Ketika Notifikasi Lebih Kita Jawab daripada Azan

Ketika Notifikasi Lebih Kita Jawab daripada Azan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Salam catat, Sahabat CM.

Pernahkah kita bertanya jujur pada diri sendiri: mana yang lebih cepat kita respon—suara azan atau suara notifikasi? Ketika azan memanggil dengan lantunan “Hayya ‘alash shalah…”, dan di saat yang sama ponsel kita berbunyi ting, mana yang lebih dulu kita lihat? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi diam-diam menyimpan cermin yang jujur tentang prioritas hidup kita.

Kita memang tidak pernah sujud pada gadget. Tidak ada orang yang meletakkan ponselnya di sajadah lalu menyembahnya. Namun ada satu kenyataan kecil yang sering luput kita sadari: setiap kali notifikasi berbunyi, kita hampir selalu patuh. Tangan refleks meraih ponsel, mata segera menatap layar, dan pikiran langsung terseret ke sana. Tanpa sadar, perhatian kita berpindah. Seolah ada sesuatu yang lebih mendesak daripada apa pun yang sedang kita lakukan.

Seorang teman pernah bercerita tentang semangat Ramadan yang menggebu. Ia bangun sahur dengan niat besar: tahun ini harus khatam Al-Qur’an dua kali. Setelah sahur selesai, ia mengambil ponsel dengan niat membuka aplikasi Al-Qur’an. Namun sebelum satu ayat pun terbaca, muncul notifikasi: flash sale sahur. Belum selesai membaca, muncul lagi pesan dari grup keluarga. Lalu grup alumni. Lalu grup lain yang entah sejak kapan ia masuk dan tidak pernah sempat keluar. Tiga puluh menit berlalu begitu saja. Yang terbaca bukan Al-Qur’an, melainkan timeline. Ramadan masih panjang, tetapi fokusnya sudah habis lebih dulu.

Kisah itu terdengar lucu, tetapi juga terasa sangat dekat. Banyak dari kita mungkin pernah mengalaminya. Niat besar sering kalah oleh distraksi kecil. Bukan karena kita tidak ingin berbuat baik, tetapi karena perhatian kita mudah sekali dicuri oleh hal-hal yang tampak sepele.

Padahal puasa sejatinya bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Puasa ditujukan agar manusia mencapai takwa. Dan takwa pada hakikatnya adalah kemampuan mengendalikan diri. Kita menahan yang halal di siang hari—makan, minum, dan berbagai kenikmatan lainnya—agar kita belajar menahan diri dari hal yang lebih berat di luar Ramadan.

Ironisnya, banyak dari kita mampu menahan makan hingga empat belas jam, tetapi kesulitan menahan jari untuk tidak menggulir layar selama empat belas menit. Notifikasi yang kecil itu sering kali memiliki daya tarik yang jauh lebih kuat daripada yang kita bayangkan. Ia hanya bunyi pendek atau getaran singkat, tetapi seperti panggilan yang mendesak: lihat aku sekarang. Dan sering kali kita benar-benar menurutinya.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Ash-shaum junnah,” puasa itu perisai. Perisai dari hawa nafsu, dari kelalaian, dari segala sesuatu yang dapat menguasai hati manusia. Di masa lalu, orang berbicara tentang berhala yang terbuat dari batu. Hari ini, berhala itu tidak lagi selalu berbentuk benda yang disembah. Ia bisa berupa sesuatu yang menguasai perhatian kita secara terus-menerus.

Distraksi digital adalah salah satunya. Kita tidak bersujud kepadanya, tetapi kita sering menyerahkan perhatian kita sepenuhnya. Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa sesuatu yang paling sering menguasai hati manusia, di situlah letak ketergantungannya. Maka pertanyaan yang patut kita renungkan bukan sekadar seberapa sering kita membuka ponsel, tetapi seberapa mudah perhatian kita ditarik olehnya.

Namun tulisan ini bukan ajakan untuk memusuhi teknologi. Ramadan tidak pernah memerintahkan kita membuang ponsel atau menjauh dari kemajuan zaman. Teknologi tetaplah alat yang bisa membawa manfaat besar. Yang perlu ditata adalah urutan prioritas kita. Gunakan gadget, tetapi jangan sampai kita yang digunakan oleh gadget.

Kadang perubahan kecil sudah cukup berarti. Membuka aplikasi Al-Qur’an sebelum membuka media sosial. Mematikan notifikasi saat tarawih. Menentukan waktu khusus untuk online, bukan hidup terus-menerus dalam mode online. Hal-hal sederhana ini bisa menjadi latihan kecil untuk mengembalikan kendali pada diri kita.

Karena pada akhirnya yang kita sembah bukan algoritma. Yang kita tuju bukan trending topic. Yang kita cari bukan sekadar validasi dari layar kecil di tangan kita. Yang kita cari adalah rida Ilahi—ketenangan yang datang ketika hati merasa dekat dengan Tuhan.

Maka sebelum Ramadan ini berlalu, ada satu pertanyaan yang mungkin layak kita simpan dalam hati. Ketika notifikasi berbunyi dan azan memanggil pada waktu yang sama, siapa yang lebih dulu kita jawab? Dari respons pertama itulah sering kali terlihat siapa yang sebenarnya sedang kita utamakan.

Semoga Ramadan mengajarkan kita bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menata ulang perhatian. Dari notifikasi menuju kontemplasi. Dari scroll tanpa henti menuju sujud yang lebih berarti. Karena hidup ini bukan tentang siapa yang paling cepat membalas pesan, melainkan siapa yang paling cepat memenuhi panggilan Tuhan.

Saya ABD Mufid.
Di CatatanMufid.id, kita belajar bukan hanya mencatat kehidupan, tetapi juga memaknai.

Wallahu a’lam.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menata ulang prioritas hidup.

Copyright © 2026 Catatan Mufid