Melanjutkan Jejak Khidmah: Refleksi Pelantikan PCNU Sumenep

Melanjutkan Jejak Khidmah: Refleksi Pelantikan PCNU Sumenep

Oleh: Abd Mufid[1]

Hari itu, tepatnya Sabtu, 28 Dzulqa’dah atau 16 Mei 2026, bertempat di Pondok Pesantren Al-Karimiyyah, Baraji – Sumenep, di mana ruang pelantikan bukan sekadar panggung seremonial, melainkan ruang untuk mengingat kembali mengapa PCNU Sumenep berdiri sejak awal: mengabdi tanpa pamrih kepada umat dan bangsa. Ketika nama-nama pengurus baru disebut dan sumpah khidmah diucapkan, yang terjadi bukan pergantian jabatan, melainkan penyerahan estafeta amanah.

Di Sumenep, tanah yang sejak dulu dikenal sebagai lumbung ulama dan santri, setiap langkah organisasi NU selalu ditimbang pada satu hal. Apakah ia semakin mendekatkan masyarakat pada ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin, atau justru berhenti di panggung seremoni belaka. Pelantikan tersebut, lebih tepat dibaca sebagai ajakan untuk melanjutkan jejak khidmah yang telah dirintis para pendahulu, bukan untuk memulai cerita dari nol.

Konteks Historis & Tugas Pokok

Sejarah NU di Sumenep mencatat bahwa khidmah tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari pesantren, majelis taklim, dan gotong royong masyarakat yang menjadikan ulama sebagai rujukan hidup. Karena itu, pelantikan pengurus baru bukan sekadar formalitas organisasi, melainkan pengingat bahwa tugas PCNU adalah menyambung rantai itu, menjaga agar tradisi keilmuan, dakwah kultural, dan kepedulian sosial tidak putus digerus zaman.

Di tengah arus modernisasi dan polarisasi yang kerap masuk ke desa-desa, tugas ini menjadi lebih berat. Pengurus PCNU hari ini dituntut tidak hanya cakap beradministrasi, tetapi juga mampu membaca tanda zaman tanpa kehilangan akar. Menjadi pengurus berarti bersedia turun ke bawah: mendengar keluh kesah warga, mendampingi lembaga pendidikan NU, memberdayakan umat, dan memastikan bahwa nilai-nilai Aswaja tetap hidup dalam praktik sehari-hari, bukan hanya dalam dokumen musyawarah dan rapat-rapat.

Tantangan Kekinian

Tantangan itu kini berdiri nyata di depan mata. Media sosial telah membuat setiap orang merasa menjadi juru dakwah, tetapi sering kali tanpa adab dan tanpa ilmu. Di beberapa sudut, kita mendengar suara-suara yang mengadu domba warga atas nama agama, mengadu tradisi dengan modernitas, seolah menjadi Nahdliyin berarti harus memilih salah satunya. Sementara di sisi lain, semangat gotong royong pelan-pelan luntur, tergantikan oleh individualisme yang lahir dari tekanan ekonomi dan budaya konsumtif.

Di sinilah PCNU Sumenep diuji. Ia tidak bisa lagi hanya menjadi penonton yang sibuk mengurus struktur, apa lagi hanya mengurus (kepentingan) diri sendiri. Ia harus hadir sebagai penyejuk, sebagai jembatan, sebagai rumah besar tempat semua warga NU merasa memiliki tempat untuk bertanya, belajar, tumbuh dan pulang. Jika tidak, maka khidmah akan tinggal nama, dan jejak para kiai terdahulu akan menjadi cerita yang hanya dikenang, bukan dilanjutkan.

Tiga Arah Khidmah yang Harus Dilanjutkan

Ada tiga arah khidmah yang mendesak untuk dilanjutkan dan diperkuat. Pertama, khidmah keilmuan. Pesantren dan madrasah NU di Sumenep adalah warisan yang tak ternilai. Pengurus harus hadir bukan hanya saat peresmian, tetapi saat para ustaz butuh dukungan, saat santri butuh beasiswa, saat kurikulum perlu dijaga agar tidak kehilangan ruhnya.

Kedua, khidmah sosial. NU tidak boleh absen ketika warga tertimpa banjir, sakit, atau kehilangan arah. Kini, khidmah itu harus diperluas: mendampingi warga yang terjebak jerat rentenir, membantu pemuda yang bingung mencari arah, merawat para lansia yang merasa ditinggalkan, juga beban ekonomi yang terus menghimpit umat.

Ketiga, khidmah kebangsaan. Sumenep adalah Indonesia kecil. Di sini hidup beragam suku, mazhab, dan pilihan politik. PCNU dipanggil untuk menjadi penyejuk, untuk mengingatkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh. Di atas semua itu, yang paling penting adalah menjaga bahasa: bahasa yang merangkul, bukan menghakimi; bahasa yang mendidik, bukan merendahkan.

Sebuah Catatan Kecil

Ya, ini hanya sebuah catatan kecil. Atau kalau boleh dianggap suara gemericik warga masyarakat NU akar ruput, yang terus mendamba spirit khidmah menggema dan mengemuka. Bahwa, khidmah akan gugur maknanya jika pengurus terjebak pada simbol, gelar, dan foto bersama. Jika rapat hanya berhenti pada agenda, jika program hanya hidup di atas kertas, maka kita sedang mengkhianati amanah para pendahulu.

Ukuran keberhasilan PCNU bukan berapa banyak spanduk yang terpasang saat pelantikan, tetapi berapa banyak ibu-ibu yang merasa tenang karena anaknya mendapat beasiswa ngaji, berapa banyak pemuda yang berhenti merantau karena ada pelatihan-pelatihan pemberdayaan di kampungnya, berapa banyak warga yang merasa dilindungi ketika konflik mulai menyala. Khidmah adalah kerja sunyi yang sering tak terlihat, tetapi dampaknya terasa sampai ke dapur rumah warga, menyusup ke batin umat.

Refleksi Sederhana

Akhirnya, pelantikan ini mengajak kita semua untuk berhenti sejenak dan bertanya: apa yang bisa saya lakukan untuk NU, bukan apa yang NU bisa lakukan untuk saya? Jejak khidmah tidak akan berlanjut jika hanya ditanggung segelintir pengurus. Ia butuh uluran tangan warga, doa para kiai, dan keringat para santri.

Semoga pengurus baru PCNU Sumenep diberi kekuatan untuk tetap rendah hati di tengah amanah, tetap istiqamah di tengah godaan, dan tetap dekat dengan umat di tengah kesibukan. Karena pada akhirnya, khidmah yang ikhlas adalah amal jariyah yang tidak akan pernah berhenti mengalir, bahkan setelah nama kita tak lagi disebut dalam undangan. Wallahu a’lam bish-shawab.

–– Lenteng, 01 Zulhijjah 1447 H.

[1] Penulis adalah warga NU, Anggota LKK-NU Sumenep Masa Khidmad 2026-2031.

Copyright © 2026 Catatan Mufid

2