Oleh: Abd Mufid
Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep | Penulis Lepas
Idul Adha kini kembali datang. Di masjid-masjid, musala, dan lapangan, gema takbir menggema. Di halaman rumah dan tempat pemotongan hewan, pisau akan dihunus, darah akan mengalir. Ritual kurban kembali dilaksanakan. Tapi pertanyaannya; apakah kita hanya sedang menyembelih kambing dan sapi?
Kata kurban berasal dari bahasa Arab qaruba قَرُبَ yang artinya dekat atau mendekat. Dalam istilah syariat, kurban adalah menyembelih hewan ternak seperti kambing atau sapi pada Hari Raya Iduladha sebagai bentuk ketaatan dan sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jadi, tujuan akhirnya bukan dagingnya. Bukan pahalanya. Bukan pula unjuk status sosial karna “saya tahun ini kurban 1 ekor sapi”. Tujuan akhirnya adalah qaruba—mendekat kepada Sang Pencipta.
Dan di sinilah penulis ingin mengajak kita semua berhenti sejenak. Kalau kurban adalah jalan untuk mendekat, lalu apa yang selama ini menjauhkan kita dari Allah? Jawabannya sederhana: ego dan hawa nafsu.
Kurban adalah Praktik Simbolik Menyembelih Ego
Setiap tahun kita menyaksikan pemandangan yang sama. Hewan kurban diikat, ditidurkan, lalu disembelih. Darahnya mengalir, dagingnya dibagikan. Ritual ini sudah berlangsung 1400 tahun lebih sejak Nabi Ibrahim diperintahkan menyembelih putranya, Ismail. Tapi coba kita baca ulang kisah itu. Yang disembelih bukan hanya seekor domba. Yang disembelih adalah kemelekatan Ibrahim pada anaknya. Yang disembelih adalah logika manusiawi yang bertentangan dengan perintah Tuhan. Yang disembelih adalah ego: “Ini anakku, buah hatiku, kenapa harus aku korbankan?” Gumam Ibrahim AS. Padalah, Allah tidak butuh darah dan daging kurban itu.
Allah berfirman: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaanmulah yang sampai kepada-Nya” [QS. Al-Hajj: 37].
Jadi, kurban adalah latihan. Latihan untuk mematikan apa yang dalam diri kita paling sulit dimatikan: rasa paling benar sendiri, rasa paling berhak, rasa tidak mau mengalah, rasa tidak mau berbagi.
Di zaman sekarang, ego itu hadir dalam bentuk yang lebih halus. Ego ketika kita lebih sibuk pamer kurban di media sosial daripada memastikan daging sampai ke tangan fakir miskin. Ego ketika kita ribut soal siapa panitia, siapa yang motong, siapa yang dapat bagian paling besar. Ego ketika kita merasa “saya sudah berkurban, jadi saya lebih saleh dari yang lain”. Padahal, kalau ego itu tidak disembelih, maka kurban kita hanya jadi transaksi dagang dengan langit: saya beri hewan, Engkau beri pahala. Titik.
Mendekat Lewat Pengorbanan Diri
Makna qaruba tidak akan pernah tercapai kalau kita tidak mau berkurban atas diri sendiri. Menyembelih ego artinya mau mendengar saat pasangan bicara.
Menyembelih hawa nafsu artinya menahan diri saat marah di grup WA keluarga. Menyembelih keserakahan artinya rela membagi rezeki meski kita sendiri merasa kekurangan. Idul Adha bukan hanya tentang hewan yang disembelih di luar. Ia tentang apa yang kita sembelih di dalam diri.
Tahun 2026 ini, mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum evaluasi diri. Sudah berapa lama kita memelihara ego yang membuat kita jauh dari keluarga? Sudah berapa lama kita menuruti hawa nafsu yang membuat kita jauh dari Allah?
Kurban sejati terjadi ketika pisau itu diarahkan ke dalam dada kita sendiri. Bukan untuk menyakiti, tapi untuk membebaskan. Karena pada akhirnya, Allah tidak melihat seberapa besar hewan kurban kita. Allah melihat seberapa besar kita berani mengecilkan diri di hadapan-Nya. Mari menyembelih ego. Mari mendekat pada-Nya.
Selamat Idul Adha 1447 H / 2026 M.




