag Sumenep H. Abd Wasid, dilanjutkan oleh peserrta lainnya.

Kini, konsep ekoteologi semakin mengemuka berkat gagasan progresif yang disuarakan oleh Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar. Dalam berbagai kesempatan, Menteri Agama menekankan pentingnya memandang alam bukan sekadar sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi, tetapi sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang harus dijaga dan dirawat. Salah satu implementasi nyata dari gagasan ini adalah program penanaman pohon yang melibatkan lembaga-lembaga keagamaan, pesantren, tokoh agama, dan masyarakat luas. Dan pelaksanaan kegiatan penanaman 1000 pohon oleh penyuluh agama kali ini, merupakan pengejawantahan dari pada gagasan Kementeriaan Agama RI tersebut.

Penulis berharap, segenap elemen masyarakat termasuk juga pemerintah daerah, tidak hanya memberi apresiasi seremonial pada kegiatan-kegiatan serupa, tetapi juga terus menduplikasi model kemandirian ini. Jadikan program ekoteologi sebagai bagian dari kurikulum dasar penyuluhan, juga menggaungkannya menjadi gerak batin publik. Karena pada akhirnya, tidak ada dakwah yang utuh tanpa menyelamatkan rumah bersama kita: bumi.

Selamat hari jadi ke-3, IPARI Sumenep. Teruslah bergerak dan berdampak, karena menanam pohon adalah menanam kehidupan, dan itu adalah ibadah yang tak pernah putus.

Copyright © 2026 Catatan Mufid