Oleh: Abd Mufid
Penyuluh Agama Islam KUA Lenteng | Penulis Lepas
Hari-hari ini, kita hidup di zaman yang aneh!
Sedikit beda pilihan, putus pertemanan. Sedikit beda pandangan, saling menjauh. Bahkan kadang hanya karena beda cara melihat sebuah persoalan, hubungan yang dibangun bertahun-tahun bisa retak dalam hitungan menit.
Seolah-olah persatuan hanya mungkin terjadi jika semua orang sama.
Padahal kalau dipikir-pikir, kalau semuanya sama, apa yang sebenarnya mau dipersatukan?
Pikiran ini muncul saat penulis menghadiri undangan bahagia adinda Darwis dan Izzy, puteri kedua Om Habari di Desa Pagar Batu Saronggi Sumenep, yang hari ini mengikat janji dalam akad pernikahan. Dua orang yang sebelumnya hidup di jalan masing-masing, tumbuh dalam keluarga berbeda, membawa kebiasaan berbeda, cara berpikir berbeda, lalu memilih duduk dalam satu perahu yang sama.
Menariknya, mereka justru disebut “bersatu” karena berbeda. Kalau Darwis menikahi Darwis atau Darmono, atau Izzy menikahi Izzy, mungkin tak ada yang namanya penyatuan. Yang ada hanya penggandaan. Dan ini bahaya. Bisa memicu sunami keluarga!
Kadang kita lupa bahwa hakikat persatuan memang bukan menghapus perbedaan, melainkan merawatnya agar bisa berjalan seiring.
Secangkir Kopi
Ya! Seperti secangkir kopi. Air panas saja hambar. Bubuk kopi saja pahit. Gula saja bikin enek. Tetapi ketika semuanya bertemu dalam takaran yang pas, lahirlah secangkir kopi yang bisa menemani banyak percakapan.
Bukan karena semua unsur menjadi sama, tetapi karena masing-masing unsur tetap menjadi dirinya sendiri.
Rumah tangga pun begitu. Sering kali masalah bukan muncul karena perbedaan itu ada. Masalah muncul ketika salah satu pihak memaksa pihak lain menjadi salinan dirinya. Padahal sejak awal Allah memang menciptakan manusia dengan warna yang beragam.
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
“Wahai manusia, sungguh Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini menarik. Allah tidak mengatakan agar manusia menjadi seragam. Yang disebut justru “saling mengenal”.
Artinya, perbedaan bukan kecelakaan. Ia memang bagian dari desain kehidupan. Bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipertemukan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” (HR. Tirmidzi)
Karena hidup bersama orang lain kadang memang selalu menghadirkan gesekan. Kesabaran lahir bukan ketika semuanya cocok, melainkan ketika ada yang berbeda namun tetap ingin dijaga.
Pernikahan adalah Sekolahan yang Paling Jujur
Kalau boleh jujur, saya sendiri sering gagal memahami ini.
Kadang dalam diskusi keluarga, saya lebih sibuk menyiapkan bantahan daripada berusaha memahami. Kadang saat berbeda pendapat, yang ingin saya menangkan adalah argumen, bukan hubungan.
Tapi belakangan saya sadar, banyak konflik ternyata bukan soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Sering kali masalahnya adalah ego yang diam-diam ingin menjadi pusat semesta.
Kita ingin didengar, tetapi malas mendengar. Kita ingin dipahami, tetapi enggan memahami. Kita ingin diterima apa adanya, tetapi sulit menerima orang lain apa adanya. Mungkin karena itu pernikahan menjadi salah satu sekolah kehidupan yang paling jujur.
Di sana, dua manusia belajar setiap hari bahwa cinta bukan tentang menemukan orang yang sama persis dengan kita. Cinta adalah kemampuan menghormati perbedaan tanpa kehilangan arah bersama.
Dan mungkin itulah sebabnya kisah adinda Darwis dan Izzy terasa begitu relevan dengan Hari Lahir Pancasila.
Bulan Pancasila, Bulan Berpadu Mesra
Bangsa ini pun berdiri di atas prinsip yang sama.
Bukan satu suku. Bukan satu bahasa daerah. Bukan satu kebiasaan. Bukan satu cara berpikir. Indonesia lahir karena banyak perbedaan yang memilih duduk bersama dalam satu cita-cita.
Pancasila tidak lahir untuk menyeragamkan. Ia lahir untuk mempersatukan. Seperti pernikahan yang sehat. Seperti keluarga yang hangat. Seperti sahabat yang tetap berteman meski berbeda pandangan.
Malam ini, mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita bawa sebelum tidur: Apakah selama ini kita sedang berusaha mempersatukan perbedaan, atau justru memaksa semua orang menjadi sama?
Barangkali aksi kecil yang bisa kita lakukan adalah menghubungi satu orang yang pernah berbeda pendapat dengan kita. Bukan untuk berdebat lagi. Hanya untuk menyapa. Bergandeng tangan. Berpadu mesra – semesra Darwis dan Izzy.
Karena bisa jadi, persatuan memang tidak pernah lahir dari kesamaan. Ia lahir dari keberanian untuk tetap berjalan bersama di tengah perbedaan.
Catatan Mufid ID
Kadang kita terlalu sibuk mencari orang yang sepaham, sampai lupa bahwa hidup justru tumbuh dari perjumpaan dengan yang berbeda. Sebab bukan kesamaan yang membuat kita dewasa, melainkan kemampuan mencintai, memahami, dan merawat perbedaan dengan kepala yang jernih dan hati yang lapang.
Selamat bulan lahir Pancasila!
Selamat menempuh hidup baru – Darwis dan Izzy



