Pertengkaran Lekang, Romantisme Datang: 3 Batas Yang Tidak Boleh Dilanggar Saat Marahan

Pertengkaran Lekang, Romantisme Datang: 3 Batas Yang Tidak Boleh Dilanggar Saat Marahan

Oleh: Abd Mufid[1]

Prolog: Medan Perang

Dering ponsel itu membuat kopi pagi saya tersendak. Pukul 06.30, Jumat pagi. Di ujung sana, suara Bu Laila terdengar parau, seperti orang yang semalaman menangis tanpa suara.

“Pak, saya sudah di pintu gerbang KUA. Bapak sudah datang?”

Saya tahu persis apa yang akan terjadi. Ini bukan pertama kalinya Bu Laila datang dengan mata sembab dan langkah gontai. Yang membuat hati saya tercekat bukanlah niat cerainya, tapi jawabannya ketika saya bertanya, “Kenapa kok sampai segininya, Bu?”

Diam. Lalu lirih, “Kami tidak pernah bertengkar hebat, Pak. Tapi setiap malam, suami saya tidur di ruang tamu kalau lagi kesal. Bisa berhari-hari. Saya di kamar sendirian meremas bantal, bertanya-tanya salah saya apa. Lebih sakit mana dipukul atau diabaikan seperti ini?”

Saya hanya bisa diam memandang ubin keramik KUA yang dingin.

Sahabat CM, setiap rumah tangga pasti punya cekcok. Yang membedakan bukanlah apakah kita bertengkar, melainkan bagaimana kita bertengkar. Ada pertengkaran yang berakhir dengan gelak tawa sambil makan malam bersama penuh syahdu. Ada pula yang meninggalkan luka menganga bertahun-tahun.

Nabi Muhammad SAW. sudah memberi kode: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Pertanyaannya, apakah pasangan kita musuh debat yang harus ditaklukkan, atau partner yang sedang belajar bareng menuju surga?

Catatan kecil ini bukan untuk menggurui. Saya pun masih belajar. Tapi mari kita renungkan tiga batas yang tidak boleh dilanggar saat marah. Karena dari sanalah romantisme yang nyaris lekang bisa kembali hadir.

Batas Pertama: Rahasia Ranjang Bukan Tayangan Publik

Saya pernah memberikan bimbingan pernikahan pasangan muda, sebut saja Mas Fajar dan Mbak Nila. Tahun pertama, mereka romantis seperti iklan susu. Tapi menjelang tahun ketiga, Mbak Nila datang ke KUA dengan wajah seribu luka. Bukan lebam, tapi malu yang teramat dalam.

“Kenapa, Mbak?” tanyaku.

Jawabannya membuat saya tersentak: “Mas Fajar cerita ke teman main futsalnya, kalau saya susah bangun subuh dan sering lupa masak. Sekarang grup WhatsApp istri-istri temannya tahu semua. Saya malu, Pak. Saya tidak enak kalau arisan.”

Bayangkan. Aib yang hanya layak jadi teman bantal, tiba-tiba jadi konsumsi publik.

Rasulullah SAW. mengingatkan keras soal ini:

“Sesungguhnya amanah terbesar di sisi Allah pada hari Kiamat adalah seseorang yang memperhatikan istrinya, dan sebaliknya, kemudian menyebarkan rahasia pasangannya.” (HR Muslim)

Tadabbur sejenak:

Kata kuncinya adalah amanah. Allah titipkan kehormatan pasangan kepada kita. Saat membuka aibnya, kita bukan hanya mengkhianati manusia, tapi juga mengkhianati titihan Ilahi.

An-Nisa: 34 juga menjelaskan tentang istri shalihah yang hafizhatun lil ghaibi— menjaga kehormatan ketika suami tidak ada. Ini berlaku timbal balik. Suami pun wajib menjaga rahasia istri.

Pertanyaan ini bisa jadi menggugah untuk diri saya dan Anda: “Curhat ke sahabat dekat itu memang melegakan. Tapi batasnya di mana? Apakah pasangan kita akan tetap tersenyum jika tahu rahasianya sudah jadi bahan diskusi kelompok?”

Batas Kedua: Lisan Lebih Tajam Dari Pedang

Cerita kedua. Pak Rahmat, 47 tahun, datang ke pengajian rutin di mana kita biasa nimbrung di kampung saya. Biasanya beliau duduk di baris depan sambil membawa Al-Qur’an besar. Tapi malam itu ia duduk di pojok, di belakang tiang.

Setelah pengajian bubar, saya coba hampiri: “Lho, Pak Rahmat? Biasanya di depan.” Sergahku, memecah keheningannya.

Beliau hanya tersenyum kecut. Tiga hari kemudian saya tahu penyebabnya: anak semata wayangnya, Sari, sudah sebulan tidak mau bicara sama ayahnya. Karena Pak Rahmat, saat marah dengan istrinya soal uang, melontarkan kalimat: Dasar perempuan memang nggak becus ngatur duit. Sari juga ikut-ikutan tolol kayak ibunya.

Sari kebetulan ada di dapur dan mendengar semuanya. Kekerasan verbal. Ini yang sering dianggap remeh. Padahal dalam QS. An-Nisa: 19, Allah berfirman:

“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara ma’ruf.”

Imam Al-Qurthubi menafsirkan ma’ruf antara lain dengan perkataan yang baik, wajah yang ramah, dan sikap yang lapang dada.

Bentuk-bentuk kekerasan verbal yang kadang tidak kita sadari seperti; menghina, merendahkan, mengungkit-ngungkit masa lalu, melabeli hingga generalisasi berlebihan.

Rasulullah bersabda: “Muslim sejati adalah orang yang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari)

Perhatikan, Nabi menyebut lisan lebih dulu dari tangan. Kenapa? Karena luka fisik cepat kering, tapi luka hati dari kata-kata bisa menganga hingga puluhan tahun. Bahkan, ada istri yang lebih tegar dipukul daripada dihina di depan anak-anaknya.

Pertanyaan untuk kita semua:

“Kalimat terakhir yang Anda lontarkan saat marah pada pasangan — jika pasangan Anda rekam lalu putar ulang keesokan harinya ketika suasana sudah damai — apakah Anda akan bangga, atau justru malu setengah mati?”

Batas Ketiga: Jangan Jemput Pagi Dengan Dendam Semalam

Kembali ke Bu Laila di awal cerita. Suaminya, Pak Didik, punya kebiasaan, setiap kali kesal, ia tidur di ruang tamu. Bukan satu malam, bisa tiga malam. Istri di kamar. Mereka sarapan sendiri-sendiri. Berangkat kerja sendiri-sendiri. Pulang pun pura-pura tidak lihat.

“Pak Didik itu sebenarnya baik, Pak,” kata Bu Laila. “Cuma kalau marah, dia bisa mendiamkan saya sampai saya yang minta maaf duluan. Padahal kadang yang salah dia.”

Ini yang disebut hajr dalam istilah fikih. Pisah ranjang. Tapi bentuknya bukan nusyuz dari istri, melainkan boikot emosional dari suami.

Dalam QS. An-Nisa: 34, Allah mengizinkan hajr sebagai tahapan nasihat bagi istri yang nusyuz, dengan catatan: terbatas di tempat tidur (tidak keluar rumah) dan dengan tujuan mendidik, bukan balas dendam. Bukan untuk berhari-hari, apalagi berminggu-minggu.

Rasulullah menegaskan: “Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR. Bukhari-Muslim)

Kalau untuk saudara biasa saja tiga hari batasnya, apalagi untuk suami istri yang tidur satu atap? Tentu lebih utama untuk tidak dibiarkan sampai berganti hari. Mendiamkan pasangan tanpa penyelesaian dengan tempo waktu yang lama itu berbahay. Dapat memicu bom waktu, menumbuhkan prasangka buruk. Istri bisa berprasangka suami sudah tidak cinta, suami berprasangka istri tidak peduli, serta mengundang setan. Rumah yang sunyi dari komunikasi adalah taman favorit setan untuk menabur fitnah.

Ada tiga tips praktis yang bisa dilakukan pada saat emosi memuncak. Pertama, jika emosi sedang memuncak, ambil jeda. Bukan kabur atau lari. Katakan: “Sayang, saya lagi panas sekarang. Boleh kita bicara sejam lagi?” Kedua, Sepakati “cooling down time” misalnya maksimal 30 menit. Jangan sampai berlarut-larut. Ketiga, sebelum tidur, minimal ada satu kalimat penutup. Bisa “Maaf ya kalau tadi aku salah“, atau “Meskipun kita belum selesai masalahnya, aku tetap sayang kamu.”

Seni Mengelola Konflik Keluarga

Dari tiga batas di atas, penulis ingin mengajak Anda berhenti sejenak. Di mana letak “seni”-nya? Kenapa konflik yang sama bisa menghancurkan satu rumah tangga, tapi justru menguatkan rumah tangga lain?

Jawabannya ada pada seni mengelola konflik. Bukan ilmu pasti, tapi seni. Karena setiap pasangan punya watak, latar belakang, dan “bahasa cinta” yang berbeda.

Berdasarkan bacaan penulis atas naskah asli artikel ini dan pengalaman lapangan sebagai penyuluh, saya rangkum7 pilar seni mengelola konflik keluarga yang menggugah:

Pilar 1: Kesadaran Diri — “Siapa yang Mengendalikan Siapa?”

Seni pertama adalah mengenali bahwa amarah sedang datang. Ini krusial karena otak kita punya amygdala (pusat emosi) yang bereaksi 0,3 detik lebih cepat daripada prefrontal cortex (pusat logika). Artinya, saat marah, kita otomatis bodoh dulu. Baru setelah tenang, kita pintar lagi.

Orang yang tidak sadar diri akan langsung meledak. Orang yang sadar diri akan bilang: “Tunggu, saya lagi marah. Jangan saya bicara dulu.”

Pilar 2: Pengaturan Diri — Diam Itu Bukan Kalah, Tapi Strategi

Rasulullah bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad)

Seninya, diam bukan berarti mengalah. Diam adalah “ruang bernapas” agar amarah tidak naik ke ubun-ubun. Sambil diam, baca ta’awudz, duduk jika berdiri, berbaring jika masih marah, atau ambil wudhu atau mandi.

Pilar 3: Empati — Mencoba Masuk Sepatu Pasangan

Saya sering tanya ke jamaah yang berseteru: “Coba, kalau jadi dia, apa yang Anda rasakan?”

Orang yang berempati tidak akan bilang “Kamu egois!”, tapi “Saya paham kamu mungkin capek juga hari ini. Tapi saya juga butuh didengar.” Empati membedakan respons (yang matang) dari reaksi (yang impulsif).

Pilar 4: Komunikasi Asertif — Menggunakan “Aku” Bukan “Kamu”

Berikut ini merupakan teknik praktis yang luar biasa. Bandingkan, penggunaan kalimat “kamu” yang bersifat menuding atau menyalahkan (agresif). Dari pada kalimat “aku” yang cenderung bersifat asertif (menghargai/terbuka). Contoh; “Kamu nggak pernah ngerti aku!” “Kamu egois banget!” atau “Kamu maunya menang sendiri!” (agresif). Sementara; “Aku merasa sedih kalau kita nggak saling ngerti.” “Aku merasa diabaikan ketika keputusan diambil tanpa diskusi.” “Aku ingin kita sama-sama menemukan jalan tengah.” (Asertif). Intinya, kalimat “aku” tidak menuding, tapi membuka pintu dialog.

Pilar 5: Kendalikan Amarah dengan Teknik Sunnah

Dalam literatur-literatur klasik menyebutkan langkah-langkah praktis meredakan amarah: 1) Baca ta’awudz, karena amarah berasal dari setan. 2) Diam, tidak bicara apapun. 3) Ubah posisi tubuh, duduk jika berdiri, berbaring jika duduk. 4) Berwudhu, air memadamkan api amarah. 5) Ingat wasiat Nabi — “Jangan marah, maka bagimu surga.” Ini bukan teori. Ini obat mujarab yang sudah dicoba para sahabat.

Pilar 6: Fokus Pada Solusi, Bukan Pada Kesalahan

Banyak pasangan terjebak dalam blame game — sibuk mencari siapa yang memulai, siapa yang lebih salah. Akhirnya masalah tak selesai, ego yang justru dibesarkan.

Seninya: setelah kedua pihak tenang, tanyakan, “Apa yang bisa kita lakukan agar kejadian ini tidak terulang?” Bukan “Siapa yang salah?”

Pilar 7: Mediasi — Kapan Perlu Pihak Ketiga?

An-Nisa: 35 memberikan solusi: “Jika kamu khawatirkan perselisihan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan.”

Sahabat CM, seni terbesar dalam konflik adalah mengetahui kapan harus selesai berdua, dan kapan perlu memanggil penengah. Mediasi bukan berarti lemah. Justru itu tanda kedewasaan. Bahwa keselamatan rumah tangga lebih penting dari kemenangan pribadi.

Penutup: Karena Cinta Tak Selalu Hadir Dalam Pelukan, Tapi Juga Dalam Kemampuan Menahan Diri

Sahabat CM, penulis mencoba metutup catatan kecil ini dari kisah Kakek Darso. Pak Darso adalah seorang kakek di desa saya. Suatu waktu, saya pernah bertanya padanya, “Kek Dar, bagaimana caranya Kakek dan Ibu bisa 60 tahun bersama tanpa cerai?”

Kakek Darso tersenyum, lalu menjawab perlahan, “Cong, kami juga pernah hampir cerai berkali-kali. Tapi kami sepakat: ketika marah, kami tidak pernah tidur tanpa berjabat tangan. Dan kami tidak pernah membuka rahasia satu sama lain, sekalipun kepada anak-anak kami sendiri.”

Lalu Kakek Darso pun menambahkan, “Kami belajar bahwa setan senang ketika suami istri saling menyakiti dengan kata-kata. Maka kami belajar diam jika tak bisa berkata baik.” Pungkasnya.

Rumah tangga yang kuat bukan yang tanpa pertengkaran. Tapi yang tahu batas saat marah. Karena cinta tidak selalu hadir dalam ucapan “aku sayang kamu.” Cinta hadir saat mulut ini menahan diri untuk tidak menyakiti, cinta hadir saat kita memilih damai walau ego masih berat, dan cinta hadir saat kita lebih memilih tidur berpelukan daripada saling membelakangi. Maka, kalau malam ini Anda sedang berselisih dengan pasangan, ingatlah: Kita boleh berbeda, tapi jangan sampai kehilangan adab.

Sebab yang kita jaga bukan sekadar perasaan. Tapi keberkahan rumah tangga. Dan keberkahan itu tidak akan hadir jika kita terus menerus melanggar tiga batas saat marah: Membuka aib pasangan, Kekerasan verbal, dan Mendiamkan tanpa penyelesaian hingga tidur.

Semoga Allah satukan hati-hati kita dalam kebaikan, dan jadikan rumah kita tempat terindah untuk pulang. Aamiin.

Sumenep, 20 Mei 2026

[1] Penulis adalah Penyuluh Agama Islam di lingkungan Kementerian Agama Sumenep, Koordinator Bidang Pendidikan Keluarga LKK-NU Sumenep (periode 2026-2031), serta aktif menulis esai keislaman dan penguatan keluarga di http://catatanmufid.id

 

Melanjutkan Jejak Khidmah: Refleksi Pelantikan PCNU Sumenep

Melanjutkan Jejak Khidmah: Refleksi Pelantikan PCNU Sumenep

Oleh: Abd Mufid[1]

Hari itu, tepatnya Sabtu, 28 Dzulqa’dah atau 16 Mei 2026, bertempat di Pondok Pesantren Al-Karimiyyah, Baraji – Sumenep, di mana ruang pelantikan bukan sekadar panggung seremonial, melainkan ruang untuk mengingat kembali mengapa PCNU Sumenep berdiri sejak awal: mengabdi tanpa pamrih kepada umat dan bangsa. Ketika nama-nama pengurus baru disebut dan sumpah khidmah diucapkan, yang terjadi bukan pergantian jabatan, melainkan penyerahan estafeta amanah.

Di Sumenep, tanah yang sejak dulu dikenal sebagai lumbung ulama dan santri, setiap langkah organisasi NU selalu ditimbang pada satu hal. Apakah ia semakin mendekatkan masyarakat pada ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin, atau justru berhenti di panggung seremoni belaka. Pelantikan tersebut, lebih tepat dibaca sebagai ajakan untuk melanjutkan jejak khidmah yang telah dirintis para pendahulu, bukan untuk memulai cerita dari nol.

Konteks Historis & Tugas Pokok

Sejarah NU di Sumenep mencatat bahwa khidmah tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari pesantren, majelis taklim, dan gotong royong masyarakat yang menjadikan ulama sebagai rujukan hidup. Karena itu, pelantikan pengurus baru bukan sekadar formalitas organisasi, melainkan pengingat bahwa tugas PCNU adalah menyambung rantai itu, menjaga agar tradisi keilmuan, dakwah kultural, dan kepedulian sosial tidak putus digerus zaman.

Di tengah arus modernisasi dan polarisasi yang kerap masuk ke desa-desa, tugas ini menjadi lebih berat. Pengurus PCNU hari ini dituntut tidak hanya cakap beradministrasi, tetapi juga mampu membaca tanda zaman tanpa kehilangan akar. Menjadi pengurus berarti bersedia turun ke bawah: mendengar keluh kesah warga, mendampingi lembaga pendidikan NU, memberdayakan umat, dan memastikan bahwa nilai-nilai Aswaja tetap hidup dalam praktik sehari-hari, bukan hanya dalam dokumen musyawarah dan rapat-rapat.

Tantangan Kekinian

Tantangan itu kini berdiri nyata di depan mata. Media sosial telah membuat setiap orang merasa menjadi juru dakwah, tetapi sering kali tanpa adab dan tanpa ilmu. Di beberapa sudut, kita mendengar suara-suara yang mengadu domba warga atas nama agama, mengadu tradisi dengan modernitas, seolah menjadi Nahdliyin berarti harus memilih salah satunya. Sementara di sisi lain, semangat gotong royong pelan-pelan luntur, tergantikan oleh individualisme yang lahir dari tekanan ekonomi dan budaya konsumtif.

Di sinilah PCNU Sumenep diuji. Ia tidak bisa lagi hanya menjadi penonton yang sibuk mengurus struktur, apa lagi hanya mengurus (kepentingan) diri sendiri. Ia harus hadir sebagai penyejuk, sebagai jembatan, sebagai rumah besar tempat semua warga NU merasa memiliki tempat untuk bertanya, belajar, tumbuh dan pulang. Jika tidak, maka khidmah akan tinggal nama, dan jejak para kiai terdahulu akan menjadi cerita yang hanya dikenang, bukan dilanjutkan.

Tiga Arah Khidmah yang Harus Dilanjutkan

Ada tiga arah khidmah yang mendesak untuk dilanjutkan dan diperkuat. Pertama, khidmah keilmuan. Pesantren dan madrasah NU di Sumenep adalah warisan yang tak ternilai. Pengurus harus hadir bukan hanya saat peresmian, tetapi saat para ustaz butuh dukungan, saat santri butuh beasiswa, saat kurikulum perlu dijaga agar tidak kehilangan ruhnya.

Kedua, khidmah sosial. NU tidak boleh absen ketika warga tertimpa banjir, sakit, atau kehilangan arah. Kini, khidmah itu harus diperluas: mendampingi warga yang terjebak jerat rentenir, membantu pemuda yang bingung mencari arah, merawat para lansia yang merasa ditinggalkan, juga beban ekonomi yang terus menghimpit umat.

Ketiga, khidmah kebangsaan. Sumenep adalah Indonesia kecil. Di sini hidup beragam suku, mazhab, dan pilihan politik. PCNU dipanggil untuk menjadi penyejuk, untuk mengingatkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh. Di atas semua itu, yang paling penting adalah menjaga bahasa: bahasa yang merangkul, bukan menghakimi; bahasa yang mendidik, bukan merendahkan.

Sebuah Catatan Kecil

Ya, ini hanya sebuah catatan kecil. Atau kalau boleh dianggap suara gemericik warga masyarakat NU akar ruput, yang terus mendamba spirit khidmah menggema dan mengemuka. Bahwa, khidmah akan gugur maknanya jika pengurus terjebak pada simbol, gelar, dan foto bersama. Jika rapat hanya berhenti pada agenda, jika program hanya hidup di atas kertas, maka kita sedang mengkhianati amanah para pendahulu.

Ukuran keberhasilan PCNU bukan berapa banyak spanduk yang terpasang saat pelantikan, tetapi berapa banyak ibu-ibu yang merasa tenang karena anaknya mendapat beasiswa ngaji, berapa banyak pemuda yang berhenti merantau karena ada pelatihan-pelatihan pemberdayaan di kampungnya, berapa banyak warga yang merasa dilindungi ketika konflik mulai menyala. Khidmah adalah kerja sunyi yang sering tak terlihat, tetapi dampaknya terasa sampai ke dapur rumah warga, menyusup ke batin umat.

Refleksi Sederhana

Akhirnya, pelantikan ini mengajak kita semua untuk berhenti sejenak dan bertanya: apa yang bisa saya lakukan untuk NU, bukan apa yang NU bisa lakukan untuk saya? Jejak khidmah tidak akan berlanjut jika hanya ditanggung segelintir pengurus. Ia butuh uluran tangan warga, doa para kiai, dan keringat para santri.

Semoga pengurus baru PCNU Sumenep diberi kekuatan untuk tetap rendah hati di tengah amanah, tetap istiqamah di tengah godaan, dan tetap dekat dengan umat di tengah kesibukan. Karena pada akhirnya, khidmah yang ikhlas adalah amal jariyah yang tidak akan pernah berhenti mengalir, bahkan setelah nama kita tak lagi disebut dalam undangan. Wallahu a’lam bish-shawab.

–– Lenteng, 01 Zulhijjah 1447 H.

[1] Penulis adalah warga NU, Anggota LKK-NU Sumenep Masa Khidmad 2026-2031.

Puasa Gadget Seminggu Sekali: Rasakan Hidupmu Kembali

Puasa Gadget Seminggu Sekali: Rasakan Hidupmu Kembali

Oleh: Abd Mufid

(Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep)

 

Pernah tidak, Anda bangun tidur, mata masih sayup, tapi jari-jemari sudah tidak sabar nyentuh layar HP? “Cuma sebentar, lihat notifikasi,” katanya. Tahu-tahu satu jam lewat. Kepala rasanya penuh, hati malah hampa. Anda masih di kasur yang sama, tapi rasanya sudah keliling dunia maya dan pulang dengan tangan kosong. Jujur, dulu penulis juga begitu. Dan rasanya capek.

Bukan karena penulis anti teknologi. Buktinya, tulisan ini lahir dari laptop yang nyambung internet. Tapi akhir-akhir ini penulis sadar: kita butuh puasa. Bukan puasa lapar dan haus, tapi puasa dari gadget. Sehari dalam seminggu. Penulis kasih nama Pusget. Nama keren bukan? Singkatan dari puasa gadget.

Setiap Hari Kita Tenggelam

Coba lihat sekeliling kita. Di kereta, di warung kopi, di meja makan rumah kita sendiri, semua kepala menunduk. Jari-jari sibuk scroll, sementara tubuh fisik ada di sana, tapi hati dan pikirannya melayang entah ke mana.

Datanya bikin merinding. Di tahun 2023, Indonesia jadi negara peringkat ke-4 pengguna internet terbesar di dunia. 212,9 juta orang sudah nyambung ke dunia maya. Yang lebih gila lagi: remaja Indonesia umur 16 tahun menempati peringkat pertama dunia dalam urusan nge-scroll lewat HP.

Rata-rata orang Indonesia online 7 jam 22 menit per hari. Coba hitung: tidur 8 jam, kerja 8 jam. Sisa 8 jam untuk keluarga, istirahat, dan diri sendiri. Tapi nyatanya? Sisa waktu itu habis dimakan layar. Iya, rata-rata hampir 8 jam sehari cuma untuk scroll scroll dan scroll.

Dan untuk apa? Bukan untuk belajar atau kerja. Data BPS menyebutkan: 85% orang Indonesia buka internet untuk hiburan, 77% untuk medsos. Yang untuk pendidikan hanya 7,4%. Jadi gadget bukan lagi alat bantu. Ia sudah jadi rumah kedua kita. Bahkan kadang, rumah pertama.

Panik karena Ketinggalan HP

Suatu hari, seorang teman ketinggalan HP di rumahnya. Hanya sehari. Tapi tangannya gemetar. Jantungnya berdebar. Mukanya pucat. Bukan drama. Itu gejala putus kecanduan.

Ilmuwan mengatakan itu dopamin loop. Setiap notifikasi, setiap like, setiap video pendek yang lucu, otak kita dibanjiri hormon senang. Sayangnya, efeknya bisa memuntuk otak kita jadi haus terus. Akibatnya? Fokus hancur, gampang cemas, gampang bosan, susah tidur karena blue light, dan yang paling parah: FOMO (Fear of Missing Out). Takut ketinggalan update, padahal update itu tidak penting-penting amat.

Dr. Anna Lembke dari Stanford mengemukakan, bahwa kelebihan stimulus digital bikin otak kita lupa cara menikmati hal-hal sederhana. Seperti ngobrol santai, jalan pagi tanpa HP, atau sekadar diam. Lalu solusinya? Istirahat stimulus. Otak perlu di-reset. Dan puasa gadget seminggu sekali adalah reset termurah dan paling mujarab.

Yang sudah rutin digital detox dilaporkan punya: suasana hati lebih stabil, tidur nyenyak, fokus meroket, dan hidup terasa lebih ringan. (University of Pennsylvania, 2022)

Puasged adalah Puasa Kekinian

Rasulullah bersabda: “Puasa adalah perisai.” Maksudnya pelindung dari hal buruk. Kalau puasa makanan melindungi dari dosa perut, maka puasa gadget melindungi kita dari dosa mata, telinga, dan hati. Dari tontonan sia-sia, gosip digital, dan konten yang tidak jelas ujung pangkalnya.

Allah juga melarang israf (berlebihan) [QS. Al-A’raf: 31]. menghabiskan 7 jam sehari untuk medsos? Itu namanya boros waktu. Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah memuji orang-orang yang menjauhi lahwun (perkara sia-sia) [QS. Al-Mu’minun: 3]. Jadi puasa gadget itu latihan kontrol diri yang mulia. Allah mengajak kita kembali ke tadabbur, merenung, dan hadir sepenuhnya pada saat ini.

Kita Rindu Zona Guyub

Dahulu waktu kecil di kampung, bapak-bapak duduk di warung kopi sambil cerita soal tanam dan topik keseharian lainnya. Ibu-ibu arisan sambil tertawa bersama. Anak-anak bermain bola sampai senja. Sekarang? Duduk sekeluarga di ruang tamu, tapi masing-masing sibuk dengan HP. Namanya sekarang phubbing, yaitu pengabaian atas diri orang lain karena ponsel.

Padahal kita punya budaya guyub. Ngopi bareng, pengajian, gotong royong. Semua itu lahir dari interaksi nyata, bukan dari hati yang tercerai-berai di dunia digital. Maka puasa gadget adalah revitalisasi budaya. Satu hari tanpa layar, kita bisa bercengkerama dengan anak, mendengar cerita orang tua, atau sekadar diam bersama, tanpa jari yang gatal untuk scroll.

Dampaknya Langsung Terasa

Hidup itu soal pilihan. Kalau tidak pernah puasa gadget, kita akan terjebak multitasking semu. Kerja sambil buka medsos, hasilnya setengah hati. Deep work mustahil terjadi. Prokrastinasi menahun. Pekerjaan numpuk, stres naik. Tapi begitu kita coba pusget, rasanya beda. Mood lebih stabil, jadi tidak gampang cemas, fokus meningkat. pekerjaan selesai lebih cepat dan tepat waktu, dan yang paling penting energi mental tetap terjaga. Hubungan dengan orang lain jadi lebih intim, lebih dalam, lebih bermakna. Alhasil, satu hari tanpa gadget benar-benar seperti reset mingguan untuk jasad dan jiwa.

Gerakan Pusget: Ajak Semua Mulai dari Kita

Penulis tidak mengatakan buang HP Anda! Penulis tidak meromantisasi hidup tanpa internet. Penulis hanya mengajak satu hal sederhana, tapi dijamin sulit: disiplin mematikan gadget satu hari dalam seminggu.

Caranya, pilih satu hari (Ahad, Jumat, atau Sabtu), batasi medsos, hiburan digital, dan konten tidak penting, HP hanya untuk darurat atau kerja yang benar-benar urgen. Selanjutnya, isi hari itu dengan membaca Al-Qur’an atau buku fisik, olahraga ringan, quality time sama keluarga, jJalan pagi tanpa HP, nulis jurnal, melukis, atau sekadar tafakur (meditasi).

Bayangkan kalau 10, 100, 1000 orang, sampai satu kampung, melakukan ini bersama. Bukan cuma gerakan individu. Tapi kesadaran kolektif bahwa kita masih punya kendali atas teknologi, bukan sebaliknya.

Penutup: Sunyi Itu Menyembuhkan

Di tengah gemuruh notifikasi yang tidak pernah tidur, kita sering lupa bahwa jiwa juga butuh sunyi. Puasa gadget bukan sekadar mematikan layar, tapi menyalakan kesadaran. Gerakan ini mengajak kita pulang. Bukan cuma ke rumah, tapi ke dalam diri sendiri masing-masing.

Karena pada akhirnya, yang paling kita butuhkan bukanlah koneksi internet yang cepat. Melainkan koneksi hati yang tepat. Dan mungkin, dari satu hari tanpa gadget itu, kita akan kembali menemukan siapa diri kita, dan kepada siapa hidup ini seharusnya bermuara.

Jadi, mari mulai. Pilih hari Anda. Matikan layer Anda. Hidupkan kembali hidup Anda. Hidup Anda yang autentik. Sekali lagi, Pusget: Satu hari dalam seminggu. Untuk jernihnya jiwa, untuk bahagia yang sejati. Jika Anda setujutu dengan ikhtiyar kecil ini, bagikan catatan ini kepada orang-orang terdekat Anda, sahabat dan mereka yang terketuk untuk berubah Bersama-sama. Salam PUSGET!

Obati Sakitnya, Sembuhkan Batinnya

Obati Sakitnya, Sembuhkan Batinnya

Oleh: Abd Mufid
Pemerhati Kesehatan Jiwa, Penyuluh Agama Islam KUA Lenteng Sumenep

Suatu siang di ruang rawat inap yang hening, seorang pasien menatap langit-langit kamar dengan mata hampa. Infus menetes perlahan, monitor berdetak ritmis, dan aroma antiseptik menyergap perlahan. Secara medis, kondisinya stabil. Namun, tidak ada alat yang sanggup mendiagnosis kegelisahan yang bersarang di dadanya. Tidak ada lembar rekam medis yang mencatat rasa cemas dan takut yang ia pendam. Di sanalah cerita ini dimulai—bukan dari meja operasi, bukan dari resep dokter, melainkan dari hati manusia yang sedang merintih mencari kekuatan.

Ketika Kementerian dan Dinas Berjabat Tangan untuk Jiwa

Di Kabupaten Sumenep, sejak sepekan terakhir, sebuah langkah kecil namun sarat makna terus diikhtiarkan. Kementerian Agama dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep bersinergi melahirkan gerakan yang tidak hanya menyentuh raga, tetapi juga merawat batin. Namanya Be-SMART: layanan bimbingan, edukasi, dan pendampingan spiritual untuk kesehatan mental masyarakat, termasuk pasien rawat inap di puskesmas dan rumah sakit se-Kabupaten Sumenep. Program ini digagas para penyuluh agama yang tergabung dalam Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Sumenep. Diawali dengan nota kesepahaman (MoU) antara Kemenag Sumenep dengan Dinas Kesehatan Sumenep, yang selanjutnya ditindaklanjuti dengan perjanjian kerja sama antara KUA dan Puskesmas, kini mereka hadir di ruang-ruang rawat—bukan sekadar pembaca doa, melainkan penenun harapan.

Menyembuhkan Batin, Bukan Sekadar Menyapa Fisik

Ketua PD IPARI Sumenep, H. Moh. Halili, S.Ag., M.H., menegaskan bahwa idealnya, setiap pasien mendapat pendekatan holistik. Bukan hanya penyembuhan fisik, tetapi juga mental dan kejiwaan. “Persoalan kesehatan hari ini tak bisa ditangani secara terpisah. Dibutuhkan pendekatan utuh: medis sekaligus mental-spiritual. Ini komitmen pelayanan kami kepada masyarakat,” tuturnya. Bukan sekadar idealisme. Ia berpijak pada realitas ilmiah.

Saat Cemas Menjelma Nyeri: Sebuah Fakta Medis

Dunia medis modern mengenal gangguan psikosomatis: kondisi di mana pikiran, emosi, dan tekanan batin menjelma menjadi keluhan fisik yang nyata. Stres yang tak terkelola memicu lonjakan hormon kortisol dan adrenalin. Akibatnya? Tekanan darah naik, jantung berdebar kencang, otot menegang, lambung terganggu. Kecemasan kronis membuat tubuh terus dalam mode “siaga darurat”. Bahkan depresi dapat memicu peradangan dalam tubuh. Maka pertanyaan klasik, “Apakah mental mempengaruhi fisik?” kini terjawab tegas: Ya, sangat. Dan hubungan itu bersifat dua arah. Penyakit kronis seperti jantung dan diabetes dapat memicu depresi; depresi pun dapat memperburuk kondisi fisik. Karena itu, WHO menegaskan pentingnya pendekatan kesehatan yang terintegrasi: fisik, mental, dan sosial.

Islam Lebih Dulu Menyebut Kesembuhan yang Utuh

Jauh sebelum dunia medis modern bergumul dengan kata “holistik”, Islam telah mengajarkan keseimbangan itu. Allah SWT berfirman: “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80). Bukan sekadar pengakuan teologis, melainkan pengingat bahwa kesembuhan melibatkan dimensi yang lebih luas dari sekadar obat dan jarum. Rasulullah ﷺ bersabda: “Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada enam… jika ia sakit, maka jenguklah.” (HR. Muslim). Menjenguk orang sakit bukan hanya etika sosial; ia adalah terapi, dukungan emosional, dan obat batin yang sering kali lebih menenangkan dari sekadar senyawa kimia.

Doa, Zikir, dan Sains yang Mulai Mengamini

Para ilmuwan modern pun mulai mengamini. George Engel memperkenalkan model biopsikososial: kesehatan manusia dipengaruhi oleh aspek biologis, psikologis, dan sosial. Herbert Benson dari Harvard menemukan bahwa doa, meditasi, dan praktik spiritual dapat menurunkan stres, memperbaiki tekanan darah, serta meningkatkan imunitas. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa doa dan zikir menekan hormon stres, mindfulness membantu mengelola nyeri kronis, pendekatan spiritual meningkatkan kualitas hidup pasien, serta dukungan emosional mempercepat pemulihan pasca-sakit. Perlu digarisbawahi: pendekatan ini bukan pengganti medis. Ia pelengkap. Ia jembatan antara raga dan jiwa.

Mereka Duduk di Samping, Lalu Sepi Itu Berkurang

Kini, di ruang-ruang rawat inap puskesmas di Sumenep, para penyuluh agama sedang dan akan terus memainkan peran itu. Mereka duduk di samping pasien, mendengarkan keluh kesah, mengajak berdoa, menguatkan harapan. Kadang mereka tak membawa banyak kata. Namun kehadiran mereka cukup untuk berkata, “Engkau tidak sendiri.” Di titik itulah, penyembuhan sering kali bermula. Be-SMART bukan sekadar inovasi birokrasi. Ia adalah jawaban atas kegelisahan zaman. Sebuah ikhtiar memulihkan makna pelayanan kesehatan: bahwa manusia harus dilihat sebagai satu kesatuan utuh—jasad dan jiwa.

Foto Colase| Penandatangan Kesepakatan Kerjasama dan proses pendampingan penguatan mental pasien inap di lingkungan Puskesmas oleh Penyuluh Kemenag Sumenep.

Catatan Akhir: Tidak Semua Obat Berbentuk Pil

Kita hidup di era di mana teknologi mampu membaca detak jantung, namun belum tentu mampu memahami luka batin. Maka ketika para penyuluh agama hadir di ruang-ruang sakit, mereka sejatinya sedang mengisi ruang kosong yang tak terjangkau alat medis: ruang kemanusiaan. Karena itu, mari kita pahami satu hal sederhana namun sering terlupakan: tidak semua luka terlihat, tidak semua sakit dapat diukur, dan tidak semua obat berbentuk pil. Kadang, yang paling dibutuhkan hanyalah doa yang tulus, tangan yang menggenggam erat, dan hati yang benar-benar peduli. Mari obati sakitnya. Dan jangan lupa, sembuhkan pula batinnya.

Kelakar Suka-Suka di Syawalan IKA-SUKA

Kelakar Suka-Suka di Syawalan IKA-SUKA

Oleh: Abd Mufid[1]

Ada yang aneh dari tawa itu!

Ia pecah berkali-kali, bergelombang, bahkan kadang terasa “tidak penting.” Tapi justru di situlah, di sela-sela kelakar yang tampak suka-suka—terselip sesuatu yang tidak sederhana: ingatan, idealisme, dan barangkali iman yang diam-diam sedang dirawat.

Syawalan IKA-SUKA Sumenep ke-XII di kompleks Ponpes Annuqayah, Guluk-Guluk, Kamis, 26 Maret 2026, bukan sekadar forum temu alumni. Ia lebih mirip ruang pulang—tempat di mana manusia tidak hanya bertemu wajah, tapi juga menemukan kembali versi terbaik dari dirinya yang mungkin sempat tercecer oleh zaman.

Dimulai dari ziarah ke para masyayikh, lalu tahlil dan shalawat, hingga sarasehan penuh canda, semuanya seperti satu alur yang utuh: dari sunyi menuju riuh, dari khidmat menuju hangat. Dan di tengah-tengahnya, manusia belajar satu hal yang sering dilupakan—bahwa kehidupan tidak selalu harus serius untuk menjadi bermakna.

Lantunan Shalawat Nabi di sela-sela seremoni Syawalan IKA-SUKA.

Kelakar yang Tidak Pernah Kosong Makna

Jika dilihat sepintas, forum itu hanyalah “gelanggang kelakar.” Cerita mahasiswa abadi, kisah pindah jurusan, semboyan “hindari wisuda dini,” hingga pengalaman ngekos yang lebih banyak “menghilang” daripada tinggal—semuanya mengundang tawa.

Namun di balik itu, tersimpan satu pesan sunyi: bahwa perjalanan intelektual tidak selalu lurus, dan justru dari kelokan itulah karakter ditempa. Bukankah Nabi pernah bersabda:

“Sesungguhnya aku juga bercanda, namun aku tidak mengatakan kecuali yang benar.”
(HR. Tirmidzi)

Kelakar, dalam tradisi yang sehat, bukan pelarian dari makna. Ia justru jalan masuk menuju makna—dengan cara yang lebih manusiawi. IKA-SUKA tampaknya memahami ini dengan baik. Bahwa humor bukan lawan dari keseriusan, melainkan jembatan menuju kebijaksanaan.

“Ngadhek Parjugah Sabarengan”: Berdiri Bersama, Tanpa Merendahkan

Tema yang diusung, “ngadhek parjugah sabarengan,” bukan sekadar slogan lokal.
Ia adalah filosofi hidup: berdiri tegak bersama, tanpa merasa lebih tinggi, tanpa menjatuhkan yang lain. Dalam bahasa iman, ini sejalan dengan firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…” (QS. Al-Hujurat: 10).

Dan lebih dalam lagi: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Kesetaraan dalam forum itu terasa nyata. Para alumni lintas generasi, dari berbagai latar belakang—akademisi, kiai, politisi, aktivis—duduk dalam satu lingkaran yang sama: tidak ada yang lebih tinggi, kecuali nilai yang dibawa masing-masing.

Merawat Idealisme di Tengah Dunia yang “Tidak Baik-Baik Saja”

Di balik cerita-cerita ringan, terselip kegelisahan yang serius: tentang dunia yang semakin pragmatis, tentang nilai yang mulai ditukar dengan kepentingan, tentang idealisme yang perlahan memudar. Namun justru di situlah kekuatan forum ini. Ia tidak melawan dengan pidato besar, tetapi dengan contoh kecil.

Kisah tentang tidak menyalakan TV, mencuci sendiri, hidup sederhana—bagi sebagian orang mungkin tampak remeh. Tapi di situlah letak “perlawanan sunyi.” Sebagaimana pesan Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)

Perubahan besar, ternyata, tidak selalu dimulai dari panggung besar. Ia justru lahir dari ruang-ruang kecil: rumah, keluarga, kebiasaan sehari-hari. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah pernah berkata:

“Siapa yang memperbaiki yang tersembunyi dalam dirinya, maka Allah akan memperbaiki yang tampak darinya.”

Silaturrahmi: Antara Fisik dan Rasa

Di era hari ini, silaturrahmi sering kali hanya sebatas notifikasi: pesan singkat, emoji, atau status broadcast yang cepat berlalu. Namun Syawalan ini menghadirkan sesuatu yang berbeda: silaturrahmi yang utuh—fisik, rasa, dan makna. Tawa yang sama, tatap mata yang jujur, dan pelukan yang hangat—semuanya tidak bisa digantikan oleh layar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka barangkali, yang dirindukan dari forum ini bukan hanya pertemuannya, tetapi “rasa hidup” yang muncul darinya.

Catatan Penutup

Barangkali, kita terlalu sering mengira bahwa kebenaran harus selalu hadir dalam bentuk serius, kaku, dan penuh tekanan. Padahal, di suatu sudut Guluk-Guluk, dalam gelak tawa yang tampak sederhana, orang-orang sedang merawat sesuatu yang jauh lebih penting: ingatan, persaudaraan, dan idealisme.

Kelakar itu bukan tanpa arah. Ia adalah cara lain untuk tetap waras di tengah dunia yang semakin bising. Ia adalah bahasa halus untuk menyampaikan nilai, tanpa menggurui. Ia adalah strategi sunyi untuk menjaga iman, tanpa harus terlihat agung.

Dan mungkin, di situlah letak pelajaran terbesarnya: Bahwa menjadi baik tidak harus selalu tampak berat. Bahwa menjaga nilai tidak harus selalu dengan amarah. Dan bahwa terkadang, tawa adalah cara paling jujur untuk tetap menjadi manusia.

Sebab pada akhirnya, yang akan kita bawa pulang dari setiap pertemuan bukanlah siapa yang paling banyak bicara—tetapi siapa yang paling dalam menyentuh jiwa. Dan, Syawalan IKA-SUKA telah melakukan itu, dengan cara yang sangat sederhana: bercanda, tetapi tidak pernah kehilangan makna.

Foto bersama di akhir sesi.

[1] Penyuluh Agama Islam KUA Lenteng, alumni UIN Sunana Kalijaga Yogtakarta

Idul Fitri: Momentum Sembuh atau Kembali Jatuh?

Idul Fitri: Momentum Sembuh atau Kembali Jatuh?

Oleh: Abd Mufid[1]

Malam itu, di sela deru takbir menggema, kita menangis. Diam-diam, di antara sujud yang panjang, kita merangkai janji: akan pulang sebagai manusia baru. Tangan kita terangkat, hati kita luluh, dan untuk sesaat, kita merasa benar-benar “dekat.”

Namun hari ini, di balik baju baru dan senyum yang dipaksakan rapi, ada satu pertanyaan yang tidak berani kita jawab dengan jujur: apakah kita benar-benar pulang—kembali fitri, atau hanya singgah sebentar, lalu kembali tersesat?

Saya pernah menyaksikan sebuah pemandangan sederhana, tapi menghunjam dalam. Seorang kawan, di hari Idul Fitri, tersenyum begitu hangat. Ia bersalaman, memeluk, bermaaf-maafan. Rumahnya ramai. Tawa berpendar di setiap sudut. Namun ketika semua tamu pulang, ia duduk sendiri—Sunyi. Lalu perlahan air matanya berlinang.

Bukan karena haru. Tapi karena sadar: “Ramadhan sudah pergi, tapi aku masih seperti ini.” Namun dari titik itulah kegelisahan itu lahir: apakah Idul Fitri benar-benar menyembuhkan, atau hanya memberi jeda sebelum luka lama kambuh kembali?

Ramadhan Momentum Penyembuhan

Secara normatif, tujuan Ramadhan begitu jelas. Puasa bukan sekadar menahan lapar,
melainkan proses pembentukan diri menuju takwa. Sebuah transformasi yang menuntut keberlanjutan, bukan euforia sesaat.

Namun dalam realitas psikologis manusia, Ramadhan sering kali berhenti sebagai ritual musiman. Ia seperti pelatihan intensif selama 30 hari kita belajar mengendalikan emosi, menata ritme hidup, menjernihkan hati. Tetapi kita lupa satu hal yang paling krusial: melanjutkan apa yang telah kita mulai.

Maka tidak heran, jika selepas Ramadhan hati kembali mengeras, emosi kembali liar, dan relasi kembali retak. Kita tidak jatuh secara tiba-tiba. Kita jatuh perlahan karena membiarkan kebiasaan lama tumbuh kembali, diam-diam, tanpa perlawanan.

Lebaran seharusnya menjadi momentum penyembuhan. Namun mengapa justru: ada yang pulang kampung dengan kecemasan, ada yang bertemu keluarga dengan luka lama yang belum selesai, ada yang saling memaafkan, tapi tidak benar-benar melepaskan?

Ketahanan Pasca Ramadhan

Kalimat “mohon maaf lahir batin” sering kali hanya berhenti di bibir—tanpa pernah benar-benar turun ke hati. Seorang ulama tabi’in Hasan Albashri, pernah mengingatkan: “Bukanlah hari raya bagi mereka yang mengenakan pakaian baru, melainkan bagi mereka yang ketakwaannya bertambah.”

Kalimat ini sederhana, tapi menampar kesadaran kita. Bahwa ukuran kemenangan bukan pada gemerlap hari raya, melainkan pada ketahanan pasca-Ramadhan. Yaitu ketaatan dan ketakwaan. Hal ini Sejalan dengan firman Allah dalam al-Qur’an Surat Al-Hujurat: 13: “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

Di titik ini, kita perlu jujur. Jika hari ini terasa kosong, itu bukan karena Ramadhan gagal. Melainkan karena kita belum mampu menjaga api yang sempat menyala di dalam diri kita.

Puasa Berkelanjutan

Sembuh, dalam perspektif spiritual, bukan berarti kita menjadi sempurna. Sembuh berarti tetap menjaga shalat meski belum khusyuk, tetap menahan lisan meski sering tergelincir, tetap membersihkan hati meski masih terluka. Sembuh adalah proses yang berkelanjutan, bukan perubahan instan yang selesai dalam satu bulan.

Idul Fitri bukan garis akhir. Ia adalah titik awal. Bukan tentang siapa yang paling suci hari ini, melainkan siapa yang paling mampu menjaga dirinya setelah hari ini. Karena yang paling berbahaya bukan dosa yang pernah kita lakukan, melainkan kebiasaan lama yang kita izinkan untuk hidup kembali.

Maka kini, pertanyaannya bukan lagi retoris. Ia menjadi sangat personal: setelah Ramadhan ini, kita benar-benar berubah, atau hanya merasa telah berubah?

Simpan pertanyaan itu baik-baik. Di ruang terdalam hati kita. Biarkan ia menjadi alarm—yang berbunyi setiap kali kita mulai tergelincir lagi. Sebab pada akhirnya, Idul Fitri bukan tentang kembali suci, melainkan tentang satu pilihan sunyi: kita ingin sembuh, atau kembali jatuh?

Catatan Penutup

Ramadhan telah mengajarkan kita cara berjalan pelan, menahan, menjaga, dan menyadari. Namun selepas ia pergi, kehidupan akan kembali berlari. Dan di situlah letak ujian yang sesungguhnya: apakah kita tetap berjalan dengan kesadaran, atau terseret arus kebiasaan?

Maka, jika hari ini langkah kita masih goyah, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kita gagal. Karena menjadi baik itu tidak selalu tentang tidak pernah jatuh, tetapi tentang tidak betah berada dalam kejatuhan. Dan menjadi pulih bukan tentang hilangnya luka, melainkan tentang kesediaan untuk terus merawatnya agar tidak kembali berdarah.

Idul Fitri ini, tidak perlu menjadi manusia yang sempurna. Cukuplah menjadi manusia yang terus berusaha menjaga arah. Sebab pada akhirnya, jalan menuju Allah bukan milik mereka yang selalu kuat, tetapi milik mereka yang—meski berkali-kali jatuh—tetap memilih untuk kembali. Dan semoga kita diberi kesempatan bertemu di Ramadhan berikutnya.

[1] Pengampu Catatan Mufid ID – Penyuluh Agama Islam KUA Lenteng – Kemenag Sumenep

Campur Tangan Orang Tua: Dukungan atau Tekanan?

Campur Tangan Orang Tua: Dukungan atau Tekanan?

Romansa dan Realita: Membangun Keluarga Tangguh di Zaman Modern

Oleh: Abd Mufid[1]

Malam itu udara di studio Pro-2 RRI Sumenep terasa hangat. Lampu siaran menyala, mikrofon terbuka, dan suara khas radio mengalir pelan di ruang siar. Program Jaga Malam baru saja dimulai. Di balik kaca studio, Om Dian—dengan gaya santainya yang khas—membuka percakapan dengan satu pertanyaan sederhana, tetapi mengandung gema panjang dalam kehidupan keluarga:

“Dalam rumah tangga muda, siapa sebenarnya yang menjadi sutradara keluarga?” Apakah suami dan istri sendiri? Atau orang tua yang merasa masih memiliki hak mengatur kehidupan anaknya?

Pertanyaan itu seketika terasa dekat dengan realitas banyak keluarga di masyarakat kita—terutama di Madura. Karena dalam banyak kisah rumah tangga, konflik tidak selalu lahir dari persoalan ekonomi atau perselingkuhan. Kadang justru bermula dari sesuatu yang tampak sederhana: terlalu banyak tangan yang ikut mengatur rumah tangga yang baru saja dibangun.

Ketika Kasih Sayang Berubah Menjadi Kontrol

Izinkan kita membayangkan satu kisah yang sebenarnya sangat sering terjadi.

Di sebuah rumah sederhana di kampung Madura, pagi yang seharusnya tenang berubah menjadi ruang ketegangan. Seorang menantu berdiri di dapur dengan mata yang mulai memerah. Di ruang tengah, sang mertua berbicara dengan nada tinggi. “Sejak dulu keluarga kami tidak pernah seperti ini. Kamu ini menantu, harus ikut aturan keluarga!” Sang suami hanya terdiam. Ia berada di antara dua cinta yang sama kuatnya: ibunya dan istrinya.

Hari demi hari komentar kecil terus berdatangan. Tentang cara memasak. Tentang cara mengurus anak. Tentang bagaimana mengatur uang. Awalnya hanya nasihat. Lama-lama berubah menjadi kontrol. Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang perlahan berubah menjadi arena pertarungan perasaan. Dan kisah seperti ini bukan sekadar cerita. Ia nyata—hidup di banyak rumah tangga di sekitar kita. Pertanyaannya kemudian menjadi penting: Apakah campur tangan orang tua adalah bentuk kasih sayang, atau tekanan yang tidak disadari?

Romansa Budaya Madura: Hormat yang Mengakar

Untuk memahami fenomena ini, kita tidak bisa melepaskannya dari akar budaya masyarakat Madura. Ada satu falsafah yang sangat kuat dalam kehidupan sosial Madura: “Buppa’, Babbu’, Guru, Rato.” Ayah, ibu, guru, dan pemimpin.

Falsafah ini menempatkan orang tua pada posisi moral yang sangat tinggi. Dalam tradisi ini, menghormati orang tua bukan sekadar etika sosial, tetapi identitas budaya. Sehingga tidak mengherankan jika dalam banyak keluarga, orang tua merasa memiliki tanggung jawab moral untuk tetap ikut mengarahkan kehidupan anaknya—bahkan setelah anak itu menikah. Namun, di titik inilah romansa keluarga sering bertemu dengan realita. Ketika kasih sayang berubah menjadi dominasi, dan nasihat berubah menjadi keputusan sepihak.

Perspektif Usul Fiqh: Antara Bakti dan Kemandirian

Dalam khazanah hukum Islam, persoalan ini sebenarnya telah dibahas secara halus melalui berbagai prinsip usul fiqh. Pertama, Islam menempatkan “birrul walidain” (berbakti kepada orang tua) sebagai kewajiban besar. Al-Qur’an menegaskan:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا ۝٢٣

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra: 23)

Namun Islam juga mengajarkan prinsip keseimbangan. Setelah pernikahan terjadi, terbentuklah unit keluarga baru yang memiliki kemandirian sendiri. Dalam fikih keluarga, rumah tangga adalah wilayah privat suami–istri. Orang tua boleh menasihati, tetapi tidak mendominasi keputusan rumah tangga.

Beberapa kaidah usul fiqh bahkan memberi panduan yang sangat relevan.

  1. “La Dharar wa La Dhirar.”—Tidak boleh ada bahaya atau saling membahayakan.

Artinya, jika campur tangan orang tua justru menimbulkan kerusakan dalam rumah tangga, maka intervensi tersebut harus dibatasi.

  1. “Dar’ul Mafasid Muqaddam ‘ala Jalbil Mashalih.” —Menghindari kerusakan lebih diutamakan daripada mengambil kemaslahatan.

Niat orang tua mungkin ingin membantu. Tetapi jika bantuan itu memicu konflik, maka kerusakan tersebut harus dicegah.

  1. “Al-‘Adah Muhakkamah.”—Adat dapat menjadi pertimbangan hukum. Budaya keluarga besar memang dihormati dalam Islam. Namun adat tidak boleh berubah menjadi dominasi yang merusak tujuan utama pernikahan.

Perspektif Hukum Negara: Rumah Tangga adalah Otoritas Pasangan

Dalam perspektif hukum Indonesia, Undang-Undang Perkawinan menegaskan bahwa tujuan pernikahan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Hubungan hukum utama dalam keluarga berada pada suami dan istri, bukan pada keluarga besar. Artinya, secara hukum pun keputusan rumah tangga berada pada pasangan yang menjalani pernikahan tersebut.

Psikologi Keluarga: Pentingnya Batas yang Sehat

Para ahli keluarga modern menyebut satu konsep penting: healthy boundaries—batas hubungan yang sehat. Keluarga baru membutuhkan tiga hal: 1. Otonomi, 2. Kepercayaan, 3. Ruang tumbuh. Tanpa ketig hal tersebut, pasangan muda akan sulit belajar mandiri. Konflik kecil mudah membesar. Hubungan menantu dan mertua pun sering memburuk.

Di era digital seperti sekarang ini, konflik keluarga bahkan tidak jarang berpindah ke ruang publik: menjadi cerita media sosial, status sindiran, atau drama keluarga yang viral. Padahal rumah tangga seharusnya menjadi ruang paling aman untuk pulang. Tak ayal, ruang benteng keluarga kian rapuh. Sebab, marka garis antar ruang keluarga, ruang public dan ruang digital kian menjadi kabur.

Belajar Bijak: Untuk Orang Tua dan Pasangan Muda

Bagi orang tua, cinta kepada anak tidak pernah salah. Namun cinta juga membutuhkan kebijaksanaan. Anak yang menikah tidak sedang menjauh dari orang tuanya. Ia hanya sedang belajar membangun rumahnya sendiri. Peran orang tua berubah dari pengarah menjadi penasehat. Dari pengambil keputusan menjadi pemberi doa.

Sementara bagi pasangan muda, kemandirian tidak boleh berubah menjadi kesombongan. Berbakti kepada orang tua tetaplah kewajiban moral dan spiritual. Kuncinya, bukan perlawanan, tetapi komunikasi yang santun dan tegas.

Catatan dari Sebuah Malam di Radio

Percakapan malam itu di studio RRI Sumenep terasa lebih dari sekadar dialog radio. Ia seperti cermin kecil dari realitas sosial kita. Romansa keluarga sering terlihat indah di awal: pernikahan, doa orang tua, restu keluarga besar. Namun realita kehidupan rumah tangga menuntut sesuatu yang lebih sulit: keseimbangan antara cinta dan batas. Karena kadang rumah tangga tidak runtuh karena kurang cinta. Ia runtuh karena terlalu banyak suara yang ingin mengatur arah perjalanan.

Catatan Mufid ID

Pada akhirnya kita belajar satu hal sederhana namun dalam: Orang tua adalah akar yang memberi kehidupan. Tetapi setiap keluarga baru juga membutuhkan ruang untuk tumbuh menjadi pohonnya sendiri.

Keluarga yang tangguh bukanlah keluarga tanpa perbedaan. Ia adalah keluarga yang tahu kapan harus memberi nasihat, dan kapan harus memberi ruang. Sebab rumah tangga yang sehat tidak hanya lahir dari cinta suami dan istri. Melainkan, ia juga lahir dari kebijaksanaan orang tua—yang tahu kapan harus menggenggam, dan kapan harus melepaskan dengan penuh doa.

KUA Lenteng, 17 Maret 2026

Catatan Mufid ID

[1] Penyuluh Agama Islam KUA Kec. Lenteng—Kemenag Sumenep, dan Koordinator Pengembangan SDM LKK-NU Sumenep.

Ketika Allah Memanggilnya Tanpa “Tapi”

Ketika Allah Memanggilnya Tanpa “Tapi”

Catatan duka atas berpulangnya Dr. Taufikurrahman, S.Ag., M.Ag.

Oleh: Abd Mufid[1]

Ada kalanya sebuah kabar datang tidak seperti biasanya. Ia tidak mengetuk pintu, tidak memberi tanda. Ia hanya tiba, diam-diam—lalu menyesakkan dada.

Sabtu itu, 14 Maret 2026, kabar itu datang: Dr. Taufikurrahman, S.Ag., M.Ag., salah satu penyuluh agama Islam senior di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, telah berpulang. Dan seperti kebanyakan kabar duka, ia datang bersama keheningan panjang. Sejenak dunia terasa berhenti.

Bagi banyak orang, beliau bukan sekadar penyuluh agama. Ia adalah guru, mentor, sekaligus sahabat bagi para penyuluh yang lebih muda. Sosok yang tenang, tidak banyak bicara, tetapi setiap kalimatnya terasa menenangkan. Tidak pernah terlihat tergesa-gesa, tidak pula ingin menonjolkan diri. Namun di balik ketenangannya, tersimpan dedikasi yang begitu dalam pada tugas kepenyuluhan.

Di ruang-ruang diskusi para penyuluh, ketika gagasan terasa buntu dan langkah terasa bimbang, beliau sering menjadi tempat bertanya. Bukan karena jabatan formalnya sebagai pembina dalam kepengurusan IPARI Sumenep semata, tetapi karena kewibawaan yang lahir dari ketulusan. Beliau memiliki sesuatu yang tidak bisa dipelajari dari buku: keteduhan.

Sebuah Hadir yang Mungkin Adalah Salam Perpisahan

Ada satu peristiwa kecil yang kini terasa begitu besar maknanya. Tanggal 11 Februari 2026, IPARI Sumenep menggelar launching program unggulan. Saat itu kondisi fisik beliau sudah sangat lemah. Penyakit yang dideritanya membuat tubuhnya ringkih, bahkan sebagian waktu harus dihabiskan dengan beristirahat di rumah.

Namun di luar dugaan, beliau tetap datang. Bahkan sebelum berangkat, beliau sempat menelpon salah satu sahabatnya, meminta dijemput. Ia ingin hadir—meskipun mungkin tidak lama. Alasannya sederhana, tetapi terasa sangat dalam: “Saya mau hadir launching karena saya bangga dengan semangat teman-teman.”

Kalimat itu kini terasa seperti pesan yang tertinggal. Di sela-sela acara, beliau meminta difoto dari berbagai sudut. “Biar ada dokumentasi kalau saya turut hadir,” katanya sambil tersenyum. Foto-foto itu kemudian dibagikan ke berbagai grup WhatsApp dan media sosialnya. Saat itu mungkin tidak ada yang mengira bahwa dokumentasi sederhana itu kelak akan menjadi kenangan terakhir.

Bagi sebagian orang, momen itu mungkin biasa saja. Tetapi bagi kami yang kini mengenangnya, peristiwa itu seperti salam perpisahan yang disampaikan dengan cara paling lembut.

Suasana di mana Dr. Taufikurrahman turut menghadiri kegiatan Launching Program Unggulan IPARI, dan foto tersebut diambil berdasarkan permintaan almarhum.

Firasa yang Datang Terlambat

Saya masih ingat ketika beliau tiba di lokasi acara. Refleks saya mendekat, lalu mencium tangan beliau. Bukan sekadar hormat. Ada sesuatu yang bergetar di dalam batin. Entah mengapa saat itu saya berpikir: tidak mudah bagi beliau hadir dengan kondisi tubuh seperti itu. Barangkali karena rindu pada IPARI. Barangkali karena bangga melihat semangat para penyuluh. Atau mungkin… karena ingin memberikan dukungan terakhir.

Kini, setelah kabar wafatnya sampai di telinga kami, perasaan itu seperti menemukan jawabannya. Mungkin benar. Mungkin beliau sedang berpamitan. Di grup WhatsApp penyuluh, berbagai pesan muncul silih berganti. Ada yang menulis dengan air mata, ada yang sekadar mengirim doa.

“Senyumnya melekat dalam ingatan.”

“Sepertinya beliau sudah merasa akan meninggalkan kita.”

Satu kalimat bahkan terasa sangat menohok: “Setelah kepergian beliau, masih adakah yang akan bangga pada usaha teman-teman penyuluh?” Pertanyaan itu menggantung di udara.

Ketika Allah Memanggil Tanpa “Tapi”

Kepergian seseorang sering meninggalkan satu kata yang sama di hati orang-orang yang ditinggalkan: “Tapi.”

Tapi beliau masih relatif muda.
Tapi kami masih sangat membutuhkan beliau.
Tapi IPARI masih memerlukan bimbingannya.
Tapi kami belum siap kehilangan sosok sebaik itu.

Namun kematian tidak pernah bernegosiasi dengan kata “tapi”. Al-Qur’an telah mengingatkan:

“Setiap umat mempunyai ajal. Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak pula meminta percepatan.” Tidak ada yang dapat menunda atau mempercepatnya. Tidak ada ruang untuk tawar-menawar.

Kematian adalah kepastian paling sunyi dalam kehidupan manusia. Manusia boleh memiliki rencana, harapan, bahkan impian panjang. Tetapi ketika Allah memanggil, semua kalimat panjang itu berhenti pada satu titik yang sama. Titik yang bernama ajal.

Foto terakhir kebersamaan almarhum bersama rekan-rekan penyuluh agama pada kegiatan resmi IPARI Sumenep (Ket: Almarhum posisi paling tengah, mengenakan kacamata)

Jalan Menuju Keabadian

Bagi sebagian orang, kematian tampak seperti akhir. Namun dalam pandangan iman, kematian justru adalah pintu. Pintu menuju kehidupan yang lebih panjang dari segala yang pernah kita bayangkan.

Para sufi sejak lama mengingatkan bahwa dunia hanyalah persinggahan. Jalaluddin Rumi pernah menulis bahwa kematian bukanlah kehancuran, melainkan perpindahan dari satu ruang kehidupan menuju ruang yang lain. Barangkali begitulah cara Allah memuliakan hamba-hamba-Nya. Mereka dipanggil pulang setelah menyelesaikan bagiannya di dunia.

Bagi orang-orang seperti almarhum, warisan terbesar bukanlah jabatan, bukan pula kekayaan. Warisan terbesar adalah teladan: ketulusan, kesederhanaan, dan kesetiaan pada jalan pengabdian. Warisan yang tidak tertulis di buku, tetapi hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya.

Pesan Keabadian

Akhirnya kita sampai pada satu kesadaran yang sering kali baru terasa ketika seseorang benar-benar pergi: bahwa hidup ini sebenarnya bukan tentang berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi apa yang kita tinggalkan ketika kita pergi.

Sebagian orang hidup lama, tetapi jejaknya hampir tak terasa.
Sebagian yang lain mungkin tidak sepanjang itu usianya, tetapi kehadirannya meninggalkan gema yang panjang di hati banyak orang. Barangkali itulah yang sedang kita rasakan hari ini.

Kepergian Dr. Taufikurrahman bukan sekadar kehilangan seorang penyuluh agama, melainkan kehilangan satu mata air keteladanan—tentang bagaimana ilmu dijaga dengan rendah hati, bagaimana pengabdian dijalani tanpa riuh, dan bagaimana seseorang tetap hadir untuk orang lain bahkan ketika tubuhnya sendiri sedang rapuh oleh sakit.

Kita mungkin kehilangan sosoknya. Namun kita tidak kehilangan nilai yang ia hidupkan. Sebab sejatinya manusia tidak benar-benar mati ketika jasadnya dikuburkan. Ia baru benar-benar “hilang” ketika ilmu, amal, dan teladan yang ia tinggalkan tidak lagi dilanjutkan oleh generasi setelahnya.

Di titik inilah kematian berubah menjadi pesan. Pesan bagi kita semua—yang masih diberi waktu oleh Allah—bahwa hidup ini terlalu singkat untuk sekadar berlalu tanpa makna. Bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk menanam sesuatu yang kelak akan tetap hidup meskipun kita sudah tiada. Maka, jika suatu hari nanti Allah juga memanggil kita tanpa “tapi”, semoga yang tertinggal bukan hanya nama di batu nisan, melainkan kenangan baik di hati manusia dan amal yang terus mengalir di sisi-Nya.

Dan untuk almarhum Dr. Taufikurrahman, kami percaya satu hal: orang-orang baik tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya pulang lebih dulu. Sementara nilai-nilai yang mereka tanamkan akan terus hidup di langkah kami, di perjuangan kami, dan di jalan pengabdian yang akan kami lanjutkan.

Selamat jalan, guru.
Jejakmu akan tetap kami jaga.

Al-Fatihah.

Sumenep, 14 Maret 2026 M / 24 Ramadhan 1447 H

Catatan Mufid ID

[1] Penyuluh Agama Islam KUA Lenteng, sahabat almarhum.

Keswa: Menyembuhkan Batin yang Terluka

Keswa: Menyembuhkan Batin yang Terluka

Abd Mufid[1]

Pagi itu, udara di Terminal Arya Wiraraja masih menyimpan sisa embun. Deru mesin bus yang datang dan pergi bercampur dengan suara pedagang asongan yang menawarkan dagangannya. Orang-orang berlalu lalang, sebagian tergesa, sebagian menunggu. Terminal selalu menjadi tempat pertemuan banyak kisah: ada yang pulang dengan rindu, ada yang berangkat membawa harapan, dan ada pula yang menyimpan luka yang tak pernah benar-benar terlihat.

Di tengah hiruk pikuk itu, Kamis pagi, 12 Maret 2026, ada pemandangan yang berbeda. Beberapa meja layanan berdiri rapi di salah satu sudut terminal. Spanduk bertuliskan skrining kesehatan jiwa terpasang. Orang-orang mulai mendekat, sebagian penasaran, sebagian lagi mungkin diam-diam membutuhkan.

Hari itu, Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep menggelar kegiatan skrining kesehatan jiwa (Keswa) di area Terminal Arya Wiraraja. Kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial kesehatan. Ia adalah upaya kecil untuk menjangkau sesuatu yang sering kali luput dari perhatian: batin manusia yang terluka.

Program ini tidak berjalan sendiri. Ia lahir dari kerja bersama. Kementerian Perhubungan, BNN, gerakan GERMAS, Komunitas Peduli ODGJ Sumenep (KOPDAS), hingga Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Sumenep turut terlibat dalam ikhtiar yang sederhana namun sarat makna ini. Sebab kesehatan jiwa tidak pernah bisa diselesaikan oleh satu sektor saja.

Luka yang Tidak Selalu Terlihat

Kita sering kali mudah mengenali orang yang sakit fisik. Demam, batuk, atau luka di tubuh bisa langsung terlihat. Tetapi luka batin berbeda. Ia sering tersembunyi di balik senyuman, di balik obrolan biasa, bahkan di balik rutinitas sehari-hari.

Di ruang publik seperti terminal, kita bisa bertemu siapa saja: sopir yang bekerja hampir tanpa jeda, perantau yang menanggung beban ekonomi keluarga, ibu yang cemas memikirkan anaknya, atau seseorang yang diam-diam sedang berjuang melawan kecemasan dan tekanan hidup.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pernah menyebut bahwa satu dari delapan orang di dunia hidup dengan gangguan kesehatan mental. Di Indonesia sendiri, Riskesdas 2018 mencatat bahwa jutaan masyarakat mengalami gangguan mental emosional seperti kecemasan dan depresi.

Angka itu tidak selalu tampak di permukaan. Namun ia nyata. Karena itu, kegiatan skrining kesehatan jiwa seperti yang digelar di Terminal Arya Wiraraja sesungguhnya adalah langkah penting: membuka ruang agar orang berani mengakui bahwa batinnya sedang tidak baik-baik saja.

Ketika Negara Hadir Menyapa Jiwa

Yang menarik dari kegiatan ini bukan hanya layanan kesehatannya. Tetapi juga cara negara hadir di tengah masyarakat. Di tempat yang biasanya identik dengan keberangkatan dan kedatangan, hari itu terminal berubah menjadi ruang dialog tentang kesehatan jiwa. Petugas kesehatan memberikan skrining, relawan komunitas memberikan pendampingan, dan para penyuluh agama mencoba menyentuh sisi spiritual yang sering menjadi sandaran terakhir seseorang ketika hidup terasa berat.

Ini penting. Sebab kesehatan jiwa bukan hanya persoalan medis. Ia juga terkait dengan lingkungan sosial, ketahanan keluarga, spiritualitas, hingga rasa diterima dalam masyarakat. Keterlibatan berbagai pihak—mulai dari tenaga kesehatan, komunitas sosial, hingga penyuluh agama—menunjukkan satu hal sederhana namun mendasar: menyembuhkan jiwa membutuhkan pendekatan yang utuh.

Menghapus Stigma, Menumbuhkan Kepedulian

Masalah kesehatan mental di Indonesia sering kali terhambat oleh satu persoalan lama: stigma.

Masih banyak orang yang menganggap gangguan jiwa sebagai aib. Tidak sedikit keluarga yang memilih menyembunyikan anggota keluarganya yang mengalami masalah mental. Bahkan dalam beberapa kasus ekstrem, praktik pemasungan masih ditemukan. Padahal gangguan kesehatan jiwa sama seperti penyakit lain: ia bisa dikenali, bisa ditangani, dan sering kali bisa dipulihkan.

Di sinilah kegiatan seperti skrining kesehatan jiwa menjadi penting. Ia bukan hanya tentang pemeriksaan. Ia juga tentang edukasi publik—bahwa kesehatan mental adalah bagian dari kesehatan manusia secara utuh.

Menyembuhkan, Bukan Menghakimi

Di tengah kehidupan yang semakin cepat, tekanan hidup sering kali datang tanpa jeda. Persoalan ekonomi, konflik keluarga, tekanan pekerjaan, hingga kesepian di tengah keramaian bisa menjadi beban yang perlahan menggerus ketahanan batin seseorang. Kadang orang tidak membutuhkan nasihat panjang. Mereka hanya butuh didengar tanpa dihakimi.

Program Keswa yang hadir di ruang publik seperti terminal mengirimkan pesan sederhana namun kuat: bahwa negara dan masyarakat tidak boleh membiarkan seseorang berjuang sendirian melawan luka batinnya.

Catatan Kecil dari Terminal

Terminal adalah tempat orang datang dan pergi. Namun hari itu, di Terminal Arya Wiraraja, ada sesuatu yang lebih dari sekadar perjalanan. Ada orang-orang yang berusaha saling menjaga. Ada tenaga kesehatan yang mencoba memahami kegelisahan orang lain. Ada relawan yang memilih peduli pada mereka yang sering dilupakan. Ada penyuluh agama yang mengingatkan bahwa manusia tidak hanya butuh makan dan bekerja, tetapi juga ketenangan jiwa, kekukuhan spiritualitas.

Mungkin kegiatan ini terlihat sederhana. Tetapi dari langkah kecil seperti inilah perubahan sering kali dimulai. Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan jalan untuk bepergian. Manusia juga membutuhkan jalan untuk pulang pada ketenangan dirinya sendiri. Dan kesehatan jiwa adalah salah satu jalannya.


Catatan Mufid ID
Mencatat Peristiwa, Menyuarakan Makna

[1] Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep

Ramadhan Tiba: Menyucikan Hati, Menata Ulang Diri

Ramadhan Tiba: Menyucikan Hati, Menata Ulang Diri

Oleh: ABD MUFID, S.Th.I., M.Pd[1]

Ramadhan telah hadir lagi di tengah kesibukan sehari-hari kita. Seperti sebelumnya, kita menyambut bulan suci ini dengan beragam hidangan sahur yang menggoda selera, jadwal imsak di genggaman, tujuan khatam Al-Qur’an yang tinggi, serta riuhnya ucapan “Marhaban Ya Ramadhan”.

Ramadhan sebagai Cermin Kejujuran

Ramadhan sebenarnya lebih dari sekadar tamu tahunan yang datang dan pergi; ia berfungsi sebagai cermin yang menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Dalam QS. Al-Baqarah: 183, Allah SWT menjelaskan bahwa tujuan utama dari kewajiban puasa adalah untuk mencapai ketakwaan.

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ۙ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Takwa yang sejati adalah kesadaran akan kehadiran Allah, terutama ketika kita berada sendirian, di tempat-tempat yang tidak terlihat oleh orang lain atau kamera pengawas. Puasa merupakan bentuk latihan kejujuran yang paling hening. Aktivitas ini berjalan tidak hanya bekerja di atas sajadah, melainkan di pasar melalui timbangan pedagang, di kantor melalui integritas pekerjaan, dan di setiap transaksi sosial yang kita lakukan. Jika puasa tidak membuat kita lebih jujur, maka pada akhirnya yang lapar hanyalah tubuh kita, bukan ego kita. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

 “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Tiga Tingkatan Menuju Transformasi Hati

Untuk menata ulang diri, kita perlu memahami tingkatan puasa sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali. Beliau membagi puasa ke dalam tiga tahap:

  • Puasanya Orang Awam: Hanya sebatas menahan haus dan lapar.
  • Puasanya Orang Khusus: Mampu menjaga lisan dan anggota tubuh dari perbuatan dosa.
  • Puasanya Orang Paling Khusus: Inilah puncak transformasi, yaitu puasanya hati dari segala sesuatu selain Allah.

Puasa hati merujuk pada proses membersihkan diri dari penyakit batin seperti rasa iri, kesombongan, dan dengki. Jalaluddin Rumi menekankan bahwa puasa sebenarnya bukan sekadar menahan rasa lapar, melainkan lebih kepada memberikan nutrisi bagi jiwa.

Menjadikan Ramadhan sebagai Karakter Tetap

Setiap jenis perubahan sosial harus diawali dengan transformasi dalam diri kita. Allah SWT menekankan hal ini dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11, bahwa Dia tidak akan mengubah keadaan suatu masyarakat sebelum mereka mengubah apa yang ada dalam hati dan pikiran mereka.

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ ۝١١

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Apabila Ramadhan hanya berhenti pada ritual formalitas, maka ia akan berlalu tanpa makna. Namun, jika nilai-nilai Ramadhan berhasil meresap ke dalam akhlak, ia akan menetap lebih lama dari sekadar satu bulan; ia akan menjadi karakter permanen dalam diri kita.

Ramadhan yang autentik tercermin melalui sikap lembut terhadap pasangan, kesabaran dalam membimbing anak, serta kemampuan untuk memaafkan meskipun tidak ada permintaan maaf. Pada akhirnya, pertanyaan penting yang perlu kita jawab bukanlah seberapa banyak kita mengkhatamkan bacaan, melainkan berapa banyak hati yang berhasil kita sembuhkan dan berapa banyak khilaf yang mampu kita relakan.

Mari kita jadikan Ramadhan kali ini sebagai momentum untuk menyucikan hati dan menata ulang diri. Jangan biarkan ia hanya sekadar “numpang lewat”, namun pastikan ia meninggalkan bekas yang mendalam sebagai karakter baru dalam kehidupan kita hari ini dan nanti.

Pada akhirnya, setiap peristiwa selalu menyisakan pelajaran bagi mereka yang mau membaca kehidupan dengan hati yang jernih. Tulisan ini hanyalah ikhtiar kecil untuk merekam denyut zaman dan memetik hikmah dari setiap kejadian.


ABD MUFID
Catatan Mufid ID
Mencatat Fenomena, Menyuarakan Makna.

[1] Penyuluh Agama Islam KUA Lenteng, Kemenag Sumenep

Copyright © 2026 Catatan Mufid