Oleh: Abd Mufid[1]
Ada yang aneh dari tawa itu!
Ia pecah berkali-kali, bergelombang, bahkan kadang terasa “tidak penting.” Tapi justru di situlah, di sela-sela kelakar yang tampak suka-suka—terselip sesuatu yang tidak sederhana: ingatan, idealisme, dan barangkali iman yang diam-diam sedang dirawat.
Syawalan IKA-SUKA Sumenep ke-XII di kompleks Ponpes Annuqayah, Guluk-Guluk, Kamis, 26 Maret 2026, bukan sekadar forum temu alumni. Ia lebih mirip ruang pulang—tempat di mana manusia tidak hanya bertemu wajah, tapi juga menemukan kembali versi terbaik dari dirinya yang mungkin sempat tercecer oleh zaman.
Dimulai dari ziarah ke para masyayikh, lalu tahlil dan shalawat, hingga sarasehan penuh canda, semuanya seperti satu alur yang utuh: dari sunyi menuju riuh, dari khidmat menuju hangat. Dan di tengah-tengahnya, manusia belajar satu hal yang sering dilupakan—bahwa kehidupan tidak selalu harus serius untuk menjadi bermakna.

Kelakar yang Tidak Pernah Kosong Makna
Jika dilihat sepintas, forum itu hanyalah “gelanggang kelakar.” Cerita mahasiswa abadi, kisah pindah jurusan, semboyan “hindari wisuda dini,” hingga pengalaman ngekos yang lebih banyak “menghilang” daripada tinggal—semuanya mengundang tawa.
Namun di balik itu, tersimpan satu pesan sunyi: bahwa perjalanan intelektual tidak selalu lurus, dan justru dari kelokan itulah karakter ditempa. Bukankah Nabi pernah bersabda:
“Sesungguhnya aku juga bercanda, namun aku tidak mengatakan kecuali yang benar.”
(HR. Tirmidzi)
Kelakar, dalam tradisi yang sehat, bukan pelarian dari makna. Ia justru jalan masuk menuju makna—dengan cara yang lebih manusiawi. IKA-SUKA tampaknya memahami ini dengan baik. Bahwa humor bukan lawan dari keseriusan, melainkan jembatan menuju kebijaksanaan.
“Ngadhek Parjugah Sabarengan”: Berdiri Bersama, Tanpa Merendahkan
Tema yang diusung, “ngadhek parjugah sabarengan,” bukan sekadar slogan lokal.
Ia adalah filosofi hidup: berdiri tegak bersama, tanpa merasa lebih tinggi, tanpa menjatuhkan yang lain. Dalam bahasa iman, ini sejalan dengan firman Allah:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…” (QS. Al-Hujurat: 10).
Dan lebih dalam lagi: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Kesetaraan dalam forum itu terasa nyata. Para alumni lintas generasi, dari berbagai latar belakang—akademisi, kiai, politisi, aktivis—duduk dalam satu lingkaran yang sama: tidak ada yang lebih tinggi, kecuali nilai yang dibawa masing-masing.
Merawat Idealisme di Tengah Dunia yang “Tidak Baik-Baik Saja”
Di balik cerita-cerita ringan, terselip kegelisahan yang serius: tentang dunia yang semakin pragmatis, tentang nilai yang mulai ditukar dengan kepentingan, tentang idealisme yang perlahan memudar. Namun justru di situlah kekuatan forum ini. Ia tidak melawan dengan pidato besar, tetapi dengan contoh kecil.
Kisah tentang tidak menyalakan TV, mencuci sendiri, hidup sederhana—bagi sebagian orang mungkin tampak remeh. Tapi di situlah letak “perlawanan sunyi.” Sebagaimana pesan Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)
Perubahan besar, ternyata, tidak selalu dimulai dari panggung besar. Ia justru lahir dari ruang-ruang kecil: rumah, keluarga, kebiasaan sehari-hari. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah pernah berkata:
“Siapa yang memperbaiki yang tersembunyi dalam dirinya, maka Allah akan memperbaiki yang tampak darinya.”
Silaturrahmi: Antara Fisik dan Rasa
Di era hari ini, silaturrahmi sering kali hanya sebatas notifikasi: pesan singkat, emoji, atau status broadcast yang cepat berlalu. Namun Syawalan ini menghadirkan sesuatu yang berbeda: silaturrahmi yang utuh—fisik, rasa, dan makna. Tawa yang sama, tatap mata yang jujur, dan pelukan yang hangat—semuanya tidak bisa digantikan oleh layar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka barangkali, yang dirindukan dari forum ini bukan hanya pertemuannya, tetapi “rasa hidup” yang muncul darinya.
Catatan Penutup
Barangkali, kita terlalu sering mengira bahwa kebenaran harus selalu hadir dalam bentuk serius, kaku, dan penuh tekanan. Padahal, di suatu sudut Guluk-Guluk, dalam gelak tawa yang tampak sederhana, orang-orang sedang merawat sesuatu yang jauh lebih penting: ingatan, persaudaraan, dan idealisme.
Kelakar itu bukan tanpa arah. Ia adalah cara lain untuk tetap waras di tengah dunia yang semakin bising. Ia adalah bahasa halus untuk menyampaikan nilai, tanpa menggurui. Ia adalah strategi sunyi untuk menjaga iman, tanpa harus terlihat agung.
Dan mungkin, di situlah letak pelajaran terbesarnya: Bahwa menjadi baik tidak harus selalu tampak berat. Bahwa menjaga nilai tidak harus selalu dengan amarah. Dan bahwa terkadang, tawa adalah cara paling jujur untuk tetap menjadi manusia.
Sebab pada akhirnya, yang akan kita bawa pulang dari setiap pertemuan bukanlah siapa yang paling banyak bicara—tetapi siapa yang paling dalam menyentuh jiwa. Dan, Syawalan IKA-SUKA telah melakukan itu, dengan cara yang sangat sederhana: bercanda, tetapi tidak pernah kehilangan makna.

[1] Penyuluh Agama Islam KUA Lenteng, alumni UIN Sunana Kalijaga Yogtakarta




