Oleh : Abd Mufid
Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep | Penulis Lepas | Sahabat Ali Muhsi
Ada banyak hal yang kita takutkan dalam hidup. Kehilangan pekerjaan. Kehilangan orang yang kita cintai. Kehilangan kesehatan. Tapi anehnya, yang paling sering membuat dada sesak justru sesuatu yang pasti datang: kematian.
Padahal logikanya sederhana. Semua orang akan mengalaminya. Tidak ada yang bisa menghindar.
Namun setiap kali kematian lewat dalam percakapan, muncul dalam berita duka, atau mengetuk rumah seseorang yang kita kenal, suasana mendadak berubah. Hening. Berat. Seolah ada sesuatu yang sedang mengingatkan kita bahwa perjalanan ini tidak selama yang kita kira.
Kabar Duka Itu Datang
Kamis pagi, 4 Juni 2026, kabar itu datang. Sahabat kami, Ali Muhsi, berpulang menghadap Allah Swt. Teman sejawat sejak masa kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sahabat diskusi, sahabat organisasi, sesama kader yang sedang berproses bersama di lingkungan PCNU Sumenep.
Seperti banyak orang lainnya, saya turut berduka. Tetapi yang membuat batin saya beberapa kali terdiam bukan hanya kabar kepergiannya. Melainkan reaksi orang-orang yang ditinggalkannya.
Status-status belasungkawa bermunculan. Doa-doa mengalir tanpa diminta. Persaksian baik bermekaran dari berbagai arah.
Ada yang mengenangnya sebagai pribadi santun. Ada yang mengenangnya sebagai sahabat yang ringan membantu. Ada yang mengenangnya sebagai sosok yang selalu hadir ketika dibutuhkan. Saya membaca semuanya perlahan.
Lalu muncul satu pertanyaan yang diam-diam mengetuk kepala: apakah begini rupa kematian yang indah? Kepergian yang ditangisi. Kepergian yang membuat banyak orang merasa kehilangan. Kepergian yang justru menghadirkan kerinduan.
Masa Panen Amal Perbuatan
Barangkali inilah yang sering luput dari perhatian kita. Kita terlalu sibuk memandang kematian sebagai akhir, sampai lupa bahwa bagi sebagian orang, kematian adalah panen dari apa yang ditanam selama hidup.
Seperti seseorang yang akan pindah rumah. Kalau rumah baru sudah siap, mungkin ada rasa penasaran untuk segera menempatinya. Tetapi, kalau rumah lama masih berantakan, tagihan belum lunas, hubungan dengan tetangga belum selesai, dan banyak urusan yang masih menggantung, tentu kita akan terus menunda keberangkatan.
Mungkin begitu pula hubungan kita dengan kematian. Yang kita takutkan sering kali bukan kematiannya. Melainkan ketidaksiapan kita.
Rumah lama bernama kehidupan ini terasa belum beres. Masih ada luka yang belum meminta maaf. Masih ada hak orang lain yang belum ditunaikan. Masih ada taubat yang terus ditunda dengan alasan “nanti,” –“ini” dan “itu.”
Padahal tidak ada yang benar-benar tahu kapan kata “nanti” itu berakhir.
Sunan Kalijaga pernah mengajarkan falsafah sederhana: urip iku urup. Hidup itu menyala. Mungkin karena itulah kita takut jika lampu dipadamkan ketika nyalanya masih redup.
Memamdang Kematian dari Sudut Lain
Kita juga sering mengenal kematian dari sisi yang salah. Yang kita lihat hanyalah tangisan keluarga, kain kafan bermotif putih polos, liang lahat yang sempit, dan berita duka.
Kita jarang melihat sisi lainnya. Padahal Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
“Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” [HR. Muslim]
Bagi seorang mukmin, kematian bukan semata perpisahan. Ia adalah gerbang perjumpaan. Jalan pulang menuju Zat yang selama ini ia rindukan dalam sujud dan doa-doanya.
Al-Qur’an pun mengingatkan: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185).
Ayat ini tidak terdengar seperti ancaman. Ia lebih mirip pengingat bahwa kita semua sedang berjalan ke arah yang sama. Tidak ada yang tertinggal. Tidak ada yang didahulukan karena kaya atau dimuliakan karena jabatan. Semua akan sampai. Cepat atau lambat.
Kalau dipikir-pikir, mungkin ego kita juga ikut berperan dalam rasa takut itu. Manusia cenderung tidak nyaman pada dua hal: tidak tahu dan tidak bisa mengendalikan. Sedangkan kematian adalah puncak dari keduanya.
Kita tidak tahu kapan datangnya. Kita tidak bisa mengaturnya. Lalu muncul berbagai kecemasan: Anak-anak nanti bagaimana? Pekerjaan bagaimana? Rencana-rencana yang belum selesai bagaimana?
Padahal jika jujur, sejak awal hidup ini pun bukan sepenuhnya berada dalam kendali kita. Kematian hanya sedang mengingatkan bahwa kita hanyalah musafir yang sedang singgah.
Terus terang, saya pun tidak kebal dari rasa takut itu.
Ada hari-hari ketika saya membayangkan kematian lalu dada terasa sempit. Ada saat-saat ketika saya merasa belum cukup baik, belum cukup siap, belum cukup banyak bekal.
Tetapi setiap kali mendengar kabar orang-orang baik yang pergi dengan meninggalkan jejak kebaikan, ketakutan itu perlahan berubah bentuk. Bukan lagi takut mati. Melainkan takut belum siap.
Karena ketika waktunya tiba, kita tidak diberi kesempatan untuk menawar. Tidak bisa meminta satu minggu tambahan. Tidak bisa mengajukan penundaan. Tidak bisa berpaling ke arah lain. Yang bisa kita lakukan hanyalah mempersiapkan kepulangan itu sebaik mungkin.
Dan mungkin itulah makna terdalam dari memento mori. Ingatlah kematian. Bukan supaya hidup dipenuhi ketakutan. Tetapi supaya kita tahu mana yang benar-benar layak diperjuangkan.
Renungan Kecil
Malam ini, sebelum tidur, mungkin kita tidak perlu membuat target besar. Cukup satu pertanyaan kecil:
“Jika Allah memanggilku besok pagi, pamit seperti apa yang ingin kutinggalkan?”
Barangkali dari pertanyaan sederhana itu, kita mulai membereskan satu per satu “rumah lama” yang selama ini terlalu sering kita abaikan.
Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada sahabat kami, Ali Muhsi. Dan semoga ketika giliran kita tiba nanti, kita juga diberi kepergian yang dirindukan, bukan sekadar kepergian yang dikenang. Amin!

