PUASA: REM SPIRITUAL DI TENGAH DUNIA YANG NGEBUT

PUASA: REM SPIRITUAL DI TENGAH DUNIA YANG NGEBUT

Catatan Reflektif atas Peringatan Nuzulul Qur’an Kemenag Sumenep 1447 H

Oleh: Abd Mufid, S.Th.I., M.Pd

Ada satu pertanyaan sederhana yang kadang membuat kita diam sejenak:
mengapa manusia modern begitu pandai berlari, tetapi semakin sulit berhenti?

Di tengah dunia yang serba cepat—target kerja, notifikasi ponsel, ambisi sosial, dan tuntutan hidup—manusia seperti sedang mengendarai kendaraan dengan satu pedal saja: gas. Semua ingin dipercepat. Semua ingin dikejar. Namun jarang ada yang bertanya: apakah kita masih punya rem?

Pertanyaan itu terasa relevan ketika Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumenep menggelar peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Ar-Rasyidi MAN Sumenep, Kamis (5/3/2026). Kegiatan yang melibatkan seluruh ASN Kemenag ini dikemas dengan khatmil Qur’an, santunan anak yatim, serta pengajian umum menghadirkan ulama muda Dr. KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits—yang akrab disapa Ra Mamak.

Tema yang diangkat cukup dalam: “Al-Qur’an Amanah Ekologis dan Jalan Perdamaian Dunia.” Sebuah tema yang mengingatkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang ibadah personal, tetapi juga tentang tanggung jawab manusia terhadap kehidupan dan peradaban.

Namun di balik tema besar itu, tersimpan satu pesan sederhana yang justru terasa sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini: puasa adalah latihan menahan diri.

Keberuntungan Menjadi Pelayan Umat

Dalam sambutannya, Kepala Kemenag Sumenep KH. Abdul Wasid menegaskan bahwa menjadi ASN di lingkungan Kementerian Agama bukan sekadar pekerjaan administratif. Ia adalah takdir sekaligus keberuntungan untuk menjadi wasilah pelayanan umat.

Pernyataan ini sebenarnya mengandung pesan moral yang cukup tajam. Menjadi aparatur negara sering kali dipahami sebatas status pekerjaan: gaji, jabatan, dan rutinitas birokrasi. Padahal, dalam perspektif keagamaan, jabatan publik adalah amanah. Ia bukan sekadar profesi, tetapi ruang pengabdian.

Dalam bahasa sederhana: “di balik meja pelayanan itu, ada doa masyarakat yang berharap dipermudah.” Karena itu, rasa syukur yang dimaksud KH. Abdul Wasid bukan hanya diucapkan dalam kalimat religius, tetapi diwujudkan dalam kinerja yang baik dan pelayanan yang tulus. Di sinilah agama menemukan relevansinya dalam birokrasi: iman harus terjemah menjadi etika kerja. Dan “PATAS” (Cepat, Tuntas, dan Ikhlas), sebagai slogan Kemenag Sumenep diharapkan tidak hanya berhenti di slogan semata, melain ruh dalam berkinerja.

Puasa: Latihan Mengerem

Jika sambutan kepala kantor berbicara tentang amanah pelayanan, maka ceramah Ra Mamak mengajak hadirin masuk lebih dalam ke dimensi spiritual Ramadhan.

Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an dan Ramadhan memiliki dua fungsi utama: hudan (petunjuk) dan syifa’ (penyembuh). Namun dua fungsi itu tidak otomatis bekerja bagi semua orang. Ia hanya efektif bagi mereka yang memiliki iman. Artinya sederhana tapi menohok: Al-Qur’an tidak akan menyembuhkan hati yang tidak mau membuka diri.

Lebih menarik lagi ketika Ra Mamak mengulas hakikat puasa dalam satu kata kunci klasik dalam fikih: “As-shaum al-imsak”—puasa pada hakikatnya adalah menahan diri.

Menahan makan dan minum hanyalah simbol. Yang sebenarnya dilatih adalah kemampuan manusia mengendalikan dirinya sendiri. Di sinilah puasa menjadi seperti rem dalam kendaraan kehidupan.

Bayangkan sebuah motor dengan mesin kuat, bahan bakar penuh, dan pengendara penuh semangat—tetapi tanpa rem. Bukan kecepatan yang menyelamatkan pengendara itu, justru rem yang menentukan keselamatannya.

Begitu pula hidup manusia. Kita bangga dengan produktivitas. Bangga dengan kesibukan. Bangga dengan capaian. Namun jarang yang bangga dengan satu kemampuan penting: kemampuan menahan diri.

Dunia yang Terlalu Ngebut

Jika direnungkan, pesan “imsak” sebenarnya sangat relevan dengan kondisi masyarakat hari ini.

Kita hidup dalam budaya yang mengajarkan percepatan: lebih cepat bekerja, lebih cepat merespons, lebih cepat bereaksi. Ironisnya, semakin cepat dunia bergerak, semakin banyak manusia kehilangan kendali diri.

Orang bisa menahan lapar seharian, tetapi sulit menahan komentar di media sosial. Bisa menahan haus, tetapi tidak mampu menahan emosi. Di sinilah Ramadhan menjadi semacam laboratorium pengendalian diri. Ia mengajari manusia satu keterampilan yang mulai langka: berhenti sejenak.

 

Ramadhan sebagai “Charging Station” Jiwa

Ada satu ironi kecil dalam kehidupan modern. Kita sering lebih panik ketika baterai ponsel tinggal 5 persen, daripada ketika kesabaran kita tinggal 5 persen.

Kalau baterai hampir habis, kita segera mencari colokan listrik. Tetapi ketika emosi hampir meledak, jarang yang mencari “colokan sabar”. Padahal Ramadhan sebenarnya adalah charging station jiwa. Di bulan inilah manusia diajak mengisi ulang energi spiritual: menenangkan diri, memperbaiki niat, dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Jika tidak, kita mungkin akan tetap bergerak cepat—tetapi tanpa arah.

Belajar Berhenti Sebelum Terlambat

Peringatan Nuzulul Qur’an bukan sekadar seremonial tahunan. Ia adalah pengingat bahwa wahyu pertama yang turun kepada Nabi bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang kesadaran. Kesadaran membaca kehidupan. Kesadaran memahami diri. Dan kesadaran memaknai setiap peristiwa dan fenomena yang muncul di sekitar kita.

Dan mungkin, salah satu pelajaran paling sederhana dari Ramadhan adalah ini: hidup tidak hanya membutuhkan kemampuan ngegas, tetapi juga kemampuan mengerem. Karena yang sering menghancurkan manusia bukan kurangnya kecepatan, melainkan hilangnya kendali.

Maka Ramadhan datang setiap tahun bukan untuk melemahkan kita, tetapi untuk mengingatkan bahwa manusia yang paling kuat bukanlah yang paling cepat berlari—melainkan yang paling mampu menahan dirinya sendiri. Sebagaimana diriwayatkan Abi Hurairah, Nabi bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:
«لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ».  
صحيح] متفق عليه [] صحيح البخاري: 6114

Artinya: “orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, melainkan orang yang mampu menahan dirinya Ketika marah”. (HR. Imam Bukhari & Imam Muslim).

Padahal Nabi telah mengingatkan bahwa hati manusia mudah lalai ketika terlalu sibuk dengan urusan dunia. Bukan karena dunia itu salah, tetapi karena manusia sering lupa menempatkan prioritas. Di sinilah puasa, ibadah, dan tradisi spiritual hadir: bukan sekadar ritual, melainkan latihan mengembalikan arah hidup.

Peristiwa bisa datang dan pergi. Namun makna sering kali tertinggal bagi mereka yang bersedia memikirkannya.
Tulisan ini hanyalah cara sederhana untuk menangkap pelajaran dari yang terjadi.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━
ABD MUFID
Catatan Mufid ID
Mencatat Fenomena, Menyuarakan Makna.

Copyright © 2026 Catatan Mufid