Oleh: Abd Mufid
Penyuluh Agama Islam Kemenag Kab. Sumenep | Penulis Lepas
Setiap peringatan hari jadi kerap dirayakan dengan euforia seremonial: pemotongan tumpeng, karnaval, atau sekadar pawai simbolik. Namun, berbeda dengan yang dilakukan oleh Pengurus Daerah Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (PD. IPARI) Kabupaten Sumenep di usianya yang ke-3. Pada 22 Mei 2026, di kawasan wisata religi Asta Bhujuk Pongkeng, Desa Pakandangan Sangrah, Kecamatan Bluto, mereka memilih cara yang lebih substantif: “Gerak Batin Ekoteologis” dan penanaman 1.000 pohon avokado.
Bagi penulis, sebagai seorang penyuluh agama Islam yang sehari-hari berdialog dengan masyarakat di pelosok daratan hingga kepulauan Sumenep, gerakan ini bukan sekadar tanam-menanam. Ini adalah pergeseran paradigma dakwah: dari yang selama ini cenderung antroposentris menuju ekosentris yang berakar pada teologi.
Ekoteologi: Panggilan Iman, Bukan Sekadar Isu Lingkungan
Ketua PD. IPARI Sumenep dalam sambutannya menegaskan bahwa isu lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari misi dakwah. “Gerak Batin Ekoteologis ini merupakan panggilan iman,” ujarnya. Kalimat ini penting. Dalam tradisi Islam, menjaga alam (hifz al-bi’ah) adalah turunan dari menjaga jiwa (hifz al-nafs) dan keturunan (hifz al-nasl). Al-Qur’an berulang kali melarang kerusakan di bumi (la tufsidû fî al-ardh). Maka, ketika 175 penyuluh lintas iman dari 27 kecamatan berkumpul, itu adalah ikrar kolektif bahwa merusak lingkungan sama dengan mengabaikan amanah ketuhanan.
Yang membuat penulis terkesan, kegiatan ini tidak berhenti pada retorika. Rangkaiannya dimulai dengan Istighotsah Ekoteologi dan Taushiyah Ekoteologi—sebuah bentuk taubat ekologis. Seolah-olah kami para penyuluh sedang mengakui bahwa kelalaian manusia dalam mengeksploitasi alam adalah dosa sosial yang perlu diistighfarahi. Lalu, aksi bersih-bersih lingkungan di area makam keramat menjadi simbol penyucian lahiriah sebelum menanam bibit-bibit harapan.
Kemandirian yang Menggugat
Satu hal yang paling menggugah hati penulis sebagai penulis opini adalah sumber pembiayaan. Seluruh operasional kegiatan, termasuk pengadaan ribuan bibit avokado varietas unggulan (Aligator, Miki, Red Vietnam, Markus/Kendil yang buahnya bisa mencapai 1,5 kg per biji), bersumber mandiri dari alokasi Kas IPARI Sumenep. Tidak ada bantuan eksternal.
Ini adalah pernyataan politik yang halus tapi keras. Para penyuluh agama bisa bergerak signifikan tanpa harus selalu menengadahkan tangan ke pemerintah atau donor. Kemandirian ini mencerminkan komitmen yang tulus, bukan sekadar proyek simbolis. Bayangkan, 1.000 pohon avokado produktif akan terus berbuah puluhan tahun ke depan. Ini adalah sedekah jariyah ekologis. Setiap pohon yang tumbuh, setiap buah yang dipanen warga, akan mengalirkan pahala bagi para penyuluh yang menanamnya.
Spiritualitas di Tanah Bersejarah
Dipilihnya Asta Bhujuk Pongkeng, makam Syekh Arif Muhammad, juga sarat makna. Kawasan ini merupakan salah satu pusat religi masyarakat Madura. Dengan menanam di tanah para wali, kami seolah menegaskan bahwa cinta kepada Tuhan (habl min Allah) harus diwujudkan dalam cinta kepada bumi (habl min al-‘alam). Tidak ada dikotomi antara zikir dan ekologi. Justru di tempat suci itulah pesan kelestarian alam disemai.
Penulis membayangkan, puluhan tahun mendatang, ketika anak cucu peziarah memetik avokado jumbo di sekitar makam keramat, mereka akan bertanya: “Siapa yang menanam ini?” Dan jawabannya akan mengarah pada satu nama: para penyuluh agama yang merayakan hari jadinya yang ke-3 dengan cara tak biasa.
Inspirasi untuk Khalayak Luas
Tentu, 1.000 pohon dari 175 penyuluh hanyalah permulaan. Namun, gerakan ini telah menginspirasi hal yang lebih besar. Bahwa penyuluh agama bisa menjadi garda terdepan gerakan lingkungan berbasis spiritualitas. Sisa bibit yang akan didistribusikan ke 27 kecamatan adalah strategi jitu menjadikan setiap penyuluh sebagai agen perubahan di wilayah masing-masing.

Kini, konsep ekoteologi semakin mengemuka berkat gagasan progresif yang disuarakan oleh Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar. Dalam berbagai kesempatan, Menteri Agama menekankan pentingnya memandang alam bukan sekadar sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi, tetapi sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang harus dijaga dan dirawat. Salah satu implementasi nyata dari gagasan ini adalah program penanaman pohon yang melibatkan lembaga-lembaga keagamaan, pesantren, tokoh agama, dan masyarakat luas. Dan pelaksanaan kegiatan penanaman 1000 pohon oleh penyuluh agama kali ini, merupakan pengejawantahan dari pada gagasan Kementeriaan Agama RI tersebut.
Penulis berharap, segenap elemen masyarakat termasuk juga pemerintah daerah, tidak hanya memberi apresiasi seremonial pada kegiatan-kegiatan serupa, tetapi juga terus menduplikasi model kemandirian ini. Jadikan program ekoteologi sebagai bagian dari kurikulum dasar penyuluhan, juga menggaungkannya menjadi gerak batin publik. Karena pada akhirnya, tidak ada dakwah yang utuh tanpa menyelamatkan rumah bersama kita: bumi.
Selamat hari jadi ke-3, IPARI Sumenep. Teruslah bergerak dan berdampak, karena menanam pohon adalah menanam kehidupan, dan itu adalah ibadah yang tak pernah putus.




