Koper Haji Sudah Ditaruh, Tapi Amanah Gelar Haji Baru Dimulai

Koper Haji Sudah Ditaruh, Tapi Amanah Gelar Haji Baru Dimulai

Oleh Abd. Mufid

Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep | Esais

 

Ada koper yang lebih mudah diletakkan daripada amanah yang menyertainya.

Koper haji bisa disimpan di sudut kamar. Baju ihram bisa dilipat kembali. Oleh-oleh bisa habis dibagikan kepada keluarga dan tetangga. Tapi bagaimana dengan sebuah panggilan baru di depan nama? “Pak Haji.”

Mungkin di situlah perjalanan yang sebenarnya baru dimulai.

Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke rumah salah satu tetangga saya, Bapak H. Karim, yang baru pulang dari Tanah Suci Makkah.

Rumahnya masih ramai oleh cerita perjalanan. Tentang haru melihat Ka’bah. Tentang doa yang dipanjatkan di tempat-tempat mustajab. Tentang perjuangan panjang sebelum akhirnya kaki menginjak tanah suci. Karena memang, berangkat haji bukan perkara ringan.

Ada masa menunggu bertahun-tahun. Ada tabungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. Ada perjuangan keluarga. Ada biaya yang tidak sedikit. Ada persiapan fisik dan mental yang harus dijaga.

Namun setelah semua perjuangan itu selesai, ada satu ujian lain yang diam-diam menunggu. Menjadi “Pak Haji” di tengah masyarakat. Sebab gelar terkadang lebih berat daripada kopernya sendiri.

Gelar Haji dan Cermin Diri

Saya teringat sebuah benda sederhana di rumah. Cermin.

Benda yang setiap hari kita gunakan, tetapi sering membuat kita tidak nyaman. Sebab cermin tidak pernah berbohong. Ia menunjukkan apa adanya. Begitu juga dengan gelar haji.

Ia seperti cermin besar yang dibawa seseorang pulang dari Makkah.

Masyarakat mulai melihat lebih dekat. Bagaimana cara berbicara. Bagaimana memperlakukan pasangan. Bagaimana bersikap kepada tetangga. Bagaimana menjaga kejujuran dalam pekerjaan. Karena setelah seseorang dipanggil “Pak Haji”, orang tidak hanya mengenang perjalanannya ke Tanah Suci. Orang mulai berharap melihat cahaya perubahan dalam kehidupannya.

Bukan berarti orang yang berhaji harus menjadi manusia tanpa salah. Tidak.

Pak Haji juga manusia. Masih belajar. Masih bisa khilaf. Tetapi ada kesadaran baru bahwa sebuah gelar adalah amanah. Bukan sekadar penghormatan.

Haji Bukan Sekadar Perjalanan Kaki

Allah berfirman: “Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh berkata kotor, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Ayat ini mengajarkan bahwa ibadah haji tidak hanya berkaitan dengan perjalanan fisik. Ada latihan jiwa di dalamnya. Ada proses menahan diri. Ada pendidikan akhlak.

Rasulullah SAW juga bersabda: “Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa tanda haji mabrur salah satunya terlihat dari perubahan setelah ibadah itu selesai.

Bukan hanya saat berada di depan Ka’bah. Tetapi saat kembali menjalani kehidupan biasa. Di rumah. Di tempat kerja. Di tengah masyarakat.

Catatan dari Rumah Pak Haji Karim

Saat berbincang dengan Pak H. Karim, saya menangkap satu hal yang membuat saya merenung.

Di balik riuah kebahagiaan pulang dari Tanah Suci, ada rasa takut yang beliau simpan. Tampak samar, tapi dalam.

Takut jika gelar haji hanya menjadi kebanggaan nama. Takut jika orang lebih mengenal panggilannya daripada perubahan dirinya.

“Mas Mufid, setiap prilaku baik dan buruknya kita, serasa ditampakkan semuanya oleh Allah ketika di Makkah,” tuturnya. Saya menimpalinya dengan anggukan.

Saya melihat sebuah kerendahan hati dari cara beliau bertutur. Sebab orang yang benar-benar memahami makna perjalanan spiritual biasanya tidak sibuk menunjukkan bahwa dirinya sudah sampai. Ia justru semakin merasa perlu memperbaiki diri.

Seperti seseorang yang membawa oleh-oleh dari tempat jauh. Yang paling berharga bukan bungkusnya. Tetapi manfaat yang dirasakan orang lain.

Begitu pula haji. Nilainya bukan hanya ketika orang mengucapkan “Masya Allah, sudah haji.” Tetapi ketika keluarga merasa lebih tenteram. Tetangga merasa lebih dihargai. Orang lain merasakan kebaikan dari kehadirannya.

Pulang Membawa Cahaya

Mungkin kita belum semuanya sampai ke Tanah Suci. Tetapi kita semua sedang melakukan perjalanan menuju Allah.

Ada yang diuji dengan harta. Ada yang diuji dengan jabatan. Ada yang diuji dengan nama baik. Dan bagi mereka yang diberi kesempatan berhaji, salah satu ujiannya adalah menjaga amanah gelar.

Setidaknya ada tiga langkah kecil yang bisa dilakukan agar gelar haji yang baru saja tersemat tidak bergeser dari niat awal yang mulia:

Pertama, jangan menjadikan gelar sebagai alasan merasa lebih tinggi dari orang lain. Kedua, jadikan pengalaman ibadah sebagai energi untuk memperbaiki akhlak sehari-hari. Ketiga, terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik meskipun tidak selalu terlihat sempurna.

Semoga Allah menerima setiap perjalanan haji, mengampuni kekurangan kita, dan menjadikan setiap ibadah membawa perubahan dalam kehidupan.

Alon-alon, Pak Karim! Sebab menjadi baik bukan perlombaan siapa yang paling cepat terlihat manusia. Tetapi perjalanan panjang untuk semakin dekat dengan Allah.

Wallahu a’lam.

Copyright © 2026 Catatan Mufid