PUASA: REM SPIRITUAL DI TENGAH DUNIA YANG NGEBUT

PUASA: REM SPIRITUAL DI TENGAH DUNIA YANG NGEBUT

Catatan Reflektif atas Peringatan Nuzulul Qur’an Kemenag Sumenep 1447 H

Oleh: Abd Mufid, S.Th.I., M.Pd

Ada satu pertanyaan sederhana yang kadang membuat kita diam sejenak:
mengapa manusia modern begitu pandai berlari, tetapi semakin sulit berhenti?

Di tengah dunia yang serba cepat—target kerja, notifikasi ponsel, ambisi sosial, dan tuntutan hidup—manusia seperti sedang mengendarai kendaraan dengan satu pedal saja: gas. Semua ingin dipercepat. Semua ingin dikejar. Namun jarang ada yang bertanya: apakah kita masih punya rem?

Pertanyaan itu terasa relevan ketika Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumenep menggelar peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Ar-Rasyidi MAN Sumenep, Kamis (5/3/2026). Kegiatan yang melibatkan seluruh ASN Kemenag ini dikemas dengan khatmil Qur’an, santunan anak yatim, serta pengajian umum menghadirkan ulama muda Dr. KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits—yang akrab disapa Ra Mamak.

Tema yang diangkat cukup dalam: “Al-Qur’an Amanah Ekologis dan Jalan Perdamaian Dunia.” Sebuah tema yang mengingatkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang ibadah personal, tetapi juga tentang tanggung jawab manusia terhadap kehidupan dan peradaban.

Namun di balik tema besar itu, tersimpan satu pesan sederhana yang justru terasa sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini: puasa adalah latihan menahan diri.

Keberuntungan Menjadi Pelayan Umat

Dalam sambutannya, Kepala Kemenag Sumenep KH. Abdul Wasid menegaskan bahwa menjadi ASN di lingkungan Kementerian Agama bukan sekadar pekerjaan administratif. Ia adalah takdir sekaligus keberuntungan untuk menjadi wasilah pelayanan umat.

Pernyataan ini sebenarnya mengandung pesan moral yang cukup tajam. Menjadi aparatur negara sering kali dipahami sebatas status pekerjaan: gaji, jabatan, dan rutinitas birokrasi. Padahal, dalam perspektif keagamaan, jabatan publik adalah amanah. Ia bukan sekadar profesi, tetapi ruang pengabdian.

Dalam bahasa sederhana: “di balik meja pelayanan itu, ada doa masyarakat yang berharap dipermudah.” Karena itu, rasa syukur yang dimaksud KH. Abdul Wasid bukan hanya diucapkan dalam kalimat religius, tetapi diwujudkan dalam kinerja yang baik dan pelayanan yang tulus. Di sinilah agama menemukan relevansinya dalam birokrasi: iman harus terjemah menjadi etika kerja. Dan “PATAS” (Cepat, Tuntas, dan Ikhlas), sebagai slogan Kemenag Sumenep diharapkan tidak hanya berhenti di slogan semata, melain ruh dalam berkinerja.

Puasa: Latihan Mengerem

Jika sambutan kepala kantor berbicara tentang amanah pelayanan, maka ceramah Ra Mamak mengajak hadirin masuk lebih dalam ke dimensi spiritual Ramadhan.

Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an dan Ramadhan memiliki dua fungsi utama: hudan (petunjuk) dan syifa’ (penyembuh). Namun dua fungsi itu tidak otomatis bekerja bagi semua orang. Ia hanya efektif bagi mereka yang memiliki iman. Artinya sederhana tapi menohok: Al-Qur’an tidak akan menyembuhkan hati yang tidak mau membuka diri.

Lebih menarik lagi ketika Ra Mamak mengulas hakikat puasa dalam satu kata kunci klasik dalam fikih: “As-shaum al-imsak”—puasa pada hakikatnya adalah menahan diri.

Menahan makan dan minum hanyalah simbol. Yang sebenarnya dilatih adalah kemampuan manusia mengendalikan dirinya sendiri. Di sinilah puasa menjadi seperti rem dalam kendaraan kehidupan.

Bayangkan sebuah motor dengan mesin kuat, bahan bakar penuh, dan pengendara penuh semangat—tetapi tanpa rem. Bukan kecepatan yang menyelamatkan pengendara itu, justru rem yang menentukan keselamatannya.

Begitu pula hidup manusia. Kita bangga dengan produktivitas. Bangga dengan kesibukan. Bangga dengan capaian. Namun jarang yang bangga dengan satu kemampuan penting: kemampuan menahan diri.

Dunia yang Terlalu Ngebut

Jika direnungkan, pesan “imsak” sebenarnya sangat relevan dengan kondisi masyarakat hari ini.

Kita hidup dalam budaya yang mengajarkan percepatan: lebih cepat bekerja, lebih cepat merespons, lebih cepat bereaksi. Ironisnya, semakin cepat dunia bergerak, semakin banyak manusia kehilangan kendali diri.

Orang bisa menahan lapar seharian, tetapi sulit menahan komentar di media sosial. Bisa menahan haus, tetapi tidak mampu menahan emosi. Di sinilah Ramadhan menjadi semacam laboratorium pengendalian diri. Ia mengajari manusia satu keterampilan yang mulai langka: berhenti sejenak.

 

Ramadhan sebagai “Charging Station” Jiwa

Ada satu ironi kecil dalam kehidupan modern. Kita sering lebih panik ketika baterai ponsel tinggal 5 persen, daripada ketika kesabaran kita tinggal 5 persen.

Kalau baterai hampir habis, kita segera mencari colokan listrik. Tetapi ketika emosi hampir meledak, jarang yang mencari “colokan sabar”. Padahal Ramadhan sebenarnya adalah charging station jiwa. Di bulan inilah manusia diajak mengisi ulang energi spiritual: menenangkan diri, memperbaiki niat, dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Jika tidak, kita mungkin akan tetap bergerak cepat—tetapi tanpa arah.

Belajar Berhenti Sebelum Terlambat

Peringatan Nuzulul Qur’an bukan sekadar seremonial tahunan. Ia adalah pengingat bahwa wahyu pertama yang turun kepada Nabi bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang kesadaran. Kesadaran membaca kehidupan. Kesadaran memahami diri. Dan kesadaran memaknai setiap peristiwa dan fenomena yang muncul di sekitar kita.

Dan mungkin, salah satu pelajaran paling sederhana dari Ramadhan adalah ini: hidup tidak hanya membutuhkan kemampuan ngegas, tetapi juga kemampuan mengerem. Karena yang sering menghancurkan manusia bukan kurangnya kecepatan, melainkan hilangnya kendali.

Maka Ramadhan datang setiap tahun bukan untuk melemahkan kita, tetapi untuk mengingatkan bahwa manusia yang paling kuat bukanlah yang paling cepat berlari—melainkan yang paling mampu menahan dirinya sendiri. Sebagaimana diriwayatkan Abi Hurairah, Nabi bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:
«لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ».  
صحيح] متفق عليه [] صحيح البخاري: 6114

Artinya: “orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, melainkan orang yang mampu menahan dirinya Ketika marah”. (HR. Imam Bukhari & Imam Muslim).

Padahal Nabi telah mengingatkan bahwa hati manusia mudah lalai ketika terlalu sibuk dengan urusan dunia. Bukan karena dunia itu salah, tetapi karena manusia sering lupa menempatkan prioritas. Di sinilah puasa, ibadah, dan tradisi spiritual hadir: bukan sekadar ritual, melainkan latihan mengembalikan arah hidup.

Peristiwa bisa datang dan pergi. Namun makna sering kali tertinggal bagi mereka yang bersedia memikirkannya.
Tulisan ini hanyalah cara sederhana untuk menangkap pelajaran dari yang terjadi.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━
ABD MUFID
Catatan Mufid ID
Mencatat Fenomena, Menyuarakan Makna.

Pernahkah kita bertanya jujur pada diri sendiri

Pernahkah kita bertanya jujur pada diri sendiri

CONTOH BOSS.

Salam sejahtera untuk kita semua.
Salam catat, Sahabat CM.

Pernahkah kita bertanya jujur pada diri sendiri: mana yang lebih cepat kita respon—suara azan atau suara notifikasi? Ketika azan memanggil dengan lantunan “Hayya ‘alash shalah…”, dan di saat yang sama ponsel kita berbunyi ting, mana yang lebih dulu kita lihat? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi diam-diam menyimpan cermin yang jujur tentang prioritas hidup kita.

Kita memang tidak pernah sujud pada gadget. Tidak ada orang yang meletakkan ponselnya di sajadah lalu menyembahnya. Namun ada satu kenyataan kecil yang sering luput kita sadari: setiap kali notifikasi berbunyi, kita hampir selalu patuh. Tangan refleks meraih ponsel, mata segera menatap layar, dan pikiran langsung terseret ke sana. Tanpa sadar, perhatian kita berpindah. Seolah ada sesuatu yang lebih mendesak daripada apa pun yang sedang kita lakukan.

Seorang teman pernah bercerita tentang semangat Ramadan yang menggebu. Ia bangun sahur dengan niat besar: tahun ini harus khatam Al-Qur’an dua kali. Setelah sahur selesai, ia mengambil ponsel dengan niat membuka aplikasi Al-Qur’an. Namun sebelum satu ayat pun terbaca, muncul notifikasi: flash sale sahur. Belum selesai membaca, muncul lagi pesan dari grup keluarga. Lalu grup alumni. Lalu grup lain yang entah sejak kapan ia masuk dan tidak pernah sempat keluar. Tiga puluh menit berlalu begitu saja. Yang terbaca bukan Al-Qur’an, melainkan timeline. Ramadan masih panjang, tetapi fokusnya sudah habis lebih dulu.

Kisah itu terdengar lucu, tetapi juga terasa sangat dekat. Banyak dari kita mungkin pernah mengalaminya. Niat besar sering kalah oleh distraksi kecil. Bukan karena kita tidak ingin berbuat baik, tetapi karena perhatian kita mudah sekali dicuri oleh hal-hal yang tampak sepele.

Padahal puasa sejatinya bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Puasa ditujukan agar manusia mencapai takwa. Dan takwa pada hakikatnya adalah kemampuan mengendalikan diri. Kita menahan yang halal di siang hari—makan, minum, dan berbagai kenikmatan lainnya—agar kita belajar menahan diri dari hal yang lebih berat di luar Ramadan.

Ironisnya, banyak dari kita mampu menahan makan hingga empat belas jam, tetapi kesulitan menahan jari untuk tidak menggulir layar selama empat belas menit. Notifikasi yang kecil itu sering kali memiliki daya tarik yang jauh lebih kuat daripada yang kita bayangkan. Ia hanya bunyi pendek atau getaran singkat, tetapi seperti panggilan yang mendesak: lihat aku sekarang. Dan sering kali kita benar-benar menurutinya.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Ash-shaum junnah,” puasa itu perisai. Perisai dari hawa nafsu, dari kelalaian, dari segala sesuatu yang dapat menguasai hati manusia. Di masa lalu, orang berbicara tentang berhala yang terbuat dari batu. Hari ini, berhala itu tidak lagi selalu berbentuk benda yang disembah. Ia bisa berupa sesuatu yang menguasai perhatian kita secara terus-menerus.

Distraksi digital adalah salah satunya. Kita tidak bersujud kepadanya, tetapi kita sering menyerahkan perhatian kita sepenuhnya. Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa sesuatu yang paling sering menguasai hati manusia, di situlah letak ketergantungannya. Maka pertanyaan yang patut kita renungkan bukan sekadar seberapa sering kita membuka ponsel, tetapi seberapa mudah perhatian kita ditarik olehnya.

Namun tulisan ini bukan ajakan untuk memusuhi teknologi. Ramadan tidak pernah memerintahkan kita membuang ponsel atau menjauh dari kemajuan zaman. Teknologi tetaplah alat yang bisa membawa manfaat besar. Yang perlu ditata adalah urutan prioritas kita. Gunakan gadget, tetapi jangan sampai kita yang digunakan oleh gadget.

Kadang perubahan kecil sudah cukup berarti. Membuka aplikasi Al-Qur’an sebelum membuka media sosial. Mematikan notifikasi saat tarawih. Menentukan waktu khusus untuk online, bukan hidup terus-menerus dalam mode online. Hal-hal sederhana ini bisa menjadi latihan kecil untuk mengembalikan kendali pada diri kita.

Karena pada akhirnya yang kita sembah bukan algoritma. Yang kita tuju bukan trending topic. Yang kita cari bukan sekadar validasi dari layar kecil di tangan kita. Yang kita cari adalah rida Ilahi—ketenangan yang datang ketika hati merasa dekat dengan Tuhan.

Maka sebelum Ramadan ini berlalu, ada satu pertanyaan yang mungkin layak kita simpan dalam hati. Ketika notifikasi berbunyi dan azan memanggil pada waktu yang sama, siapa yang lebih dulu kita jawab? Dari respons pertama itulah sering kali terlihat siapa yang sebenarnya sedang kita utamakan.

Semoga Ramadan mengajarkan kita bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menata ulang perhatian. Dari notifikasi menuju kontemplasi. Dari scroll tanpa henti menuju sujud yang lebih berarti. Karena hidup ini bukan tentang siapa yang paling cepat membalas pesan, melainkan siapa yang paling cepat memenuhi panggilan Tuhan.

Saya ABD Mufid.
Di CatatanMufid.id, kita belajar bukan hanya mencatat kehidupan, tetapi juga memaknai.

Wallahu a’lam.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menata ulang prioritas hidup.

Kisah itu terdengar lucu, tetapi juga terasa sangat dekat

Kisah itu terdengar lucu, tetapi juga terasa sangat dekat

SAMPEL

Salam sejahtera untuk kita semua.
Salam catat, Sahabat CM.

Pernahkah kita bertanya jujur pada diri sendiri: mana yang lebih cepat kita respon—suara azan atau suara notifikasi? Ketika azan memanggil dengan lantunan “Hayya ‘alash shalah…”, dan di saat yang sama ponsel kita berbunyi ting, mana yang lebih dulu kita lihat? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi diam-diam menyimpan cermin yang jujur tentang prioritas hidup kita.

Kita memang tidak pernah sujud pada gadget. Tidak ada orang yang meletakkan ponselnya di sajadah lalu menyembahnya. Namun ada satu kenyataan kecil yang sering luput kita sadari: setiap kali notifikasi berbunyi, kita hampir selalu patuh. Tangan refleks meraih ponsel, mata segera menatap layar, dan pikiran langsung terseret ke sana. Tanpa sadar, perhatian kita berpindah. Seolah ada sesuatu yang lebih mendesak daripada apa pun yang sedang kita lakukan.

Seorang teman pernah bercerita tentang semangat Ramadan yang menggebu. Ia bangun sahur dengan niat besar: tahun ini harus khatam Al-Qur’an dua kali. Setelah sahur selesai, ia mengambil ponsel dengan niat membuka aplikasi Al-Qur’an. Namun sebelum satu ayat pun terbaca, muncul notifikasi: flash sale sahur. Belum selesai membaca, muncul lagi pesan dari grup keluarga. Lalu grup alumni. Lalu grup lain yang entah sejak kapan ia masuk dan tidak pernah sempat keluar. Tiga puluh menit berlalu begitu saja. Yang terbaca bukan Al-Qur’an, melainkan timeline. Ramadan masih panjang, tetapi fokusnya sudah habis lebih dulu.

Kisah itu terdengar lucu, tetapi juga terasa sangat dekat. Banyak dari kita mungkin pernah mengalaminya. Niat besar sering kalah oleh distraksi kecil. Bukan karena kita tidak ingin berbuat baik, tetapi karena perhatian kita mudah sekali dicuri oleh hal-hal yang tampak sepele.

Padahal puasa sejatinya bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Puasa ditujukan agar manusia mencapai takwa. Dan takwa pada hakikatnya adalah kemampuan mengendalikan diri. Kita menahan yang halal di siang hari—makan, minum, dan berbagai kenikmatan lainnya—agar kita belajar menahan diri dari hal yang lebih berat di luar Ramadan.

Ironisnya, banyak dari kita mampu menahan makan hingga empat belas jam, tetapi kesulitan menahan jari untuk tidak menggulir layar selama empat belas menit. Notifikasi yang kecil itu sering kali memiliki daya tarik yang jauh lebih kuat daripada yang kita bayangkan. Ia hanya bunyi pendek atau getaran singkat, tetapi seperti panggilan yang mendesak: lihat aku sekarang. Dan sering kali kita benar-benar menurutinya.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Ash-shaum junnah,” puasa itu perisai. Perisai dari hawa nafsu, dari kelalaian, dari segala sesuatu yang dapat menguasai hati manusia. Di masa lalu, orang berbicara tentang berhala yang terbuat dari batu. Hari ini, berhala itu tidak lagi selalu berbentuk benda yang disembah. Ia bisa berupa sesuatu yang menguasai perhatian kita secara terus-menerus.

Distraksi digital adalah salah satunya. Kita tidak bersujud kepadanya, tetapi kita sering menyerahkan perhatian kita sepenuhnya. Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa sesuatu yang paling sering menguasai hati manusia, di situlah letak ketergantungannya. Maka pertanyaan yang patut kita renungkan bukan sekadar seberapa sering kita membuka ponsel, tetapi seberapa mudah perhatian kita ditarik olehnya.

Namun tulisan ini bukan ajakan untuk memusuhi teknologi. Ramadan tidak pernah memerintahkan kita membuang ponsel atau menjauh dari kemajuan zaman. Teknologi tetaplah alat yang bisa membawa manfaat besar. Yang perlu ditata adalah urutan prioritas kita. Gunakan gadget, tetapi jangan sampai kita yang digunakan oleh gadget.

Kadang perubahan kecil sudah cukup berarti. Membuka aplikasi Al-Qur’an sebelum membuka media sosial. Mematikan notifikasi saat tarawih. Menentukan waktu khusus untuk online, bukan hidup terus-menerus dalam mode online. Hal-hal sederhana ini bisa menjadi latihan kecil untuk mengembalikan kendali pada diri kita.

Karena pada akhirnya yang kita sembah bukan algoritma. Yang kita tuju bukan trending topic. Yang kita cari bukan sekadar validasi dari layar kecil di tangan kita. Yang kita cari adalah rida Ilahi—ketenangan yang datang ketika hati merasa dekat dengan Tuhan.

Maka sebelum Ramadan ini berlalu, ada satu pertanyaan yang mungkin layak kita simpan dalam hati. Ketika notifikasi berbunyi dan azan memanggil pada waktu yang sama, siapa yang lebih dulu kita jawab? Dari respons pertama itulah sering kali terlihat siapa yang sebenarnya sedang kita utamakan.

Semoga Ramadan mengajarkan kita bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menata ulang perhatian. Dari notifikasi menuju kontemplasi. Dari scroll tanpa henti menuju sujud yang lebih berarti. Karena hidup ini bukan tentang siapa yang paling cepat membalas pesan, melainkan siapa yang paling cepat memenuhi panggilan Tuhan.

Saya ABD Mufid.
Di CatatanMufid.id, kita belajar bukan hanya mencatat kehidupan, tetapi juga memaknai.

Wallahu a’lam.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menata ulang prioritas hidup.

Ketika Notifikasi Lebih Kita Jawab daripada Azan

Ketika Notifikasi Lebih Kita Jawab daripada Azan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Salam catat, Sahabat CM.

Pernahkah kita bertanya jujur pada diri sendiri: mana yang lebih cepat kita respon—suara azan atau suara notifikasi? Ketika azan memanggil dengan lantunan “Hayya ‘alash shalah…”, dan di saat yang sama ponsel kita berbunyi ting, mana yang lebih dulu kita lihat? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi diam-diam menyimpan cermin yang jujur tentang prioritas hidup kita.

Kita memang tidak pernah sujud pada gadget. Tidak ada orang yang meletakkan ponselnya di sajadah lalu menyembahnya. Namun ada satu kenyataan kecil yang sering luput kita sadari: setiap kali notifikasi berbunyi, kita hampir selalu patuh. Tangan refleks meraih ponsel, mata segera menatap layar, dan pikiran langsung terseret ke sana. Tanpa sadar, perhatian kita berpindah. Seolah ada sesuatu yang lebih mendesak daripada apa pun yang sedang kita lakukan.

Seorang teman pernah bercerita tentang semangat Ramadan yang menggebu. Ia bangun sahur dengan niat besar: tahun ini harus khatam Al-Qur’an dua kali. Setelah sahur selesai, ia mengambil ponsel dengan niat membuka aplikasi Al-Qur’an. Namun sebelum satu ayat pun terbaca, muncul notifikasi: flash sale sahur. Belum selesai membaca, muncul lagi pesan dari grup keluarga. Lalu grup alumni. Lalu grup lain yang entah sejak kapan ia masuk dan tidak pernah sempat keluar. Tiga puluh menit berlalu begitu saja. Yang terbaca bukan Al-Qur’an, melainkan timeline. Ramadan masih panjang, tetapi fokusnya sudah habis lebih dulu.

Kisah itu terdengar lucu, tetapi juga terasa sangat dekat. Banyak dari kita mungkin pernah mengalaminya. Niat besar sering kalah oleh distraksi kecil. Bukan karena kita tidak ingin berbuat baik, tetapi karena perhatian kita mudah sekali dicuri oleh hal-hal yang tampak sepele.

Padahal puasa sejatinya bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Puasa ditujukan agar manusia mencapai takwa. Dan takwa pada hakikatnya adalah kemampuan mengendalikan diri. Kita menahan yang halal di siang hari—makan, minum, dan berbagai kenikmatan lainnya—agar kita belajar menahan diri dari hal yang lebih berat di luar Ramadan.

Ironisnya, banyak dari kita mampu menahan makan hingga empat belas jam, tetapi kesulitan menahan jari untuk tidak menggulir layar selama empat belas menit. Notifikasi yang kecil itu sering kali memiliki daya tarik yang jauh lebih kuat daripada yang kita bayangkan. Ia hanya bunyi pendek atau getaran singkat, tetapi seperti panggilan yang mendesak: lihat aku sekarang. Dan sering kali kita benar-benar menurutinya.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Ash-shaum junnah,” puasa itu perisai. Perisai dari hawa nafsu, dari kelalaian, dari segala sesuatu yang dapat menguasai hati manusia. Di masa lalu, orang berbicara tentang berhala yang terbuat dari batu. Hari ini, berhala itu tidak lagi selalu berbentuk benda yang disembah. Ia bisa berupa sesuatu yang menguasai perhatian kita secara terus-menerus.

Distraksi digital adalah salah satunya. Kita tidak bersujud kepadanya, tetapi kita sering menyerahkan perhatian kita sepenuhnya. Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa sesuatu yang paling sering menguasai hati manusia, di situlah letak ketergantungannya. Maka pertanyaan yang patut kita renungkan bukan sekadar seberapa sering kita membuka ponsel, tetapi seberapa mudah perhatian kita ditarik olehnya.

Namun tulisan ini bukan ajakan untuk memusuhi teknologi. Ramadan tidak pernah memerintahkan kita membuang ponsel atau menjauh dari kemajuan zaman. Teknologi tetaplah alat yang bisa membawa manfaat besar. Yang perlu ditata adalah urutan prioritas kita. Gunakan gadget, tetapi jangan sampai kita yang digunakan oleh gadget.

Kadang perubahan kecil sudah cukup berarti. Membuka aplikasi Al-Qur’an sebelum membuka media sosial. Mematikan notifikasi saat tarawih. Menentukan waktu khusus untuk online, bukan hidup terus-menerus dalam mode online. Hal-hal sederhana ini bisa menjadi latihan kecil untuk mengembalikan kendali pada diri kita.

Karena pada akhirnya yang kita sembah bukan algoritma. Yang kita tuju bukan trending topic. Yang kita cari bukan sekadar validasi dari layar kecil di tangan kita. Yang kita cari adalah rida Ilahi—ketenangan yang datang ketika hati merasa dekat dengan Tuhan.

Maka sebelum Ramadan ini berlalu, ada satu pertanyaan yang mungkin layak kita simpan dalam hati. Ketika notifikasi berbunyi dan azan memanggil pada waktu yang sama, siapa yang lebih dulu kita jawab? Dari respons pertama itulah sering kali terlihat siapa yang sebenarnya sedang kita utamakan.

Semoga Ramadan mengajarkan kita bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menata ulang perhatian. Dari notifikasi menuju kontemplasi. Dari scroll tanpa henti menuju sujud yang lebih berarti. Karena hidup ini bukan tentang siapa yang paling cepat membalas pesan, melainkan siapa yang paling cepat memenuhi panggilan Tuhan.

Saya ABD Mufid.
Di CatatanMufid.id, kita belajar bukan hanya mencatat kehidupan, tetapi juga memaknai.

Wallahu a’lam.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menata ulang prioritas hidup.

Copyright © 2026 Catatan Mufid